22Apr 2010 56 Comments1,776 pembaca
Senjakala di Negeri Kelelawar
(Kisah ini merupakan bagian ke-13 dari serial “Negeri Kelelawar”. Yang belum sempat membaca, silakan nikmati dulu kisah Menagih Janji Politisi di Negeri Kelelawar (1), Ontran-ontran di Negeri Kelelawar (2), Situasi Chaos di Negeri Kelelawar Makin Parah (3), Angin Reformasi Berhembus Juga di Negeri Kelelawar (4), Menyiasati Kecamuk Separatisme di Negeri Kelelawar (5), Kekuasaan Negeri Kelelawar dalam Kepungan Ambisi Petualang Politik (6), Isu Dekrit Presiden di Negeri Kelelawar (7), Premanisme Merajalela di Negeri Kelelawar (8), Geger Ujian Nasional di Negeri Kelelawar (9), Terang Bulan Tak Ada Lagi di Negeri Kelelawar (10), Gerakan Apolitis Kaum Muda Negeri Kelelawar (11), dan Negeri Kelelawar Menjadi Sarang Koruptor (12)) ***
Mungkin sudah menjadi garis nasib kalau negeri Kelelawar yang dulu dielu-elukan dan tercitrakan sebagai negeri yang gemah ripah loh jinawi itu kini harus tersungkur dalam kebangkrutan moral. Para pejabat yang tengah berada dalam puncak kekuasaan terninabobokan oleh gelimang kemewahan. Demi memanjakan naluri hedonis dan konsumtif, mereka rela menelantarkan jutaan rakyat yang hidup terlunta-lunta di lorong-lorong yang kumuh dan gelap. Demi memanjakan istri simpanan dan puluhan selirnya, mereka tak segan-segan menilap uang negara yang seharusnya digunakan untuk memuliakan hidup anak-anak miskin dan telantar. Demi memuaskan naluri agresivitas, mereka tidak risih mengerahkan para predator berseragam untuk menggusur tanah-tanah rakyat dan para pedagang kaki lima.
Yang menyedihkan, kalau perilaku busuk para pejabat terendus oleh para kelelawar yang yang masih punya hati nurani dan kejujuran, mereka tak malu-malu untuk berkongkalingkong dengan aparat penegak hukum untuk kemudian merekayasa persoalan-persoalan hukum sesuai dengan selera dan kepentingannya. Jika perlu, kelelawar yang tak berdosa harus dikorbankan dan dijadikan tumbal demi memuluskan kekuasaan dan jabatan yang ada dalam genggaman tangannya.
Mungkin ada benarnya kalau ada yang bilang, kekuasaan itu identik dengan korupsi. Dan di mana ada korupsi, di situ pasti kemiskinan akan terjadi. Itulah yang terjadi di negeri Kelelawar. Korupsi sudah benar-benar mengilusumsum dan menggurita di berbagai lapis dan lini kekuasaan. Otonomi daerah yang digembar-gemborkan bakal menyejahterakan rakyat ternyata hanya isapan jempol. Realitas yang terjadi justru sebaliknya. Banyak pejabat daerah di negeri Kelelawar yang menahbiskan dirinya sebagai neo-adipati yang memperlakukan daerah bagaikan ladang kekuasaan. Tak ayal lagi, rakyat negeri Kelelawarlah yang harus menjadi tumbal. Hidup mereka bukannya sejahtera, melainkan makin tenggelam dalam lumpur kemiskinan dan penderitaan. Aliran duwit yang berpusat di satu tangan menyebabkan kemiskinan rakyat makin melilit pinggang.
***
Syahdan, tersebutlah kisah seekor kelelawar tua yang biasa hidup di bawah lorong sebuah jembatan tua yang gelap dan singup. Di bawah lorong itu juga tinggal puluhan, bahkan ratusan kelelawar lain yang berebut peruntungan nasib. Sesekali, mereka bergerombol, lantas terbang melintasi kemewahan ibukota; sekadar melepaskan kepenatan hidup. Sang kelelawar tua pun, meski dengan napas sengal dan berat, tak ketinggalan berbaur dengan ratusan saudaranya melintasi kawasan ibukota yang tampak mulai makin tak berdaya memanggul beban nasib. Di sana-sini mulai bertaburan tempat-tempat hiburan yang memanjakan naluri hedonis kaum pemuja gaya hidup modern, global, dan kosmopolit. Tempat hiburan yang beraroma bir dan minuman keras membuat banyak kelelawar berkantong tebal mabuk dan melupakan Tuhannya. Setiba di rumah, mereka tak jarang bersitegang dengan sang istri yang juga suka berselingkuh dengan para brondong.
Yang menyedihkan, tempat-tempat ibadah yang berdiri kokoh dan megah hanya sekadar menjadi tempat singgah para musyafir yang kebetulan tengah melintas. Penduduk setempat hanya menjadikan rumah-rumah Tuhan itu sebagai penjaga gengsi dan emosi berbalut agama. Mereka tak pernah beribadah, tapi bisa kalap dan marah jika ada pihak lain yang tak sepaham dengan keyakinan yang mereka anut. Sambil berteriak-teriak histeris menyebut nama Tuhan, mereka tak segan-segan mengacungkan pedang untuk mengancam, memburu, dan menghabisi kelompok lain yang dianggap mengusik kesakralan agama mereka. Kelompok-kelompok agama minoritas hidup dalam suasana yang penuh ancaman dan ketakutan.
Ketika kerumunan kelelawar melintas di atas gedung wakil rakyat, mereka dengan mata telanjang menyaksikan ulah para politisi karbitan dan oportunis sedang membangun persekongkolan untuk mendapatkan keuntungan finansial melalui fungsi penganggaran, legislasi, dan pengawasan. Dengan mengatasnamakan rakyat, mereka secara leluasa membuat peraturan dan thethek-mbengek keputusan yang bisa menguntungkan dan memuluskan jalan mereka dalam menguasai pos-pos penting yang menguasai hajat hidup rakyat banyak.
Pada ketika yang lain, saat mereka melintas di atas bubungan atas istana kepresidenan negeri Kelelawar, kerumunan itu dengan vulgar menyaksikan ulah para pejabat negara yang “berselingkuh” dengan para pengusaha hitam untuk menggerogoti kekayaan negara. Jika perlu, aset-aset penting dijual ke negara lain untuk mendatangkan keuntungan melimpah demi memuaskan nafsu serakah dan kemaruk harta. Ironisnya, aparat penegak hukum tutup mata terhadap berbagai bentuk perilaku korup yang berlangsung di berbagai lini dan lapis birokrasi. Mereka bisa dengan mudah memelintir bunyi pasal dan ayat-ayat hukum untuk melindungi para pejabat negara dari jerat hukum. Tragisnya, kelelawar kecil yang ketahuan maling buah tetangganya langsung disekap dan dijerat ke balik jeruji besi tanpa pertimbangan perikelelawaran setelah babak-belur dihajar massa.
Pada ketika yang lain lagi, ketika kerumunan kelelawar melintas di atas gedung perpajakan yang megah, mereka dengan jelas menyaksikan ulah para pegawai perpajakan yang dengan sengaja melakukan penggelapan dan manipulasi uang pajak dengan jumlah bejibun untuk kepentingan diri sendiri dan kelompoknya. Jika perlu, oknum pegawai pajak itu “berselingkuh” dengan aparat penegak hukum dan maklar perkara untuk memuluskan jalan mereka dalam menumpuk-numpuk duwit haram ke dalam pundi-pundi kekayaannya.
Karena capek dan penat, kerumunan kelelawar berwajah kuyu dan pucat itu beristirahat sejenak di pelataran sebuah monumen kebanggaan negeri kelelawar yang tinggi menjulang. Ketika mata nanar mereka menoleh ke sisi barat, suasana senja yang temaram tampak bagaikan jubah Malaikat Maut yang menyelubungi kompleks ibukota yang muram dan tak berdaya. Entah, sampai kapan negeri kepulauan yang memiliki banyak ceruk dan pinggang bukit itu akan mengalami perubahan. (Bersambung) ***
Tulisan lain yang berkaitan:
Tulisan berjudul "Senjakala di Negeri Kelelawar" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (22 April 2010 @ 01:13) pada kategori Negeri Kelelawar, Sastra dan telah dikunjungi oleh 1,776 pembaca. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Jika tertarik dengan tulisan ini, silakan di-share/bookmark melalui jejaring berikut ini:













Aug 23, 2011 @ 14:14:27
ceritanya seru juga
makasih pak atas infonya
Aug 10, 2011 @ 12:22:38
Apa bapak sendiri pernah kedaerah itu..???
Jul 22, 2011 @ 13:02:42
thanks infonya
Jul 27, 2010 @ 13:42:15
salam kenal ya…
Jul 27, 2010 @ 18:13:35
ok, salam kenal juga, bos. terima kasih kunjungannya!
Catatan Sawali Tuhusetya
Jul 09, 2010 @ 18:10:23
[...] Unduh Browse > Home / Negeri Kelelawar, Refleksi, Sastra, Sosial / Blog article: Peradaban Negeri Kelelawar Tak Akan Pernah Mati Peradaban Negeri Kelelawar Tak Akan Pernah Mati Friday, 9 July 2010 (15:24) | 118 pembaca | 5 komentar | Print this Article tweetmeme_url = 'http://sawali.info/2010/07/09/peradaban-negeri-kelelawar-tak/';tweetmeme_source = 'sawal64';(Kisah ini merupakan bagian ke-14 dari serial “Negeri Kelelawar”. Yang belum sempat membaca, silakan nikmati dulu kisah Menagih Janji Politisi di Negeri Kelelawar (1), Ontran-ontran di Negeri Kelelawar (2), Situasi Chaos di Negeri Kelelawar Makin Parah (3), Angin Reformasi Berhembus Juga di Negeri Kelelawar (4), Menyiasati Kecamuk Separatisme di Negeri Kelelawar (5), Kekuasaan Negeri Kelelawar dalam Kepungan Ambisi Petualang Politik (6), Isu Dekrit Presiden di Negeri Kelelawar (7), Premanisme Merajalela di Negeri Kelelawar (8), Geger Ujian Nasional di Negeri Kelelawar (9), Terang Bulan Tak Ada Lagi di Negeri Kelelawar (10), Gerakan Apolitis Kaum Muda Negeri Kelelawar (11), Negeri Kelelawar Menjadi Sarang Koruptor (12)), dan Senjakala di Negeri Kelelawar (13))*** [...]
Senjakala di Negeri Kelelawar » Catatan Sawali Tuhusetya | Paket C Paket ABC SD SMP SMA
Apr 27, 2010 @ 08:35:56
[...] Here is the original: Senjakala di Negeri Kelelawar » Catatan Sawali Tuhusetya [...]
Apr 26, 2010 @ 20:08:54
Kelelawar sekarang berterbangan disiang hari!
.-= Baca juga tulisan terbaru nuances pen berjudul "Bribe is not valid" =-.
Senjakala di Negeri Kelelawar » Catatan Sawali Tuhusetya | Paket C Paket ABC SD SMP SMA
Apr 26, 2010 @ 17:47:57
[...] Continued here: Senjakala di Negeri Kelelawar » Catatan Sawali Tuhusetya [...]
Apr 25, 2010 @ 13:47:48
Wah, baca cerita Negeri Kelelawar bikin nafas tertahan dan dada sesak.Bagus lho Pak. Pak Sawali, bagaimana dg para guru di negeri kelelawar, kira-kira ada sertifikasi guru tidak?
Apr 25, 2010 @ 01:52:18
Penyebabnya apa ya…?
Apr 25, 2010 @ 01:35:36
Ternyata kisah kelelawar masih berlanjut, teruskan Pak :d/
.-= Baca juga tulisan terbaru Aulia berjudul "Meng-online-kan Indonesia Sampai ke Pelosok Negeri" =-.
Apr 25, 2010 @ 00:16:09
Blogwalking OM,,,,
Lam kenal aja….:)
Apr 25, 2010 @ 00:09:48
Lam kenal sob,,,,bagus2 artikelnya
Apr 25, 2010 @ 00:03:57
Hiduuuuup Kelelawarrrrrr……..:d
Apr 24, 2010 @ 23:55:24
saLam keNal yaa…..
Apr 24, 2010 @ 19:57:23
berkunjung pak…
.-= Baca juga tulisan terbaru Tour, Food, and Health berjudul "Demam Adalah Suatu Fungsi Proteksi Terhadap Tubuh Kita" =-.
Apr 24, 2010 @ 17:56:57
pak, saya belum baca yang pertama tapi boleh langung tanya kan? kenapa kok dsebut negeri kelelawar? apa vampir/ seperti film daybreakers aja.
Apr 24, 2010 @ 17:10:09
biasanya operasinya di kegelapan ya
Apr 24, 2010 @ 16:58:14
salam sahabat cerita yang penuh makna semoga dapat hikmahnya
Apr 24, 2010 @ 15:32:53
Cerita yang berisi dengan kajian yang mendalam . Saya senang untuk membacanya, ttap produktif untuk cerita lain yag bergizi pak
.-= Baca juga tulisan terbaru Pengamat Seni berjudul "Cure Migraine with Contact Lenses" =-.
Apr 24, 2010 @ 15:14:43
kisah negeri kelelawar ternyata sudah sampai 13 ya pak.
semoga moral negeri kelelawar bisa berubah menjadi lebih baik
Apr 24, 2010 @ 12:44:15
Ceritanya bagus mas
.-= Baca juga tulisan terbaru Fikri berjudul "Carried Into Torres Benitez Juventus?" =-.
Apr 24, 2010 @ 11:16:59
seperti dongeng dalam dongeng. hanya bisa terjadi di Indonesia saja…hehehehe
.-= Baca juga tulisan terbaru iis sugianti berjudul "Safety Riding Honda Bengkulu" =-.
Apr 24, 2010 @ 11:13:15
apakah ini akan menjadi akhir serial cerita negeri kelelawar pak Sawali? bisa dibukukan nie pak…;)
.-= Baca juga tulisan terbaru iis sugianti berjudul "Vaseline MEN Amazing Journey #1, Kulit sehat Cermin pria sehat" =-.
Apr 24, 2010 @ 10:27:33
Mungkin sama ya Pak Sawali, negeri kelelawar dengan negeri impian …:d
Apr 24, 2010 @ 10:13:14
negeri kelelawa
.-= Baca juga tulisan terbaru AeArc berjudul "Beli hosting atau domain? di Dijaminmurah.com aja!!" =-.
Apr 24, 2010 @ 09:21:00
negeri kelelawar pada negriku:((:((
.-= Baca juga tulisan terbaru delia berjudul "Mencoba Sekarang" =-.
Apr 24, 2010 @ 02:33:45
apa mungkin gedung wakil rakyat harus di pasangin bom dulu agar negara ini berubah ? kita ganti wakil – wakil rakyat yang pada korup itu dengan yang masih fresh
.-= Baca juga tulisan terbaru Blogger Terpanas berjudul ""TUHAN" kita adalah GOOGLE" =-.
Apr 24, 2010 @ 01:06:13
pertanyaannya pak: Sampai kapankah senja kala itu akan terjadi..? Tak bisakah muram durja di negeri kelelawar itu lenyap tak berbekas..?
Apr 23, 2010 @ 12:14:36
Suatu negeri yang sangat kaya akan hasil bumi namun miskin dengan moral. Di saat para pejabat menghamburkan uang dan malah korupsi, nun jauh di sana di nusa tenggara mereka kekuangan makanan dan sulit untuk membiayai sekolah. Sungguh sangat malangnya negeri ini.
.-= Baca juga tulisan terbaru Dahrun Marada berjudul "Merekontruksi Moral Bangsa Lewat Kecerdasan Qur’anic" =-.
Apr 23, 2010 @ 11:49:30
soalnya kelalawar jahat kali ya, kalau musim rambutan dia suka ganggu tu.. makanya banyak dibunuh sama orang-orang.. hehehe
.-= Baca juga tulisan terbaru Imoel berjudul "Peluang Dollar dari CO.CC" =-.
Apr 23, 2010 @ 09:14:18
sepertinya saya tau negeri yang keadaannya sama persis seperti negeri kelelawar
Apr 23, 2010 @ 06:11:11
Saya sangat suka dengan tulisan seperti ini, mudah-mudahan kelelawar dapat selalu terbang di atas tempat-tempat strategis untuk dapat melaporkan hasil kunjungannya terhadap geliat para penguasa negeri kelelawar. salam hangat dan sukses selalu.
.-= Baca juga tulisan terbaru yusami berjudul "GEMUK YANG IDEAL ?" =-.
Apr 23, 2010 @ 00:37:10
Sindiran yang pedas pada kenyataan yang nggak mungkin bisa dirubah. Salut deh pak dengan gaya tulisan bapak[-(:d
.-= Baca juga tulisan terbaru akhta berjudul "SANG PENGUASA" =-.
Apr 22, 2010 @ 20:44:26
apakah sebenarnya ini memang budaya khas dan orisinil kita?
mudah2an hanya sebuah proses menuju kedewasaan budaya kita yang sebenarnya.,
.-= Baca juga tulisan terbaru mahesapandu berjudul "Emansipasi Versus Ego Kebablasan" =-.
Apr 22, 2010 @ 19:49:26
hih.. jadi geli ngelihat kelelawar..
.-= Baca juga tulisan terbaru download gratis berjudul "Download Lagu Download Black Stocking – The October" =-.
Apr 22, 2010 @ 19:31:17
betul pak, komen sampean di blog saya ketangkap satpam, aku sempat mikir wah ini pak sawali marah lagi dengan saya, lalu gak mau komen ke tempat saya
.-= Baca juga tulisan terbaru budies berjudul "Looking for Laptop Accessories" =-.
Apr 22, 2010 @ 18:45:29
.-= Baca juga tulisan terbaru wrp berjudul "Terkenal tapi Tak Dikenal" =-.
Apr 22, 2010 @ 16:05:45
Apa yang dapt kita lakukan/sumbangkan untuk negeri kelelawar itu ….[-(:-?
Apr 22, 2010 @ 15:44:36
Semoga para pegawai kantor pajak di Negeri Kelalawar tidak ada yang namanya Gayus, tidak ada yang mempermainkan kasus pajak…
.-= Baca juga tulisan terbaru Syamsuddin Ideris berjudul "Aplikasi Raport Berbasis Web" =-.
Apr 22, 2010 @ 13:37:53
wah hebat sekali pak … maaf saya hanya pernah mengikuti 5 episeode saja … saya izin menyimak cerita negeri kelelawar ini dulu pak dari episode 1 – episode 13 …. terimakasih banyak pak ..
Apr 22, 2010 @ 13:06:02
Hakim Kelelawar memberikan pengumuman : ” menerima berbagai upeti dalam bentuk apapun dan demi alasan apapun demi perlalanan ke Tanah Tuhan……… ”
Mulutnya bau dan berbusa……. ( mungkin sekarang ini saatnya….. revolusi ??? – aku masih takut membayangkannya – )
.-= Baca juga tulisan terbaru firdaus berjudul "Akhirnya Carol Melahirkan" =-.
Apr 22, 2010 @ 12:52:28
kalau salah satu pulau dibikin sarang judi, kelelawar para ngamuk ga pak? :d
salam,
tfd
.-= Baca juga tulisan terbaru Tour, Food, and Health berjudul "Fakta Penuaan: Berapakah Usia Biologis Anda?" =-.
Apr 22, 2010 @ 10:04:54
Benar-benar Negeri Kelelawar telah berubah seperti Negeri Sodom dan Gomora, yang memuja kenikmatan dunia, namun menyembunyikan Tuhan di balik tumpukan kertas-kertas manipulasi pajak. Wahh… menyedihkan, ya Pak. Salam kekerabatan.
.-= Baca juga tulisan terbaru Sungkowoastro berjudul "SAAT ANAK MEMILIH SEKOLAH, ORANGTUA TAK HARUS DIAM" =-.
Apr 22, 2010 @ 09:55:38
salam sahabat,
gus sering disamain kelelawar kalau malam sampai subuh kelayaban blogwalking dan kalau pagi sore istirahat dari blogwalking buat melepas dan menyeimbangkan stamina
Apr 22, 2010 @ 07:58:07
Saya sering dengar “KAMPRET” untuk menyatakan ketidaksukaan dan “ndableg”.
.-= Baca juga tulisan terbaru nahdhi berjudul "Kalau Kebanyakan Baju" =-.
Apr 22, 2010 @ 07:44:40
negeri kelelawar alangkah lucunya…
maling ayam digepuk sampai patah tulang
maling duit negara bin koruptor bebas melenggang jalan-jalan ke negara tetangga, sementara polisi yang mau berobat malah ditangkap..
Apr 22, 2010 @ 07:27:07
Saya pernah dengar tetapi belum pernah liat….
.-= Baca juga tulisan terbaru Gayus Tambunan berjudul "Efek Buruk dari Blackberry" =-.
Apr 22, 2010 @ 06:33:21
mantap ceritanya pakde, semoga menjadi inspirasi bagi pembacanya …
Apr 22, 2010 @ 05:47:43
haruskah dibangun negeri baru dengan syarat, politisi, birokrasi, penegak hukum semuanya harus berasal dari para blogger dengan ketentuan alexa rank-nya ….
Apr 24, 2010 @ 09:17:16
@budies, wekekekeke.. boleh juga tuh pak budi idenya…
tapi ujung2nya ntar kita berkelakuan yg sama
.-= Baca juga tulisan terbaru delia berjudul "Mencoba Sekarang" =-.
Senjakala di Negeri Kelelawar » Catatan Sawali Tuhusetya | ujian paket c
Apr 22, 2010 @ 05:34:16
[...] Read the original post: Senjakala di Negeri Kelelawar » Catatan Sawali Tuhusetya [...]
Apr 22, 2010 @ 04:44:17
jangan juga kita jadi bergaya hidup kelelawar, pergi malam tidur pagi..
|-)
.-= Baca juga tulisan terbaru tukang colong berjudul "Laporan Pertanggung Jawaban Buletin Ekapaksi" =-.
Apr 22, 2010 @ 02:27:23
Dari dulu saya kok nggak pernah paham to pak mangsut negeri kelelawar itu. Memangnya apaan sih?:((:o:-?:)>-
Apr 22, 2010 @ 01:31:26
mari terus kita ingatkan bersama pak.. sebisa mungkin
Agar para kelelawar tidak serta merta membuang kotorannya yang tidak bisa dijual lagi itu…