Home » Negeri Kelelawar » Senjakala di Negeri Kelelawar

Senjakala di Negeri Kelelawar

(Kisah ini merupakan bagian ke-13 dari serial “Negeri Kelelawar”. Yang belum sempat membaca, silakan nikmati dulu kisah Menagih Janji Politisi di Negeri Kelelawar (1), Ontran-ontran di Negeri Kelelawar (2), Situasi Chaos di Negeri Kelelawar Makin Parah (3), Angin Reformasi Berhembus Juga di Negeri Kelelawar (4), Menyiasati Kecamuk Separatisme di Negeri Kelelawar (5), Kekuasaan Negeri Kelelawar dalam Kepungan Ambisi Petualang Politik (6), Isu Dekrit Presiden di Negeri Kelelawar (7), Premanisme Merajalela di Negeri Kelelawar (8), Geger Ujian Nasional di Negeri Kelelawar (9), Terang Bulan Tak Ada Lagi di Negeri Kelelawar (10), Gerakan Apolitis Kaum Muda Negeri Kelelawar (11), dan Negeri Kelelawar Menjadi Sarang Koruptor (12)) ***

Budaya

Oleh: Sawali Tuhusetya

Mungkin sudah menjadi garis nasib kalau negeri Kelelawar yang dulu dielu-elukan dan tercitrakan sebagai negeri yang gemah ripah loh jinawi itu kini harus tersungkur dalam kebangkrutan moral. Para pejabat yang tengah berada dalam puncak kekuasaan terninabobokan oleh gelimang kemewahan. Demi memanjakan naluri hedonis dan konsumtif, mereka rela menelantarkan jutaan rakyat yang hidup terlunta-lunta di lorong-lorong yang kumuh dan gelap. Demi memanjakan istri simpanan dan puluhan selirnya, mereka tak segan-segan menilap uang negara yang seharusnya digunakan untuk memuliakan hidup anak-anak miskin dan telantar. Demi memuaskan naluri agresivitas, mereka tidak risih mengerahkan para predator berseragam untuk menggusur tanah-tanah rakyat dan para pedagang kaki lima.

negeri kelelawarYang menyedihkan, kalau perilaku busuk para pejabat terendus oleh para kelelawar yang yang masih punya hati nurani dan kejujuran, mereka tak malu-malu untuk berkongkalingkong dengan aparat penegak hukum untuk kemudian merekayasa persoalan-persoalan hukum sesuai dengan selera dan kepentingannya. Jika perlu, kelelawar yang tak berdosa harus dikorbankan dan dijadikan tumbal demi memuluskan kekuasaan dan jabatan yang ada dalam genggaman tangannya.

Mungkin ada benarnya kalau ada yang bilang, kekuasaan itu identik dengan korupsi. Dan di mana ada korupsi, di situ pasti kemiskinan akan terjadi. Itulah yang terjadi di negeri Kelelawar. Korupsi sudah benar-benar mengilusumsum dan menggurita di berbagai lapis dan lini kekuasaan. Otonomi daerah yang digembar-gemborkan bakal menyejahterakan rakyat ternyata hanya isapan jempol. Realitas yang terjadi justru sebaliknya. Banyak pejabat daerah di negeri Kelelawar yang menahbiskan dirinya sebagai neo-adipati yang memperlakukan daerah bagaikan ladang kekuasaan. Tak ayal lagi, rakyat negeri Kelelawarlah yang harus menjadi tumbal. Hidup mereka bukannya sejahtera, melainkan makin tenggelam dalam lumpur kemiskinan dan penderitaan. Aliran duwit yang berpusat di satu tangan menyebabkan kemiskinan rakyat makin melilit pinggang.
***

negeri kelelawarSyahdan, tersebutlah kisah seekor kelelawar tua yang biasa hidup di bawah lorong sebuah jembatan tua yang gelap dan singup. Di bawah lorong itu juga tinggal puluhan, bahkan ratusan kelelawar lain yang berebut peruntungan nasib. Sesekali, mereka bergerombol, lantas terbang melintasi kemewahan ibukota; sekadar melepaskan kepenatan hidup. Sang kelelawar tua pun, meski dengan napas sengal dan berat, tak ketinggalan berbaur dengan ratusan saudaranya melintasi kawasan ibukota yang tampak mulai makin tak berdaya memanggul beban nasib. Di sana-sini mulai bertaburan tempat-tempat hiburan yang memanjakan naluri hedonis kaum pemuja gaya hidup modern, global, dan kosmopolit. Tempat hiburan yang beraroma bir dan minuman keras membuat banyak kelelawar berkantong tebal mabuk dan melupakan Tuhannya. Setiba di rumah, mereka tak jarang bersitegang dengan sang istri yang juga suka berselingkuh dengan para brondong.

Yang menyedihkan, tempat-tempat ibadah yang berdiri kokoh dan megah hanya sekadar menjadi tempat singgah para musyafir yang kebetulan tengah melintas. Penduduk setempat hanya menjadikan rumah-rumah Tuhan itu sebagai penjaga gengsi dan emosi berbalut agama. Mereka tak pernah beribadah, tapi bisa kalap dan marah jika ada pihak lain yang tak sepaham dengan keyakinan yang mereka anut. Sambil berteriak-teriak histeris menyebut nama Tuhan, mereka tak segan-segan mengacungkan pedang untuk mengancam, memburu, dan menghabisi kelompok lain yang dianggap mengusik kesakralan agama mereka. Kelompok-kelompok agama minoritas hidup dalam suasana yang penuh ancaman dan ketakutan.

Ketika kerumunan kelelawar melintas di atas gedung wakil rakyat, mereka dengan mata telanjang menyaksikan ulah para politisi karbitan dan oportunis sedang membangun persekongkolan untuk mendapatkan keuntungan finansial melalui fungsi penganggaran, legislasi, dan pengawasan. Dengan mengatasnamakan rakyat, mereka secara leluasa membuat peraturan dan thethek-mbengek keputusan yang bisa menguntungkan dan memuluskan jalan mereka dalam menguasai pos-pos penting yang menguasai hajat hidup rakyat banyak.

Pada ketika yang lain, saat mereka melintas di atas bubungan atas istana kepresidenan negeri Kelelawar, kerumunan itu dengan vulgar menyaksikan ulah para pejabat negara yang “berselingkuh” dengan para pengusaha hitam untuk menggerogoti kekayaan negara. Jika perlu, aset-aset penting dijual ke negara lain untuk mendatangkan keuntungan melimpah demi memuaskan nafsu serakah dan kemaruk harta. Ironisnya, aparat penegak hukum tutup mata terhadap berbagai bentuk perilaku korup yang berlangsung di berbagai lini dan lapis birokrasi. Mereka bisa dengan mudah memelintir bunyi pasal dan ayat-ayat hukum untuk melindungi para pejabat negara dari jerat hukum. Tragisnya, kelelawar kecil yang ketahuan maling buah tetangganya langsung disekap dan dijerat ke balik jeruji besi tanpa pertimbangan perikelelawaran setelah babak-belur dihajar massa.

Pada ketika yang lain lagi, ketika kerumunan kelelawar melintas di atas gedung perpajakan yang megah, mereka dengan jelas menyaksikan ulah para pegawai perpajakan yang dengan sengaja melakukan penggelapan dan manipulasi uang pajak dengan jumlah bejibun untuk kepentingan diri sendiri dan kelompoknya. Jika perlu, oknum pegawai pajak itu “berselingkuh” dengan aparat penegak hukum dan maklar perkara untuk memuluskan jalan mereka dalam menumpuk-numpuk duwit haram ke dalam pundi-pundi kekayaannya.

Karena capek dan penat, kerumunan kelelawar berwajah kuyu dan pucat itu beristirahat sejenak di pelataran sebuah monumen kebanggaan negeri kelelawar yang tinggi menjulang. Ketika mata nanar mereka menoleh ke sisi barat, suasana senja yang temaram tampak bagaikan jubah Malaikat Maut yang menyelubungi kompleks ibukota yang muram dan tak berdaya. Entah, sampai kapan negeri kepulauan yang memiliki banyak ceruk dan pinggang bukit itu akan mengalami perubahan. (Bersambung) ***

tentang blog iniTulisan berjudul "Senjakala di Negeri Kelelawar" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (22 April 2010 @ 01:13) pada kategori Negeri Kelelawar. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Ada 58 komentar dalam “Senjakala di Negeri Kelelawar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *