Home » Opini » Gayus Tambunan dan Rumitnya Penanaman Nilai Kejujuran

Gayus Tambunan dan Rumitnya Penanaman Nilai Kejujuran

Nama Gayus Tambunan, belakangan ini meroket; melebihi ketenaran seorang seleb. Aparat kepolisian, pekerja media, dan masyarakat luas mengarahkan perhatiannya pada PNS golongan III A di Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan yang disebut mantan Kepala Badan Reserse Kriminal, Komisaris Jenderal Susno Duadji, terlibat dalam kasus pajak sebesar Rp 25 miliar itu. Pesona dan aroma korup yang melekat pada dirinya seakan-akan berperan besar dalam menguapkan jejak kasus Century yang sebelumnya menguras perhatian banyak kalangan.

Ayo, Gayus, bernyanyilah!Nama Gayus pun jadi taruhan buat citra kepolisian yang kini tengah jadi sorotan. Mantan Kabareskrim, Komjen Susno Duadji, yang telah “dimakzulkan” dari jabatannya sebagai Kabareskrim, agaknya masih akan terus “bernyanyi” dari luar ring kepolisian, bahkan terang-terangan meminta perlindungan hukum kepada DPR. Aroma Markus yang konon sudah lama mengendap dalam tubuh Polri, pelan tapi pasti, konon akan terus dibuka dan mengalir ke ranah publik. Pihak Polri pun seharusnya bisa bersikap lebih arif dalam memperlakukan Susno Duadji yang telah menjadi “pionir” untuk membuka kotak pandora “mafia” dan maklar kasus yang sudah berlangsung amat lama; bukannya malah berkeinginan mengarahkan martil dan peluru untuk mencari-cari kesalahan terhadap sosok yang pernah melontarkan idiom “cicak vs buaya” itu.

Terlepas dari hiruk-pikuk dalam tubuh Polri, saya justru lebih tertarik untuk berandai-andai dalam mengamati gerak-gerik dan gaya hidup Gayus Tambunan yang dalam waktu singkat berhasil menjadi Orang kaya Baru (OKB). Saya kira, Gayus kecil tak pernah bermimpi menjadi seorang koruptor. Lingkungan keluarga, masyarakat, dan sekolah yang telah membesarkannya pun sudah bisa dipastikan sangat mengharapkan Gayus kelak menjadi sosok “genuine” yang memperjuangkan nilai-nilai kejujuran, kebenaran, dan keadilan demi membangun kemaslahatan bersama. Guru yang pernah mendidik dan menggembleng Gayus juga pasti sangat hafal dengan perilaku dan karakter keseharian Gayus dalam pergaulan sosialnya.

Kalau toh pada akhirnya Gayus tersandung masalah korupsi yang tak pernah diajarkan di bangku pendidikan, pasti ada faktor X yang telah “menelikungnya” hingga akhirnya dia harus berurusan dengan masalah hukum. Bang Napi sering bilang, bahwa kejahatan bisa terjadi bukan semata-mata karena pelakunya, melainkan juga karena ada waktu dan kesempatan. Ini artinya, siapa pun bisa melakukan tindak kejahatan ketika “ditelikung” oleh waktu dan kesempatan. Keseharian Gayus yang berurusan dengan tumpukan duwit di Ditjen Pajak agaknya membuat Gayus punya banyak waktu dan kesempatan untuk melakukan “perselingkuhan” dengan sebuah kekuatan “maha jahat” hingga membuat Gayus kian tenggelam dalam gelimang kemewahan dan gaya hidup hedonis. Rumah mewahnya di kompleks perumahan elite berharga miliaran rupiah di Gading Park View, Kelapa Gading, Jakarta Utara, bisa menjadi simbol “perselingkuhannya” dengan kekuatan “maha jahat” itu.

Belajar dari pengalaman hidup Gayus, dunia pendidikan kita agaknya perlu melakukan refleksi, betapa rumitnya menanamkan nilai-nilai kejujuran itu kepada siswa didik. Maraknya perilaku korupsi dan berbagai perilaku anomali sosial lainnya, makin menguatkan bukti bahwa tantangan yang dihadapi dunia pendidikan kian rumit dan kompleks. Institusi pendidikan tak hanya dihadapkan pada persoalan internal tentang infrastruktur dan suprastruktur pendidikan yang hingga kini masih silang-sengkarut, tetapi juga menghadapi tantangan eksternal tentang maraknya gaya hidup instan dan pragmatis.

Nilai-nilai kemuliaan budi, termasuk nilai kejujuran, sebagai bagian dari pendidikan karakter yang tak pernah berhenti digelorakan melalui dunia pendidikan, agaknya bertentangan secara diametral dengan realitas sosial yang serba korup dan vandalistis. Tak sedikit siswa didik yang mengalami gejala “split-personality” (kepribadian yang terbelah) akibat kuatnya tarik-menarik antara nilai-nilai kemuliaan budi yang ditanamkan di lembaga pendidikan versus kenyataan sosial yang korup yang terjadi di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Situasi semacam itu diperparah dengan pendekatan pembelajaran yang beraroma indoktrinatif dan sarat dengan pemasungan. Penanaman nilai kemuliaan budi yang disampaikan dengan nada khotbah dan serba “menggurui”, disadari atau tidak, justru membuat anak-anak makin jauh dari sentuhan pendidikan karakter yang menarik dan memikat.

Tiba-tiba saya bermimpi untuk mengajak anak-anak bangsa yang tengah gencar menimba ilmu di bangku pendidikan untuk digembleng dalam sebuah laboratorium kejujuran. Tak perlu bombastis dengan menjadikannya sebagai mata pelajaran tersendiri, tetapi mengajak anak-anak untuk melakukan refleksi diri melalui ilustrasi berbagai peristiwa, pembacaan kisah-kisah pendek, mengajak anak-anak berdialog dan berinteraksi, serta menjadikan laborarium kejujuran sebagai ajang mimbar bebas. Anak-anak diberi kebebasan untuk bercurah pikir, beradu argumentasi, berdebat, merumuskan simpulan, dan menyelami pernik-pernik kehidupan, hingga secara tidak langsung karakter anak-anak akan terbangun melalui proses mengkonstruksi berbagai pengalaman hidup yang ditemukannya.

Ini hanya sebuah mimpi ketika kenyataan yang terjadi di tengah-tengah kehidupan masyarakat sudah demikian akut tingkat korupsinya. Jika tidak didesain sejak dini, bukan mustahil Gayus-gayus baru akan terus bermunculan, hingga akhirnya negeri ini benar-benar akan mengalami kehancuran peradaban. ***

tentang blog iniTulisan berjudul "Gayus Tambunan dan Rumitnya Penanaman Nilai Kejujuran" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (6 April 2010 @ 21:29) pada kategori Opini. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Ada 116 komentar dalam “Gayus Tambunan dan Rumitnya Penanaman Nilai Kejujuran

  1. seringkali ketidakjujuran itu dimulai dari kelas, dari sebuah proses tradisional yang mendarahdaging bersama murid
    apa lagi hukum di indonesia kan bisa di beli dengan uang,

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *