31Mar 2010 126 Comments2,211 pembaca
Dongeng dan Fenomena Kekerasan
Benarkah bangsa kita telah kehilangan sikap ramah? Benarkah bangsa kita telah kehilangan nilai-nilai kearifan sehingga setiap masalah mesti diselesaikan dengan cara-cara kekerasan, vulgar, dan vandalistik? Ke manakah nilai-nilai keluhuran budi yang dulu pernah menjadi kenyataan karakter dan kepribadian bangsa yang tak terbantahkan itu? Sudah tak ada ruangkah bagi anak-anak masa depan negeri ini untuk membangun karakter yang kokoh dan kuat sehingga tak gampang tersulut api amarah dan kalap ketika menghadapi masalah?

Kartun cerdas ala Inilah.com.
Dongeng modern ala Inilah.com.
Lihat saja panggung sosial di negeri ini yang terus berdarah-darah! Nyawa manusia kian termarginalkan oleh nafsu dan keinginan untuk menang sendiri dan saling menyakiti. Entah, sudah berapa nyawa yang melayang menjadi korban mutilasi atau tawuran antarkampung. Juga sudah tak terhitung berapa jengkal tanah yang telah berubah menjadi ladang pembantaian akibat meruyaknya nafsu serakah, dendam, dan kebencian.
Orang-orang kita pada zaman dulu, konon punya cara khas untuk menanamkan nilai-nilai keluhuran budi kepada anak cucu. Menjelang tidur, mereka biasa mendongeng sampai sang anak-cucu benar-benar tertidur pulas. Banyak nilai keteladanan dan kearifan hidup yang bisa dipetik dari rangkaian dan alur cerita dalam dongeng. Tokoh-tokoh yang punya karakter kuat seperti mampu menaburkan pesona dan makna kebajikan hidup ke dalam ruang imajinasi anak-anak. Secara tidak langsung, nilai-nilai kearifan dan keluhuran budi yang tersirat dari balik dongeng mampu terserap ke dalam alam logika dan nurani anak-cucu hingga terbawa sampai mereka dewasa. Sikap toleran, moderat, rendah hati, kreatif, empati, dan nilai-nilai budi pekerti yang lain sangat kuat mengakar ke dalam memori anak-anak dan diaplikasikan ke dalam tindakan dan perilaku hidup sehari-hari.
Namun, anak-anak zaman sekarang agaknya makin sulit mendapatkan asupan nilai kearifan hidup lewat dongeng. Tingkat persaingan hidup yang makin ketat dan sengit membuat orang tua makin sibuk memburu gebyar materi. Alih-alih mendongeng, komunikasi dan interaksi dengan anak-anak pun tak lagi bisa dilakukan secara intens. Hubungan anak dan orang tua semata-mata hanya tuntutan biologis. Keluarga jadi kehilangan roh dan sentuhan nilai kearifan hidup. Yang lebih menyedihkan, anak-anak dengan mata vulgar dan telanjang menyaksikan dongeng-dongeng modern yang tersaji melalui layar kaca.
Sinetron kita yang tak henti-hentinya mengeksploitasi kekerasan, kemewahan, dendam, dan kebencian, cerita hantu dan horor, bahkan juga berita-berita vulgar tentang mutilasi, mafia peradilan, maklar kasus, atau korupsi, setidaknya telah memiliki andil yang cukup besar terhadap pembentukan karakter anak. Sementara itu, dunia pendidikan yang diharapkan mampu menjadi benteng terakhir dalam mengakarkan nilai-nilai keluhuran budi makin tak berdaya ketika fenomena yang terjadi di tengah-tengah kehidupan sosial secara nyata telah mempraktikkan proses anomali dan kebangkrutan moral yang demikian masif dan telanjang. Maka, makin sempurnalah cekokan dongeng-dongeng modern itu ke dalam ruang imajinasi dan memori anak-anak.
Haruskah situasi seperti itu akan terus berlangsung hingga akhirnya anak-anak masa depan negeri ini benar-benar menjelma menjadi “monster” yang tega memangsa sesamanya dan menjadi penganut kanibalisme? Hmm … hingga tulisan ini saya publikasikan, saya belum bisa menemukan kemungkinan yang paling tepat untuk menjawabnya. ***
Tulisan lain yang berkaitan:
Tulisan berjudul "Dongeng dan Fenomena Kekerasan" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (31 March 2010 @ 01:49) pada kategori Budaya, Edukasi, Refleksi, Sosial dan telah dikunjungi oleh 2,211 pembaca. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Jika tertarik dengan tulisan ini, silakan di-share/bookmark melalui jejaring berikut ini:














Sep 17, 2010 @ 15:17:44
wahhhh rame banget ini blog…
bener nih mas… anakku aja sekarang lebih hapal ama lagu2 sekarang..
sedih juga yah mas.. padhal dulu saya suka diceritain sama bapak saya
Sep 17, 2010 @ 21:55:42
itulah yang terjadi sekarang, mas. dongeng makin jauh dari imajinasi anak2. makin kompleks tantangannya.
Aug 06, 2010 @ 15:37:30
habis abaca malah pusing pak.

tapi tetep harus dipikirin ya pak. kalo bukan kita2 siapa lagi
bener gak pak
Aug 11, 2010 @ 00:25:05
hehe …. kalau pusing jangan lanjutkan bacanya, mas adi, haks.
Jun 28, 2010 @ 15:17:36
kekerasan sudah di pakek tiap hari….
Jun 16, 2010 @ 14:59:33
Di Surabaya, anak2 balita dah bisa ngomong kasar. Pengaruh lingkungan.
Apr 06, 2010 @ 17:00:05
wah….gak kebagian tempat ni… :d

memang bingung liat anak-anak zaman sekarang ni Pak…(terutama tingkat sekolah dasar). Kalau saya dulu (masih SD), saya sudah hapal Perkalian (s/d 10), anak zaman sekarang Pak (perkalian sampe’ 6 aja udah kebingungan). Tapi coba disuruh nyanyi lagu “CINTA FITRI” dan sejenisnya…(HAPAAAAAAAAAAL banget) Pak…
Itu masih tingkat Dasar Pak, gimana dengan tingkat lanjutan (SMP-SMA)…haha bukan sinetron (tontonannya) Pak…(apa gak makin PARAh…)
.-= Baca juga tulisan terbaru adi berjudul "NegeriAds.com Solusi Berpromosi" =-.
Apr 15, 2010 @ 14:02:31
nah, itu dia yang jadi masalah, mas adi. doh, anak2 sekarang justru malah akrab banget dg lagu2 cinta remaja, sementara mereka sudah lupa dengan dongeng atau hitung2an yang menghibur.