Dari Motivasi ESQ ke Temu Forum PUG Bidang Pendidikan

Memburu Jati Diri? Ungkapan ini mengingatkan pada artikel saya yang pertama kali dimuat di media cetak lokal. Di rubrik “Debat Mahasiswa”, sekitar tahun 1987, nama saya yang saat itu masih berstatus mahasiswa calon guru di sebuah lembaga pendidikan keguruan, jadi terkenal di lingkungan kampus, hehe … Karuan saja, saya jadi “besar kepala”. Ternyata, saya bisa menjadi seorang penulis. Walhasil, saya pun jadi keranjingan menulis, apalagi dapat honor. Meski demikian, ternyata tidak semua tulisan yang saya kirim bisa langsung dimuat. Sebagian besar masuk ke keranjang sampah dan hanya beberapa di antaranya yang lolos dari otoritas dan kewenangan sang redaksi.

Untuk beberapa saat lamanya, saya vakum menulis. Barikade redaktur yang tak mudah ditembus membuat saya putus asa. Apalagi, untuk menghasilkan sebuah tulisan butuh kerja keras. Saya harus menggunakan mesin ketik manual. Sebuah “tulisan jadi” yang hanya terdiri antara 5-6 halaman, prosesnya bisa menghabiskan kertas sampai 30-an halaman karena seringnya salah ketik.

Bagi saya, proses menulis merupakan bagian dari upaya memburu jati diri; sebuah proses yang dalam bahasa Abraham Maslow sering disebut sebagai proses aktualisasi diri. Aktivitas apa pun, dalam konteks demikian, bisa dimaknai sebagai bagian kecil dari proses panjang sebuah pemburuan jati diri. Nah, liku-liku dan proses pahit yang menyertai ranah kepenulisan yang saya alami sejatinya juga merupakan bagian dari proses aktualisasi diri itu. “Saya menulis, karena itu saya ada,” demikian kata Rene Descartes.

Nah, anak-anak yang kini tengah gencar mendobrak pintu ujian nasional (UN), pada hakikatnya juga sedang berjuang memburu jati diri. Sesulit apa pun rintangannya, toh mesti dilewati juga. Karena menjadi bagian dari proses memburu jati diri, UN menjadi sebuah “conditio sine qua non”. Persoalannya sekarang, kalau pintu UN itu gagal terdobrak alias tidak lulus, bisakah disebut gagal memburu jati diri?

Hmm … sebagai sebuah proses, ending menjadi sesuatu yang tak pernah mengenal kata finish. Apa pun hasilnya, bukanlah menjadi sesuatu yang menjadi begitu penting dipersoalkan. Yang lebih urgen dan utama dari semua itu adalah kenyamanan menikmati sebuah proses. Ibarat menempuh perjalanan jarak jauh, ukuran jarak bukan lagi menjadi sesuatu yang penting, asalkan bisa menikmati proses perjalanan itu dengan “enjoy” dan menyenangkan. UN pun idealnya diposisikan semacam itu. Persoalan hasil menjadi urutan nomor dua. Yang lebih penting dan utama adalah proses pelaksanaan UN itu sendiri. Asalkan dilakukan dengan fair dan jujur, UN akan memberikan nilai tambah tersendiri bagi peserta UN dalam proses memburu jati diri dan aktualisasi diri.

Berikut ini adalah sebagian potret anak-anak SMP 2 Pegandon yang tengah melakukan persiapan memburu jati diri melalui training Emotional and Spiritual Quotient (ESQ). Kegiatan berlangsung di SMP 2 Pegandon pada hari Kamis, 25 Maret 2010 (pukul 16.00-17.30 WIB).

testimage
Menjelang Motivasi ESQ (1).
testimage
Menjelang Motivasi ESQ (2).
testimage
Kasek didampingi beberapa guru.
testimage
Ibu-ibu siap mendukung.
testimage
Lesehan di luar pun jadi.
testimage
Tes kejujuran.

Nah, semoga anak-anak bangsa negeri ini sukses memburu jati diri sehingga mampu mengaktualisasikan dirinya secara utuh dan paripurna.

Keesokan harinya, Jumat hingga Sabtu (26-27 Maret 2010), saya bersama dua rekan sejawat (Bu Sari-Boyolali dan Pak Sudarno-Kebumen) didaulat untuk mendampingi teman-teman fasilitator Pengarusutamaan Gender (PUG) Bidang Pendidikan se-Jawa Tengah yang berlangsung di gedung P2PNFI, Ungaran, Jawa Tengah. Kami ketiban sampur untuk menyampaikan materi “Pengembangan Bahan Ajar” yang Responsif Gender, sedangkan Pak Fauzi (IAIN Walisongo-Semarang) dan Bu Ismi (UNS Surakarta) didaulat untuk menyampaikan materi “Pengembangan Karya Tulis Ilmiah” Bermuatan Gender.

Sekitar 100 fasilitator PUG kabupaten/kota se-Jateng (mulai tingkat TK/SD, SMP, hingga SMA/SMK) hadir dalam Temu Forum ini. Pak Cahyo, Ketua Panitia (Dinas Pendidikan Prov. Jateng), berharap agar kegiatan tersebut mampu menghasilkan produk tulisan, baik berupa bahan ajar maupun karya tulis ilmiah yang responsif gender, yang mampu memperkuat nilai-nilai etika berbasis kearifan lokal. Hal ini dimaksudkan agar pengarusutamaan gender yang mulai gencar diintegrasikan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) bisa berlangsung secara wajar dan alamiah, tanpa terkesan adanya paksaan dan indoktrinasi.

testimage
Background.
testimage
Antusiasme peserta.
testimage
Pak Sudarno sedang beraksi.
testimage
Bu Sari sedang melayani konsultasi.

Ya, ya, PUG memang belum sepenuhnya diterima secara utuh di tengah-tengah masyarakat yang masih demikian kuat budaya patriarkhinya. Fenomena-fenomena bias gender, seperti kekerasan dalam rumah tangga, beban ganda, marginalisasi (peminggiran), dan subordinasi, diakui atau tidak, masih sering terjadi. Korbannya, sebagian besar adalah kaum perempuan yang sejatinya dalam ajaran agama apa pun diberikan tempat yang terhormat dan bermartabat. Meski demikian, upaya PUG tidak harus dilakukan secara frontal dan vulgar. Nah, agaknya dunia pendidikan menjadi tempat yang strategis untuk menananamkan dan mengembangkan nilai-nilai keadilan dan kesetaraan gender, sehingga dalam beberapa tahun mendatang, anak-anak masa depan negeri ini bisa mengimplementasikan dan mengaplikasikan keadilan dan kesetaraan gender itu dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Nah, semoga harapan seperti itu kelak benar-benar bisa terwujud. ***

Tulisan lain yang berkaitan:

Hidup di Negeri yang Memberhalakan Angka-Angka (Wednesday, 28 December 2011, 973 pembaca, 48 respon) (Catatan Pembuka: Dalam paruh dasawarsa terakhir ini setidaknya ada tiga isu utama yang mencuat dalam jagad pendidikan kita, yakni Ujian Nasional...
Daya Serap Terendah Soal UN Bahasa Indonesia SMP 2011 (Saturday, 24 December 2011, 3,713 pembaca, 48 respon) Hasil Ujian Nasional (UN) Bahasa Indonesia SMP tahun 2011 menunjukkan hasil di luar dugaan. Secara nasional, nilai rata-ratanya justru paling rendah...
Memetakan Kompetensi Siswa SMP dalam UN 2011 (Tuesday, 21 June 2011, 1,635 pembaca, 70 respon) (Analisis dan Refleksi Pasca-UN 2011-Bagian II) Hasil UN Bahasa Indonesia SMP tahun 2011 masih menyisakan tanda tanya besar. Sebagaimana diketahui,...
Fenomena Nilai UN Bahasa Indonesia SMP Tahun 2011 (Monday, 13 June 2011, 3,360 pembaca, 51 respon) (Analisis dan Refleksi Pasca-UN 2011-Bagian I) Sungguh, hasil Ujian Nasional (UN) SMP tahun ini membuat kening saya berkerut. Tak hanya bejibunnya...
Mengapresiasi Terobosan Baru Kemdiknas dalam UN 2011 (Sunday, 27 February 2011, 1,501 pembaca, 40 respon) Simpang-siur penafsiran Peraturan BSNP Nomor: 0148/SK-POS/BSNP/I/2011 tentang Prosedur Operasi Standar (POS) Ujian Nasional (UN) Tahun Pelajaran...
tentang blog iniTulisan berjudul "Dari Motivasi ESQ ke Temu Forum PUG Bidang Pendidikan" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (27 March 2010 @ 19:38) pada kategori Budaya, Edukasi, Sosial dan telah dikunjungi oleh 1,143 pembaca. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Jika tertarik dengan tulisan ini, silakan di-share/bookmark melalui jejaring berikut ini: