Home » Cerpen » Rajamuda

Rajamuda

Cerpen Khrisna Pabichara
Dimuat di Jurnal Bogor (12/13/2009)

1

NAMANYA Ying. Lengkapnya, January Zhang Ying. Lahir awal Januari. Ia keturunan Tionghoa. Tapi ia kerap berkeras bahwa ia itu Indonesia sejati. Bukan karena sok nasionalis, tapi karena ia memang lahir di Indonesia, tumbuh besar di Indonesia, dan makan-minum di Indonesia. Bahkan, semasa di kampus, ia dikenal Indonesia banget.

Ying murah senyum. Ia tak pernah membedakan status sosial dalam bergaul. Budaya sipakatau, berdiri setegak duduk sejajar, sudah mendarah daging baginya. Semua manusia sama. Tidak ada sekat pembeda. Karena itu Ying bisa diterima siapa saja. Mata sipitnya bukan halangan baginya untuk berbaur dengan masyarakat sekitarnya. Tidak heran jika namanya amat akrab bagi warga Kabupaten Gowa, terutama di kawasan Malino. Bahkan, pernah ada pemeo, jika ada yang kesasar di Gunung Bawakaraeng, sebut saja nama Ying. Maka, jika ia laki-laki, orang itu bakal diperlakukan bak Raja. Dan jika perempuan akan dilayani seperti Ratu.

Hanya satu yang kurang darinya. Gayanya urakan. Selebihnya, dia sempurna.

2

BELAKANGAN ini Ying sering merasa gelisah. Entah apa sebabnya. Apakah karena saya jatuh cinta, tanya hatinya. Tidak mungkin. Ia bukan perempuan yang mudah jatuh cinta. Bukan pula penganut mazhab jatuh cinta pada pandangan pertama. Michi salah besar.

“Kamu pasti jatuh cinta!” cecar Michi padanya.

Ah, mustahil. Kata “jatuh cinta” sudah lama ia singkirkan dalam sejarah hidupnya. Bahkan kata itu sudah ia hilangkan secara sengaja dalam kamusnya. Apalagi jatuh cinta pada lelaki yang sudah beristri dan punya satu anak. Itu siri’, perbuatan memalukan yang bisa menjatuhkan harga diri, sekaligus menorehkan luka. Bagi istri dan anak lelaki itu. Juga bagi dirinya. Apa kata orang nanti, seorang perempuan anti lelaki malah tega merampas suami perempuan lain. Oh, tidak!

”Tidak mungkin,” bantah Ying pagi itu.

“Pasti!”

Ying tergelak. Mata sipitnya semakin meripit. Tak ada sejenak waktu yang bisa diluangkan olehnya untuk beternak binatang bernama cinta. No way! Baginya, mencintai lelaki adalah sebuah kesalahan. Apalagi jika perempuan hanya menjadi objek bagi lelaki untuk menunaikan hajat biologis. Menjadi budak yang hanya bisa mengiya. Yang setiap hari menurut seperti kerbau dicucuk hidungnya.

”Hanya cinta yang bisa membuat seseorang bertingkah seaneh kamu.”

”Mustahil,” bantah Ying. Di matanya membayang kisah Sashi yang semaput dan nyaris koma ketika Vicky meninggalkannya tanpa alasan jelas.

“Lantas, mengapa kamu bisa berulah begitu aneh?”

3

SEMUA bermula pada tiga hari silam. Raja, temannya di facebook, mengajaknya kopi darat di pantai Losari. Karena penasaran ingin melihat sosok yang sering menemaninya chating, Ying bersedia menerima ajakan itu. Alkisah, mereka bertemu di gadde Daeng Kulle, warung khas Makassar di tepi Losari. Sembari menunggu matahari membenam, mereka menyeruput sarabba’ dan pisang epe’. Singkat sekali pertemuan itu. Tapi Ying begitu menikmatinya. Belum pernah ia merasa senyaman itu di dekat seorang lelaki. Duduk bersisian, memandangi Pulau Kayangan dari kejauhan, sesekali mengangsurkan uang ribuan kepada pengamen jalanan.

Rajamuda, begitu nama lengkap lelaki itu. Seorang keturunan bangsawan, tapi sikapnya sederhana dan bersahaja. Rambutnya cepak. Mukanya bersih. Jenggot tipis yang tertata rapi menghiasi lancip dagunya. Perawakannya sedang, tidak kerempeng tidak pula berotot. Dan, amboi, suaranya itu. Suaranya renyah dan empuk laksana suara penyiar radio ternama. Perjumpaan pertama itu makin mencengangkan, ketika mereka sepakat menonton pertunjukan Teater Tutur Jeneponto, di Benteng Somba Opu, malam minggu nanti.

Sungguh, pertemuan singkat yang mengesankan!

4

YING belum pernah ciuman. Pacaran saja tidak, apalagi ciuman. Sesekali terbersit di hatinya keinginan menjajal seperti apa rasanya ciuman itu. Perempuan seusianya kerap bercerita tentang pacaran. Juga pengalaman berciuman. Tapi, begitulah ia. Orangtua kaya raya seolah jadi benteng tangguh yang sulit diterobos kaum lelaki. Absahlah kiranya hingga umurnya menginjak angka duapuluh lima, ia tetap seorang jomblo. Memang ia menolak jadi koloni lelaki, namun ia tetap lazimnya perempuan, ingin dicinta dan mencinta. Ingin merasakan gelegak ciuman. Atau—setidaknya—pelukan.

Tapi, dengan siapa? Dan, rasanya seperti apa?

5

PERTEMUAN kedua, Raja tetap santun. Matanya saja enggan menjalari wajah Ying berlama-lama. Ia hanya tersenyum tipis atau mengangguk ramah. Biasa saja. Di atas pentas, lakon Sang Karaeng episode Kursi Panas, mulai mengocok perut dan menyentil hati. Hingga kotak susu di tangannya tandas dan sekantung kacang rebus berpindah ke perutnya, belum ada tanda-tanda Raja bakal memberinya pengalaman baru. Pengalaman yang diidamkannya sejak tiga hari lampau. Ia ingin bercinta bukan karena dorongan berahi. Ia hanya ingin tahu. Itu saja! Tapi ia tidak mau sembarangan memilih lelaki untuk memuaskan hasrat ingin tahunya itu.

Yang pasti, sepanjang pertunjukan teater, Raja tetap berlaku santun. Saking santunnya, menyentuh tangannya pun tidak.

Sungguh, pertemuan kedua yang mengesankan! Sekaligus mengecewakan!

6

”KAMU sudah gila, Ying?” gerutu Michi.

Ying mendelik, ”Gila kenapa?”

”Apa yang kurang darimu hingga harus jatuh cinta pada suami orang?”

”Aku tidak jatuh cinta, Michi!”

Michi menggeleng-gelengkan kepala. ”Aneh, kamu makin aneh. Ada yang salah pada syarafmu.”

”Jangan bawa-bawa syarif…?”

”Ying, kamu bisa mendapatkan lelaki mana saja,” sela Michi. “Kamu kaya, punya banyak relasi, dan cantik. Banyak lelaki jatuh hati padamu!”

Ying tertawa getir. ”Nyatanya saya masih jomblo.”

”Buka dirimu! Lihat sekeliling. Ingat bagaimana cara Raymond menatapmu. Ingat Bella yang suka menelan ludah setiap bertemu denganmu. Ingat apa yang membuat Joy gugup setiap berada di dekatmu. Tanya kenapa Kelvin selalu menitip salam untukmu!”

”Mereka tidak menggetarkan hati saya.”

”Dan lelaki beranak satu itu sanggup menggetarkan hatimu?”

”Yup,” jawab Ying mantap.

”Ommalek. Berarti kamu jatuh cinta.”

”Tidak,” bantah Ying. ”Ingin bercinta, bukan jatuh cinta.”

”Dengan lelaki yang sudah menjadi hak perempuan lain?” cecar Michi. “Itu siri’, Ying. Kamu tahu seluk-beluk adat Makassar, tapi mau menerjangnya.”

Ying tersedak. ”Raja mau cerai. Sekarang mereka pisah ranjang.”

”Tapi masih serumah?”

Ying mengangguk.

”Itu hanya strategi untuk memerangkap dirimu,” kata Michi. “Itu tipu daya lelaki, Ying. Hati-hati!”

Tiba-tiba handphone saya menjerit. Di layar terbaca sebuah nama. Buru-buru saya tekan tombol yes. Tidak lupa membunyikan speaker, biar Michi mendengarnya.

“Dinda, kanda kangen kodong!” tutur Raja, di seberang sana.

Michi mendelik. Ying tersipu. ”Dinda juga kangen. Daeng sih…!”

”Kenapa?”

”Tega memaksa dinda terkapar menahan rindu.”

”Hehehe, sama. Ketemuan yuk?”

”Di mana?” sergah Ying penuh suka cita. “Sekarang?”

”Di gadde Daeng Kulle. Langsung berangkat ya?”

”Ya!” sahut Ying seraya mematikan speaker.

Michi terkesima, ”Kamu mau menemuinya?”

Ying mengangguk.

”Sadar, Ying. Ia menjebakmu. Jangan menemuinya. Jika benar ia menginginkan kamu, biar ia yang mengejarmu, bukan kamu yang takluk dan menyerahkan dirimu. Mana prinsip hidupmu selama ini? Kamu perempuan, Ying. Ingat, kamu perempuan!”

Ying tertegun. Ya, saya memang perempuan!

7

RAHANG Raja tegang. Dahinya berkerut. Matanya seolah kehilangan binar cahaya. Tak ada suara. Hanya hela napas menderu sesekali. Pantai Losari tetap ramai. Tapi Ying merasa begitu sunyi. Ia sapu wajah Raja yang digayuti awan kelabu. Ia beranikan diri meremas jemari Raja, seolah hendak berbagi kekuatan. Kali ini Raja tidak menampiknya. Meski matanya tetap terpacak di pucuk ombak.

”Ada apa?”

”Minggu depan kami cerai.”

”Ah, bertahanlah. Kasihan anakmu…,” tutur Ying.

”Tak mungkin bertahan lagi,” ujar Raja, ”ia beralih ke lelaki lain.”

Lalu, hening lagi. Lama sekali.

”Maaf, dinda tak bermaksud mengorek lukamu…”

Raja menoleh, ”Tak apa.”

”Mau ke Malino?” pinta Ying.

Raja menatap mata Ying lekat-lekat. Dalam. Dan, lama.

”Dinda hanya ingin menemanimu, Daeng. Jangan salah paham.”

Raja kembali membisu. Ah!

8

“Daeng, saya hamil!”

“Apa? Hamil?” tanya Raja.

“Ya!” jawab Ying dengan pasti.

“Tapi…” ujar Raja ragu-ragu, “gugurkan saja!”

Ying tersentak, ”Apa?”

”Ini siri’, aib bagi keluarga. Saya tak mungkin menikahimu.”

”Katanya mau cerai?”

Raja gelagapan. ”Itu rekayasa…”

Tiba-tiba saja telapak tangan Ying melayang ke wajah Raja. Menyisakan jejak merah. Tapi Raja tenang-tenang saja, hanya mengusap pipinya. Sialan!

”Selain itu, kita beda suku beda agama, Ying. Keluarga saya…”

”Saya tidak butuh keluargamu. Saya butuh kamu,” tukas Ying. “Mana paccenu, rasa iba pada janin di rahim saya?”

”Sudahlah, gugurkan saja!”

”Tapi…”

”Tidak ada tetapi. Lakukan saja!” kata Raja sembari merogoh tasnya. Mengambil buku cek, merobek selembar. Lalu menulis angka puluhan juta di atasnya. Tanpa sepatah kata, cek itu disorongkan ke arah Ying. Buku ceknya dimasukkan kembali ke dalam tas. Berdiri, lalu meninggalkan Ying, begitu saja.

”Daeng…”

***

tentang blog iniTulisan berjudul "Rajamuda" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (21 Maret 2010 @ 13:42) pada kategori Cerpen. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Tulisan Terkait:

Ada 1 komentar dalam “Rajamuda

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *