Home » Cerpen » Kunang-kunang Mengerjap Gelap Ruang

Kunang-kunang Mengerjap Gelap Ruang

Cerpen S Prasetyo Utomo
Dimuat di Suara Merdeka (10/28/2007)

LEPAS tengah malam, lelaki setengah baya itu hadir menciptakan suasana aneh: kunang-kunang mengikutinya, berpendaran, mengerjap, berkelap-kelip dalam gelap ruang kamar Ayu. “Aku takut kegelapan,” kata Ayu.

Lampu kamar dimatikan. Ayu memeluk rapat dan menyusupkan wajah ke dada lelaki setengah baya. Mata Ayu terpejam. Tangannya merengkuh punggung lelaki setengah baya itu. Jari-jemari mencengkeram, hampir-hampir mencakar dan mengelupas kulit.

Agak lama Ayu menyusupkan wajah ke dada lelaki setengah baya itu. Menghindar dari sergapan masa lalu di gudang gelap: kilau sabit yang dikalungkan Ayah di lehernya, semasa ia kanak-kanak. Kasar, penuh amarah, Ayah membentak, “Turut Ayah atau Ibu?”. Ia ingin turut Ibu. Tapi sabit yang dikalungkan di lehernya, memaksanya untuk menukas terisak, “Turut Ayah.” Ditinggalkannya Ibu dan kedua kakak perempuan. Tinggal bersama Ayah dan Nenek yang cerewet, suka mengajarinya menari, dan bila malam tak turun hujan, mengajaknya tidur di pelataran, memandang bintang-bintang hingga pagi.

Gelap ruang selalu menakutkan Ayu. Mengingatkannya pada pengab gudang berdebu dan leher terancam kilau sabit. Tapi kali ini ia kaget, dalam gelap ruang kamar berpendaran kunang-kunang yang mengikuti lelaki setengah baya. Ia jarang melihat kunang-kunang waktu malam, meski dulu Nenek selalu memintanya tidur di pelataran rumah hingga dini hari: merasakan rembesan embun dalam dingin malam, kepak lembut sayap kelelawar, dan bintang-bintang jatuh dalam kubah sunyi. Tampak dari pelataran rumah Nenek cerlang bintang-bintang di langit. Cahaya berpendaran itu yang membebaskannya dari rasa takut sekapan gelap gudang, hardikan kasar Ayah, dan kilau sabit yang mengalungi lehernya.

Kini kunang-kunang menyertai lelaki setengah baya itu ke dalam gelap kamar. Rintihan Ayu tengah malam menyingkap tabir kelam. Suara rintihan itu membebaskan ketakutan masa silam. Terbaring di sisi lelaki setengah baya itu, Ayu seperti perawan menemukan pangerannya dalam rimba, tersentuh cahaya kunang-kunang dan tergagap dalam kekaguman. Di rumah yang dikelilingi rimbun pepohonan, dengan harum bunga-bunga kopi di perkebunan, sesekali terdengar canda Ayu. Lelaki setengah baya itu terdiam memandanginya. Menatap tato setangkai mawar di payudara kanan Ayu. Menyembul di batas selimut penutup tubuhnya.

“Kau masih nyanyi di kelab?” tegur lelaki setengah baya itu.

Nada suaranya seperti tak rela.

“Tidak ada undangan menari. Jadi, apa salahnya aku menyanyi?”.

“Aku lebih suka melihat kau menari di panggung.”

“Kau persis Ayah,” balas Ayu. “Bedanya, dulu, Ayah memaksaku menari, selalu dengan ancaman.”

Kunang-kunang masih mengitari kamar Ayu, dalam gelap ruang. Selalu saja, setiap kali lelaki setengah baya itu datang, kunang-kunang menyertainya. Tengah malam itu dalam gelap kamar, semula ia disekap rasa takut, tergeragap, dan hampir-hampir tak bisa menguasai diri. Tapi begitu kunang-kunang menebar dalam kamar, ia merasakan sentuhan lelaki setengah baya itu jadi lembut, meski kadang tertahan. Tak seperti lelaki-lelaki lain yang senantiasa hadir dengan kekasaran, napas beraroma rokok dan minuman keras murahan, lelaki setengah baya ini, sangat santun menyentuhnya. Dua puluh sentuhan lelaki, mungkin lebih, yang pernah menjadi kekasihnya, tak satu pun menandingi kelembutan lelaki setengah baya. Ia serupa kunang-kunang yang mengerjap dalam gelap ruang, dan meneduhkan pandangannya untuk memaknai semua benda dan bayangan.

Menjelang dini hari aroma bunga-bunga kopi kian pekat, tertimpa embun. Kunang-kunang lenyap dari kamar. Terasa desir kecemasan dalam kantuk Ayu. Ia menerobos ke kamar Arlinda, anak gadisnya, kanak-kanak lima tahun, yang setiap saat mesti tidur sendirian. Tanpa teman. Biasanya Sarkem, pengasuh Arlinda, segera meninggalkan kamar, begitu gadis kecil itu terlelap. Bergegas perempuan setengah baya itu memasuki kamarnya sendiri di dekat dapur. Menguncinya rapat-rapat.

Sarkem tak peduli akan apa yang terjadi di rumah itu. Ayu biasa pulang tengah malam, dan membawa lelaki ke kamar tidurnya. Sarkem tak mau tahu. Ia melihat lelaki teman kencan Ayu meninggalkan rumah pada pagi hari. Tak pernah bertanya. Ia mendengar suara canda dari kamar Ayu. Tak mau menggubrisnya. Ia kadang mendengar Ayu menangis di kamar itu. Ia tak mau merenunginya. Ia hanya memikirkan Arlinda. Begitu berkali-kali Ayu memperingatkan Sarkem: menjaga Arlinda dengan sebaik-baiknya.

Memasuki kamar Arlinda, Ayu memandangi gadis kecil itu masih lelap tidur. Wajahnya polos dan jenaka. “Mudah-mudahan ia tak lagi bertanya, di manakah ayahnya,” bisik Ayu sambil menutup kembali pintu kamar, pelan, rapat, tanpa suara.

***

MENYUSURI pagi berkabut, Ayu melintasi jalan setapak di celah hamparan kebun kopi. Bibirnya merah menyala. Tubuh ranum menggoda. Dia bisa merasakan getaran tubuh yang menantinya di sendang. Dia yakin, di sendang ada sepasang mata yang menatapi tubuhnya saat mandi.

Dalam kabut rembang pagi, Ayu menuruni jalan berbatu mencapai tepian sendang, yang memantulkan cahaya langit samar-samar. Berhenti di ambang sendang, ia bersimpuh. Guyuran air pertama dari sendang – yang diambilnya dengan belahan tempurung kelapa – terasa menggigilkan. Tapi pada guyuran berikutnya, ia merasakan kehangatan air sendang.

Di sendang sebelah, Tejo -lelaki dengan dada bertato naga- meredakan kemarahan yang menggemuruh dalam dada. Tiap kali lelaki setengah baya itu datang ke rumah Ayu, Tejo murka. Ingin membantai lelaki setengah baya. Semalam dia mengendap-endap di sisi kamar Ayu dan melihat kunang-kunang dalam gelap kamar. Ia ingin melampiaskan dendam pada lelaki setengah baya, yang selalu diterima Ayu. Dia kehilangan kesempatan mencumbu perempuan itu: diusir, dimaki, dihinakan. Ia tak punya tempat untuk melampiaskan dendam pada lelaki setengah baya itu, kecuali mendatangi sendang. Di sini ia bisa memandangi Ayu yang sedang mandi. Dadanya yang bergolak menjadi dingin. Amarahnya mereda. Ia biasa mandi di sendang, dan merasakan kucuran air menderas membasuh dendamnya.

“Kenapa tidak kauusir lelaki tua itu?” kata Tejo, menahan gigil: antara dingin dan murka.

“Aku suka dia, yang selalu datang dengan kunang-kunang dalam kamar.”

“Tapi kau tak tahu, dia pejabat yang diutus wali kota membakar pasar lama, agar bisa dibangun pasar baru!”

“Aku tak berurusan dengan itu!” balas Ayu. “Dia memberiku ketenteraman.” Dengan telapak kaki berpijak di atas bebatuan, Ayu memandangi lengkung langit yang pucat di permukaan sendang. Tergenang pula di permukaan air sendang, bibirnya merah menyala. Tubuhnya ranum menggoda.

Tejo memandangi Ayu mengguyur tubuh dengan ketenangan menggiurkan. Ayu bukannya tersipu malu. Ia menikmati dipandangi mata lelaki dengan hangat berahi. Ia juga membiarkan jendela kamarnya terbuka saat lelaki setengah baya itu datang. Bukan untuk mengundang kunang-kunang menyergap kamarnya. Ia tahu Tejo memandangi bayangan tubuhnya mabuk cumbu.

“Mestinya kau yang menyingkirkan lelaki itu!” kata Ayu, memancing kemarahan Tejo.

“Akan geger wilayah ini, kalau ia kubunuh! Tapi suatu saat, aku akan membuat perhitungan dengannya!” tukas Tejo. Ia beranjak menapaki jalan berbatu, sebelum orang-orang melihatnya berada di sendang bersama Ayu.

Kabut tersapu bias cahaya matahari, saat Tejo mencapai jalan setapak di perkebunan kopi. Gemericik air sendang tak terdengar lagi. Dada lelaki muda itu masih sesak, merasakan kegetiran yang menyengat: ingin membantai lelaki setengah baya yang sesekali menyelinap diam-diam ke rumah Ayu. Ditinggalkannya Ayu. Menenangkan perasaannya sendiri.

***

CAHAYA matahari menghangati rambut Ayu yang basah. Merembes air di pundaknya yang terbuka. Ia meninggalkan sendang, menapaki jalan berbatu, yang kini mulai berlumut, licin, dan menggelincirkan. Di pelataran rumah, ia lihat lelaki setengah baya memandanginya takjub. Matanya teduh, menenteramkan. Menggendong Arlinda. Mengusap-usap rambut kusut gadis belia itu. Menurunkannya. Arlinda berlari menghampiri Ayu.

Ayu selalu menemukan lelaki setengah baya itu tenang dan lembut di atas mobil dinasnya. Keteduhan itu, mungkinkah menyimpan kekejian seperti yang dituduhkan Tejo? Dalam gelap ruang kamarnya, dengan jendela yang terbuka, selalu muncul kunang-kunang saat lelaki setengah baya itu datang. Ia bisa merasakan, betapa berbeda tatapan mata lelaki setengah baya itu dengan Ayah, yang bengis, kasar, dan menaklukkan. Ayah meninggal dunia saat ia beranjak remaja, dan ia kembali hidup bersama Ibu -yang sangat asing, bertahun-tahun ia mencoba mengenali perempuan yang melahirkannya dan gagal.

Di atas mobil dinasnya, lelaki setengah baya itu memancarkan kelembutannya. Tersenyum. Melambai. Arlinda membalas lambaian tangan itu. Ayu termangu. Ia akan kembali dengan dirinya sendiri. Menyanyi di kelab malam dekat perkebunan kopi. Kadang menari ke luar kota. Kadang menerima lelaki ke dalam kamarnya. Tapi kehidupannya masih juga gersang: lelaki-lelaki itu serupa barang mainan yang sesekali bisa disepaknya. Berganti-ganti memasuki kamarnya dua puluh kekasih, tanpa kunang-kunang dalam gelap kamar. Dan ia, tanpa sadar, bisa garang meradang pada kekasihnya.

Bila lelaki setengah baya meninggalkan Ayu, sebenarnya perempuan itu ingin tahu: kapan bakal datang lagi, membawa mobil dinas melintasi perkebunan kopi, dan memasuki pelataran rumahnya yang sunyi. Tapi ia tak berani bertanya. Ia tak bisa menduga, kapan lelaki setengah baya itu bakal datang. Yang membisik tanya malah Arlinda, “Kapan dia datang lagi, Ibu? Aku suka kunang-kunang pemberiannya.”

***

ADA getaran dalam tubuh lelaki setengah baya itu, saat berhadapan dengan wali kota, di teras rumah, menghadap gemerlap kota. Malam mengantarkan angin lembab. Wali kota memandangi kerlap-kerlip gedung-gedung, dan di pusat kota, tampak redup cahaya pasar tua.

“Sudah kau laksanakan tugasmu?” tanya walikota, menghisap pipa rokoknya. Ia tak menatap lelaki setengah baya, pejabat kota, yang setia menemaninya.

“Akan kucari orang yang tepat untuk melaksanakannya.”

“Jangan terlalu lama. Pasar itu kacau dan kumuh. Tak bisa diatur. Bakar saja. Dirikan pasar baru.”

Lelaki setengah baya itu memandangi kota terhampar di bawah rumah wali kota, serupa kunang-kunang. Ia tersenyum. Teringat Ayu, yang setiap kali ia datang ke kamar perempuan itu, selalu beterbangan kunang-kunang memasuki jendela kamar yang terbuka. Dan perempuan itu menjadi riang dalam ketakutannya. Ayu menangkap kunang-kunang itu. Memasukkannya dalam gelas. Menangkupkan tangannya menutup gelas. Berteriak-teriak mencari Arlinda. “Ini, kunang-kunang untukmu, Nak.”

***

TERCENGANG lelaki setengah baya itu, saat memandangi kota melalui jendela kamar Ayu yang terbuka. Ia tak melihat kunang-kunang yang mengerjap dalam kesunyian kebun kopi. Ia menatap jauh di pusat kota yang terbakar. Api terus membubung, menghanguskan cakrawala. Percikan kebakaran itu menyemburkan bunga-bunga api.

Tubuh lelaki setengah baya itu lemas seketika. “Aku tak mengutus siapa pun untuk membakar pasar tua,” bisiknya. Teringatlah ia pada beberapa gelandangan yang tertidur di pasar. Terlintas dalam benaknya orang-orang gila yang hangat menikmati tempat tinggal di sudut-sudut pasar. Terberanguskah mereka?

Dari jendela kamar yang terbuka, lelaki setengah baya itu berharap api segera surut. Tapi ia tak melihat api mengecil. Menjadi padam. Lampu kota mati. Tinggal nyala api itu yang menggulung langit. Asap tebal membubung. Lelaki setengah baya itu buru-buru berpamitan pada Ayu. Mengendarai mobil dinasnya. Meninggalkan Ayu yang terbaring sunyi menanti kunang-kunang mengerjap dalam gelap kamar. Percikan-percikan api di pusat kota terus menyusup dalam gemeretak gelap langit sepanjang tengah malam hingga dini hari.

Ayu tak bisa menangkap kunang-kunang untuk Arlinda. Gadis kecil itu keburu beranjak tidur dalam kamarnya. Ayu tak ingin putrinya juga takut pada kegelapan seperti dirinya. Takut pada bayangan-bayangan kilau sabit yang mengalungi leher.

***

TAK ada kunang-kunang mengerjap dalam gelap kamar Ayu. Ia tak menyanyi di kelab malam. Sejak sore ia memasuki kamar. Merintih. Menangis tertahan. Dan Tejo tak peduli. Lelaki dengan dada bertato naga itu membiarkan jendela terbuka. Meski lelaki muda itu tahu Arlinda masih berkeliaran di pelataran, mencari-cari kunang-kunang yang beterbangan, dibiarkan pintu kamar terbentang. Gadis kecil itu menangkap kunang-kunang hingga menyusup ke kebun kopi. “Akan kutunjukkan kunang-kunang ini pada Ibu,” bisiknya.

Berlarianlah Arlinda meninggalkan kebun kopi. Tangannya terus menggenggam kunang-kunang. Ia tak berani membuka genggaman tangannya. Menerobos pintu rumah. Dia menabrak pintu kamar Ayu. “Aku dapat kunang-kunang. Ini sungguh lucu, Bu!”

Tercengang, dalam gelap kamar Arlinda melihat ibunya terisak tangis. Dan Tejo, lelaki bertato naga di dada, menyiksa Ayu dalam rintihan. Kunang-kunang dalam genggaman tangan Arlinda terlepas, beterbangan. Sekejap gadis kecil itu melihat wajah Tejo yang menyeramkan. Tato naga di dada lelaki itu menyergap pandangannya. Ia berlari ke kamarnya. Mengunci pintu. Terdiam dalam gelap kolong ranjang. Tersekap kegelapan yang menggigilkan.

Kunang-kunang yang terbebas dari genggaman tangan Arlinda berputar-putar mengerjap dalam gelap ruang kamar Ayu.***

Pandana Merdeka, Agustus 2007

tentang blog iniTulisan berjudul "Kunang-kunang Mengerjap Gelap Ruang" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (18 Maret 2010 @ 06:18) pada kategori Cerpen. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Tulisan Terkait:

Ada 1 komentar dalam “Kunang-kunang Mengerjap Gelap Ruang

  1. Pingback: jam nixon

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *