Home » Cerpen » Sayap Anjing

Sayap Anjing

Cerpen Triyanto Triwikromo
Dimuat di Media Indonesia (04/20/2003)

BERSAMA ribuan orang yang berbaring atau tiduran seperti mayat-mayat harum, saya menelentang mirip Isa yang tersalib, ketika anjing-anjing, monyet-monyet, celeng-celeng, dan babi-babi indah itu terbang mengepak-ngepakkan sayap hijau di atas Masjidil Haram.

”Lihat, Ustaz, mereka menyisir langit menembus kelam.”

Ustaz Muharor kaget. Jari-jarinya masih meniti tasbih. Bibirnya melantunkan zikir.

Karena terus-menerus dilabrak pemandangan tak terduga, dia segera duduk dan secepat mungkin mendongakkan kepala. ”Masya Allah, pejamkan mata sampean. Kita sedang berhadapan dengan iblis!”

”Iblis?” saya bertanya sambil terus menatap kilau sayap-sayap yang indah itu.

”Ya, iblis! Sangat mungkin para iblis menggoda sampean,” mata Ustaz Muharor mengatup.

”Bagaimana mungkin di Mekah ada iblis?”

”Justru di tempat paling suci iblis dibiarkan berkeliaran.”

Dan anjing-anjing, babi, celeng, dan monyet-monyet itu? Anjing-anjing cantik itu, wahai, lihatlah Ustaz, moncongnya begitu lembut, tak berlendir, kaki-kakinya bersinar. Mereka tak menggonggong. Mereka malah seperti sedang melantunkan nafiri purba.

Ustaz Muharor tak merespons igauan saya. Matanya masih mengatup. Bibirnya bergetar dahsyat.

”Sungguh, sekali lagi pejamkan mata sampean. Di sini Nabi pun pernah digoda iblis. Mereka meminta Nabi membelah bulan. Andai tak mau, andai Nabi tak membelah dan menancapkan bulan-bulan indah itu di atas awan Jabal Abiqubais dan Jabal Hindi, kita tak mungkin tidur-tiduran di lantai atas Masjidil Haram yang sejuk dan teduh ini.”

Saya abaikan ucapan Ustaz Muharor. Saya lebih tertarik melacak dari mana anjing-anjing, monyet-monyet, celeng-celeng, dan babi-babi bersayap itu terbang. Dan, masya Allah, ternyata mereka berasal dari beberapa kepala orang-orang yang sedang melakukan tawaf sehabis isya. Mula-mula dari kepala orang-orang yang mengelilingi Kabah itu timbul asap. Asap itu kemudian membentuk moncong, kepala, tubuh, ekor, kaki, dan sayap-sayap hijau berkilauan. ”Lihat, Ustaz! Lihat! Sayap-sayap itu diselimuti spektrum warna-warni. Kenapa sampean tak mau melihat?”

Tak tahan mendengarkan igauan saya, Ustaz Muharor bergegas menghalang-halangi mata saya dengan Alquran. Saya menyerah. Membiarkan kegelapan melabrak. Membiarkan pemandangan menakjubkan itu menghilang.

”Sudahlah, sampean mungkin kurang tidur!”

Lagi-lagi saya abaikan nasihat ustaz muda yang pernah kuliah di Ummul Qura University itu. Dan, karena tahu gelagat saya, ketika bergegas ke Hotel Elaf Kindah — tempat istirah sejuk di Mekah yang panas itu — dia mencerocos tak keruan. ”Abu Jahal pun dilahirkan dan memerangi Nabi di sini. Jadi, sekali lagi, percayalah, setiap saat iblis bisa menemui sampean.”

Akhirnya agak bergidik juga saya mendengarkan segala ucapan Ustaz Muharor. Karena itu, begitu menyusuri jalanan padat yang menghubungkan Masjidil Haram dan hotel, saya memilih membisu dan memejamkan mata. Saya takut jangan-jangan telah menjadi anjing, babi, atau celeng.1 Saya takut sayap-sayap hijau berkilauan telah tumbuh di kedua bahu saya.

***

SUBUH tanpa anjing, babi, dan celeng bersayap baru saja saya lalui. Tanpa Ustaz Muharor, saya melenggang menyusuri jalanan Mekah yang telah dipenuhi para pedagang Takroni yang menjajakan sajadah, abaya, kopiah, dan suvenir-suvenir khas Arab. Karena ingin merasakan kegagapan manusia asing di wilayah yang serbaasing, saya menyisir Pasar Seng2. Siapa tahu di keriuhan orang-orang yang bertransaksi, saya menemukan jawaban atas misteri anjing, monyet, babi, atau celeng bersayap itu.

Karena tak mendapatkan kejutan, saya bergegas ke hotel. Saya berharap bertemu Gus Mus3 agar segera bisa mempertanyakan perihal anjing-anjing, celeng-celeng, babi-babi, dan kera-kera bersayap hijau yang terus-menerus menguntit ingatan itu.

Sayang, dua jam menunggu di lobi, Gus Mus tak juga muncul. Meski demikian, saya melihat Akbar Tanjung bercakap-cakap dengan Jusuf Kalla dan beberapa menteri. Tak jelas apa yang mereka perbincangkan. Yang jelas jari-jari Akbar terus-menerus meniti tasbih seakan-akan tak punya waktu lagi untuk berzikir atau menyebut asma Allah berulang-ulang.

Mendadak Gus Mus bersama istri dan kedua putrinya nongol dari pintu lift. Tentu saja saya ingin segera mengisahkan anjing-anjing bersayap hijau itu sambil menikmati kopi atau sekadar bercakap tentang lalu lintas Mekah yang semrawut. Tetapi, Gus Mus tampak terburu-buru meninggalkan Mekah. Karena itu, saya pun teronggok dan membisu batu hingga salat zuhur tiba.

Dan, binatang-binatang itu? Ah, anjing itu akhirnya saya temukan lagi di pantai Laut Merah. Waktu itu gerimis seperti nenek yang tertatih-tatih menyisir pantai Laut Merah yang gersang dan berdebu. Karena cukup lama hujan tak menyemburkan kristal-kristal gaibnya, orang-orang Arab yang berkerumun di kawasan itu menengadahkan wajah ke langit, melakukan sujud syukur, dan berkali-kali menyebut asma Allah sambil berlari-lari dan mengepak-ngepakkan tangan.

Tak seperti mereka yang berjumpalitan bagai anak kecil, saya hanya tafakur memandang kegelapan laut. Tetapi, mendadak Ustaz Muharor menjerit, ”Anjing! Awas ada anjing!” seraya mengacungkan telunjuknya ke arah saya.

Tak ada makhluk lain menyembul dari kegelapan. Tak ada kucing atau ikan-ikan aneh meloncat ke daratan. Apakah saya telah menjadi anjing?

***

SAYA tak peduli apakah saya memang sekadar celeng atau anjing. Jika ternyata saya cuma anjing, saya akan bangga menerima takdir itu. Anjing pun memiliki sifat indah yang justru jarang dimiliki oleh manusia-manusia beradab. Anjing itu gemar mengosongkan perut, sedikit tidur pada saat malam mendera, tak pernah hengkang dari pintu sang pemilik, zuhud, dan bersyukur sekalipun hidup di tempat paling hina.

Anjing juga tahan lapar, tak pernah mendendam kepada sang pemilik, rela menyingkir ke tempat lain jika medan kehidupannya direbut makhluk lain, menyenangkan orang yang memberi makan, dan ke mana pun pergi pantang membawa bekal. Ia benar-benar memasrahkan kehidupannya kepada Allah.4

”Tetapi kamu hanya anjing kurap!” selengking suara menyelusup ke gendang telinga.

Anjing kurap? Ah, mungkin saya memang anjing kurap. Kalau bukan anjing, tak mungkin mata saya ditampar oleh seonggok tahi ketika hendak beol di toilet Bandara King Abdul Aziz. Kalau saya manusia terpuji, tak mungkin selangkangan saya sobek saat melakukan sai dari Bukit Safa ke Bukit Marwah.

”Itu karena kau sedang memetik dosa zakar,” suara itu melengking lagi.

Dosa zakar? Ya, barangkali saya memang harus mendapatkan azab semacam itu. Dalam bercumbu saya memang seperti anjing. Rakus dan berangasan. Tetapi tidak bolehkah saya bertobat?

”Bertobat? Bagaimana mungkin seekor anjing bisa bertobat?”

Tak saya jawab ledekan itu. Saya melenggang menyusuri pantai dan berharap hujan segera menghapus kegersangan jiwa saya yang kian rawan. Dan, karena tak seorang pun mengikuti, saya langsung berlari ke Masjid Rahma. Saya ingin bangunan indah terapung di pinggir pantai itu segera memeluk anjing rabun yang tak berdaya menyongsong malam beku.

***

MENJELANG pulang ke Tanah Air, saya mampir ke Pasar Balad. Di supermarket modern di kawasan kota internasional Jeddah itu berseliweran orang-orang dari berbagai penjuru dunia. Wajah-wajah mereka tak bercahaya. Bibir-bibir mereka tak lagi mengumandangkan zikir atau nada-nada indah yang mengingatkan kita kepada Allah semata.

”Jangan-jangan celeng pun bisa berkeliaran di sini,” saya mencerocos.

”Ssst. Kita memang sudah dikembalikan Allah ke dunia semula. Mau jadi anjing atau babi, jadi monyet atau sufi, terserah sampean,” Ustaz Muharor meneror saya lagi.

”Wah, kalau begitu, saya akan jadi anjing saja. Silakan Ustaz jadi sufinya,” teriak saya sambil meninggalkan pria lembut yang masih terbengong-bengong itu.

***

BEGITULAH, akhirnya saya pun berkeliaran ke berbagai lorong, menatap segala manusia yang berseliweran dengan mata nanar. Karena tak ingin diteror oleh anjing-anjing bersayap, saya justru berkali-kali membanyol di hadapan pedagang Arab.

”Ada pakaian untuk anjing?” saya bertanya.

”Untuk anjing?”

”Ya, anjing seukuran saya!”

”Ah, Tuan bergurau. Silakan beli di toko lain saja!”

Tak terlalu sering banyolan itu saya lontarkan. Saya memang tak ingin menyakiti hati orang lain dan lebih suka berjalan bergegas ke berbagai lorong dan koridor yang dijubeli oleh dengus manusia-manusia aneh dari berbagai penjuru dunia itu.

Mendadak pemandangan aneh yang senantiasa menguntit ingatan melabrak lagi. Ya, di kerumunan manusia dari berbagai bangsa itu, saya dikepung oleh anjing-anjing bersayap hijau. Mereka mendengus-dengus. Tidak! Tidak! Mereka mungkin menyanyi. Mereka mungkin sedang menyenandungkan nafiri yang tak tepermanai. Masya Allah! Ternyata bukan hanya anjing yang melolong-lolong. Saya juga melihat babi-babi cantik, celeng-celeng kencana, dan monyet-monyet berbulu emas melenggang di antara pakaian-pakaian indah yang dijajakan.

”Don’t be surprised. Wondering only takes you away from enlightenment! I am Morgan. I’ll show you the mistery of the green-winged dogs.”5

Tak saya respons ucapan perempuan asing berambut pirang yang hanya mengenakan kerudung transparan dan abaya bermotif lukisan kadal-kadal khas Aborigin itu. Tetapi, saya ingin mendengarkan ceritanya. Saya ingin dia berkisah tentang anjing-anjing bersayap indah, babi-babi cantik, celeng-celeng kencana, dan monyet-monyet berbulu emas itu.

***

YA, sudah kukatakan kepadamu: namaku Morgan. Dulu aku tinggal di Kent Road Rosebay, Sydney, di antara puluhan anjing berbulu indah. Setiap malam aku harus memelototkan mata di antara lampu-lampu remang bar-bar di Kings Cross, karena mesti hidup dari duit dan kenakalan para pejantan yang mendengus-dengus di kamarku semalaman. Ya, mereka menganggapku sebagai pelacur, namun sebenarnya aku penari erotis. Aku memang butuh duit, namun lebih butuh kelembutan pria-pria kencana yang selalu bersedia membelikan anjing-anjing berbulu indah itu.

Karena terlalu cinta pada anjing, aku kerap membawa binatang-binatang kecil yang indah itu ke panggung pertunjukan. Sambil mendesah-desah, aku menciumi moncong binatang berlendir itu, hingga orang-orang melongo, hingga mereka mendesis-desis tak keruan.

Kalau tak ada pria kencana yang mengajak kencan, selalu binatang-binatang kecil itu kuajak jalan-jalan. Kadang-kadang kuseret mereka menyusuri lorong-lorong Kings Cross. Kadang-kadang kuajak mereka menyisir Bondi Beach atau menikmati kilau cahaya yang bersilang tempur di kaca-kaca gedung Darling Harbour yang kian menawan.

Tetapi, tak bisa kegemaran itu kunikmati sepanjang hari sepanjang malam. Tiba-tiba hampir setiap anjing di Sydney mati dengan cara-cara mengenaskan. Mulut mereka membuncahkan lendir. Perut mereka melebam. Bulu-bulu dan kulitnya mengelupas. ”Pasti ada yang meracuni makanan mereka,” kataku kepada para dokter yang berupaya menyelamatkan anjing-anjing itu.

Bukan hanya itu. Anjing-anjing pun tak ada lagi yang berkeliaran di Kings Cross. Kalaupun ada sesosok binatang yang menyerupai anjing, ia hanya seonggok bangkai. Ya, bangkai yang usus-usus di perutnya memburai atau kepalanya pecah dihantam peluru. Siapa yang membunuh anjing-anjing itu? Tak ada yang tahu. Mungkin polisi. Mungkin preman iseng.

Untunglah, pada suatu malam aku memergoki pembantaian yang mereka lakukan. Anehnya, di wajah-wajah para pembantai itu melekat topeng-topeng anjing bermoncong panjang. Lebih aneh lagi, para pembantai mengenakan kostum serbahijau dan di kedua bahu mereka tumbuh sayap hijau berkilauan.

Apakah mereka berdoa saat membunuh anjing-anjing itu? Entahlah. Yang jelas (ini yang senantiasa kudengar), mereka bilang, ”Ini bukan dunia anjing. Mereka harus dienyahkan!”

Sejak itu, aku tak berani keluyuran di Kings Cross. Di samping tak tahan melihat pembantaian anjing-anjing tak berdosa, badan dan jiwaku memang telah pegal untuk menari, mendesis, mendesah, atau sekadar melenguh-lenguh di dancing floor yang temaram.

Ya, sejak itu aku lebih suka membenamkan diri di kamar. Menatap sekujur tubuh di cermin dan merasakan berbagai metamorfosis yang tak kuharapkan. Yang jelas, aku jadi jarang mandi, tak suka merias wajah dan menata rambut, kian gemar mengosongkan perut, sedikit tidur pada saat malam mendera, ndhongkrok di pintu, zuhud, dan tidur di dekat tong sampah.

Aku juga mulai mahir menahan lapar, tak pernah mendendam kepada orang-orang yang meledekku, rela menyingkir ke tempat lain jika medan kehidupanku direbut makhluk lain, menyenangkan orang yang melemparkan makanan, dan ke mana pun pergi pantang membawa bekal. Sebagai perempuan anjing, aku benar-benar memasrahkan kehidupanku kepada Allah.

Namun, karena pembantaian anjing kian merajalela — dan bisa saja para pembunuh menganggap penari mesum dan para pelacur di Kings Cross sebagai anjing — akhirnya aku pun sangat berhasrat meninggalkan keindahan Sydney. Aku harus bekerja di kota lain. Lalu kupilih Jeddah, karena aku yakin di kota itu bakal tak ada anjing yang berkeliaran. Tak ada pembantai. Tak ada kebencian terhadap binatang-binatang indah itu.

Kenyataannya? Kenyataannya aku bertemu sampean. Kenyataannya kali pertama memasuki Jeddah yang riuh, aku justru mendengar lolong anjing. Cukup lama aku hanya mendengarkan suaranya. Cukup lama aku berhasrat mendapatkan sosok indah binatang itu.

”Jadi, Anda menganggap saya anjing?”

Tunggu dulu! Jangan memotong ceritaku. Setelah cukup lama tinggal di Jeddah dan mendapat pekerjaan sebagai guru bahasa Inggris, aku kerap menyisir pantai Laut Merah untuk mengenang pasir-pasir Bondi Beach angin sejuk Darling Harbour. Nah, di tempat itulah, aku melihat beberapa ekor anjing, celeng, babi, dan monyet bersayap hijau muncul dari kepala orang-orang yang menunaikan ibadah haji. Mereka melesat menembus malam dan kukira membubung menuju Masjidil Haram. Ternyata tak ada Avalon6. Avalon hanyalah mimpi buruk yang seharusnya tak kuburu sepanjang hidup.

”Setelah itu?”

Setelah itu aku bertemu sampean. Bau, sorot mata, dan cara sampean berjalan sangat khas.

”Sangat khas?”

Ya. Sangat khas dan menawan.

***

SAYA telah bertingkah seperti anjing? Entahlah. Justru pertanyaan semacam itulah yang ingin saya tanyakan kepada Gus Mus hingga sekarang, hingga ada orang-orang yang begitu dingin membantai manusia di Legian, Bali. Ya, bukan tidak mungkin sesaat sebelum meledakkan Sari Club dan Paddy’s Cafe, para pembantai menganggap orang-orang asing yang berkerumun dan mendengus-dengus di bawah lampu temaram itu sekadar anjing-anjing, celeng, babi, atau monyet yang layak dienyahkan. Ah, tetapi kenapa para pembantai itu mengenakan topeng-topeng anjing bermoncong panjang? Mengapa di kedua bahu mereka tumbuh sayap-sayap hijau berkilauan?

Siapa mereka, Tuhan? Iblis? Malaikat? Preman iseng? Siapa mereka, Gusti? Tentara kerajaan-Mu? Lawan abadi yang sulit Kautaklukkan?

Malam, anjing, babi, dan celeng pun mendengus berulang-ulang.

Semarang 2002

Catatan

1) Lewat cerita ‘Legenda Wongasu’, pengarang Seno Gumira Ajidarma melahirkan teks tentang masyarakat anjing pada masa mendatang. Tak perlu menunggu bertahun-tahun untuk mendapatkan masyarakat anjing atau masyarakat binatang. Cerita-cerita sufi telah menunjukkan betapa tak semua jemaah haji mengusung kemanusiaannya ke Tanah Suci. Ternyata ada juga yang justru menjinjing naluri kehewanannya.

2) Pasar Seng adalah istilah khas Indonesia untuk salah satu kawasan perbelanjaan kaki lima di Mekah.

3) Ketika bertemu KH A Mustofa Bisri di Madinah, kami sempat bercakap-cakap mengenai pengalaman ajaib orang-orang yang sedang berhaji. Kata Gus Mus, ada keajaiban yang bisa dinikmati secara kolektif, ada yang hanya dirasakan orang per orang.

4) Sifat-sifat keteladanan anjing itu saya kutip dari buku Syekh Muhammad Nawawi Al-Jawi bertajuk Syarhu Kaasyifatus Sajaa ‘alaa Safiinatin Najaa fii Ushuulid Diini Wal Fiqhi. Teks itu diindonesiakan menjadi 10 Sifat Keteladanan Anjing oleh Drs Nipan Abdul Hakim.

5) Tak perlu terkejut. Keterkejutan hanya menjauhkan Anda dari pencerahan. Saya Morgan. Saya akan menunjukkan kepada Anda tentang misteri anjing-anjing bersayap hijau itu.

6) Avalon adalah sebutan untuk ‘daerah yang diangankan’, sebuah deja vu dalam bentuk lain.

tentang blog iniTulisan berjudul "Sayap Anjing" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (14 Maret 2010 @ 06:02) pada kategori Cerpen. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Tulisan Terkait:

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *