Home » Cerpen » Aku Ular, Surga Terakhirmu

Aku Ular, Surga Terakhirmu

Cerpen Triyanto Triwikromo
Dimuat di Media Indonesia (07/20/2003)

KAU selalu menyangka dirimu sebagai laki-laki paling serdadu, paling bercambuk, dan menghabiskan malam-malam hijau dengan perempuan-perumpuan yang dipungut dari hutan-hutan perawan. Ya, ya, dan kauselalu mengira bisa mencambuk perempuan-perempuan itu sambil meminta mereka mengulum kelamin di kamar berselimut cermin. Oh, apakah penyiksaan-penyiksaan itu begitu indah, sehingga kau membiarkan perempuan-perempuan itu melolong kesakitan sambil mendesahkan keajaiban cinta di keheningan malam?

“Aku hanya ingin memberi surga. Bukankah mereka yang tersiksa akan dibahagiakan? Mereka yang teraniaya akan dimuliakan?”

Lihatlah dirimu! Tanganmu memang perkasa saat melecutkan cambuk ke punggung perempuan kuning gading itu! Tetapi, tidakkah sesungguhnya kau justru mendengus-dengus seperti anjing. Wahai, anjing paling suci pun tak akan mengeluarkan dengus bodoh saat bercumbu dengan kekasihnya?

“Jangan cerewet! Aku hanya ingin menciptakan nirwana untuk mereka. Bukankah Siddharta mesti tersiksa sebelum moksa? Bukankah lambung Isa mengucurkan darah cinta sebelum mikraj ke mata nirwana?”

Tetapi, kau hanya anjing. Kau hanya bisa mengibas-ibaskan kelamin sambil menjilat-jilat punggung para perempuan yang terluka. Kauhanya binatang yang tak memahami nanah yang terus-menerus mengucur dari perempuan-perempuan yang kaubelai dan lantas kaubanting keras-keras.

“Sekali lagi, jangan berlagak dungu. Yang tersakiti tak akan selamanya tersakiti. Yang berjalan terengah-engah dari ranjang ke kamar mandi, tak akan terseok-seok ketika berjingkat-jingkat ke kolam teratai, ke jiwa abadi.”

“Dasar, anjing!”

“Ya, aku memang anjing.”

“Tetapi, kauserdadu, kaupunya cambuk, kaupunya sepasang tangan yang senantiasa meledakkan sepasang puting ranum dalam ruang remang, dalam sunyi tanpa gemintang.”

Tidak! Tidak! Aku hanya sepasang mata yang lelah menafsirkan gerimis yang mengaum dari candi yang jauh, dari hutan yang rapuh.

Pisau Malam

Ibu, di manakah kausembunyikan kelaminku? Lihatlah! Sejak kaumenghabiskan malam perih di keriuhan shower, aku tergeletak di ranjang busuk tanpa cinta, tanpa vagina. Tentu, kaumenduga aku tak akan pernah tersiksa menyelesaikan malam tanpa payudaramu yang masih ranum. Tentu kaumembayangkan aku akan menganggap jilatan-jilatan cinta di sekujur tubuhku hanya sebagai pelajaran seorang maharani kepada hamba terkasih. Tentu –dan aku mulai yakin–kau berusaha menghapus ludah yang membenam di rambut dan mendesis, “Anakku telah menjadi perempuan paling setan!”

Ibu, di manakah kausembunyikan payudaraku? Kau telah mengirisnya semalam justru pada saat mataku tersihir oleh keindahan gerai rambutmu. Kautelah mengabadikan surga di kulkas dan mendengus,

“Aduh, anakku telah jadi iblis paling perempuan.”

Ibu! Ibu! Di manakah kausembunyikan tangisku? Aku tak lagi punya kelamin. Aku tak lagi punya payudara. Aku tak lagi punya pisau yang bisa kugunakan untuk mengiris payudaramu.

Oh, ibu seribu ibu, apakah kausembunyikan juga cermin: tempat aku memaknai kisah seribu patung di kelaminku yang sunyi?

“Diamlah, anakku! Kaumasih kepompong, kaumasih ulat, belum serangga, belum kalajengking yang menyengat kelamin ibunya. Kauhanya derit ranjang yang belum berderak. Kauhanya lenguh yang belum melengking.”

Apakah kelaminku bisa bermimpi, Ibu?

Api

Aku masih memandang sepasang malaikat yang baru saja kami telanjangi itu ketika ketika Tuhan bersiap-siap membakar kota ini. Dalam tebaran lampu-lampu hijau muda di sekujur ruang, tubuh sepasang malaikat tanpa sayap itu sungguh teramat indah. Sebagian dari kami mengagumi otot-ototnya yang menonjol. Sebagian lagi –termasuk aku– lebih tertarik memandang duburnya yang bercahaya.

Dubur, kautahu, selalu digambarkan oleh kaum Victorian sebagai dunia paling menjijikkan. Mereka bilang, ia hanya layak dihuni oleh sang mahatinja. Aduh, itu omongan terbusuk orang-orang yang tak pernah merasakan keindahan terbebas dari sakratul maut setelah sebuah mobil menggilas dada atau kelaminnya. Mereka bilang, hanya para penghuni neraka (ha… ha… ha…) yang menganggap dubur sebagai asal muasal pleasures. Camkan, wahai manusia yang sok mulia, dalam kemilau dubur dan cahaya tinja, kaumemang hanya akan merenangi

Tetapi, bukankah ia sebuah keindahan juga? Karena itu, aku suka melihat pantat molek. Karena itu, aku suka menatap lama-lama lelaki-lelaki perkasa menggoyang-goyangkan pantatnya. Karena itu, aku masih takjub memandang pantat sepasang malaikat tanpa sayap ketika Tuhan bersiap-siap membakar kota itu.

“Tuhanku akan melaknatmu!” sepasang malaikat mulai menangis.

“Kalau tak ingin melihat kami beramai-ramai mencumbumu, seharusnya Ia mengirimkan ribuan perempuan. Aha, kami toh tak akan menyentuhnya,” kata kami sambil meledakkan tawa paling bahagia.

Apakah Tuhan tertawa? Tidak Tuhan tak akan tertawa, karena kami masih memikirkan keindahan pantat sepasang malaikat. Apakah Tuhan akan menangis? Tuhan tak akan menangis, karena kami masih merenungkan sepasang dubur yang menganga membarakan berahi pria-pria indah di kota ini.

(Lalu kegentingan pun terjadi. Candi-candi tak mau mereliefkan percintaan kami. Dan Tuhan? Tuhan, kautahu, membakar kota ini dengan api yang membara seperti dubur merah sepasang malaikat tanpa sayap itu)

Aku, seperti dalam kisah-kisahmu yang dulu termangu-mangu mengabu dalam api dalam dengki tak terperi. Tetapi, lihatlah abu itu kini mengabur di jalan-jalan menjadi candi yang lebih abadi, menjadi sepasang lelaki yang bercumbu di rerimbun pohon yang enggan jadi saksi.

Sepasang Kuda

Mereka selalu memaknai bias lampu-lampu merkurium dari sebuah gerbong. Mereka selalu menemukan malam-malam indah setelah lelah menyusuri rel dan saling mengulum sepasang bibir. “Kamu masih kuda bagiku, Sayang,” desis sang pria cantik sambil menyeret perempuan tampan ke kegelapan gerbong.

“Dan kamu? Kamu juga kuda yang tak lelah-lelah meski telah dihela bermalam-malam.”

“Tetapi, kamu tetap tak punya kelamin.”

“Dan kautetap tak punya bibir.”

“Kamu tetap tak punya payudara.”

“Dan kautetap tak punya telinga.”

“Kamu tak punya surga.”

“Dan kautetap tak punya mata.”

Mereka kemudian bersekongkol untuk mencari mangsa bersama dan segera bercumbu dengan sepasang perempuan serta sepasang laki-laki. Mereka menyeret satwa-satwa rakus itu dari rel ke semak-semak penuh kalajengking.

“Ternyata, mereka cuma manusia, Sayang. Bukan kita.”

Sudahkah mereka menghafalkan jalan pulang?

Rumah Hantu

Sudah 15 menit Teto mengintip ibu yang tak henti-henti berak di toilet. “Mengapa payudaramu masih ranum, Ibu?”

Sudah 15 menit Ibu membayangkan bercinta dengan Rina? “Andai saja, kaubukan anakku?”

Sudah 15 menit Rina meraba-raba liang luka di lambung Ayah. “Apakah Ibu pernah menjilati luka Ayah sebagaimana aku menjilati bekas-bekas tusukan lembing itu?”

Sudah 15 menit Ayah menganggap dia sebagai kekasih yang tak habis diisap saripati keindahannya. “Aku yakin kaubukan anakku. Ibumu sundal bunting yang kutemukan di jalanan terbusuk di lorong kelam.”

Apakah Teto telah 15 menit bercumbu dengan hantu? Ibu segera berjingkat dari toilet ke kamar Rina. Rina membuka jendela kamar dan bilang, “Ayah, pelangi itu masih pelangi yang itu-itu juga!”

Ayah terkejut. “Jangan percaya pada gerimis. Segera masuk ke kamarku, wahai lelaki kencana.”

Sudah 15 menit rumah itu penuh hantu. Sudah 15 menit! Sudah 15 menit!

Aku Ingin Membunuhmu

Aku ingin membunuhmu, cintaku. Mula-mula akan aku ajak kau ke pantai, lalu menyusup ke gua, mendengarkan desir angin, mendendangkan lagu dolanan kanak-kanak tentang tukang perahu, dan setelah itu akan kulengkingkan semboyan cinta mahasyahdu: aku duwe dolanan sing apik, prau cilik tak kelekake banyu, besok gedhe dadi jagal ayu, bayarane satus suwidak ewu.

Aku ingin membunuhmu, Cintaku. Mula-mula akan aku ajak kau ke hutan jati, ke hujan hijau, ke malam bulan sepotong, lalu kuajak kaumenggali kuburmu sendiri, setelah itu kusembunyikan desis terakhirmu: ji piki ro piki lu piki pat piki ma piki nem….

Aku ingin membunuhmu, cintaku. Mula-mula akan aku akan….

Ular

“Namaku, Siddharta, apakah aku tampak seperti ular beludak?”

“Aku Kemala, pelacur kencana. Apakah aku telah menjelma bidadari?”

“Tuhan telah mencambukmu, Siddharta.”

“Dan Tuhan telah mencumbumu, Kemala.”

“Tuhan telah membakar kelaminmu, Siddharta.”

“Dan Tuhan telah mengharumkan rambutmu, Kemala”

“Apakah aku ular, Siddharta?”

“Engkau lidah yang menjadikan aku sebagai telur yang menyimpan semesta.”

“Apakah aku kutuk tanpa bisa, Siddharta?”

“Engkau cinta tanpa bibir, Kemala.”

“Apakah aku kelembutan nirwana, Siddharta?”

“Engkau api, Kemala”

“Kalau begitu aku ular yang melilit waktu. Kalau begitu, aku surga terakhirmu.”

tentang blog iniTulisan berjudul "Aku Ular, Surga Terakhirmu" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (13 Maret 2010 @ 06:00) pada kategori Cerpen. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Tulisan Terkait:

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *