Jumat, 22 Agustus 2014

Friday, 12 March 2010 (16:01) | Opini | 32803 pembaca | 133 komentar

Dalam dunia parenting, nama Melly Kiong bukanlah nama baru. Dia sudah cukup lama dikenal sebagai perempuan karier yang sukses menerapkan pola pendidikan dan pengasuhan anak berbasis karakter. Seminar-seminarnya cukup mencerahkan, terutama bagi kaum perempuan yang ingin sukses menjadi sosok androgini; sukses di sektor publik sebagai perempuan pekerja sekaligus sukses di sektor domestik sebagai ibu rumah tangga. Demikian juga ketika dia tampil dalam acara talkshow di beberapa stasiun TV. Pandangan-pandangannya cukup mencerahkan. Kedekatannya dengan dunia anak-anak juga sungguh mengagumkan, termasuk ketika dia dengan amat sadar memberikan sentuhan perhatian dan pemberdayaan kepada anak-anak yang dinilai sedang menghadapi masalah sosial. Bahkan, Mbak Melly, di tengah kesibukannya yang menumpuk, masih bisa berbagi waktu dengan anak-anak asuhannya, dengan memberikan bekal keterampilan yang cocok dan pas dengan dunia mereka. Ketika bertemu di Semarang beberapa waktu yang lalu, Mbak Melly memberikan saya oleh-oleh hasil keterampilan anak-anak asuhannya yang sebagian besar menghadapi masalah sosial itu.

buku Mbak Mellybuku Mbak Mellybuku Mbak MellyMbak Melly –demikian saya biasa menyapanya— tak hanya beretorika, tetapi benar-benar membuktikan apa yang dia katakan. Sangat beralasan kalau dia mendapatkan mendapatkan penghargaan dari Musium Rekor Indonesia (MURI) untuk Ibu Rumah Tangga Penulis Buku Pedoman Parenting. Buku pertamanya “Siapa Bilang Ibu Bekerja Tidak Bisa Mendidik Anak dengan Baik?” yang diterbitkan oleh PT Elex Media Komputindo, Jakarta, bisa dibilang sukses membuka ruang kesadaran bagi kaum perempuan karier yang juga ingin sukses hidup berumah tangga.

Kini, buku kedua Mbak Melly “Cara Kreatif Mendidik Anak ala Melly Kiong” telah diterbitkan oleh Progressio Publishing, Jakarta, pada bulan Januari 2010. Dalam kacamata awam saya, buku kedua Mbak Melly setebal 118 halaman ini makin melengkapi eksistensi Mbak Melly dalam dunia parenting yang agaknya sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perjalanan dan dinamika hidup Mbak Melly.

Lantas, pengalaman menarik seperti apa yang dituangkan Mbak Melly dalam bukunya ini? Simak saja kutipan berikut ini!

Secara umum proses keseluruhan pendidikan yang saya lakukan dapat disederhanakan meliputi 4 kelompok proses yaitu dialog, memuji, peraturan, dan pendampingan (coaching). Masing-masing proses tidak berdiri sendiri atau dapat diwakili oleh satu aktivitas saja melainkan bisa beberapa atau sekaligus. Contohnya dalam kegiatan jasa sebuah tong sampah, saya melakukan proses komunikasi, menegakkan peraturan, dan pendampingan melalui demonstrasi.

1. Berdialog dan tulisan
Banyak sekali manfaat dialog (komunikasi dua arah) dengan anak-anak. Misalnya hubungan kita lebih dekat, akrab, tukar pikiran, berbagi perasaan, mengajarkan pengalaman, menambahkan pengetahuan, mengetahui masalah yang dihadapi anak, dan lain-lain. Seperti yang sering saya lakukan dengan Matthew dan Julian, saya menanamkan nilai-nilai moral pada saat berdialog. Cara lain berkomunikasi adalah melalui tulisan. Saya membiasakan diri menulis memo kecil atau menuliskan hal-hal penting di buku penghubung, kertas pesan tempel, atau papan tulis. Salah satu manfaat yang sangat saya rasakan besar adalah kedekatan. Matthew dan Julian selalu merasa dekat dengan saya walaupun saya sedang di kantor karena mereka bisa membaca pesan-pesan saya melalui tulisan-tulisan di memo. Pasti anak-anak akan senang membacanya berulang-ulang saat di sekolah. Jika di rumah, saat anak-anak melewati tulisan di papan tulis atau pesan tempel, pasti dia akan teringat saya. Selain itu, metoda komunikasi tertulis membuat anak tidak akan mudah lupa akan pesan kita.

2. Memuji perilaku baik
Ketika di kantor atau tempat kerja, saya akan menjadi sangat bersemangat jika pekerjaan saya diapresiasi baik oleh atasan, apalagi jika dipuji. Nah, demikian pula dengan anak-anak. Kebiasaan baik di kantor dalam menghargai hasil pekerjaan saya terapkan di rumah. Jika Matthew atau Julian melakukan hal-hal baik saya akan memuji dan memeluknya walau mungkin bagi orang lain hal-hal itu sangat sepele. Mereka menjadi bersemangat dalam melakukan tugas-tugas rutinnya seperti mempersiapkan perlengkapan sekolah, mengerjakan PR, merapikan meja belajar, dan lain-lain. Karena kita tidak bisa setiap saat melihat pencapaian-pencapaian baik mereka, maka kita harus merancang sistem penghargaan yang kreatif. Misalnya dengan memberikan stiker pada jadwal yang dapat mereka laksanakan dengan disiplin. Tidak lupa saya memberikan iming-iming hadiah pada pencapaian jumlah stiker tertentu. Hal ini dapat lebih memacu mereka untuk lebih berdisiplin dalam melakukan hal-hal baik untuk kepentingan mereka kelak.

3. Peraturan
Konon dahulu kala, ketika jumlah orang sangat sedikit di suatu negara tidak diperlukan peraturan lagi karena raja dapat mengawasi semua warganya setiap saat. Namun ketika jumlah rakyat semakin banyak dan wilayah semakin luas, raja kewalahan melakukan pengawasan. Maka disusunlah peraturan-peraturan untuk memastikan rakyat mematuhi kebijakan raja. Demikian pula jika kita selalu dapat mengikuti seluruh kegiatan anak-anak, dari mulai bangun tidur hingga saat mau tidur lagi. Tetapi saat waktu kita di rumah sangat terbatas serta anak-anak semakin besar, maka sudah tidak memungkinkan lagi mengandalkan pengawasan kita seorang diri.

Kita memerlukan bantuan orang lain dan anak-anak itu sendiri untuk turut mengawasi atau memastikan semuanya berjalan sesuai harapan bersama. Saat kita mendelegasikan tugas-tugas kita pada pengasuh atau pembantu di rumah, maka cara yang paling tepat adalah membuat peraturan tertulis yang harus ditaati oleh anak-anak kita sehingga pengasuh dapat memastikannya. Selain itu, adanya peraturan tertulis juga memastikan pengasuh menjalankan tugas yang kita delegasikan. Demikian pula dengan anak-anak. Dengan cara yang demokratis kita bisa menyusun peraturan-peraturan unik untuk setiap anak dengan cara mendiskusikannya dengan mereka. Selain lebih realistis untuk dapat dijalankan anak-anak, peraturan yang disusun bersama akan mengundang rasa tanggung jawab dan rasa bangga karena terlibat dalam menentukan hak-hak dirinya.

Ada hal yang paling penting untuk diperhatikan dalam penegakkan peraturan yaitu ketegasan dalam melaksanakan sanksi. Seringkali orang tua merasa iba atau tidak tega melihat buah hatinya menjalani hukuman akibat pelanggaran peraturan. Jika hal ini dilakukan, maka anak-anak akan belajar mengenali kelemahan peraturan. Maka hampir dapat dipastikan peraturan itu menjadi tidak efektif. Cobalah untuk menguatkan diri untuk mengorbankan perasaan demi kebaikan semua. Dengan peraturan yang tegas, anak-anak belajar menghormati setiap peraturan baik di sekolah, di masyarakat, jalan raya, atau bahkan dalam bernegara. Anak-anak akan memiliki kepribadian jujur, taat asas, disiplin, dan adil.

4. Coaching
Mendidik anak-anak di rumah tentu harus berbeda dibandingkan dengan pendidikan di sekolah. Selain perbandingan jumlah guru dan anak yang tidak memungkinkan efektif, sebagai orang tua kita memiliki hubungan emosi berupa kasih sayang yang tulus. Untuk itu sangat memungkinkan jika kita dapat mendampingi secara intens pada setiap proses pembelajaran hal-hal baru. Kita harus membangun kedekatan secara fisik dan psikologis terutama dalam pembentukan mental atau moral anak. Nah, metoda pembelajaran dengan mengutamakan kedekatan fisik dan emosi tersebut dinamanakan pendampingan (coaching).

Dalam proses pendampingan, kita harus mengenali kondisi sebenarnya anak. Misalnya pada saat saya mengajari cara mengupas buah salak, saya menanyakan terlebih dahulu kepada Matthew apakah dia sudah bisa membuka sendiri. Langkah selanjutnya adalah memberikan contoh secara konkret apa yang sedang kita ajarkan. Setelah itu bertanya, apakah anak sudah mengerti dan ingin mencoba. Jika belum berani mencoba, berilah dorongan yang positif. Kemudian beri kesempatan anak untuk mencoba tanpa intervensi kita. Biarkan anak melakukan kesalahan atau mengalami sedikit risiko yang tidak sangat membahayakan. (hal. 15-20)

Sebuah model pendidikan yang benar-benar kreatif dan mencerahkan. Ketika orang tua makin disibukkan oleh berbagai persoalan di tengah persaingan hidup global yang makin kompetitif, buku “how to” yang praktis dan tak terlalu banyak mengumbar teori, agaknya sangat diperlukan. Oleh karena itu, jauh sebelum buku ini diterbitkan, saya dengan senang hati memberikan endorsment berikut ini.

Sebuah buku inspiratif yang menunjukkan bagaimana orang tua mesti bersikap dalam menanamkan nilai-nilai karakter kepada anak. Sang penulis tak hanya berteori, tetapi benar-benar disarikan berdasarkan bukti-bukti empirik dan kepekaan intuitifnya sebagai sosok aktivis yang sudah lama bergerak dalam aksi-aksi kemanusiaan. Melalui buku ini, pembaca diajak untuk menjelajahi dan mengakrabi dunia anak-anak, sehingga anak-anak masa depan negeri ini bisa tumbuh dan berkembang secara wajar; bukan melalui cara-cara indoktrinatif dan dipaksakan. Model-model semacam inilah yang selama ini hilang dalam dunia pendidikan kita, baik dalam ranah formal maupun non-formal. Ketika nilai-nilai modern dan global demikian deras menggerus sendi-sendi peradaban bangsa, buku ini mengingatkan kita bahwa nilai-nilai humanis itu belum mati. Kita masih memiliki cara untuk bisa berkiprah menyelamatkan masa depan anak-anak bangsa dengan membangun fondasi pendidikan karakter yang kokoh. (Sawali Tuhusetya, seorang pendidik dan blogger).

Nah, buku ini juga dilengkapi endorsment dari beberapa figur publik yang sudah amat kita kenal, di antaranya Jaya Suprana (budayawan dan pendiri MURI), Nining W. Permana (Managing Director Tupperware Indonesia), Fidelis Waruwu, M.Sc. Ed. (pendidik, pedagog, dan dosen di Fak. Psikologi Universitas Tarumanegara, Jakarta), Jansen H. Sinamo (Guru Etos Indonesia), Asteria Maria S. (Kepala SMP Permai), Yindry Huang (pengusaha muda), Munif Chatif (pakar Multiple Intelligence, penulis buku best-seller Sekolahnya Manusia), Edy Zaqeus (penulis best-seller, Writer Coach, Trainer, dan konsultan), Dra. Anita L. Tobing (Kepala SD Tiara Kasih), Prasetya M. Brata (narasumber”Provokasi” Smart FM Network), Anthony Dio Martin (Direktur HR Excellency), Soraya Haque (presenter TV dan tenaga penyuluh), Dr. Ponijan Liaw (penulis buku best-seller), dan Shahnaz Haque-Ramadhan (Indonesia Siesta Delta FM).

Ya, ya, begitulah sekilas sosok dan peran Mbak Melly yang tertuang dalam buku barunya ini. Pada bagian penutup, Mbak Melly tak lupa menyisipkan pesan moral yang layak direnungkan buat para orang tua seperti berikut ini.

Jadi, yang memegang peranan terpenting adalah kita sebagai orang tua. Mengutip perkataan Ayah Edy, “Kalau kita lengah, maka lingkunganlah yang akan mengambil alih pendidikan anak-anak kita.

“Kalau bukan kita siapa lagi?”

“Kalau bukan sekarang kapan lagi?”

Mari kita bersatu mendidik dengan kreatif mulai dari rumah. Kita saling berbagi dan saling mengingatkan.

Akhir kata, saya mengucapkan banyak terima kasih. Dengan membeli buku ini, sudah membuktikan bahwa bapak-bapak dan ibu-ibu setuju untuk menjadikan generasi anak-anak kita menjadi generasi yang berbudi luhur, berdaya juang, serta berbudi pekerti. Tentunya kita berharapan besar bahwa anak-anak kita akan menjadi generasi pengubah dunia.

Nah, seiring dengan tantangan peradaban global yang makin rumit dan kompleks, pendidikan anak agaknya tak hanya cukup diserahkan kepada institusi pendidikan formal semacam sekolah an-sich, tetapi juga perlu ada sinergi dan komunikasi efektif dengan orang tua sebagai pendidik utama di rumah. Kaum perempuan sebagai “pusat peradaban” sang anak agaknya juga perlu menemukan pola pengasuhan dan pendidikan yang lebih efektif dan kreatif sehingga anak-anak tidak kehilangan perhatian dan kasih sayang, meskipun sang ibu sibuk berkarier di luar pagar domestik. ***

Tulisan berjudul "Cara Kreatif Mendidik Anak ala Melly Kiong" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (12 March 2010 @ 16:01) pada kategori Opini. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Tulisan lain yang berkaitan:

Tahun Ajaran Baru dan Daya Pikat Kantor Pegadaian (Wednesday, 4 July 2012, 41493 pembaca, 32 respon) Seperti rutinitas tahunan, mendekati tahun ajaran baru biasanya merupakan “ritual” kesibukan buat orang tua calon siswa. Mereka mesti repot...

Pola Pengasuhan dan Pendidikan Anak ala Melly Kiong (Tuesday, 14 July 2009, 30001 pembaca, 121 respon) Tulisan ini seharusnya saya publikasikan beberapa hari yang lalu usai mengikuti seminar Mbak Melly Kiong di Semarang, Sabtu, 11 Juli 2009 yang lalu....

BAGIKAN TULISAN INI:
EMAIL
|FACEBOOK|TWITTER|GOOGLE+|LINKEDIN
FEED SUBSCRIBE|STUMBLEUPPON|DIGG|DELICIOUS
0 G+s
0 PIN
0 INs
RSSfacebooktwittergoogle+ pinterestlinkedinemail

Jika tertarik dengan tulisan di blog ini, silakan berlangganan
secara gratis melalui e-mail!

Daftarkan e-mail Anda:

133 komentar pada "Cara Kreatif Mendidik Anak ala Melly Kiong"

  1. aiva says:

    tampaknya buku tersebut sangat menarik untuk dibaca…

  2. aiva says:

    tampaknya buku tersebut sangat menarik…

  3. cerita indah says:

    kereen artikellnya…
    hohoho

    :D

Leave a Reply