Home » Cerpen » Sebuah Pura di Air Terjun Gitgit

Sebuah Pura di Air Terjun Gitgit

Cerpen Sunaryono Basuki Ks
Dimuat di Jawa Pos (03/28/2010)

Om Sang Hyang Pramasti Adi Guru. Byoh Angadeg ring luhur tan kening lupute

Gusti Madi Agung menuntun lelaki botak berambut penuh uban yang berjalan tertatih-tatih itu setelah dia turun dari motornya. Lelaki itu dituntunnya masuk ke rumah berdekorasi China dengan warna merah yang dominan.

Seorang gadis cilik, mungkin berusia lima tahun, yang sedang sibuk membantu kakeknya menata kotak-kotak obat menyapa, ”Silakan masuk.” Maksudnya masuk terus ke ruang belakang.

”Ah, sudah pinter sekarang,” kata lelaki botak bungkuk itu. Dia ingat, beberapa tahun lalu ketika dia sering berkunjung ke rumah ini, gadis cilik itu hanya bisa tersenyum atau tertawa di gendongan ibu atau neneknya kalau dia datang menyapa. Waktu itu dia bisa turun sendiri dari boncengan motor anaknya dengan mudah dan berjalan sendiri tanpa dituntun menuju ruang belakang yang dikenalnya. Di ruang itu dia duduk di lantai beralaskan permadani berwarna merah, setelah meletakkan canang di lantai yang lebih tinggi yang sudah dipenuhi canang serta dupa-dupa yang sudah padam, menghadap ke dinding selatan yang dipenuhi patung-patung sosok yang tak begitu dikenalnya. Yang sebuah terletak di sebelah kiri memang patung yang dikenalnya dengan baik: Dewi Saraswati, dewi ilmu pengetahuan. Di sebelah kanan patung dewa bertangan empat, mungkinkah patung Dewa Wisnu, sang Pemelihara?

Merapat ke dinding sebelah kiri ada relief sebuah pura di bukit dengan jalan setapak yang digambarkan dengan jelas. Dulu setelah beberapa kali dia datang, lelaki yang mengenakan sarung dan baju putih, pakaian seorang pemangku yang kuat merokok itu bercerita, ”Saya bikin ini semua begitu saja Pak. Saya bukan pelukis dan bukan pematung, dan tak pernah belajar seni rupa. Tetapi ada yang mendorong pikiran dan angan saya untuk mengerjakannya. Dan, jadilah.”

Lelaki itu percaya saja sebab dia pernah membaca buku The Creative Process puluhan tahun silam, dan kemudian dibacanya ulang dengan lebih cermat, dan menemukan bukti-bukti bahwa sosok-sosok jenius menciptakan komposisi musik bahkan sebuah rumus kimia dengan begitu saja. Seperti kemampuan Tuhan saat mengatakan kun fayakun. Tetapi dia yakin manusia bukan Tuhan, tak mungkin mencipta, dia hanya mampu menggubah. Dari bacaan lain, seorang penulis Arab, dia membaca bahwa Walmiki, penggubah kisah Ramayana, tidaklah mereka-reka kisah itu. Katanya, Walmiki melihat di depan matanya pemandangan di istana ayahanda Rama, siapa saja yang hadir di sana dan langsung mencatatnya, sebagaimana seorang reporter melaporkam suatu peristiwa. Dan selanjutnya dia hanya mengikuti perjalanan Rama dan Sinta serta Laksmana ke dalam hutan dan menuliskannya.

”Saya percaya,” katanya saat itu. Dan dia menjawabnya dengan yakin karena dia sudah mengalaminya. Banyak kisah yang ditulisnya, baik berupa cerita pendek, novelette, maupun novel mengalir begitu saja melalui ujung jarinya, mula-mula dengan mesik ketik manual beberapa buah. Ketika mesin ketiknya rusak, dia membeli mesin tulis baru merek Imperial seharga Rp 110.000,- di Jalan Gajah Mada Denpasar. Dia mampu membelinya dengan uang honorarium beberapa tulisannya. Ketika novel pendeknya dimuat dan mendapat honor Rp 500.000,- harga mesin tulis sudah naik, dan dia sudah membeli sebuah mesin tulis elektrik di London seharga seratus sepuluh pound. Dan ketika honor sebauh novel yang dimuat sebuah koran kecil yang terbit di Jakarta sebesar Rp 570.000,- dia sudah membeli sebuah mesin tulis elektronik dengan huruf-huruf daisywheel seharga US$ 320 di Columbus. Dan, ketika novelnya dimuat di sebuah koran besar dengan honor Rp 2.500.000,- dia sudah mampu membeli sebuah komputer. Semua alat itu kemudian menjadi barang rongsokan.

Dengan alat-alat itu dia merasa mendapat anugerah Allah untuk membuahkan tulisan-tulisan yang makin banyak. Tetapi makin hari dia merasakan ada yang tak beres dengan kakinya. Karena itu dia datang ke rumah Cik Amyong yang terkenal sebagai ahli pijat urat. Pasiennya dari mana-mana, temasuk para turis yang dibawa ke sini oleh pemandunya dan menurut Cik Amyong, mereka merasa puas dengan pelayanan kesehatan yang diberikannya.

Cik Amyong bukan saja memijatnya, tetapi juga mengajarinya teknik pernapasan dan olah raga sederhana untuk menghidupkan urat-urat yang kurang kuat. Sambil berbaring dia harus menarik telapak kakinya ke arah luar dengan menarik napas, dan kemudian menarik telapak kaki itu ke dalam dengan menghembuskan napas serta menahannya beberapa saat.

”Itu urat naga yang harus dihidupkan,” kata Cik Amyong sambil meraba tulang kering lelaki itu.

Madi Agung sambil duduk mendengarkan dengan tekun saat Cik Amyong mengulang kata-katanya itu ketika dia berkunjung lagi. Lelaki itu diharuskan membuka baju, kemudian miring ke kiri menghadap tembok dan mengangkat tangan kanannya yang sakit itu tinggi-tinggi dan meletakkkanya di tembok sementara Cik Amyong memijat bahu dan kemudian urat di ujung tulang belakangnya.

”Sekarang bergerak,” kata Cik Amyong. Lalu, dia menyapa Madi Agung yang saat masih duduk di bangku SMA sering datang ke tempat lelaki China itu.

”Ini anak didik saya. Sudah tamat, tetapi nggak diterima jadi guru.”

”Padahal saya sebetulnya lulus tes,” begitu kata Madi Agung.

”Kok tahu?”

”Ada yang kasih tahu dari Jakarta, tetapi nama saya nggak ada dalam pengumuman. Belum hoki. Sekarang saya mau melamar kerja di bank saja.”

Lalu tiba-tiba Cik Amyong bertanya, ”Mau bersembahyang di Gitgit? Bawa HP? Coba tulis!”

Lalu dia mendiktekan sebaris doa. ”Kalau bisa hari ini, hari baik karena sedang tilem. ”

”Baik, Cik,” katanya.

Selesai memijat dan membantu lelaki itu berdiri, Cik Amyong memberikan obat-obat China impor dari Hongkong sebanyak dua botol dan sebuah tabung semprot yang menyebabkan kulit yang disemprot panas. Dia memakainya sesuai dengan petunjuk: di sekitar lengannya yang sakit dan di wilayah pinggul. Satu botol berisi pil untuk memperkuat tulang dan sendinya dan sebuah lagi pil untuk menguatkan fungsi hatinya.

Dalam boncengan lelaki itu berkata, ”Sore ini laksanakan pergi ke Gitgit. Cari sebuah pura di jalan menurun ke arah air terjun. Bapak pernah turun ke sana, udaranya segar dan air di kaki air terjun menyejukkan dan orang percaya juga membawa kesembuhan.”

”Ya, Pak.”

”Niatkan dan jangan batalkan niat itu walau apa yang terjadi. Guru Bapak pengajarkan, janji harus ditepati, apalagi janji pada diri sendiri yang tidak merugikan orang lain. Tetapi kalau janji itu tak ditepati, akibatnya pada diri sendiri buruk. Biasakan tepati janji apa pun.”

Sore hari sebelum Madi Agung berangkat ke pura. Langit kelam dan guntur berdentur-dentur, lalu hujan bagaikan ditumpahkan dari langit. Padahal dia sudah mengenakan pakaian adat Bali untuk bersembahyang ke pura. Bahkan dia sudah membeli canang . Dia tertegun di atas sadel motornya, kemudian menepikan motor ke tempat teduh di depan kamar kosnya. Air membasahi wajahnya.

”Ah, besok saja,” pikirnya. Tetapi dia ingat apa yang dikatakan oleh dosennya tadi.

”Aku harus berangkat.” Lalu dia mengambil jaketnya serta tas punggung yang telah dikosongkan dan diisi dengan canang, senteng dan baju, sarung serta udeng . Semua terbungkus kantung plastik. Dengan mengucap niat di dalam hati dia berbasah kuyup melajukan motornya ke arah selatan. Sepanjang perjalanan dia tidak bersua dengan sepeda motor. Hanya mobil dan truk yang berpapasan.

Sampai di Sukasada, dia masih berbasah kuyup dan motornya tetap dipacunya ke arah selatan. Masih tujuh kilometer lagi jauhnya, dan belum ada tanda-tanda bahwa hujan hendak reda. Padahal dia harus memarkir motornya di tepi jalan, kemudian setelah melalui gapura yang dibangun untuk menandai objek wisata itu, dia harus berjalan kaki menuruni lembah.

”Aku harus bersembahyang sore ini juga seperti yang kuniatkan,” kata Madi Agung dalam hati.

Berjalan di lahan becek dalam guyuran hujan memang tidak nyaman tetapi dia bergerak terus, menuruni jalan setapak. Dia tak bertemu siapa pun, tidak juga seorang turis. Dia akhirya menemukan pura kecil yang disebut Cik Amyong. Doa yang dicatatnya di dalam HP sudah hapal. Begitu dia sampai di depan gerbang pura, tiba-tiba hujan yang menerpa berhenti, seolah ditahan oleh tangan raksasa entah dari mana.

”Suksma, Guru,” dia melepaskan jaketnya yang basah, dan mendapati bajunya juga basah, apalagi sarungnya. Sebelum memasuki halaman pura ia mengganti pakaiannya yang terbungkus tas plastik di dalam tas punggungnya. Korek api dan dupa juga kering terbungkus kantung plastik pula. Kemudian dia melangkah ke dalam pura, meletakkan canang di piasan dan kemudian menyalakan dupa dengan korek api kering. Doa itu meluncur dengan lancar dari mulutnya, seolah sudah dihapalnya bertahun-tahun lamanya. Tak puas dia mengucapkannya sekali saja namun entah sampai berapa puluh kali. Selesai mengucapkan doa dan keinginannya, langit terbelah terang benderang, sisa cahaya sore memerah dan dia merasa tubuhnya ringan. Dengan hati ringan pula dia mendaki balik ke atas tanpa mengenakan jaketnya yang basah. Orang-orang yang dijumpainya di jalan itu nampaknya heran kenapa dia berpakaian kering sementara hujan baru saja reda.

Malamnya dia masih bersembahyang di Pura Jagatnatha yang terletak di pusat kota. Walau Cik Amyong tidak berpesan agar ia ke pura besar itu, dia berpikir tak ada salahnya kalau dia bersembahyang juga di sana. Dia bernapas lega penuh pengharapan.***

Singaraja, 17-19 Desember 2009

tentang blog iniTulisan berjudul "Sebuah Pura di Air Terjun Gitgit" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (10 Maret 2010 @ 08:27) pada kategori Cerpen. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Tulisan Terkait:

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *