Home » Cerpen » Malam Saweran

Malam Saweran

Cerpen AS Laksana
Dimuat di Suara Merdeka (05/10/2009)

AKU sepakat bahwa laporan bersambung itu terasa mengada-ada. Setidak-tidaknya, ia terasa sebagai upaya berlebihan dari penulisnya untuk membuatmu putus asa mengikuti sepak terkam orang-orang yang gemar menyelinap di tengah malam. Wartawan itu memang menulis dalam gaya yang samar; ia menceritakan tabiat sejumlah orang tanpa menyodorkan petunjuk yang memungkinkanmu menerka siapa saja sesungguhnya yang sedang ia ceritakan dan di mana kejadiannya berlangsung.

Dan apa yang samar, apalagi jika diturunkan sebagai serial dengan label ”Dunia Malam Orang-Orang Terhormat”, tentu akan mudah membuatmu penasaran, bukan? Dan, ketika rasa penasaranmu tak terpuaskan, kau bisa saja memutuskan bahwa seluruh tulisan itu tidak lebih adalah karangan belaka. Silakan. Di sini aku hanya ingin menyampaikan yang kutahu dan meyakinkanmu bahwa tidak semua laporan itu hasil karangan si wartawan; setidak-tidaknya ada satu yang aku yakin ditulis berdasarkan kejadian, yakni tulisan ke-11 yang berjudul Nonton Penari Bugil, Nyawer Lima Juta. Kautahu, akulah si penyawer yang dirahasiakan nama dan jabatannya oleh wartawan itu.

Kutuklah aku; kau punya kebebasan untuk mengutuk siapa saja yang membuatmu senep. Atau geramlah sembari membuat tinjauan melodramatik yang bisa menguatkan rasa gerammu; kau boleh mengatakan, misalnya, betapa tak tahu dirinya aku, menghamburkan lima juta rupiah untuk si bugil di tengah begitu banyaknya anak yang telantar dan kelaparan. Kau boleh membenciku dengan segala alasan yang terpikirkan olehmu, tetapi aku bisa menjelaskan apa yang kulakukan. Aku menjadi penyawer karena gagal menjadi suami yang bahagia dan karena itu gagal juga membuat istriku bahagia. Perempuan yang kucintai selalu menyakitiku dan ia membuatku kesepian dengan menyalak tak putus-putus.

”Apa lagi yang mau kaukatakan?” itu satu contoh bagaimana ia menyalak. ”Bukti-bukti sudah bicara. Kau tak perlu mengelak. Tak perlu berdalih. Tak perlu berpanjang lidah.” Ia sering bicara tentang bukti-bukti. Kupikir ia terlalu gelap menjalani hidup. Yang ia sebut sebagai bukti-bukti, kautahu, sesungguhnya hanyalah khayalan yang bangkit oleh kekalutannya sendiri. Ia mengungkung diri dalam prasangka runyam tentangku dan kemudian menyebut apa saja yang terlintas di keruwetan pikirannya sebagai bukti-bukti.

Terus terang, aku ingin menjahit mulutnya.

Tentu tak bisa kusampaikan keinginanku ini kepadanya. Tak bisa kusampaikan apa pun. Karena itu aku lebih suka pulang larut malam atau dinihari ketika ia sudah tidur. Itu caraku mengalah dan selama ini aku lebih suka diam menerima lolongannya, tetapi justru ia menganggapku orang yang ribut. Aku tidak habis pikir bagaimana ia bisa menyuruhkan tidak usah berpanjang lidah; kupikir aku tidak pernah mengulurkan lidahku di hadapannya. Dan kapan aku mengajukan dalih-dalih?

Kurasa kau harus berhati-hati menghadapi perempuan seperti ini; ia terlalu cerewet dan seringkali tidak bisa membedakan suara siapa yang ia dengar: apakah suaranya sendiri ataukah suaramu. Ia sungguh menyedihkan dan ia senang mengatakan bahwa aku suka menggasak uang yang bukan hakku. Ini tuduhan keji dan istriku sendiri yang melakukannya. Padahal, aku berbuat apa pun demi menyenangkan hatinya.

Kautahu, aku memang telah mengambilnya, dengan cara yang tak mungkin ia tolak, dari cengkeraman orang yang kupikir tak layak menjadi pacarnya dan kami menikah secepatnya setelah aku berhasil memisahkannya dari lelaki tak layak itu. Mengenai riwayat perjodohan kami, aku tak akan malu mengakui bahwa semula ia memang tidak mencintaiku —ia menyimpan pasfoto orang lain di selipan dompetnya. Kami pernah makan di warung yang sama dan aku melihat foto lelaki itu ketika ia membuka dompet hendak membayar. Aku menyimpan pasfoto ibu negara yang kugunting dari sebuah majalah. Itu hanya sebuah cara untuk berbeda.

Pengetahuan tentang ”menjadi berbeda” itu kudapat dari riwayat hidup delapan orang; salah satu dari mereka mengatakan, ”Kau tidak akan bisa memikat orang lain jika tidak ada apa pun dari penampilanmu yang bisa diingat orang. Orang-orang hanya akan memandangmu ketika kau berbeda dari orang-orang lain yang sebagian besar biasa-biasa saja.” (Timothy G Sapir, Delapan Tokoh Eksentrik, Surabaya 1987, Cetakan 2, halaman 93; garis bawah dari saya). Aku setuju pada pernyataannya. Karena itulah ketika sebagian temanku menyimpan pasfoto pacarnya di dompet, dan sebagian yang lain tidak tahu harus menyimpan pasfoto siapa, aku menyisipkan pasfoto ibu negara di lipatan dompetku. Ketika anak-anak lain mengenakan kacamata dengan bingkai tipis, aku memilih kacamata penyu yang pernah digemari orang seratus tahun lalu.

Begitulah, mengikuti nasihat orang itu, aku menjadikan diriku tidak lumrah. Namun aku tak pernah merasa bahwa gadis itu tertarik kepadaku sekalipun aku menyimpan foto ibu negara di dompetku dan mengenakan kacamata penyu. Tak ada masalah dengan itu dan sebetulnya aku bisa sangat ikhlas menerima kenyataan bahwa ia tidak menggubrisku. Aku tahu cara menghibur diri dan bisa mengatakan dengan enteng kepadamu, ”Yah, aku bukan tipenya.”

Masalahnya, kau tak bisa benar-benar bersikap enteng jika kau tertarik pada seorang gadis dan berusaha membuat gadis itu tertarik kepadamu, dan nyatanya gadis itu memilih berpacaran dengan orang lain yang nilainya bisa dibilang tak lebih dari enam. Itu sebuah siksaan. Atau semacam penganiayaan yang rasa sakitnya akan tetap tinggal hingga bertahun-tahun kemudian.

Kupikir kau bisa memahami perasaanku, sebab kau pun tak suka dianiaya dengan cara seperti itu. Mestinya ia memilih pacar yang tampan; itu akan membuatku lebih rileks kalaupun ia tak meladeni upayaku. Seorang gadis cantik berpacaran dengan pemuda tampan, apa yang perlu dipermasalahkan? Pada pasangan seperti itu, kau tidak akan menaruh dengki berkepanjangan atau berniat kriminal, misalnya, dengan menghamburkan kasak-kusuk agar si lelaki kelihatan tengik di mata teman-teman. Tetapi karena gadis itu salah menjatuhkan pilihan dan ia menyimpan foto lelaki tidak tampan di dompetnya, maka aku merasakan kesia-siaan yang memukul harga diriku. Perempuan itu, yang kelak menjadi istriku, sama sekali tidak melirik penampilan eksentrikku.

Aku menjadi lungkrah dan malas kuliah dan melarikan diri ke mana saja mengikuti truk-truk yang bisa kutumpangi. Dan, dalam sebuah perjalanan ke timur, aku mendapatkan inspirasi dari truk yang terseok-seok ke barat. Aku masih murung ketika membaca tulisan pada bak truk itu —cinta ditolak, dukun bertindak— tetapi pelan-pelan kemurunganku mereda dan aku merasakan sebuah pencerahan. Kautahu, pencerahan memang tak terjadi seketika; ia merambat pelan-pelan ke batok kepala seperti serangga sampai akhirnya kau menyadari bahwa kau tidak perlu menjadi eksentrik untuk merebut seorang perempuan dari lelaki yang dipacarinya. Kau hanya perlu melakukan tindakan wajar, sewajar tidur ketika mengantuk atau memaki ketika sakit hati.

Maka, aku pun bertingkah wajar: kudatangi seorang dukun, lalu dukun itu bertindak untukku, lalu perempuan itu tertarik kepadaku. Seluruh dunia kurasa memanjatkan puji syukur karena gadis cantik itu akhirnya mencampakkan lelaki yang cuma pas-pasan. Namun aku tak tahu apakah dunia juga bersyukur ketika melihat perempuan itu, setelah lepas dari mulut buaya, akhirnya jatuh ke pangkuan penyu. Dalam urusan ini, aku tak peduli pendapat orang. Mungkin mereka iri kepadaku dan akan bergunjing bahwa aku memakai guna-guna untuk merebut perempuan yang sudah punya pacar. Silakan mereka bergunjing seperti itu. Kautahu, hanya para pendengki yang suka bergunjing dan aku tidak akan mengalami cedera parah karena digunjingkan oleh para pendengki. Sebaliknya, semakin dengki mereka, semakin nikmat kurasakan kemenanganku.

Perempuan itu datang pertama kali kepadaku dengan gerak orang yang melamun. Aku menerimanya dengan penuh kesadaran dan sedikit rasa waswas bahwa besok pagi ia akan tersadar dari lamunannya dan kembali ke pacarnya.

”Kita harus secepatnya menikah,” kataku.

”Ya,” katanya, seperti orang kurang waras.

”Apakah kau benar-benar mencintaiku?”

”Ya.”

”Tak ada lelaki lain di hatimu?”

”Ya.”

”Kau berjanji menjadi istriku selamanya?”

”Ya.”

Itu percakapan indah dan aku ingin mendengarnya berulang-ulang dan, pada kenyataannya, dua hari penuh percakapan itu menggaung di kepalaku. Demi mengekalkannya, aku menyalin percakapan itu pada secarik kertas dan menyimpannya di dompetku, menutupi pasfoto ibu negara. Setiap ada kesempatan, aku mengambil kertas itu dari dompet, membuka lipatannya, membacanya, melipatnya lagi, memasukkannya lagi ke dompet.

Kini aku agak menyesal kenapa tak kurekam percakapan itu. Tetapi, pada waktu itu, siapa akan terpikir tentang rekaman percakapan? Belum ada ilham ke arah sana. Tanya jawab kami berlangsung sebelum orang memutar rekaman percakapan antara jaksa agung dan presiden, jauh sebelum percakapan lucu antara seorang jaksa dan penyogoknya diperdengarkan di ruang sidang. Sekiranya percakapan kami terjadi sekarang, tentu kurekam baik-baik tanya jawab kami dan aku bisa mempergunakan rekaman itu jika sewaktu-waktu kubutuhkan. Siapa tahu suatu hari ia mulai menyadari ada yang tidak beres dengan dirinya dan mulai menunjukkan gelagat hendak meninggalkanku, aku akan bisa memutar rekaman itu dan mengatakan, ”Dengarlah, kau sendiri yang mencintaiku; ini ucapanmu sendiri, bukan?”

Tetapi, syukurlah, sampai sekarang perempuan itu tetap menjadi istriku dan tidak pernah menunjukkan gelagat hendak kembali kepada bekas pacarnya. Tentang lelaki itu, aku tidak berminat mengikuti kabarnya. Mungkin ia tidak pernah bisa mendapatkan pacar lagi dan itu bukan urusanku. Biarlah ia menyadari dirinya sendiri. Kurasa yang ia perlukan adalah cermin besar agar ia bisa berkaca dan menyadari bahwa sudah sepantasnya ia ditinggalkan oleh perempuan cantik yang sekali waktu pernah khilaf menjadikannya pacar. Aku hanya menaruh perhatian pada keberhasilanku mendapatkan gadis itu dan pada rasa bahagia yang menjalari sekujur tubuhku. Dan gadis itu, dalam gerak yang seperti melamun, selalu kubawa ke mana pun aku pergi dan aku menggandeng tangannya ketika kami melintas di antara teman-teman.

Kami menikah dua bulan sebelum aku selesai kuliah; aku terharu pada hari pernikahan dan ia tetap kelihatan melamun. Enam bulan setelah itu aku merasa sangat lega: itu hari pertamaku bekerja di kantor pajak dan istriku hamil tiga bulan. Dengan janin di dalam rahimnya, kupikir ia tak mungkin meninggalkanku. Dan, lihatlah, istriku tampak agak malas mengurus diri dan ia masih melamun. Anak di rahimnya pasti laki-laki. Tak perlu kauragukan isyarat ini: seorang perempuan tampak malas dan acak-acakan pada saat mengandung jika anak di dalam rahimnya adalah laki-laki.

Anak kami lahir pada waktunya. Perempuan. Agak menyalahi isyarat yang dipercaya orang, tetapi tidak sepenuhnya begitu: sejak berumur dua tahun, kautahu, ia tampak kelaki-lakian. Aku tidak terganggu oleh hal ini, namun istriku risau pada tabiat anak kami. Ketika anak itu delapan tahun, istriku seperti orang bangun tidur dan ia tidak melamun lagi; ia berubah menjadi seorang penuduh dan mulai bicara bukti-bukti. Ia tekun menyerangku dan semakin sengit ketika anak kami berumur dua puluh satu dan tetap kelaki-lakian.

Telah kukatakan bahwa sejak awal ia tidak pernah menaruh perhatian padaku, tetapi kesediaannya menikah denganku sungguh membuatku terharu. Karena itu aku bertekad membuatnya bahagia dan di situ aku gagal. Ia tidak bahagia dan kelihatannya tak pernah mencintaiku; ia menggunakan apa saja untuk menyudutkanku, termasuk dengan terus uring-uringan mengenai anak kami. ”Kau menjejalkan dosa ke perutnya,” katanya. ”Karena itulah ia tumbuh menjadi anak perempuan yang tidak sewajarnya.”

”Kau berlebihan,” kataku. ”Ia hanya sedikit hiperaktif.”

”Ia begitu karena menanggung dosamu,” katanya.

Kupikir ia mestinya belajar mensyukuri rezeki berlimpah yang mengalir ke kantung suaminya. Dan kusampaikan kepadanya apa yang kupikir. Tapi ia malah mengatakan ”cuih!” dan meraung-raung, ”Apa yang harus kusyukuri? Semua orang jijik melihatku. Mereka membicarakan anak kita, mereka membicarakan aku. Ketika lelaki menjadi binatang pengerat, setiap orang menyalahkan istrinya. Aku merasakan itu.”

”Aku hanya ingin membahagiakanmu.”

”Kau menyedihkan aku.”

Benar, kau menyedihkan aku. Karena itulah aku mengendap-endap hampir tiap malam, membahagiakan orang yang senang kubahagiakan. Ketika laporan soal nyawer muncul di koran, aku menyodorimu tulisan itu. Suaraku riang, ”Bacalah!” Suaramu sengit, ”Tak sudi.” Aku tahu kau tak suka membaca koran, tetapi, khusus laporan itu, aku ingin kau membacanya, lalu penasaran, lalu menyerangku: ”Kau yang nyawer perempuan bugil ini?” Demi kebaikan, aku akan meyakinkanmu, dan bersumpah, bahwa itu bukan aku dan bahwa laporan itu hanya karangan si wartawan. ***

tentang blog iniTulisan berjudul "Malam Saweran" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (5 Maret 2010 @ 23:56) pada kategori Cerpen. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Tulisan Terkait:

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *