Home » Cerpen » Sokaratu

Sokaratu

Cerpen Beni Setia
Dimuat di Jurnal Nasional (05/10/2009)

Bunyi tekanan dan gesekan menghancurkan bumbu dari mutu pada cowet itu menimbulkan gema unik. Suara teredam yang lembut, tapi mengisi awal pagi dengan kehangatan, seperti meneguhkan janji yang dikesiutkan air mau mendidih atas tungku yang apinya berkobar sedang menjerang, mengatasi gemuruh berpuluh kodok yang terus bernyanyi. Menyuarakan birahi dalam udara dingin yang pasti berpakaian kabut — dari hujan sejak sore itu, di luar sana. Di balik dinding gedek yang tidak berdaya menyaring hembusan angin yang bolak-balik kepleset pada daun basah di luar, dalam kesunyian yang diisi denging serangga tanpa jengkrik — kemarau tiga bulan lagi.

Khas meski si pembuat cowet batu itu tak dengan sengaja membuat cekungan dan ketipisan alas yang mampu bergetar dalam amplitudo tertentu. Aku menyibakkan selimut kain panjang batik, dalam motif bertumpuk-tumpuk bagai seribu sisik. Hadiah luar biasa, diberikan si ibu rumah yang ramah semalam. Cukup hangat meski tak bisa menanggalkan dingin yang selain ada seluruh ruang tengah los ini, juga bagai tumbuh dari dalam tulang mencuil-cuil sisa hangat dari darah di daging. Aku menggosok betis dengan telapak tangan sebelum bergeletuk menyelinap ke dapur. Siap tersenyum pada ibu yang sedang suntuk menghaluskan bumbu dalam cowet.

Palupuh, lantai bambu yang diremukkan dan dihamparkan itu, berderak dan goyangan itu membuat perempuan tua yang menunduk asyik itu melirik. Tersenyum. ”Dingin ya?” katanya. Aku mengangguk. Langsung jongkok depan tungku.”Maaf,” katanya, “begini keadaan kampung.” Aku melirik dan tersenyum. Bilang kalau akupun berasal dari kampung sehingga terbiasa hidup seadanya. Tersenyum. Menelan ludah, dan mendorong kayu masuk perut tungku lewat mulut setengah lingkarannya. Bilang bahwa, meski sekarang kerja di kota tapi tiap dua atau tiga bulan selalu pulang dan bertualang di tengah alam pedesaan. ”Ya,” kataku, setengah tersihir ketika hidung disapu wangi kencur, “bila tak jalan-jalan, ya …mancing.”

”Begitu?”

”Kencur ya?”

”Iya! Akan membuat sangu sangray. Di kampung mah kreasinya cuma sampai

sangray kejo. Jangan tersinggung ya? Nasinya padi huma yang bagi orang kota mah terlalu keras. Jangan tersinggung ya? Cabenya berapa?”

”Terserah, bu. Pokoknya saya ikut apa yang disuguhkan. Saya kan sudah amat merepotkan keluarga sini. Kalau Anabrang ke mana?”

”Ke lembah, mau ambil bubu. Biasanya ada lele atau badar.”
***

Aku menarik telapak tangan yang dijulurkan terbuka di hadapan nyala, berbalik memberikan punggung pada nyala setelah minta maaf kepada si ibu. Aku merasakan hangat dari api dan udara yang pengap berasap di dapur sempit, yang penuh dengan baju-baju yang disampirkan, digantungkan, dan dikaitkan, julur-julur bambu tempat mengaitkan genting, dan rongga terbuka untuk mengeluarkan asap dan penuh jelaga tungku. Tapi dengan lantai palapuh yang mengkilap pertanda selalu ada yang duduk bersimpuh, bersila dan beringsut, pertanda di tempat ini selalu ada yang berkunjung dan diterima sebagai keluarga dan bukannya sekadar tamu — yang diterima dengan kehormatan formal berlebihan di ruang tamu.

Seperti biasa. Seperti adatnya. Dan kalau bisa memilih aku selalu ingin diterima di dapur, diajak bicara tentang yang intim dan bukan yang formal dan maha penting — tapi segera selesai. Momen yang akan membawa kita datang lagi ke dapur, dan bicara tentang yang intim, seperti bila sanak keluarga bertemu, berbincang sambil menikmati makanan sepele karena ingin lebur dalam suasana makan bersama dan bukan apa jenis makanannya. Dan aku berpikir: Apa itu yang hilang dari rumah, setelah Bapak kawin lagi, dan aku tak bisa larut dalam suasana dapur dengan ibu tiriku? Dilarang ke dapur, disiapkan makan di tengah rumah, dan di dalam kaku formalnya terpaksa mengobrol serius dengan bapak. Sesuatu hilang dari rumah saat libur kerja, karenanya terpaksa bertualang, mengeluyuran di ladang di lembah dan bukit tiap pulang kampung.

Sampai Kalakay bilang agar [aku] mencoba mancing beunteur di Sokaratu, di hulu Cikambuy, di leuwi tepat setelah celah sempit lembah pertama Gunung Puntang. ”Tapi agak sanget,” katanya, ”jadi harus uluksalam dulu, baca doa, menyulut rokok dan melemparnya ke lubuk. Merepotkan tapi ya …jaga-jagalah.” Aku mengangguk. Beunteur, ikan liar yang paling besar sekitar dua jari orang dewasa, sudah agak sulit di kampung. Dulu banyak, mungkin sama banyaknya dengan udang air tawar, yang di masa kanak ditangkap dengan cara membanting batu di atas batu yang terendam air. Satu dua ada tertangkap, lalu dibakar dengan daun bambu di pinggir sungai. Menu setengah matang yang terasa manis meski tanpa bumbu.Dan omongan Kalakay itu membuatku tergerak memancing. Bangun pagi dan berjalan ke hulu supaya sebelum jam sepuluh, tepat saat matahari menerangi Lembah Sokaratu yang selalu meremang karena diapit dinding jurang dan rimbun pepohonan liar.

Orang bilang, heubeul isuk — selalu pagi —, tapi ada yang bilang itu gancang sore — kesusu petang. Aku tak begitu peduli. Lembah itu sempit, menjulur ke selatan, sampai terantuk tebing di mana ketinggian menjatuhkan air ke lubuk, lalu Cikambuy menghilir lirih dan membuat lubuk berikut di mulut lembah. Jurang tinggi, pepohonan liar dan perdu membuat nyamuk perkasa — mungkin juga ular. Karenanya tak banyak yang datang memancing. Tempat yang selalu pagi dan petang — jadi mengigiriskan bila dihiasi matahari sore yang cepat teduh teraling dengan bunyi denging uir-uir yang melengking menyuarakan kesenyapan di tengah keluasan sepi. Cuma para pemberani macam Kalakay yang ambil risiko. Itupun dengan pesan, kalau saat Ashar tiba harus pulang — agar tidak kemalaman di jalan. Dan kalau mendengar petir dan langit mulai mendung harus segera ke luar. Bila hujan selalu ada banjir bandang yang bisa bikin kita terkurung, karena setapak rahasia di bawah permukaan air di tebing kiri pada celah selebar tiga meter itu dipenuhi air deras setinggi dagu.

Aku berbalik lagi. Perempuan itu mengangkat seeng tembaga, meletakkannya pada bantalan dari tanah liat yang membulat dan pas menyangga alas yang hitam itu. Ia meletakkan wajan yang sipat putih logamnya sudah hilang berganti warna hangus terlalu terjerang dan tak pernah digosok sehingga kerak hangusnya terkelupas. Tapi di sana hakekat seni masak kampung, di mana bumbu terkini akan dipolusi oleh bumbu yang kemarin dan kemarin lusa, sehingga muncul aroma dan rasa khas wajan itu. Dan setelah wajan panas perempuan itu memasukkan campuran terulek kencur, kunyit, bawang putih, bawah merah dan cabe ke cekungan wajan — dengan sedikit air. Lantas menggongsonya. Mengambil bakul, membalikkannya sehingga nasi dingin terbiarkan semalam itu memenuhi adonan yang membumbungkan wangi kencur — bumbu yang jarang ditemukan di luar menu Sunda —, yang dalam lotek atah Ma Acih aroma getah mentahnya bikin klenger.

Papan undakan pintu dapur berdenyit menyusul bunyi barang yang diletakkan menyandar di dinding. Pintu terbuka. Anabrang muncul. Tersenyum.”Udah bangun?” katanya. Aku mengangguk, bilang dibangunkan bunyi mengulek bumbu dan kesiut air mau mendidih dalam seeng. Anabrang memperlihatkan tangkapannya, seekor deleg yang telah dibersihkan isi perutnya, lalu yang dibakar di bara tungku sambil minta maaf karena tidak bisa mempersembahkan yang lebih baik dari sekadar ikan bakar. ”Maaf,” katanya, “Kami tak boleh makan garam. Jadi kejo sangray dan ikan bakarnya tidak bergaram.” Aku tertawa. Menyodorkan rokok, dan bilang, yang minta disuguhi garam itu siapa, karena aku sudah mendapatkan yang lebih gurih dari sekadar garam dalam masakan: penerimaan hangat penuh kekeluargaan. “Persaudaraan …,” kataku. Anabrang menyulut rokok, tersenyum.”Tarima kasih, kang,” katanya — seperti orang menemukan emas, seperti menyadari kalau itu sudah langka di dunia ini.
***

Itu yang menyelamatkanku kemarin. Yang keasyikan memancing, terutama karena di setiap lemparan selalu menghasilkan ikan sebesar satu ari, dan ada empat yang lumayan sebesar dua jari, lalu — tanpa ada isyarat alam di langit —: air tiba-tiba naik didahului sampah dan kotoran yang tergelontor. Aku tersentak, meloncat, dan bergegas menyusuri pinggir lubuk di sisi tebing yang meneteskan air. Tapi terlambat, karena air sudah naik sepinggang, dan dalam panik sebatang kayu menabrak pinggul. Aku kehilangan keseimbangan, terhoyong kecebur ke inti arus. Gelagapan. Hanyut. Dan seseorang menjemba tangan, menarik ke pinggiran, dan menyeret ke atas tebing. Arus makin besar. Menggemuruh. Dan di sebelah Anabrang tersenyum. ”Tak apa-apa kan, kang?” katanya. Aku tersipu — berkali-kali mengucapkan tarima kasih. Sambil mengawasi langit Anabrang menarik tanganku. “Akan hujan besar, kang,” katanya. Aku mengikutinya naik ke punggung bukit, berbelok dan tiba di lembah yang rasanya tak pernah ada. Aku celingukan. Di jauhnya terdengar derap hujan. Kami berlari. Dan saat sampai di undakan dapur hujan sempurna membasahi lembah.

Setelah salin dengan pakaian hitam-hitamnya Anabrang aku berkenalan dengan ibunya — menurut ceritanya tempat itu Lembah Sokaratu asli. Aku mengangguk. Aku menikmati air panas tanpa gula, teh dan kopi. Mengobrol sambil menikmati ubi bakar yang disajikan dengan irisan gula kelapa. “Seadanya,” katanya. Aku tertawa. Bilang, kalau yang ada itu yang enak, karena yang tak ada itu tak bisa dinikmati meski bisa dibayangkan enak. Perempuan itu tertawa. Karenanya — hujan deras, sesekali tepias terdorong angin ke dinding —: Aku bercerita tentang kota, tentang Bandung, tentang Jakarta, tentang mobil dan motor. Tentang kereta api, yang kumisalkan ular besar, yang perutnya bisa diisi berpuluh-puluh orang tanpa membunuhnya, dan berjalan di atas alur tertentu. “Ada yang begitu?” tanya Anabrang. Aku tersenyum, mengangguk, dan bercerita tentang pesawat terbang, yang anehnya tak menarik minat kedua orang itu. Sehingga aku kembali bercerita panjang lebar tentang kereta api, si ular besi yang sesungguhnya kendaraan yang digerakkan mesin diesel di kepala lokomotifnya. Aku

bercerita tentang stasiun, peron, karcis, langsir dan nyanyi lagu ”Naik Kereta Api”.

Mereka ternganga. Anabrang minta diajari lagu “Naik Kereta Api”, dan ia terus bersenandung semalaman. Aku tersenyum. Menjelang tengah malam, dalam dingin mencekam, si perempuan itu menyerahkan selembar kain panjang untuk selimut. Aku setengah tertidur meski tak lelap — dan tahu kalau Anabrang terus menyanyikan lagu ”Naik Kereta Api”. Lalu aku pulas, dan terjaga di dingin pagi, sendirian, dipanggili bunyi mutu tergesekkan pada cowet dan bunyi denging sebelum air mendidih — yang mengingatkan pada dapur dan ibuku. Ya! Dan ketika sang sangray sudah ditata di piring, kami duduk melingkar dan makan dengan ikan bakar. Terasa hámbar tanpa garam, tapi hangat dapur dan kesederhanaan mereka yang tak tahu kereta api dan tak pernah mendengar lagu ”Naik Kereta Api” itu membuatku maklum, sehingga apapun yang ada tandas dimakan. Kerakusan yang membuat mereka senang, karena merasa aku mau diterima dalam keapaadaannya. Tapi haruskah mempersoalkan yang tak ada?
***

Sekitar jam sebelas aku pamit. Perempuan tua itu tersenyum, mengucapkan terima kasih atas cerita kereta api yang mengagumkan itu. “Ceritamu itu membuat Anabrang tak perlu pergi ke kota untuk nonton kereta api,” katanya. Aku tersenyum. Berjanji akan berkunjung lagi. Perempuan itu hanya tersenyum. Pamitan. Aku diantar Anabrang, yang kembali bertanya tentang kereta api, dan karenanya aku berjanji akan membawakan kereta api mainan agar bisa membayangkannya. Anabrang tersenyum. ”Bener, kang?” katanya. Aku mengangguk. Dan di punggung gunung, sebelum turun ke lembah dekat celah Sokaratu di mana Cikambuy muncul bagai ular menggeliat di pesawahan, Anbabrang menyerahkan kain batik — selimut semalam. ”Kalau mau ke sini kerodongkan, tapi jangan membawa yang lain. Janji,” katanya. Aku mengangguk. Pamit. Meloncat. Menuruni setapak. Di bawah aku menengok dan di punuk pundak bukit terlihat seekor ular sanca, sebesar pohon kelapa, menggelusur — menjauh.

Aku tersentak. Gemetar — dan kembali tenang. Bukankah kami telah dipertalikan pesaudaraan? Dan karenanya, tiga bulan kemudian, diam-diam berangkat ke Lembah Sokaratu, dengan kereta api mainan yang digerakkan bateri. Menginap seminggu, dan pulang tanpa peduli cerita orang: aku hilang setengah tahun — setelah hilang sebulan. Apa peduli orang-orang itu? Bukankah aku hanya datang bertamu, bertemu saudara yang sederhana dan menyenangkan dalam kesederhanaannya? Bolak-balik. Sampai Anabrang menikah dan punya anak — dan aku memutuskan tidak menikah dan punya anak, agar mereka tak shock ketemu saudara dari alam lain. Memang.***

tentang blog iniTulisan berjudul "Sokaratu" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (2 Maret 2010 @ 23:59) pada kategori Cerpen. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Tulisan Terkait:

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *