Home » Blog » Blogwalking: Jalan Menuju Sehat

Blogwalking: Jalan Menuju Sehat

Blogwalking? Hmm … istilah yang satu ini pasti sudah tak asing lagi di kalangan bloger. Konon, kosakata ini hadir ketika blogger butuh sosialisasi dan interaksi dengan sesamanya. Dia juga hadir ketika bloger tak ingin asyik dengan dunianya sendiri; berdiri di atas puncak menara gading dunia virtual yang terus berkarya dan menghasilkan pikiran-pikiran kreatif, tetapi tak pernah bersentuhan dengan persoalan-persoalan sosial dan ranah komunikasi dunia virtual lainnya.

blogwalkingMelintasi batas global.blogwalkingBlogwalking, Yuk!blogwalkingSimbolisasi Blogwalking.Namun, hanya sekadar ingin terhindar dari stigma “asyik dengan dunianya sendiri” itukah seorang bloger butuh blogwalking? Atau, hanya sekadar ingin memburu back-link demi memburu trafik dan ketenaran sebuah blog agar bisa mulus jalannya menuju tahta popularitas untuk kepentingan bisnis online, misalnya?

Saya pikir tak ada sebuah “mazhab” pun yang mengharuskan seorang bloger mesti begini atau begitu. Melakukan blogwalking atau tidak, itu sudah masuk pada ranah personal dan hak “prerogatif” yang tak bisa diintervensi dan dipengaruhi oleh “mazhab” tertentu. Toh, tanpa blogwalking, seorang blogger juga tak bakalan kena “dampak sistemik” terhadap keberlangsungan dan eksistensi sebuah blog selama akun-nya belum mengalami masa expired atau ter-banned?

Meski demikian, saya melihat blogwalking memiliki jangkauan kebermaknaan dan kebermanfaatan yang jauh lebih luas. Blogwalking itu bisa menjadi jalan menuju sehat? Kok bisa? Ya, ya, ya, seiring dengan dinamika peradaban yang terus bergerak menuju perkampungan global, ukuran sehat pun tak hanya berkelindan dengan persoalan-persoalan fisik dan hal-hal yang kasat mata. Sehat bisa menjangkau ranah sosial, emosional, spiritual, bahkan juga kultural. Melalui blogwalking, kita mendapatkan asupan gizi sosial, emosional, spiritual, dan kultural itu melalui postingan-postingan sahabat bloger yang kita kunjungi.

Secara sosial, blogwalking bisa memperpendek jarak sekaligus memperluas jangkauan relasi dan pertemanan. Blog memang bukan jejaring sosial semacam facebook, twitter, friendster, myspace, netlog, atau sejenisnya, yang bisa demikian lentur menjaring pertemanan dengan orang-orang yang punya satu “selera”. Namun, blog justru mempunyai jaringan sosial yang jauh lebih luas dan terbuka tanpa harus melalui proses invite dan approve. Blog bisa dimasuki dan dikomentari siapa saja; bahkan oleh orang yang tidak satu “selera” dengan kita.

Secara emosional, kita bisa memperkaya dan mencerdaskan emosi kita dengan membaca postingan-postingan yang reflektif dan terbebas dari kesan menggurui. Secara tidak langsung, tulisan-tulisan sahabat bloger semacam itu bisa merangsang dan menginspirasi kita untuk menjadi pribadi yang arif, matang, dan dewasa. Secara spiritual, batin kita juga tercerahkan melalui tulisan-tulisan sahabat bloger yang mengangkat persoalan-persoalan spiritual, yang diakui atau tidak, bisa memberangus kecongkakan dan kebuasan hati, serta dengan rendah hati bersedia dengan jujur mengakui bahwa “di atas langit masih ada langit”. Bahkan, secara kultural, kita bisa menjadi sosok moderat dan berpandangan multikultur dengan membaca postingan-postingan sahabat yang lintasbudaya dan lintas-suku. Ini artinya, blog tak ubahnya perpustakaan maya yang mampu membangun budaya literasi secara spontan dan serba tak terduga melalui kacamata multidimensi yang toleran dan demokratis.

Lantas, perlukah komentar dan jejak blogwalking yang masuk ke blog kita direspon dan ditanggapi? Hmm … kalau yang ini persoalan lain lagi. Setiap bloger punya pandangan yang berbeda. Karena alasan tertentu, tak punya waktu, misalnya, seringkali komentar pengunjung tak sempat direspon, atau bisa juga dengan sengaja membiarkan tulisan di blognya menjadi semacam diskursus yang bebas dikomentari siapa saja, tanpa harus direspon balik, karena tulisan di blognya sudah dianggap cukup mewakili pemikiran-pemikiran personalnya. Yang repot kalau komentar dan jejak blogwalking tak direpson, juga tak ada inisiatif untuk melakukan kunjungan balik. Nah, yang model begini, agaknya sulit menghindar dari stigma “asyik dengan dunianya sendiri” itu. Atau, bisa jadi sudah merasa sehat secara sosial, emosional, spiritual, dan kultural. Bagaimana menurut Sampeyan? ***

tentang blog iniTulisan berjudul "Blogwalking: Jalan Menuju Sehat" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (1 Februari 2010 @ 04:11) pada kategori Blog. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Ada 235 komentar dalam “Blogwalking: Jalan Menuju Sehat

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *