Home » Cerpen » Kiamat Kesetiaan

Kiamat Kesetiaan

Cerpen Triyanto Triwikromo
Dimuat di Jawa Pos (10/04/2009)

(O, Keheningan yang indah, masih adakah yang ingin Kauceritakan kepadaku setelah pertempuran-pertempuran sia-sia yang mengenaskan itu?

“Apakah kau merasa telah mengenal kesetiaan melebihi pemahamanmu tentang Aku?”

Tak sedikit pun kumengerti tentang kesetiaan ya, Junjungan.

“Kalau begitu pergilah ke gurun tanpa nama. Carilah oase paling bening. Bercerminlah di sana?”

Bercermin? Untuk apa?

“Tentu saja untuk membaca kisah-kisah kesetiaan-Ku. Tentu saja untuk membaca ketakjuban-ketakjubanmu pada-Ku.”

Kalau aku tak mau membaca?

“Kau akan tersesat ke dunia remukmu. Kau hanya akan meninggalkan jejak busuk di dunia rapuhmu…”

Kalau begitu aku tak akan pernah membaca ketakaburan-Mu.

“Hmm, kausangka kau bisa menghindar dari kisah-kisah-Ku? Karena itu bacalah…dan jangan berhenti sebelum Kuperintahkan engkau tidur dalam riuh rendah pertempuran di Kurusetra…Kurusetramu…”)

Sabda Sesat Dewa Ruci

/1/

Akhirnya aku tahu Kau memang meminta Resi Durna untuk menipuku. Kaubisikkan kepadanya, ”Sesatkan saja Bima ke Gunung Candradimuka agar ia dibelit ular agar ia ditimpa pohon agar ia dicakar harimau agar ia yakin betapa Sena hanyalah manusia rapuh dalam wajah yang remuk dan kehilangan makna.”

”Aku akan meminta bajingan kecil ini mencari Tirtapawitra, Paduka,” kata Resi Durna, ”aku berharap ia akan memburu sesuatu yang tak pernah ada. Ia akan bercakap dengan rumput tetapi sesungguhnya ia ditipu oleh kabut. Ia akan berlindung di gua berlumut, tetapi sesungguhnya sedang dimangsa naga maut. Akan kukaburkan pandangannya agar ia tersungkur ke jurang dan mayatnya hanyut ke laut…”

Akhirnya aku tahu Kau memang meminta Resi Durna untuk membunuhku. Kaubisikkan kepadanya, ”Ceburkan saja Bima ke samudera agar ia tahu kebenaran sejati hanya membuncah dari kegelapan palung, dari ikan-ikan bersisik api dan paus yang linglung… ”

/2/

Maka sabda-Mu pun terjadi: dalam sunyi aku berguru pada sang Resi. Dalam sunyi aku menirukan sang guru menjadi batu menjadi lumpur menjadi debu menjadi anggur…

”Apakah ia memintamu menirukan suara kambing agar kaupaham pada suara hatimu sendiri?”

Ia memintaku menirukan suara naga.

”Apakah ia memintamu menjulur-julurkan lidah seperti anjing kudisan agar kaupaham pada jiwamu yang lebih busuk dari segala hewan?”

Ia memintaku menjilat-jilat nanah yang mengucur dari ibu jariku.

”Apakah kauanggap ia guru sejati karena ia telah mengajarimu mengenal malam?”

Ia adalah dewa yang memberiku pelajaran mencicipi keheningan maut.

Maka sabda-Mu pun terjadi: aku bersujud pada sang Resi. Dalam sunyi aku patuh pada kehendak guru, patuh pada angin yang menerbangkan aku ke suwung jantung, ke sepi hati…

/3/

Kaumenyangka segala satwa akan mengamuk saat aku merobohkan pepohonan dan memorak-porandakan gunung.

Kaumengira Rukmuka dan Rukmakala akan memenggal kepalaku ketika kuhentikan embus angin di gelap gua di gelap tebing-Mu.

Kaumenduga Batara Endra dan Batara Bayu akan membetot jantungku kala kutusukkan kuku beracunku ke dada rapuh-Mu.

Kaukeliru telah meminta Resi Durna memperkenalkan aku pada ilmu sesat tentang kayu rapuh, gunung remuk, ular merah, dan hujan yang tak pernah terlihat di hutan penuh hantu…

/4/

Aku kini telah jadi samudera dan Kau hanya setetes embun di telingaku. Apakah Kau tak takut pada amarahku?

/5/

Oo, Kaupikir naga itu akan menelanku? Kaupikir ia akan meremukkan tulang-tulangku dan berbisik, ”Kau cuma anjing kecil, Bima, kau cuma kambing dungu, kau cuma kelinci lemah yang tak mengenal keperkasaan waktu.”

/6/

”Apakah kau tak takut pada hukuman-Ku, Bima?” hardik-Mu sambil memintaku segera berjingkat di keheningan telinga-Mu.

Aku tak takut pada-Mu. Aku hanya takut pada tipuan-Mu.

”Apa yang kaulihat sekarang?”

Aku melihat kebohongan-Mu.

Aku melihat gunung Kausulap jadi laut, ikan Kauperintahkan jadi bunga, malam Kaupaksa jadi fajar, kuda Kaujelmakan jadi kabut.

”Apakah kau telah memasuki kehampaan-Ku yang indah?”

Aku justru memasuki keriuhan neraka-Mu.

/7/

Aku tahu akhirnya Kau muncul lagi, wahai Dewa Ruci, aku tahu akhirnya Kau tak ingin berseteru dengan murid murtadmu lagi. ”Aku mencintaimu, Bima, sungguh aku mencintaimu,” kata-Mu berkali-kali.

/8/

Baiklah, kali ini aku takluk pada-Mu, kali ini aku akan mengeja merah gunung hitam malam kuning bunga dan putih kayu rapuh-Mu, aku akan masuk lebih dalam ke telinga-Mu dan akan kudengarkan ayat sejati-Mu.

/9/

”Apakah kau telah melihat boneka gading itu, anak-Ku?”

Aku telah melihat tubuh remukku.

/10/

”Apakah kau telah melihat penderitaan-Ku?”

aku telah melihat kebahagianku.

/11/

”Kalau begitu kini tinggallah selama-lamanya di telinga-Ku.”

Tidak, aku memilih tinggal di Kurusetra dalam pertempuran agungku sebagai ksatria.

”Di sini kau mendapatkan keindahan surga, Bima.”

Surgaku di medan peperangan, Tuan, surgaku tak di keheningan telinga-Mu.

Bisma Moksa

/1/

Maaf, tak sanggup aku menunda kematianmu, Amba, tak sanggup kupadamkan amuk unggun yang kaunyalakan dengan dendam kesumat, tak sanggup kuhentikan keinginanmu untuk mati wangi dalam kobar api yang kaunyalakan sendiri dengan hikmat.

Api kembali pada api

nyeri kembali pada nyeri

dengki kembali pada dengki

/2/

Dan pada malam hampir hilang aku tak berani bercakap tentang takhta dan cinta, Amba, aku ragu memilih menjadi raja atau resi tanpa taman tanpa kupu-kupu bersayap wangi senja. Aku tak berani, sungguh tak berani, menatap kilau mata dan bebuncah berahi yang menusuk-nusuk ke ulu hati.

Cinta lepas dari cinta

duka lepas dari duka

jiwa lepas dari jiwa

/3/

”Kaukira aku tak bisa membunuhmu,” katamu sambil terbang mencari titisan dendam, ”kaukira Amba tak bisa membentang busur, menghunus keris, dan melayangkan gada ke tubuh rapuhmu?”

Hujan berhenti menjadi hujan

awan berhenti menjadi awan

lautan berhenti menjadi lautan

/4/

Aku tahu kau akan bisa membunuhku, Amba, panahmu akan menancap di jantungku, dan para dewi akan menyayatkan megatruh perih ke lambungku.

Tapi tidak sekarang, Amba, tidak saat Sungai Jamuna memberimu wisik dan wahyu tentang hari kematianku. Tidak sekarang. Tidak saat angin memahatkan nama perempuan perkasa pembunuhku di gunung-gunung dan kabut yang meratapi kesedihanmu.

Maka sekuntum melati jatuh dari langit dan terkubur

seekor burung jatuh dari awan dan terkubur

sesosok bayang-bayang jatuh dari gunung dan terkubur

/5/

Engkaukah, Amba, yang menggerakkan peristiwa-peristiwa rahasia itu?

”Hamba Srikandi, Tuan, hamba hanya utusan, hanya titisan,” katamu meledek kegentaranku, ”Apakah tidak sebaiknya Sampean meminta maaf atas segala kesalahan?”

Tidak, Amba, kematian ini telah kutunggu, telah kutunggu sejak aku tahu hidup hanyalah kutukan kitab pada seayat wahyu pada selarik doa kekecewaanmu.

/6/

Maka pada akhirnya aku pun moksa dalam hujan panah yang juga tak terlihat mata.

Aku berharap bisa terbang bersamamu dalam hujan darah yang tumpah di Kurusetra yang sebentar lagi punah dalam suluk kemenangan para pemujamu

O, engkaukah, Amba, yang menggerakkan peristiwa-peristiwa rahasia itu?

”Hamba Srikandi, Tuan, hamba hanya utusan, hanya titisan, hanya penutup riwayat remuk Sampean.”

Maka yang busuk kembali ke tanah

yang remuk kembali ke tanah

kembali ke tanah

kembali ke tanah

dalam hujan panah

dalam hujan darah

/7/

Apakah kau akan minum darahku dari tuwung me­rah itu, Amba?

”Aku Srikandi. Janganlah Tuan terus memejamkan sepasang mata Sampean.”

/8/

Mataku tak lamur, Amba, mari kita melesat moksa bersama.

”Aku Srikandi, Tuan, akulah gerimis amis yang menghentikan cerita Sampean.”

/9/

Di Tubuh Kenyawandu

Di tubuhku ada lorong penuh bunga tempat Dewa Kamaratih dan Kamajaya bercinta. Di tubuhku ada sepasang angsa, tidak serupa dewi tidak serupa dewa, selalu belajar memahami keagungan telaga yang sedang bertapa.

Sebagaimana garuda, aku tidak bersayap, tetapi aku bisa terbang melintasi hutan lara­ngan. Sebagaimana Naga Tatsaka dan ikan-ikan, aku tidak punya sirip tidak punya insang, tetapi aku bisa menyelam hingga ke palung paling dalam memburu Dewa Ruci mencari keheningan bayangan.

Di tubuhku, ya Tuan, ada Banowati yang tergesa-gesa mencium Arjuna saat Suyudana dan seluruh raksasa terlelap oleh sirep segala berhala. Di tubuhku, ya Tuan, ada Arjuna yang bergegas memeluk Dewi Sumbadra saat sega­la petir menyambar-nyambar dan menghanguskan Kurusetra.

Sungguh, ya Kresna, di tubuhku ada sepasang surga sepasang neraka, tidak serupa dewi tidak serupa dewa.

Jika ajal menjemput aku tak hendak menjelma ra­tu tak hendak menjelma raja.

Namaku Kenyawandu. Aku keturunan cacing. Aku keturunan naga tanpa nama.

Rajah Betara Kala

Aku lahir dari api yang tak bisa dipadamkan oleh siapa pun. Tapi kau tahu Batara Guru menebar muslihat dan bilang, ”Engkau anakku, Kala, engkau adalah waktu yang kutunggu-tunggu. Kemarilah, aku akan mengasah calingmu agar kelak jadi keris Pandawa agar kelak menjadi senjata yang akan menggugurkan para ksatria perkasa.”

Aku dilahirkan di tengah-tengah samudera entah oleh Uma entah oleh Durga. Aku pun mengira seekor ikan raksasa telah melahirkan aku dari benih dewa gunung dari telur yang menggelinding dari surga Suralaya. ”Engkau anakku, Kala, engkau adalah putra yang kuutus untuk membunuh manusia yang melanggar pantanganku. Kemarilah, kelak akan kuberi kau pengantin yang lahir dari harum kubur dan wangi bangkai manusia.”

Lalu Batara Guru memaksaku kawin dengan Durga. Ia ajari aku bercinta dengan ibunda bertaring naga.

Kau tahu, Yamadipati, aku dan Durga selalu mengasah taring bersama sambil mendenguskan ayat-ayat purba hanya untuk memuja para betara. Karena itu selalu sehabis bercumbu kami lapar dan senantiasa ingin memangsa manusia busuk, memangsa segala yang dikutuk Batara Guru hanya untuk menjadi keheningan sesaji dan korban para raksasa.

”Apakah kau mencintai Durga?” kau bertanya.

Aku mencintai taring indahnya.

”Apakah membenci Batara Guru?”

Aku tak membenci siapa pun yang akan menghanguskan Tanah Kuru.

”Apakah kau tahu siapa yang akan membunuhmu?”

Aku tak tahu siapa yang akan menyelamatkanku.

”Kau tahu siapa yang akan membunuhmu?”

Aku tahu siapa yang menguburku.

”Kau tahu dengan apa mereka membunuhmu?”

Aku tahu dengan apa mereka memujaku.

Maka. pada suatu hari pada saat dunia hendak binasa kudengar juga seorang pertapa mendesiskan rajah kematianku.

yamaraja jaramaya

yamarani rinumaya

yasiraya yarasia

yasirapa parasia

lawagna lawagni

sikutara sikutari

sikutaka sibintaki

sidurbala sidurbali

sirumaya sirumayi

sihudaya sihudayi

sisrimya gedah maja

sidayudi sidayuda

hadayudi nihudaya

Kaudengar tangisku mulai menyayat, Yama? Kau tahu segala kesaktianku telah rontok hanya karena para petani memuja pertapa dan menangis tersedu-sedu saat memainkan Murwakala?

Aku berserah padamu, Yama. Aku berserah pada yamaraja jaramaya yamarani rinumaya yasiraya yarasia yasirapa parasia lawagna lawagni sikutara sikutari sikutaka sibintaki sidurbala sidurbali sirumaya sirumayi sihudaya sihudayi sisrimya gedah maja.

Aku berserah pada sidayudi sidayuda hadayudi nihudaya. Aku berserah pada keajaiban cinta Durga.

”Tak takut dosa?” engkau bertanya.

Aku hanya takut pada Kala…Aku hanya takut pada yamaraja jaramaya yamarani rinumaya yasiraya yarasia yasirapa parasia lawagna lawagni sikutara sikutari sikutaka sibintaki sidurbala sidurbali sirumaya sirumayi sihudaya sihudayi sisrimya gedah maja. Aku hanya takut pada sidayudi sidayuda hadayudi nihudaya. Aku hanya takut pada manusia yang tak pernah berhasrat membunuh Kala.

Kesaksian Dadungawuk

Sungguh, Betari, kerbau-kerbau yang kugembalakan di Krendawahana telah dicuri Werkudara untuk pinangan Arjuna. Mula-mula ia kuanggap sebagai sebutir telur yang begitu gampang kuinjak-injak dan kupecahkan kepalanya. Mula-mula ia kuanggap sebagai hujan yang gampang kuhapus hingga banjir tak menghanyutkan Setra Gandamayit dan gua-gua indahmu yang harus kujaga. Tapi ia merebut cambukku dan ia berteriak, ”Mana, Durga, mana junjunganmu yang rapuh dan tak punya daya…”

Sungguh, Betari, bahkan Kala pun tak kuasa melawannya, apalagi hanya raseksi tawanan para betara

Apalagi…

Ziarah Jurumeya

Akhirnya kau mati juga, Arjuna, akhirnya aku punya kesempatan melihat tubuhmu membusuk dan kita tidak akan pernah lagi bertempur hanya untuk kemuliaan Sumbadra.

Kini kau mengerti, Arjuna, musuh agungmu bukanlah Karna, musuh agungmu adalah Jurumeya musuh agungmu adalah prajurit Durga di Setra Gandamayit yang pantang dijamah ksatria.

Apakah warna neraka, wahai Arjuna, apakah ia menyerupai lubang jurang hutan larangan yang terus menganga?

(”Kini apakah kau tetap masih tak ingin mendengar kisah-kisah-Ku.”

Hmm telah lama kutinggalkan kisah-kisah-Mu. Telah lama aku berkiblat pada kisah-kisah lain yang lebih seru…

“Telah lama juga kau hidup tanpa Aku?”

Mengapa risau? Aku bahkan hidup tanpa diriku…

“Kalau begitu kiamat-Ku hampir tiba…Kalau begitu kau tidak bisa menghindar dari kisah-kisah dahsyat-Ku setelah segalanya sirna…) ***

tentang blog iniTulisan berjudul "Kiamat Kesetiaan" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (31 Januari 2010 @ 05:29) pada kategori Cerpen. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Tulisan Terkait:

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *