Home » Cerpen » Malaikat Kakus

Malaikat Kakus

Cerpen Triyanto Triwikromo
Dimuat di Media Indonesia (12/04/2005)

MENDADAK penjara ini seperti baru saja melahirkan putra terkasih. Waktu itu malam belum lengkap, angin busuk menusuk tengkuk, dan sipir berkali-kali menatap arloji sambil berjalan terbungkuk-bungkuk. Namun sungguh di luar dugaan terlihat dari ceruk kakus menyembul bocah kecil dengan sayap bertulang ranum. Tak berani kukatakan kepada teman-teman satu sel betapa pada malam asin dan anyir itu sesosok malaikat kecil telah tersesat. Dan karena menyembul dari lubang gelap, tentu sayap-sayapnya menguncup, belepotan tinja, lumpur, oli, dan segala kotoran yang tak pernah kaubayangkan baunya. Meski demikian, kau tak boleh menyebut bocah kencur 14 tahun itu sebagai malaikat kecil yang senantiasa menebarkan parfum terwangi. Sebab kali pertama kulihat ia lebih menyerupai anjing yang selalu mendengus-dengus. Matanya menatap jeruji dengan liar dan ganas. Dari mulutnya yang penuh ludah sesekali menyalak keras-keras suara serigala dan berbagai hewan purba.

“Jangan kau sakiti dia,” tiba-tiba sipir menghardikku sambil menggandeng laki-laki kecil rupawan itu ke sel paling ujung.

“Aku tak akan pernah menyakiti dia,” kataku sambil membuncahkan desis tak keruan yang mungkin belum pernah didengar oleh sipir atau kepala penjara sekalipun.

Ya, aku tak akan pernah menyakiti malaikat kecil itu. Tak akan kubiarkan dia tidur bersama tikus-tikus bui. Tak kubiarkan siapa pun di penjara ini mencumbu dia semalam suntuk. Akan aku ajak berkelahi lelaki perkasa yang akan menggasak anus ranumnya itu.

“Kau tahu siapa bocah tengik ini?” sipir bertanya padaku.

Jemarinya yang lentik membelai rambut malaikat kecil itu.

Aku menggeleng. Namun dalam hati aku berkata, “Dia mesias kami. Dialah yang akan memerdekakan kami dari penjara busuk ini.”

***

SUATU hari–saat kami mencabuti rumput liar di lapangan– aku menyapa malaikat kecil itu. “Masih ingat aku, bocah rembulan?”

“Assssssb Asssssssb Assssssssb Assssssssb,” jawab bocah harum itu sambil menggeleng.

“Apakah ganja juga yang menerbangkan dirimu ke surga busuk ini?”

“Assssssb Asssssssb Assssssssb Assssssssb.”

“Apakah kau juga telah melihat Kristus disalib di Ujung Dunia?”

“Asssssssssb Assssssb Asssssb Asssssssssb,” ia terus menggeleng sambil menatapku curiga.

“Baiklah… sudah 30 hari kau di penjara gila ini. Tak takut disodomi?”

Dia menggeleng lagi. Meski demikian, tiba-tiba mata dalam wajah yang menghijau itu melotot. Berpaling dariku, dia melenguh, “Oto-san! Oto-san! Assssssssssbbb. Asssssssssb. Asssssssssb.”

Waktu itu aku sama sekali tak tahu siapa yang dimaksud dengan Oto-san. Aku juga tak tahu mengapa dia selalu melenguhkan bunyi “Asssssssssssbbb” yang sama sekali tak kuketahui maknanya. Semula aku menduga malaikat tentu memiliki bahasa lain sehingga kubiarkan saja dia mencerocos dengan sabda-sabda purba semacam itu. Namun, aku juga ingat pada bahasa lidah yang dimiliki Lucifer, malaikat pengkhianat surga yang kukaribi selama ini. Karena itu, kadang-kadang aku menyimpulkan, bocah tengik yang tiba-tiba nongol dari ceruk kakus itu tak lebih dari iblis kecil yang tersesat saja.

Aku bersimpulan seperti itu, karena segala tanda yang dimiliki iblis juga melekat di wajahnya. Selain memiliki sayap kukuh–kalau dipandang terlalu lama justru tiba-tiba menghilang–dia juga punya lidah api, rambut ular, mata burung hantu, dan sepasang cula runcing di dahi. Namun, yang membuatku bingung, segala tanda yang dimiliki malaikat juga melekat di sekujur tubuh. Ya, selain tak bersayap hitam, di setiap jemari tumbuh cahaya. Segala bunyi yang keluar dari mulutnya, kau tahu, menebarkan wewangian yang membuat siapa pun yang mendengarkan seperti akan hidup teduh sampai ribuan tahun tak terjangkau.

Tak butuh waktu lama untuk mengetahui segala hal yang berkait dengan Oto-san. Aku tahu siapa dia ketika pada siang yang berdebu, lelaki itu menjenguk malaikat kecil itu di ruang besuk. Lelaki itu tak tampak sebagai pria perkasa yang layak memiliki anak manis seranum malaikat kecilku itu. Datang bersama perempuan bermata sipit berkulit kuning gading, dia justru tampak seperti anjing mabuk. Matanya cekung. Mulutnya penuh kata-kata dan selalu tampak menceracau saat berbicara.

“Kau kian kagum pada para penjahat ketimbang sipir dan kepala penjara bukan?” Pria anjing mulai membelai malaikat kecil yang kelak kuketahui bernama Sakram itu.

“Oto-san! Oto-san! Aku kangen sinar matahari. Namun, mereka hanya memberiku Assssssssb! Assssssb! Asssssssb!”

Pria anjing tak mendengar dengus malaikat. Meski demikian, berlagak sebagai ayah yang memiliki segala alasan untuk merasa lebih benar dari anak-anaknya, dia menggonggong tak keruan, “Kau mulai dendam pada keadilan bukan?”

Malaikat kecilku menggeleng. Namun, mendadak dalam bahasa yang kumengerti, dia mendesis pelan, “Januari aku selalu ingin melihat penjara, April aku tato bahuku dan mulai minum ciu di belakang kantor polisi, dan Mei aku bertemu Andi lalu ngganja urun seribu. Setelah itu aku ditangkap polisi, Oto-san. Setelah itu aku menunggumu.”

“Menungguku? Untuk apa?”

“Aku berharap kau mau menemaniku, Oto-san. Aku ingin kau melihat tikus sebesar anjing menggerogoti kaki saat kita terlelap tidur atau pusing menghitung kapan disidang kapan dibebaskan. O, di tempat ini, aku juga melihat anjing sebesar Oto-san. Anjing itu hanya muncul saat aku kangen Oto-san. Kadang-kadang ia memiliki sayap sehingga bisa terbang, keluar dari penjara brengsek ini.”

Pria anjing tergagap mendengar permintaan yang sangat tak terduga itu.

“Apakah polisi mendengar dengus-desisku, Oto-san? Apakah polisi melarang aku bertemu denganmu, Oto-san? Apakah aku tidak boleh jadi kecoa pujaanmu?”

Pria anjing tetap bungkam. Tidak. Tidak. Rupa-rupanya dia berusaha meledakkan kata-kata, tetapi tak seletup pun bunyi membuncah dari mulutnya yang sangat dipenuhi bau nikotin itu.

“Sudahlah, Oto-san. Siapa pun memang tak bisa kuandalkan di tempat ini. Aku harus melawan siapa pun sendiri. Aku harus memilih kawan dan lawan sendiri. Aku harus bertahan dan melawan ketakutan sendiri.”

Edan. Hampir saja, aku, Darbol, lelaki yang didewakan di tempat yang memungkinkan aku meminang siapa pun yang ingin kucumbu, memekik kegirangan karena mendapatkan juru selamat sejati yang kelak tak akan bisa ditaklukkan oleh kekerasan atau siksaan paling keji itu.

“Sekarang pulanglah, Oto-san….”

Pria anjing tak berani menggonggong. Dia beranjak dari ruang tunggu dan sesegera mungkin meninggalkan tempat itu. Pada saat semacam itu, aku baru tahu di kedua bahunya juga tumbuh sayap tua rapuh yang mungkin tak lagi berguna. Tentu aku tak perlu terkejut melihat pemandangan semacam itu. Di kota ini siapa pun bisa berpenampilan seperti malaikat atau iblis. Iblis dan malaikat hanyalah atribut yang bisa dipilih saat seseorang hendak pergi ke pesta, ke kantor dewan, bahkan ke penjara busuk.

Karena itu pula, aku tak terkejut sama sekali ketika Sakram tiba-tiba menyembul dari kakus. Menyembul dari lubang gelap atau pintu resmi yang dijaga para sipir bukanlah persoalan penting. Kami, para pria iblis, hanya peduli pada anus dan keganasan mereka saat mencium atau mencumbu pejantan-pejantan perkasa di sel ini.

Aku tak sempat menyaksikan pria anjing keluar dari jeruji yang membatasi penjara dengan dunia luar. Mataku lebih tertarik menatap Sakram yang asyik membaca kitab besi bersama ibunya.

“Apa saja yang telah kaupelajari di sini, Sakram?” sang ibu bertanya sambil menunjuk gambar iblis di kitab tua, “Kau mendapatkan pelajaran mencium kawan-kawanmu dari iblis lembut seperti ini?”

Sakram mengangguk. Sambil melirik ke arahku, dia memperkenalkan siapa pun yang ditemui di penjara kepada sang ibu. “Iblis pertama yang kutemui bernama Darbol, Mam. Dia mengajariku memukul pria-pria ranum yang lebih kecil. Dia juga membelai dan meraba-raba pantatku setiap malam.”

Merasa Sakram bakal terancam sepanjang malam, wajah perempuan bermata senja itu menghijau. Segala yang bersekutu dengan kegelapan menghunjam ke mata dan jiwa.

“Darbol juga mengajariku melawan sipir, menipu jaksa, dan hakim. Kata Darbol, percuma jujur di hadapan mereka. Malaikat paling perkasa pun kalau tak punya duit, bisa mereka jebloskan ke penjara.”

Aha! Hanya dengan memahami segala bunyi “Assssbbbbb” yang selalu meletup dari mulut malaikat kecil itu, aku memang mengajari Sarkam agar lebih sadis memukul atau menempeleng penghuni penjara lain. Aku juga mengajari bagaimana menyundutkan rokok ke wajah atau leher penghuni baru. “Kalau tak sadistis atau kejam, mereka akan membunuh atau menghajarmu dengan cara yang lebih ganas dan menyakitkan.”

Sebagaimana biasa, Sarkam hanya membisu. Di hadapanku, selain hanya meletupkan bebunyian aneh, dia memang lebih suka memoncong-moncongkan mulut. Sebagaimana biasa pula, dia tak mau mempercakapkan apa pun denganku. Tak ada bahasa dan kata-kata di antara kami.

Sebenarnya tanpa kuajari, malaikat ranum itu bisa mencangkok tabiat apa pun yang dilakukan oleh para penghuni penjara. Lambat laun Sarkam akan mahir melakukan segala tindakan yang tak pernah dia kerjakan di luar sel.

“Iblis kedua bernama Kirik, Mam. Kirik, kau tahu, karena ingin libur sekolah sepanjang hari, dia membakar sekolah di desanya. Dan kini, secara sembunyi-sembunyi bersamaku dia merencanakan membakar penjara ini.”

“Membakar penjara? Bukankah dengan membakar tempat ini kalian akan turut terbakar?” kata perempuan bermata senja itu mengingatkan.

Sayang sebelum Sakram merespons kata-kata sang ibu, waktu kunjung telah berakhir. Semua pembesuk, siapa pun mereka, malaikat atau iblis, harus meninggalkan ruangan ini. Itu berarti jam kekuasaan para sipir -yang kerap terima sogokan dari para pembesuk yang ingin menambah waktu berkunjung-juga berakhir.

Pada saat-saat semacam itu, ganti aku yang berkuasa. Ganti aku merampas atau meminta paksa makanan, mainan, pil koplo, atau apa pun yang bisa disusupkan secara legal atau tak legal. Meski demikian, sedikit pun tak kusentuh segala yang dimiliki oleh Sakram dan Kirik. Mendekati sel dua bocah ranum itu, aku seperti berhadapan dengan medan api yang siap melahap wajahku. Kadang-kadang sel mereka dililit naga bermulut gua. Kalau sudah begitu, aku hanya berani meneriakkan kata-kata jorok agar mereka terangsang dan segera bercumbu dengan ganas di hadapanku.

Sayang sekali Sakram bukan malaikat bloon. Merasa sepanjang hari sepanjang malam tak bisa melepaskan diri dari kebuasan mataku, suatu hari dia mengajak Kirik membakar selku.

“Aku sudah mencegah, tetapi dia tetap akan mewujudkan rencananya. Dia akan membakar sel dan kalau perlu wajah Sampean,” kata Kirik membocorkan rencana busuk Sakram kepadaku.

Saat itu aku tak bisa menahan tawa yang meledak. Meski demikian, aku tak meremehkan rencana Sakram. Aku yakin, bukan tak mungkin dia membakar sel dan merontokkan keberanianku. Karena itu, malam itu aku menunggu aksi Sakram. Aku menunggu dia menyemburkan api ke sel. Aku menunggu dia menjilatkan panas neraka ke wajah ganjilku.

***

“Ayo malaikat kakus, bakarlah wajahku. Hanya dengan cara ini, kau bisa menjadi mesias bagi segala iblis laknat di penjara ini. Hanya dengan membakar aku, kau akan jadi gali sejati,” pekikku dengan syahwat merindu mati.

Sebagaimana biasa, Sakram tak mau membuncahkan kata-kata. Sebagaimana biasa dia hanya memandangku dengan sinis dan meletupkan mantra malaikat purba.

“Kalau kau tak mau membakar aku, aku yang akan membakarmu. Kau kira mulutku tak bisa menyemburkan panas neraka? Kau kira aku hanya iblis biasa. Kau kira aku tak bisa menciptakan seratus Lucifer dan memerintahkan mereka berjubel di selmu?”

Malaikat kakus itu tetap diam.

“Camkan, Sakram, aku juga bisa membakar diriku sendiri. Namun, krematorium semacam itu, tak akan melahirkan jagoan masa depan. Krematorium seperti itu hanya akan melahirkan iblis pengecut sepertimu.”

Kini wajah malaikat kakus itu tampak menegang. Meski demikian rupa-rupanya Sakram tak bisa kujebak dengan kata-kata bodohku. Matanya malah tampak menghardikku. Tidak! Tidak! Mata itu menatapku dengan pandangan kasihan yang melenakan. Mata itu seperti menjadi telaga yang memungkinkan aku becermin dan menatap coreng-moreng perjalanan hidupku sebagai iblis. Lihatlah! Lihatlah, di telaga itu wajah 14 tahunku saat kali pertama mengganja begitu manis dan bercahaya. Dan itu tak terlalu berbeda dari wajah 16 tahunku ketika menyundutkan rokok ke mata pelacur tua yang mengolok-olokku sebagai coro. Ah, wajahku juga tak berubah ketika pada usia 17 tahun aku membunuh Toar, bramacorah terkuat di kampungku.

“Wajahmu tak akan pernah berubah, Darbol. Sekalipun kau membakar penjara ini, garis-garis iblis akan menggurat di pipi. Jadi, bunuhlah keinginanmu menjadikan siapa pun di penjara ini sebagai iblis. Jangan sampai aku mengatakan tiga kali kutukan ini, Darbol. Jangan sampai wajahmu menyerupai ceruk kakus. Jangan sampai kau cuma jadi coro yang tiba-tiba menyembul dari lubang penuh tinja itu!”

Mula-mula aku berani menatap mata Sakram. Mata kami bahkan beradu sehingga menimbulkan bunyi dentang pedang yang saling bersentuhan. Namun, akhirnya aku tertunduk lemas ketika hardikan Sakram tak bisa kubendung dan tiba-tiba sudah menyusup ke telinga dan menghunjam ke dadaku. Tanpa harus melihat gerak mulut bocah brengsek itu, aku yakin Sakramlah yang mengasah dan menghunuskan kata-kata busuk.

“Kau jangan pernah berpikir berhasil mengubahku menjadi iblis, Darbol. Hari ini juga aku akan meninggalkan sel busuk ini. Kau mungkin bisa mengubah Kirik menjadi anjing, tetapi kau tak akan bisa mendidik iblis yang lebih iblis, malaikat yang lebih malaikat darimu menjadi boneka mainan. Kau….”

Aku tak mau mendengarkan lagi kata-kata dia. Mendengarkan hardikan Sakram sama saja dengan menyorongkan dan menghanguskan wajah dalam nyala api yang menjilat-jilat. Yang paling mungkin kulakukan adalah membayangkan malaikat kakus itu berjalan pelan-pelan ke pusat lapangan, membentangkan tangan seperti padri tersalib, menjejakkan kaki–yang kemungkinan telah bersayap–tujuh kali, lalu terbang meninggalkan penjara anyir ini. Tidak! Tidak! Mungkin dia memang terbang. Namun, sangat mungkin melesat ke ceruk kakus. Kembali ke asal. Ke lubang gelap yang menguncupkan sayap. Ke lubang gelap yang menguncupkan harapan.

Ah, apakah dalam hidupmu, kau juga pernah melihat malaikat kecil menyembul dari ceruk kakus? Kalau pernah menatap makhluk menjijikkan itu, kupastikan dia bukan Sakram. Aku telah menggelontorkan berember-ember air di ceruk kakus. Aku yakin dia telah hanyut ke sungai amis yang melintasi rumah sakit jiwa di kotamu.

Atau kalau sayapnya tak menguncup, dia pasti tak mau hidup di kota ini. Aku mendengar dari Kirik, ia akan terbang ke Negeri Seribu Matahari. Ke negeri asal api. Ke negeri tempat pria anjing dan wanita peri membiakkan air mata di segala bunga dan kolam-kolam sunyi.

Aku sama sekali tak mengharapkan dia menjadi bangau bodoh yang selalu merindukan sarang hanya karena terlalu karib pada dengus pria anjing dan wanita peri yang melenakan. Dia harus selalu pergi dan tak perlu memikirkan jalan pulang yang sewaktu-waktu bisa membunuh secara perlahan-lahan.

Pergi, wahai bajingan kecil, pergi ke neraka pujaan.

Magelang-Semarang, Juni-November 2005

Cerpenis adalah penulis buku Sayap Anjing (2003), Children Sharpening the Knive (2003), dan Malam Sepasang Lampion (2004).

tentang blog iniTulisan berjudul "Malaikat Kakus" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (25 Januari 2010 @ 05:48) pada kategori Cerpen. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Tulisan Terkait:

Ada 1 komentar dalam “Malaikat Kakus

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *