Home » Cerpen » Malaikat Tanah Asal

Malaikat Tanah Asal

Cerpen Triyanto Triwikromo
Dimuat di Kompas (10/22/2006)

Ketika jendela surga dibuka, ketika pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu, seorang malaikat yang lahir dan tumbuh dari doa serampangan perempuan kencur yang dianggap gila, sekali waktu akan merindukan tanah asal yang kabur. Tanpa sayap, dia akan menumpang kereta, menyusuri rel dan pelacur, menatap kabut dan maut, dan menceracau tentang hutan yang gaduh.

Lalu setelah sampai di stasiun—biasanya pada akhir Ramadan yang sarat debu—ia akan terbang ke kota sejuk penuh bunga, berhenti di batas desa, dan mencoba menggapai wajah perempuan cilik yang mengabur di sendang bening itu.

“Wahai, gadis kecilku, seharusnya kaulah yang lebih berhak menjadi penjaga jagat. Bukan aku atau sesuatu yang menyerupai waktu!” lolong malaikat itu sambil memerintahkan angin menggesek-gesekkan kesedihan di bilah seribu bambu.

Tak lama kemudian ia akan memburu wangi rambut gadis kecil itu dan segera menidurkan dalam dekapan sayap halus dan usapan tangan tulus. “Kotamu sungguh indah, manisku, kotamu sungguh seperti sungai yang seluruh tetes kristalnya berasal dari embun atau sisa tangis Isa sesaat sebelum menjemput ajal.”

Daerah asal bernama Alas

Para pendahulu, babad menyebutnya sebagai pria bersorban yang tersesat dan perempuan yang tidak pernah tepat menunjuk arah kiblat, memberi nama Alas pada kota itu. Alas memang bukan Macondo. Bukan kota yang setiap Rabu dipenuhi daun pisang, badai bangkai, reruntuhan gedung-gedung arsip, dan lumpur panas. Alas juga bukan Firdaus. Bukan taman penuh apel busuk dan ular yang mendesis-desis tak keruan. Namun, di kota kecil itu hujan turun dari langit bagai sulur-sulur benang merah yang menjulur-julur menjerat tanah basah.

Kalau beruntung, setiap sore kau juga bisa merasakan angin segar berembus dari gunung, berduyun-duyun serupa tabib berselimut kain serbaputih, menyusup ke ruang-ruang sunyi di sanatorium. Karena itu, tak ada orang mati di pusat perawatan penyakit paru-paru itu ketika senja luruh. Malaikat hanya mencabut nyawa pada malam hari saat tulang-tulang, mata, telinga, dan apa pun dibekukan di ujung waktu.

Alas juga bukan kota yang tumbuh setiap Senin. Di Alas, di kawasan yang pada tahun penuh bunyi mortir menjadi rumah indah istri salah satu presiden, setiap hari orang berusaha merancang dan membangun kota. Karena itu, kau tidak perlu terkejut menyaksikan terminal bawah tanah yang eksotik berubah jadi shopping centre acak-acakan. Kau tak perlu sedih menatap kotapraja mengonggok jadi sampah dan gedung bioskop jadi toilet murahan.

Alas, kau tahu, justru mirip kota para penjagal. Setiap pagi—selepas subuh—dari Rumah Pemotongan Hewan, berbondong-bondong orang-orang berwajah keras memanggul daging sapi, babi, dan kambing yang masih menetes-neteskan darah segar ke pasar. Karena bertahun-tahun tetesan darah segar itu tak terhapus dari mata, akhirnya terbentuklah selokan merah matang yang membelah kota.

Aha! Kau mungkin lebih ingin menyebut Alas sebagai kota para malaikat. Saban tahun, ketika surga tak berdaun pintu, seorang malaikat memang berkunjung ke kota itu. Sebagian yang tersesat akan menyusup ke gereja-gereja dan menjadi patung yang melindungi seonggok batu yang dianggap sebagai penjelmaan bayi Isa. Sebagian lagi—yang tak ingin kembali ke surga—menjelmakan diri sebagai kaligrafi penuh cahaya di masjid-masjid dan mushala.

“Dan kini kami memang sedang menunggu kedatangan malaikat. Malaikat yang akan mengajari aku dan Maya terbang. Terbang melintasi gunung. Terbang melintasi hutan,” igau gadis kecil berambut wangi menjelang malam.

Seorang malaikat, kau tahu, memang akan datang di kota itu. Tapi tidak sekarang.

Seorang malaikat, kau tahu, memang akan tersesat di kota itu. Tapi hanya perempuan kecil yang dianggap gila tahu kapan ia akan datang dan memberi isyarat aneh di keheningan bulan.

Sayap halus, sayap tulus

“Malaikat itu akan datang tepat ketika ayahku, Abilawa, menjagal sapi paling tambun di kota ini. Itu berarti ia akan menemui aku pada saat ibuku, Gendari, meninggal di sanatorium,” bisik Hayati, perempuan tengil itu, sambil menjilat telinga Maya, kawan sepermainan.

“Maksudmu ia akan datang sesaat setelah pintu neraka dibuka lagi, ketika iblis tak dibelenggu, ketika…,” bisik Maya balas menggigit telinga gadis kecil 11 tahun itu.

“Ah, kau tak akan pernah tahu kapan malaikat itu memberikan sepasang sayap kepada kita, Nona Kelelawar. Yang kutahu, ihik-ihik, ia akan menebarkan wewangian ke seluruh penjuru kamar dan mendekapku dengan sayap-sayap yang halus dan tulus. Jadi, sebaiknya malam ini kau tidur di rumahku saja. Kau tidak keberatan tidur dengan tikus cantik, bukan?”

Tentu, seperti malam-malam sebelumnya, Maya tidak bisa menghindar dari ajakan Hayati. Sebab, kau tahu, sepanjang hidup, setidaknya hingga menjelang usia 11 tahun, Maya memang tidak pernah tidur di rumah sendiri. Di mata orang tua, Maya hanyalah makhluk semu. Ada dan tiada tidak penting. Karena itu, para orang dewasa hanya melihat senyum, rambut ikal, dan tarian Maya, pada siang hari. Begitu malam tiba, Maya tak lagi tinggal di pelupuk mata warga Alas. Begitu matahari menghilang, Maya berlari sekencang mungkin menuju ke rumah Hayati, ke kamar gelap yang lebih meneduhkan hidup.

Tak jijik bergaul dengan bocah tengil yang dianggap gila itu? Oo, Maya tak pernah menganggap Hayati sebagai gadis kencur yang harus diseret ke Rumah Sakit Jiwa. Hayati, perempuan kecil berbibir tebal itu memang suka menceracau, membaca isyarat aneh yang dilukiskan oleh gelandangan telanjang di tembok-tembok , dan kadang-kadang seharian bercakap-cakap dengan Minkebo atau Maryuni (orang-orang gila Alas), tetapi warga kota tahu, mereka hanya bercakap tentang malaikat yang tersesat menjelang pintu surga ditutup dan jendela neraka dibuka lebar-lebar. Bahkan belakangan bersama Giuk, perempuan cantik istri tentara yang kurang waras, pun Hayati hanya mempercakapkan berapa jumlah bulu sayap malaikat dan terbuat dari besi apakah tulang-tulang yang bisa dikepak-kepakkan dengan keras itu, sehingga kukuh sepanjang waktu. Karena itulah, tak ada alasan untuk menyebut Hayati gila hanya karena ia tidak memiliki keinginan lain, kecuali menghitung berapa malaikat yang telah tersesat di Alas, berapa yang menjadi kawan karib, dan berapa yang membelot mengikuti Lucifer ke neraka berlumur anggur.

“Aku mau tidur di sini asal kau mengajari aku berzikir, Hayati. Kau tahu bukan setiap Ramadan terakhir ada kemungkinan seorang malaikat mencari putri-putri yang paling dikasihi,” tiba-tiba Maya merajuk.

“Ihik-ihik, malaikat tidak akan datang seperti kelelawar. Ia akan datang seperti pencuri. Bisa akhir Ramadan. Bisa saat Lebaran. Jadi, kita sebaiknya tidak tidur. Kita jemput saja malaikat itu di batas kota.”

“Bukankah kau pernah mengatakan malaikat itu akan muncul dari lubang gelap serupa tikus? Kalau memang begitu, sebaiknya kita temui ia di pekuburan ujung kota. Kau tahu bukan, tak ada tempat yang lebih gelap dari pemakaman orang-orang terhormat itu?”

Hayati tak membantah pendapat Maya. Kedua perempuan kecil itu mengenakan selendang serupa sayap melesat menembus lorong, menyibak semak-semak, dan akhirnya sebagaimana burung hitam kelam kelelahan nyekukruk di sebuah makam yang berlubang.

“Kau yakin malaikat itu akan muncul dari lubang kuburan? Mengapa tidak dari cahaya lampu yang menerangi taman?” desis Maya dalam desah napas tak keruan.

Hayati mengangguk. Tapi takbir penanda Lebaran belum juga datang. Seekor tikus melintas ke utara. Seekor kelelawar melintas ke selatan. Hanya seekor tikus, hanya seekor kelelawar, dan malaikat belum menyembul dari lumpur atau gerowong makam yang kaucemaskan.

“Ibuku, Gendari, sebentar lagi mati. Ayahku, Abilawa, akan menjagal sapi yang dagingnya tak habis-habis kaumakan,” Hayati mendesah sambil melemparkan pandangan ke sanatorium dan Rumah Pemotongan Hewan.

Kini ganti Maya yang mengangguk. Tapi ia tak berani menatap bayangan anyir bersayap yang melintas dari makam serupa kapal ke nisan serupa pedang. Maya tahu bayangan itu bukan malaikat yang akan memberikan keteduhan sepanjang siang sepanjang malam.

Menyembul dari lumpur

Ketika seorang malaikat menanggalkan sayap, kau tahu, segala mukjizat yang dimiliki juga harus diluruhkan. Karena itu, saat tiba di Alas, aku tak sanggup menggunakan mataku untuk melacak rumah Hayati atau Maya, dua perempuan kecil yang menciptakan aku dari tangis dan doa serampangan. Karena itu, bergegas ke jalan utama, pada malam seribu takbir, aku bertanya kepada orang-orang yang baru saja keluar dari masjid mengenai dua gadis kecil yang senantiasa menghitung malaikat yang tersesat di Alas.

“Jangan berlagak seperti Nabi Khidir. Di Alas hanya ada empat orang gila. Kami menyebutnya sebagai Mbah Nyai, Minkebo, Maryuni, dan Giuk. Dua gadis kecil yang Sampean sebut mungkin tinggal di kota lain,” kata laki-laki berwajah onta sambil mencibir.

“Jangan meniru-niru Jibril yang ingin memberi berkah kepada gadis-gadis gila. Kami membenci segala yang dipalsukan,” teriak laki-laki babi seraya melengos.

“Oo, kami sangat mengenal Ibrahim yang pengasih itu. Jadi jangan sekali-kali memperkenalkan diri sebagai manusia paling dipercaya hanya karena ingin memungut dua gadis gila dari Alas dan memberi mereka sayap untuk terbang ke surga bertabur menur! Tinggalkan kota ini. Jika tidak mau, kami, para serdadu, akan membakar Sampean di alun-alun,” seru perempuan anjing serupa orang sinting.

Wah! Tak mungkin aku bertanya kepada mereka. Kota ini, kau tahu, kian dipenuhi oleh umat Nabi Luth. Mereka memiliki masjid, tetapi tak menggunakan tempat suci itu untuk menaburkan ketakwaan kepada Allah. Mereka bersembahyang di jalan-jalan, tetapi tidak untuk menebarkan rasa cinta kepada Sang Junjungan.

Tak bisa bertanya kepada orang-orang waras di kota ini, aku pun menemui orang-orang yang dianggap gila. Aku temui Minkebo dan lelaki yang membalut tubuh dengan kain perca serbahijau itu berkali-kali bilang hanya Hayati dan Maya-lah yang layak kuberkati di kota ini. Aku bercakap-cakap mesra dengan Maryuni dan perempuan yang selalu berdandan menor itu bercerita hanya dua gadis kecil tengil itulah yang kelak menjadi cahaya kota.

“Di mana mereka sekarang?” aku bertanya kepada Giuk.

Giuk tertawa. Ia menatap sesuatu yang bertengger di kedua bahuku. “Jangan berpura-pura tak tahu. Sampean boleh menyembunyikan sayap dari mata siapa pun. Tapi di mataku, siapa pun tidak bisa bersembunyi. Nabi dan Tuhan Sampean pun ada di genggaman mata sunyiku.”

“Sebaiknya Sampean segera ke pekuburan di ujung kota,” kata Mbah Nyai yang juga memergoki segala mukjizat yang kumiliki, “Percayalah, Tuan, dalam sekejap mata Sampean akan membimbing sang sayap untuk segera mendekap dua gadis idaman.”

“Jadi, apa yang harus kulakukan?”

“Menyembullah dari lubang makam seperti tikus berlepotan lumpur,” kata Maryuni.

“Mengapa harus begitu?”

“Karena Hayati dan Maya berharap Sampean akan muncul dari kegelapan serupa tikus wangi. Jadi, jangan nodai keinginan mereka. Jangan sekali-kali malaikat tidak memberikan segala yang diharapkan bocah-bocah kecil dalam doa serampangan mereka.”

“Baiklah, aku akan menyembul dari lumpur bersama kalian. Dari lubang makam paling besar di pekuburan itu, kita akan menyembul dengan sayap terkepak pelan-pelan.”

“Kami tak punya sayap.”

“Aku akan memberi kalian masing-masing sepasang sayap yang tak gampang dipatahkan!”

“Tak gampang dipatahkan?”

“Ya. Tak gampang dipatahkan!”

Apakah orang-orang yang dianggap gila itu menyadari di kedua bahu tumbuh sayap yang bisa digunakan untuk terbang dan menyusup ke tanah atau sungai paling dalam? Kau tidak perlu tahu. Yang jelas, mereka akan bersama-sama denganku, melesat menemui sepasang gadis yang nyekukruk bertafakur di lubang makam penuh lumpur anyir itu.

Namamu Maya, namaku Wangi

Gendari, ibuku, telah mati di sanatorium. Ayahku, Abilawa, telah menjagal sapi paling tambun. Namamu Maya, bukan? Sekarang namaku Wangi. Dulu mereka menyebutku sebagai tikus kota. Malam ini ketika jendela surga dibuka, ketika pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu, seorang malaikat yang lahir dan tumbuh dari doa serampanganku, sekali waktu akan merindukan tanah asal yang kabur. Tanpa sayap, ia akan menumpang kereta, menyusuri rel dan pelacur, menatap kabut dan maut, dan menceracau tentang hutan yang gaduh. Lalu setelah sampai di stasiun—biasanya pada akhir Ramadan yang sarat debu— ia akan terbang ke kota sejuk penuh bunga, berhenti di batas desa, dan mencoba menggapai wajah perempuan cilik yang mengabur di sendang bening itu.

Apakah kau juga sudah bertemu dengan malaikat yang mengibas-ngibaskan sayapnya di kubangan lumpur yang anyir itu, Maya? Apakah ia sudah mendekap dan menidurkanmu? Ihik! Ihik! Jangan risau, manisku, kalau kudapat satu malaikat berwajah kelabu, akan kubagi separo lidah ganjilnya untukmu.

Maya terdiam; takjub oleh kilau lumpur yang menyala-nyala dari lubang makam yang kian membesar. Ia tahu sebentar lagi seluruh kota akan dililit cahaya. Hingga jendela surga sirna. Hingga pintu neraka tak ada.

O, engkau masih menatap para malaikat menari di kubangan lumpur itu, Maya?

“Ya, Hayati, malaikat-malaikat itu akan segera mengajak kita belajar terbang ke segala gunung dan hutan pada saat jendela surga ditutup untuk ayah dan ibumu.”

Hayati terdiam; teduh oleh takbir lamat-lamat yang mulai dikumandangkan. ***

Semarang, 12 Oktober 2006

tentang blog iniTulisan berjudul "Malaikat Tanah Asal" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (24 Januari 2010 @ 05:46) pada kategori Cerpen. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Tulisan Terkait:

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *