Home » Cerpen » Delirium Mangkuk Nabi

Delirium Mangkuk Nabi

Cerpen Triyanto Triwikromo
Dimuat di Koran Tempo (03/08/2009)

Seperti Guernica, Seperti Skizofrenia

Kaupikir aku gila? Kaupikir setelah otakku dioperasi, segala yang ada di kepala hanyalah dunia aneh orang-orang yang terbunuh percuma di Spanyol ketika Basque dibombardir pesawat Nazi pada April getir 1937 dalam lukisan Picasso, Guernica? Kausangka aku menderita skizofrenia? Kausangka setelah dokter mengacak-acak otakku seluruh energiku hanya terpusat untuk menghitung mayat-mayat berusus memburai yang tergeletak di jalan-jalan Kuta saat mereka yang mengaku sebagai pemuja fanatik Allah membunuh diri sendiri dengan bom rakitan sederhana? Karena itu jugakah saat tampak di matamu aku menggendong bayi Aborigin berlumur darah, lantas kauanggap makhluk ajaib dari langit itu hanya sebagai boneka plastik biasa?

Jangan juga menganggap aku sedang menderita delirium.

WuuuuufffffZzggggggWuuuufffffZggggg1414Ciqummmzqq987rcirqumzzzzzzzKlingKlangzzzqircum1426zqqstdpKling12KlangxxxxxrwKlang.aotqwuuuufKlang.xyrqxrukKlingklang14ktpnkk.rzowqtk90000. Kling Klang!

Kau tahu saat iseng naik kereta dari Newtown ke Circular Quay, Redfern, Town Hall, Museum, Saint James, bahkan ke Bondi Junction, dan pelabuhan udara Sydney, aku memang selalu ingin membopong bayi-bayi merah yang dibuang oleh para perempuan sableng berwajah celeng begitu saja di taman ke beranda ibu-ibu mandul di sembarang rumah.

Selalu ada sosok iblis berwajah hijau memintaku melakukan perbuatan konyol itu. Semua tindakanku–termasuk kadang-kadang menyeret mayat bayi-bayi di jalanan dan tak peduli pada bunyi gesekan kepala dengan pedestrian–digerakkan oleh bisikan menyerupai desis ular yang berkecamuk di hati.

“Jika semua perintahku kaulakukan, kau akan mendapat Mangkuk Nabi.”

“Mangkuk Nabi?”

“Rahasia Mangkuk Nabi hanya akan kauketahui jika kau melakukan seluruh perintah tanpa mempersoalkan baik buruk perintah itu. Jika kau tak melakukan….”

Jika aku tak melakukan, iblis kurang ajar itu akan memukul kepalaku dengan palu. Jika kemarahannya kian memuncak dan tidak terkendali, ia selalu menggorokkan ribuan gergaji liliput nun di labirin otakku yang penuh simpul-simpul syaraf.

“Kali ini bawalah bayi-bayi yang telah kami simpan di salah satu ruang pamer Galeri Nasional ke Taman Botani. Sembunyikan bayi-bayi itu di bawah pohon penuh kelelawar. Beberapa perempuan Aborigin yang sedang menari untuk ulang tahun kemerdekaan akan mengambil dan mengasuh mereka. Jangan sampai polisi tahu….”

Tak bisa bertanya mengapa bayi-bayi itu harus disembunyikan di Galeri Nasional dan tak mungkin menolak perintah itu, aku melesat ke ruang-ruang sejuk yang dinding-dindingnya dipenuhi oleh lukisan-lukisan Sidney Nolan yang menggambarkan perjuangan Ned Kelly melawan polisi-polisi kolonial Inggris rakus yang senantiasa menindas orang-orang miskin. Karena tidak tahu di ruang mana orok-orok itu dionggokkan, aku terpaksa menyusup dari ruang ke ruang. Itulah sebabnya, aku jadi tahu bagaimana pelukis Nolan memindahkan realitas perburuan para polisi terhadap pejuang tangguh berbaju dan bertopeng besi keturunan Irlandia itu dari kota-kota kelabu ke hutan-hutan rimbun Victoria yang liar ke kanvas penuh warna hijau daun, cokelat tanah, dan hitam besi. Aku jadi mengerti betapa pada suatu masa Kelly–yang entah mengapa digambarkan telanjang bulat–sangat kelelahan menembus hutan menunggang kuda yang juga kelelahan.

Tak tahan merasakan penderitaan dalam lukisan bersaput warna cokelat tanah yang memancarkan kesedihan yang seakan-akan tak bisa ditanggung bahkan oleh Kristus, aku berhasrat meninggalkan tempat yang lebih pas kusebut sebagai Neraka Kelly itu. Namun belum sempat mencari pintu keluar, suara sengau iblis hijau menghardik di telingaku, “Kau tidak ingin bernasib seperti dia bukan? Atau dengan tubuh yang juga telanjang mungkin kau malah ingin kami salib tepat di undak-undakan Sydney Opera House?”

Tak kujawab pertanyaan itu. Daripada mendapatkan siksaan yang lebih menyakitkan–kadang-kadang Iblis Hijau memasukkan sepuluh semut merah membara ke mata–aku kemudian mencari orok-orok itu. Ternyata tepat di kaki kuda merah Kelly, aku menemukan tiga orok yang masih berselimut darah.

Dan setelah itu, aku tak perlu menceritakan bagaimana orok-orok itu kusembunyikan bukan? Namun, mengertilah, Tuan, pada pagi yang belum terlalu mekar, pada saat orang-orang Aborigin menari-nari di taman dan ditonton turis dari segala penjuru dunia, lima pasang mata polisi mengintip dari balik pohon penuh ulat itu. Mereka bisa saja menembakku. Dan kalau mereka membunuhku tamatlah karierku sebagai desainer gaun pengantin. Tamat pula kegemaranku mengoleksi lukisan-lukisan klasik dari segala penjuru.

Karena itu sebelum mereka melesatkan peluru ke jidat, sebelum mereka meledakkan jantungku dengan beringas, sebaiknya aku segera bergegas ke vending machine. Kau tahu, di penjara minuman ringan yang dingin itulah teman-temanku disekap polisi. Aku akan segera melepaskan mereka…. Aku berharap mereka akan berjuang bersamaku melawan polisi-polisi rakus yang ingin mengubah benua indah ini hanya sebagai burger murahan.

Seperti Penjara, Seperti Jurang Menganga

Tak ada cara lain aku harus melesat ke kereta. Aku harus mencari gerbong yang paling sulit dijangkau oleh para pembunuh sialan dan segera mendapatkan vending machine yang paling banyak menyedot para pejuang negeri ini.

Dan tentu saja siapa pun bisa menebak aku akan ke mesin minuman yang dipajang di pelabuhan udara, karena di tempat itulah para polisi tidak punya cara lain untuk menangkap para penjuang yang hendak bermigrasi ke negeri-negeri atau benua tak tergapai, kecuali menggunakan sihir vending machine.

Tak tahu siapa yang merancang penjara konyol itu. Yang jelas selalu saja–dalam pandanganku yang kian lamur–setiap kawan-kawanku yang mereka sangka sebagai pemberontak itu bergegas menuju ke pesawat, selalu saja mesin-mesin pemenjara itu menyedot ke semacam labirin selang-selang gelap dan membekukan mereka.

Karena itu untuk membebaskan mereka, aku harus segera memasukkan koin-koin kesayangan sebanyak mungkin agar banyak pula yang bisa segera menyembul dari mesin dan membantuku mengumpulkan bayi-bayi yang terbuang di lorong-lorong–terutama yang mengonggok di pusat prostitusi King’s Cross–dan memberikan nabi-nabi masa depan itu kepada ibu-ibu yang dipilih oleh alam untuk mengasuh mereka.

Kau boleh tak percaya bagaimana para pejuang–yang mereka sangka sebagai pemberontak dan bramacorah–menggelinding dari vending machine dan kemudian melesat menyibak dan mengejutkan kerumunan turis yang takjub pada pemandangan yang tidak pernah mereka saksikan itu. Tapi berkali-kali bersama koreografer Shaun Parker di beberapa halte, stasiun, dan pelabuhan udara, aku sungguh-sungguh menyaksikan peristiwa-peristiwa yang kadang-kadang membuat aku bersimpulan betapa Tuhan punya kisah-kisah masa lalu yang perih di kota ini.

Memang tak ada cahaya hujan di halte itu. Namun hampir setiap orang yang teronggok di tempat yang dikelilingi cermin itu seperti sedang bermain-main dengan cahaya merkuri yang dipantulkan oleh hujan yang cukup deras. Dua perempuan kembar yang kulihat saat itu, misalnya, berkali-kali mencoba saling ingin mengekspresikan bagaimana warna sakit yang diderita Kristus saat tersalib. Di depan cermin, mereka membentangkan sepasang tangan sambil menyeringai dan kemudian menangis bersama-sama. Setelah itu mereka saling berbisik, menangis, dan akhirnya berteriak, “Kapan lagi akan kausalib kami, wahai budak setan?”

Ada juga seorang laki-laki berwajah Itali yang tengil memainkan biola sambil sesekali menirukan setiap gerakan yang dilakukan oleh semua orang yang tersesat di halte itu. Aku menduga setiap tindakan laki-laki sinting ini hanya digerakkan oleh keisengan yang akut. Mula-mula ia menirukan tarian kupu-kupu laki-laki remaja bermata China yang senantiasa memanggul skateboard, setelah itu ia berperilaku sebagai belibis yang terbang tak keruan, dan pada akhirnya bergerak menuju vending machine, memasukkan beberapa koin, dan berteriak kegirangan begitu melihat beberapa manusia (ya, sungguh-sungguh manusia) menggelinding dari mesin minuman dan makanan ringan itu dalam baju warna-warni yang harum dan tubuh yang segar.

Wuuuuuuzzzzzzzzzzglbrglbr14qmwzzzzzglbrqm14zzzzzzzzoppglbrglbrqmzzzzzwkmqmwzzzzzzzglbrglbr14qm14qmqgbrgbr.

Selalu peristiwa itu hanya berlangsung sekejap. Selalu setelah itu beberapa polisi datang dan menyergap lelaki berwajah Itali, menyalib atau menggantung si gila di tiang listrik dan meminta mesin jahat menyedot segala benda yang berseliweran di halte. Tidak! Tidak! Bukan hanya orang-orang yang disedot ke semacam jurang gelap menganga, tetapi halte itu lenyap dalam sesaat dan jadi benda liliput di dalam vending machine.

Wuuuuuuuuuuzzzzzzzzwrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrwuzzzzzzzzzzzzwrglbrglbrrirzirqwirzirqwr.

Sejak saat itu aku beranggapan Tuhan atau siapa pun yang hendak menjadi mesias bagi dunia yang sakit disedot oleh mesin pemenjara yang tolol itu. Sejak itu aku juga percaya cahaya hujan atau apa pun yang meneduhkan kehidupanmu dipenjara oleh polisi dan tidak diberi kesempatan bebas, kecuali ada orang-orang berhati tulus yang memasukkan koin-koin kesayangan ke dalam penjara aneh yang menyeramkan itu.

Dan karena aku yang kerap dirasuki oleh mimpi-mimpi menakjubkan dalam sentuhan irama J.S. Bach yang melarat-larat memang kerap secara tidak sengaja berada di halte-halte busuk itu, sehingga aku terdorong untuk selalu membebaskan siapa pun yang dipenjara oleh para polisi hanya karena mereka tersesat di sebuah halte, stasiun, atau bandara yang sedang disterilkan atau dibebaskan dari para teroris yang berkeliaran.

Semula aku tak punya keberanian terlibat dalam urusan-urusan musykil itu. Namun sejak otakku dioperasi, sejak aku bertemu dengan sosok iblis berwajah hijau yang memintaku menjadi semacam mesias untuk menyelamatkan Australia dari polisi-polisi yang telah dikendalikan sebuah jaringan internasional yang ingin menghabisi orang-orang Aboirigin–bahkan sejak saat mereka masih bayi–aku jadi belajar melawan ketakutan.

Seperti saat ini aku harus melawan ketakutan berlari dari gerbong ke gerbong menghindari kejaran polisi, menghindari hukuman penyaliban di tengah kota, menghindari kemungkinan Tuhan akan memiliki tambahan kisah masa lalu yang perih karena tidak bisa menyelamatkan salah satu putra terkasih yang Ia utus dari kejaran setan-setan Sydney yang merasuk dalam kehidupan para polisi sialan.

Aku berharap pada saat-saat semacam ini cahaya merkuri yang mengabur dalam hujan mendera kaca kereta. Aku berharap jika para polisi bisa menangkapku ia akan menyalibku dalam suasana indah tidak seperti saat Yesus menyeringai dalam kegelapan Bukit Golgota.

Kini aku bertanya kepadamu: Apakah para polisi masih mengejarku? Apakah mereka akan melesatkan sebutir peluru ke lambungku?

Seperti Iblis Hijau, Seperti Salib Hijau

Tak perlu lama menemukan jawaban dari pertanyaan konyol itu. Iblis Hijau–yang seharusnya tidak perlu kurahasiakan kepadamu bahwa ia tak lain dan tak bukan adalah pria cantik Inggris bermaskara ungu yang mengingatkan aku pada Paul Capsis saat memainkan Boulevard Delirium di Malthouse Theatre Melbourne–ternyata sejak tadi menguntitku. Ia tidak punya sayap, tetapi ia selalu seperti bisa mengejar ke mana pun aku melesat. Ia tidak pernah tinggal serumah denganku di Newtown tetapi seakan-akan justru mengendon di dalam otak. Seperti saat ini ia sudah berada di gerbong paling belakang. Ia melambaikan tangan dan meminta aku duduk di sebelahnya.

“Akhirnya harus kukatakan kepadamu: para polisi memang sengaja menjebakmu di kereta ini, Vern. Jika kau ingin selamat, tidak ada cara lain, kau harus meloncat dari kereta ini. Sembunyilah di tempat pembuangan sampah. Tunggu kereta lain dan segeralah ke pelabuhan udara.”

“Apa yang akan terjadi jika aku tertangkap? Kau tak akan membelaku?”

“Jika kau tertangkap saat ini, kau tak akan tahu rahasia Mangkuk Nabi. Dan yang lebih parah lagi, kau akan akan diseret ke kamar penyaliban yang terletak di belakang ruang masinis.”

“Kamar penyaliban?”

“Ya di kamar bergorden hijau itu terpancang salib hijau yang khusus dipersiapkan untuk menyalibmu. Menurut nubuat yang kubaca dalam Kitab Salib Hijau, korban akan disalib tanpa penutup mata lalu para polisi akan menembak lambung sosok yang mereka anggap sebagai bramacorah itu. Dan sebelum meninggal ke dalam mata mata si tersalib akan dimasukkan semut merah.”

“Jadi….”

“Meloncatlah sekarang….”

Seperti Gaun Merah, Seperti Langit Merah

Kau pasti tidak tahu apa yang ada di dunia sampah. Mula-mula kutemukan apel busuk. Di apel itu masih tersisa bekas lipstik merah menyala dan sedesisan kata-kata aneh. Kata-kata yang mengingatkan aku pada ratapan Eva saat dikhianati seekor ular di Taman Eden. Ada juga sobekan majalah bergambar Kristus tersalib dan kalimat “Setiap Tuhan Punya Masa Lalu yang Perih. Apakah Ia Punya Luka yang Tak Tersembuhkan Juga?”

Yang tak kuduga ada korek api Zippo bergambar semacam hujan yang menyala merah. Di korek itu ada tanda salib dan grafiran agak kabur berbunyi I hate J. Tak tahu siapa yang membuang benda indah itu di sini. Yang jelas jika saja aku mau iseng menyalakan korek itu, Sydney bisa terbakar. Tapi kau tahu oleh Iblis Hijau aku diperintah untuk menjadi juru selamat, sangat tidak mungkin aku melakukan tindakan yang bakal menyengsarakan banyak orang itu.

Sampah yang kubenci adalah ayam junk food dan kentang goreng tengik di tong sempit yang untungnya bisa digunakan untuk membuang rongsokan apa pun seukuran lebih dari seorang dewasa ini. Di dalam dunia potongan-potongan ayam yang telah berbelatung itu aku seperti dalam ruang penjagalan tanpa udara: menjijikkan sekaligus menyeramkan.

Sangat beruntung di tong sampah itu ada harum gaun merah. Secara seksual, aku memang tidak menyukai perempuan mana pun. Tapi harum gaun itu mengingatkan aku pada ibuku. Ibu yang salalu dihajar oleh Ayah. Ibu yang berani minggat hanya dengan mengenakan gaun merah. Ibu yang dibunuh di sebuah kamar kapal pesiar yang sedang berlabuh dalam busana kesayangan. Apakah di dunia ini ada yang lebih indah dari warna merah darah?

Apakah di dunia sampah kau bisa melihat langit merah? Mungkin bisa. Namun karena segala peristiwa terjadi pada pagi berlumur segala semburat cahaya berwarna biru, warna senja tentu tak bisa dilihat dengan mata telanjang. Namun sesungguhnya kau bisa melihat bias sinar senja kapan pun. Segala yang kaulihat hanyalah ilusi dan karena itu kau bisa mengatur ilusi itu menjadi apa pun. Aku pun begitu. Mengintip dari tong sampah yang tutupnya kubuka sedikit aku menatap langit penuh kelelawar itu dalam warna yang kuinginkan, warna gaun Ibu yang menawan.

“Kereta sudah datang…. Kau jangan terlalu terpesona pada ilusi warna senja. Seindah apa pun senja itu bukan milikmu jika kau kau tidak mendapatkan rahasia Mangkuk Nabi,” suara sengau Iblis Hijau tiba-tiba bergema begitu keras dan membentur-bentur dinding tong sampah.

“Aku harus meloncat ke kereta lagi?”

“Ya, kau harus segera ke pelabuhan udara.”

Seperti Pusaran, Seperti Boneka Mainan

Aku sampai di pelabuhan udara. Yang tak kuduga, begitu banyak bayangan berkelebat ke arah sama, ke sebuah vending machine yang mengonggok di ruang tunggu orang-orang yang akan bergegas ke luar negeri. Beberapa sosok yang melesat itu sering kulihat di televisi. Sebagian besar aktivis yang membela hak-hak warga Aborigin. Sebagian yang lain para penentang keterlibatan Australia dalam persoalan-persoalan terorisme di negara-negara tetangga. Hanya, yang tak kumengerti, wajah orang-orang yang berkelebat itu seperti topeng-topeng ungu zombie yang kehabisan bedak. Mereka mirip hantu-hantu Frankenstein yang menghuni kastil-kastil Eropa yang gelap dan berdebu.

Wuuuuuuuuuuzzzzzzzzwrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrwuzzzzzzzzzzzzwrglbrglbrrirzirqwirzirqwr.

Gila! Ini sungguh gila! Tak seorang pun–juga Iblis Hijau–tak berinisiatif menyelematkan para pejuang yang tak memiliki kekuatan menolak sedotan mesin jahat itu. Karena itu, hanya satu cara, aku harus segera menyiapkan koin-koin kesayangan dan memasukkan benda-benda paling berharga dalam hidupku itu ke dalam vending machine.

“Kau akan segera mengerti Rahasia Mangkuk Nabi, Vern,” suara Iblis Hijau menguar dari mikrofon tersembunyi yang melekat di beberapa dinding pertokoan parfum.

Kuabaikan suara sengau itu.

“Hanya dengan menyelamatkan mereka dan menggalang perlawanan untuk menghabisi para polisi kau akan mendapat surga yang sudah kauburu sepanjang hidupmu.”

Masih kuabaikan suara konyol itu dan lebih memilih melesat sesegera mungkin ke vending machine. Sungguh tujuan utamaku kini menyelamatkan para pejuang yang terperangkap di dalam mesin dan sama sekali tak peduli pada segala hal yang menyangkut Rahasia Mangkuk Nabi. Jika rahasia itu bisa mempertemukan aku dalam perkawanan yang intim dengan Kristus pun, tetap saja ia tak menjadi titik tolak usaha-usaha penyelamatan yang akan kulakukan. Jika rahasia itu bisa membuat aku menjadi mesias utama untuk menyelamatkan dunia yang sakit pun, tetap saja ia bukan menjadi energi dari seluruh upayaku menyelamatkan kehidupan.

“Sekarang palulah mesin itu! Hancurkan ia! Hancurkan ia!” teriak Iblis Hijau dalam nada sengau yang sangat kacau.

Tak akan kupalu mesin sialan itu. Sebagaimana biasa, aku akan memasukkan koin-koin kesayangan agar mereka yang terjebak di penjara pengab dan dingin itu menggelinding keluar, menghirup udara segar, dan memulai pertempuran baru.

“Hancurkan!”

Edan! Jangankan menghancurkan, berusaha memasukkan koin perlahan-lahan pun aku tak mampu. Di luar dugaan, mesin jahat itu dengan sekuat tenaga ternyata berusaha menyedotku. Tentu saja aku bertahan dan melawan.

Wuuuuuuzzzzzzzzzzglbrglbr14qmwzzzzzglbrqm14zzzzzzzzoppglbrglbrqmzzzzzwkmqmwzzzzzzzglbrglbr14qm14qmqgbrgbr.

Tentu saja aku berusaha mundur sehingga membuat sebagian kulitku terasa mengelupas.

Dan ya, Tuhan, ternyata aku begitu rapuh. Ternyata mesin itu bisa menyedotku sehingga bersama segala benda: kursi-kursi, poster-poster, botol-botol parfum, brosur-brosur penerbangan, patung Maria menimang bayi dan Kristus tersalib, serta pelabuhan udara yang megah ini semua menjadi benda liliput nun di labirin selang-selang di dalam vending machine. Kami seperti menjadi boneka mainan di dalam pusaran gaib yang tidak pernah kami kenal di keriuhan cahaya-cahaya lampu Sydney. Kami seperti onggokan benda tak berharga yang hendak dikirim ke pusat pembuangan sampah terakhir di Pantai Coogee.

Wuuuuuuuuuuzzzzzzzzwrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrwuzzzzzzzzzzzzwrglbrglbrrirzirqwirzirqwr.

Kini kukatakan kepadamu: selamatkanlah kami. Masukkan koin-koin kesayanganmu ke vending machine yang mengonggok di pelabuhan udara yang tak lama lagi akan diledakkan para teroris ini. Kami akan menggelinding keluar dari penjara dingin ini. Kling klang! Kami akan membentuk gelindingan bola salju perlawanan. Kling Klang! Kling Klang! Kling Klang! Kling Klang!

Kami akan….

Wuuuuuuuuuuzzzzzzzzwrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrwuzzzzzzzzzzzzwrglbrglbrrirzirqwirzirqwr

Kling Klang! ***

Sydney 2008–Semarang 2009

tentang blog iniTulisan berjudul "Delirium Mangkuk Nabi" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (18 Januari 2010 @ 05:18) pada kategori Cerpen. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Tulisan Terkait:

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *