Home » Cerpen » Badai Bunga

Badai Bunga

Cerpen Triyanto Triwikromo
Dimuat di Jawa Pos (07/15/2007)

SUNGGUH kau harus berterima kasih pada lima perempuan Meksiko yang memaksamu membeli buket bunga mawar saat bersama Michael kau belajar mencicipi escargot di Le Claufotis Restaurant. Jika saja di keriuhan Sunset Boulevard kau tak mendesiskan kata-kata cinta di telinga malaikat tanpa sayap itu sambil memberikan bunga-bunga harum yang kaubeli dengan harga murah, bukan tidak mungkin kekasih Hollywood-mu itu memburu pria lain di The Abby Est 191. Di klub gay yang tak pernah pindah dari North Robertson 692 itu, bisa saja ia menggaet pria sembarangan dan pada puncak malam menyeret sang kuda tunggangan ke rumah mewahnya di Bell Air. Dan bukan rahasia lagi siapa pun akan menjadi rising star atau berkesempatan memainkan peran-peran penting jika satu jam saja bercinta di ranjang bersprei motif macan kesukaan Michael.

“Ya, tetapi aku benci pada perempuan-perempuan Meksiko yang selalu muncul dengan mantera dan bunga-bunga merah darah saat Michael dengan kasar dan penuh berahi meremas jari-jemari tanganku yang lentik,” katamu sambil berkali-kali mereguk anggur merah di sudut teremang bar yang setiap malam tak pernah sepi itu.

Hmmm masih beruntung kau hanya merasakan harum bunga, teror mantera, doa mekanis, atau desis lagu-lagu penuh sihir dari mereka. Kalau saja pernah menjadi penduduk Macondo , setiap saat kau akan didera puting beliung berbadai daun, melihat mayat-mayat dari kota penuh lumpur bergelimpangan di depan gereja, menatap salib-salib kayu rapuh bertumbangan dari katedral, menyaksikan nisan-nisan kotor beterbangan dan menyangkut di atap rumah, dan tak bisa menghindar dari luapan sungai penuh tinja setiap Rabu.

“O, mengertilah kau, Julieta, di Sunset Boulevard saat para perempuan itu datang, mendadak seakan-akan muncul badai bunga,…segala bunga…, mendera siapa pun yang sedang menikmati makan malam di restoran,” kau melenguh menirukan desis Monica Bellucci di Paris saat disodomi pria gila di subway.

Badai bunga? Bukankah surga semacam itu yang diharapkan siapa pun yang sedang asyik masyuk dalam kegilaan cinta?

“Bukan hanya bunga, Julieta, bukan hanya bunga. Tepat pada saat Michael berusaha mendekapku, dengan mantera purba selalu para perempuan itu mengubah segala yang bisa kupandang menjadi onggokan sampah busuk penuh tubuh perempuan yang dimutilasi. Kau pun tahu, pada saat seperti itu siapa pun akan mual dan bisa muntah di piring penuh escargot. Dan sebagai asisten Michael, kau juga tahu, bajingan indah itu paling tidak suka melihatku hoek-hoek di sembarang tempat,” kau mencericit seperti tikus dan berusaha memesan lagi seteguk dua teguk anggur.

Meskipun begitu, tetap saja kau harus berterima kasih kepada para penjaja bunga yang dengan begitu telaten menjadikan Sunset Boulevard sebagai surga. Jika tidak, jika Michael saat kencan denganmu hanya menatap orang-orang negro berkelahi dengan para petarung Meksiko, ia bisa saja tidak menawarimu menjadi penata rias utama dalam film terbaru.

“Ya, Julieta, ya… Michael memang memberi kesempatan padaku. Tapi tetap saja aku muak dengan para penjaja bunga yang mengingatkan aku pada nenek-nenek tua yang berebutan menawarkan bunga-bunga mawar saat aku nyekar ibuku di pemakaman kampung selatan hutan Blora, di pinggir Bengawan Solo. Dan ini sangat menggangu mood bercintaku dengan Michael. O, Julieta, sayangku, bisakah kau mengusir mereka saat Michael mengajakku makan malam di tempat sialan itu?”

Tentu akan aku usir, Carter. Tentu akan aku hajar perempuan-perempuan itu. Tapi tidakkah lebih baik kita bunuh Michael dulu. Bukankah aku tidak mungkin mengupetikan kekasih pujaan hanya agar bajingan tengik itu memberikan peran utama perempuan kepadaku.

“Nah, kalau begitu, apa gunanya aku berterima kasih kepada para penjaja bunga?” kau mulai menemukan cara terbaik untuk mendebatku.

Tetap harus berterima kasih, Carter. Karena sihir merekalah, Michael jadi tergila-gila padamu. Karena badai bunga merekalah, Michael tak memburu laki-laki lain di klub-klub gay yang kini kian bejibun di L.A. Karena merekalah kau jadi bisa bertahan hidup tanpa harus jadi tikus got di East Downtown atau labirin busuk lain.

“Tapi kenapa kita harus membunuhnya? Bukankah aku bisa hanya berpura-pura mencintainya? Bukankah di apartemenmu aku tetap bisa mendekapmu sambil mendengarkan desah Sarah Brightman atau Enya?”

Hmm. Selalu saja kau berpikir dan bertindak praktis, Carter. Selalu saja kau tidak ingin memperumit cinta.

Tikus Harum

Kali pertama aku melihatmu merias Asia Carrera dalam film busuk Michael, aku kian yakin kau akan menjadi tikus terharum yang bakal memesona siapa pun. Tak seperti perias lain, jari lentikmu bisa mengubah paras para bintang yang mulai pudar menjadi wajah-wajah indah yang seakan-akan baru saja diturunkan dari surga. Memang di dunia ini tak pernah ada tikus wangi, Carter. Tetapi kau bisa mengubah sesuatu yang tak mungkin menjadi kenyataan. Kau bisa menjadi tikus sekaligus menebarkan parfum harum memabukkan.

“Kalau penata riasnya tetap aku, aku jamin Michael akan tetap memajang Carrera hingga lima tahun ke depan,” katamu kepadaku sambil meremas tanganku di kamar rias di ujung studio.

“Aku dan Michael tak terlalu memusingkan Carrera. Setiap hari bisa lahir bintang di jalanan Hollywood. Publik membutuhkan film yang lebih yahud. Kini kami sedang mencari pria seksi yang bisa bercinta dengan siapa pun. Bisa bercumbu dengan laki-laki berotak katak. Bisa bersikap romantis terhadap perempuan ganas. Bisa memeluk pria manis bergaun dengan kemesraan tiada tara. Adegan semacam ini tak akan bisa dilakukan oleh TT Boy ,” kataku membalas remasanmu.

“Aha! Bukankah aku akan bisa memainkan peran-peran semacam itu. Ayolah, Julieta, katakan kepada Michael, aku akan melakukan apa pun untuk film yang diinginkannya,” katamu melenggak-lenggok kenes menirukan gaya Marilyn Monroe berjalan di trotoar sepi.

Saat itu aku tak menjawab pertanyaanmu. Aku tahu belum pernah ada penata rias artis tiba-tiba menjadi bintang utama sebuah film. Tetapi jika saja bisa mencuri pandang parasku di cermin, kau akan tahu betapa aku tak bisa menyembunyikan rasa girang yang tak tertahankan. Ya, ya, saat itu kau lebih peduli pada bibirku yang kaugigit dengan mata terpejam ketimbang memperbincangkan tentang surga para bintang atau film-film terbaru Michael yang didominasi oleh adegan para gay di toilet jorok penuh tong bergrafiti dan sampah yang mulai membusuk.

“Julietaku, Sayang, tidakkah kaurasakan kadang-kadang aku bisa menjadi Rambo bagimu? Tidakkah kaulihat aku juga bisa menjadi Madonna yang ingin bercinta semalam suntuk dengan perempuan ganas sepertimu? O, tidakkah kau telah membuktikan aku juga kerap menjelma she-male yang menerbangkanmu ke surga kencana sepanjang waktu,” kau terus membisikkan tawaran yang tak bisa ditolak kepadaku.

Ah, tetap saja aku tak merespons segala yang kaudesiskan. Yang menarik saat itu, Carter, hanyalah mencakar punggungmu dan membayangkan diriku sebagai perempuan macan dari hutan terlarang. Jika saja kau tahu, saat itu juga aku tak percaya kau akan bisa bercumbu dengan Michael. Apalagi bercinta dengan para lady-boy di apartemen-apartemen yang tak pernah terjamah sinar matahari.

Karena itu, aku hanya mendengus, “Carterku, Sayang, semua boleh kaulakukan dalam film. Tapi tak boleh kau tidur di sembarang ranjang jika tidak bersamaku. Juga tak di ranjang Michael. Juga tak di ranjang pejantan Hollywood paling kaya sekalipun.”

Saat itu ganti kau yang tak merespons kata-kataku. Kau lebih senang mencium keningku dan segera menyeretku agar segera pulang saja ke apartemen. Di apartemen sambil menenggak red wine kau bercerita padaku tentang para perempuan di dusunmu yang begitu bangga menjadi penari tayub dan petani-petani lugu yang kesurupan setelah menabuh kendang.

“Kadang-kadang aku ingin jadi tayub yang menari menggoda setiap laki-laki buaya. Kadang-kadang aku ingin menjadi penabuh kendang yang senantiasa berceloteh cabul di antara egolan tayub dan teriakan-teriakan jorok para laki-laki jagoan,” katamu mengenang dusunmu, mengenang hari-hari indah terakhirmu sebelum seorang pria L.A. yang kaukenal di Surabaya memboyong dan mencumbuimu di lorong-lorong East Downtown sepanjang waktu.

Ya, pada akhirnya, kau memang bisa meyakinkan Michael. Pada akhirnya kau tidak hanya menjadi perias dalam film-film kami, tetapi juga menjadi bintang utama yang berkesempatan tidur di ranjang panas Michael. Kau sangat beruntung, karena akan bisa mewarisi kekayaan malaikat busuk itu dan bisa menjadi produser baru dalam industri film erotis yang senantiasa dianggap sebagai tontonan kotor itu.

Karena itu, Carter, kau –tikus kecil yang kutemukan di sebuah lorong dan kuajari jadi perias piawai itu– memang sudah diciptakan untuk menjadi binatang terharum.

Kau tahu, pada usia 11 tahun, aku kerap menatap tikus-tikus yang setiap malam nongol di got-got. Tikus-tikus itu begitu berani menyusup ke kaki-kaki para bandit yang tengah berpesta kokain sambil sesekali menggigit jempol para perempuan negro yang telah teler. Saat itu aku menduga tikus-tikus itu memang telah lama menjadi nenek moyang para negro, sehingga siapa pun takut membunuh atau sekadar mengusir dengan teriakan atau sekadar desisan.

Menurutku –tentu pada saat usiaku masih tipis-tikus bisa menjadi omnivora, pemakan segala, karena tumbuh-tumbuhan dan binatang-binatang lain merelakan diri menjadi santapan hewan-hewan pengerat itu.

Jadi jika sekarang siapa pun ingin menjadi binatang atau tumbuhan santapanmu, itu karena mereka tahu ada roh tikus purba yang diembuskan ke dalam tubuhmu. Jika kau saat ini juga menjadi pelahap segala, itu karena takdirmu memang harus menyusuri jalan hidup para tikus.

Dan tikus yang baik, Carter, tak boleh hidup berlama-lama dengan kucing seganas Michael. Jadi, segera bunuh pria itu, dan hanya hiduplah bersamaku.

“Akan kaubayar dengan apa kalau aku bisa membunuh pria yang pernah menjadi kekasihmu itu?”

“Akan aku bayar dengan apa pun yang kauminta sepanjang hidupmu.”
Ah, seharusnya aku tak perlu berkata begitu. Aku tahu dalam hidupmu yang penuh warna, kau tak membutuhkan cinta atau apa pun yang tidak berarti ketimbang duit atau apa pun yang kauanggap sebagai duit. “Kalau saja duit bisa dianggap sebagai tuhan, aku akan menyembahnya sepanjang waktu sepanjang hayat. Siapa pun boleh berkencan denganku. Aku ini pecumbu segala ,” desismu kali pertama kau kubayar pada kencan pertamaku denganmu di gay bar.

Pada mulanya aku memang jijik mendengar omongan jorokmu. Tapi kini kutahu kau memang tikus harum yang demi kejujuran tak bisa dibandingkan dengan pejantan lain di mana pun. Karena itu, tak seorang pun boleh memilikimu, Carter. Juga Michael atau pria-pria atau malaikat berduit dari zaman Luth sekalipun.

“Baiklah…cepat atau lambat…aku akan membunuh pria bloon itu!” katamu sambil tak henti-henti menyemperotkan air hangat yang mengucur dari gagang shower warna jingga itu ke sekujur tubuhku.

Setelah itu, aku tahu, Carter, kau akan menjelma tikus air yang tak henti-henti mendengus-dengus dan menjilat-jilat apa pun yang kauanggap sebagai dendeng atau ikan asin di piring kesayangan.
Setelah itu, aku tahu, aku akan habis kautelan. Aku akan…

Sihir Mawar

Jika kau benar-benar raja para tikus, Carter, hewan pengerat dari manakah engkau? “Aku hanya binatang tak berguna dari hutan Blora. Semula aku hanyalah Seto, pria kecil, yang dicumbu polisi di dekat kuburan. Setelah itu aku diculik perempuan gendut dan disimpan di losmen murah di Surabaya,” selalu kau mendesis semacam itu kalau kuajak menenggak martini atau sekadar kahlua cream di klub-klub penari telanjang.

Jika kau tak punya nenek moyang di kota ini, dari got manakah engkau nongol, Carter? “Mungkin aku lahir dari Mama Oni, she-male tercantik Surabaya yang pernah mengajariku mejeng di Jalan Irian Barat dan mengajakku orgy dengan para brondong di salon. Dari Mama Oni, aku tahu, perempuan gendut itu menjualku dengan harga mahal. Karena tak ingin rugi, Mama Oni mendandani dan menyulapku menjadi Catty dan memintaku mengeruk duit dari para pejantan yang kelayapan malam-malam.”

Setelah itu? “Setelah itu, kau tahu, Mama Oni pun menjualku pada laki-laki Downtown. Sejak itu, sejak pria tambum yang seharusnya lebih cocok jadi ayahku itu mengubah namaku menjadi Carter, aku –yang mulai bisa menggunakan Bahasa Inggris acak-acakan– tinggal di negerimu. Negeri yang kian meyakinkanku betapa tak ada yang lebih berarti kecuali uang.”

“Karena uang jugakah kau mau kusuruh untuk membunuh Michael?”
“Ya. Apa pun kulakukan demi uang. Apakah ada yang salah dari jawabanku ini, o, Julietaku, Sayang?”

Siapa pun, juga aku, tak akan menjawab pertanyaan seperti itu pada saat mabuk bukan? Siapa pun tak akan peduli apa pun pada saat tubuhnya dibelit oleh tangan-tangan nakal para penari itu bukan?

Aku yang kadang-kadang juga kepingin bercumbu dengan salah satu penari itu memang tak terlalu peduli pada gigitan Carter di telingaku yang kian menebal. Aku juga tak peduli apakah Carter bisa membunuh Michael atau sekadar membuat raja film erotis itu setengah pingsan.

Dan di luar dugaan aku tiba-tiba berharap agar ada seribu perempuan penjaja bunga yang menawarkan mawar kepadaku. Aku ingin memberikan bunga-bunga itu kepada setiap penari yang sepanjang hidup kegemulaian tubuhnya hanya dihargai oleh para lelaki jalang dengan paling banyak seratus dolar.

Kau tahu, Carter, pada saat seperti itu, aku justru mengharapkan badai bunga muncul lebih dahsyat di Sunset Boulevard. Aku berharap seluruh jalan terkubur oleh segala bunga dan siapa pun bisa bercinta dalam keharuman mawar.

Racun Pisau

SEMULA aku sendirilah yang akan membunuh Michael. Terus terang, sejak tahu dia tak hanya bercinta denganku dan lebih kerap mengajak brondong ke Bell Air, aku selalu mendapat bisikan dari para leluhurku di Meksiko agar pria semacam itu dilenyapkan dari bumi saja. Kata mereka jika dibiarkan hidup Michael akan mengganggu keindahan cinta dan meledek keagungan gereja. Umat Nabi Luth, warga Sodom dan Gomora, saja dihukum! Apalagi hanya pria celeng seperti dia!

Ah, aku abaikan perintah-perintah malaikat atau para leluhur. Aku membunuh karena memang ingin membunuh. Aku ingin membunuh karena Michael mengabaikan cintaku dan dengan terang-terangan mengulum ganas bibir para aktor baru di ruang rias sesaat sebelum para pejantan seksi itu saling cium di sembarang ranjang di sembarang ruang.

Tetapi Michael begitu licin. Mungkin lantaran tahu jiwanya terancam, ia memecatku dari peran indahku sebagai kekasih dan asisten sutradara sekaligus co-producer. Ia lalu kian menjauh dariku dan menendang tanpa bisa kulawan. Tapi aku toh masih punya kamu, Carter. Aku toh masih punya pisau yang lebih tajam dari segala pisau yang bisa digunakan untuk membunuh Michael sialan. Aku toh punya racun yang lebih kuat dari segala racun yang bisa memabukkan bajingan serupa setan. Pisau itu kamu, Carter. Racun itu kamu. Kaulah yang akan dengan mudah membunuh raja babi itu dalam sekali tusuk dalam sekali reguk.
Apakah sekarang kau sudah siap membunuhnya, Carter?

Mantera Malam

AH, ternyata kau pun keok oleh Michael, Carter. Lihatlah, mirip Pangeran Kelelawar yang ganas, Michael telah mereguk darahmu hingga kau tampak tak memiliki kekuatan apa pun untuk sekadar mengulum bibirku sepulang syuting. Kau tak lagi mencumbuku hanya karena setiap melihat mataku kau seperti menatap puluhan penjaja bunga mawar menebarkan mantera kematian. Apakah kau tak punya lagi keinginan untuk membunuh Michael, Carter? Apakah kau tak ingin lagi jadi tikus pujaan?

O, aku kini tahu, Carter: sebagaimana korban vampire lain, kau pun kini telah menyerupai Michael. Kau bahkan tampak lebih ganas dan menggasak apa pun melebihi tikus paling rakus yang setiap saat bisa kaulihat di Downtomn.

Apakah kau benar-benar tak ingin lagi membunuh Michael, Carter?
Kau tak mungkin menjawab, Carter.

Sejak kupaksa menonton karnaval penjaja bunga di Sunset Boulevard semalam, kau pingsan dan mengira hari ajalmu telah datang justru pada saat kau telah menaklukkan Michael dan aku dalam satu pelukan.

Kau tak mungkin menjawab, Carter.
Kau mengira badai mawar telah menguburkan dirimu di makam yang tak kauinginkan. Kau kini benar-benar cuma jadi tikus dalam badai yang tak pernah kauharapkan.

Kini kuputuskan aku tak perlu meminjam tangan untuk membunuh vampire atau kucing setan bekakrakan. ***
Los Angeles-Las Vegas, 2007

tentang blog iniTulisan berjudul "Badai Bunga" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (12 Januari 2010 @ 05:06) pada kategori Cerpen. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Tulisan Terkait:

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *