Home » Cerpen » Stasiun Bersayap Embun

Stasiun Bersayap Embun

Cerpen Sungging Raga
Dimuat di Lampung post (01/17/2010)

Rara sudah membayangkan bahwa ingatannya akan dengan cepat kembali ke masa lalu setiap kali ia duduk di bangku stasiun ini. Ia tak bisa lagi memendam kerinduan yang tak asing itu. Di sini, tiga tahun lalu. Ia melepas kepergian Ani, sahabat yang sudah dekat dengannya bertahun-tahun selama kuliah.

“Aku tak pernah menyangka perpisahan begitu menyakitkan.”

“Benar. Menyakitkan dan nyata.”

“Mungkin hanya ini yang tersisa dari pertemanan kita. Sebuah stasiun yang ramai. Selebihnya tak ada lagi.”

“Aku pasti mengunjungimu, suatu saat nanti.”

“Haha. Ya kalau ingat!”

“Kalau aku sudah tua pasti pikun.”

“Hahaha.”

Bangku kayu itu terletak di ujung barat stasiun, masih bertahan juga meski sudah banyak bangku-bangku baru yang lebih kuat, tersusun dari besi dan aluminium yang catnya masih belum mengelupas. “Sedikit demi sedikit, stasiun ini memang sudah banyak berubah,” gumam Rara. Namun bangku kayu yang nyaris lapuk itu tetap saja ada meski letaknya kini terpinggirkan, hampir tak ada yang mau duduk di situ kecuali orang-orang yang sudah tidak kebagian tempat.

Hari ini, Rara sudah membulatkan tekad untuk pergi, “Setiap manusia pada akhirnya akan berjalan sendiri-sendiri,” ia menghayati betul kalimat yang dibuatnya sendiri. Manusia datang sendiri dan pergi juga sendiri. Kata “sendiri” berkecamuk di kepalanya. Namun Rara masih merindukan Ani.

Gadis berkacamata yang terlampau pintar itu memiliki nama lengkap Ani Maharani, berasal dari Lampung, namun Rara tak tahu di kota mana tepatnya. “Jadi kamu mudik ke barat, sementara aku mudik ke timur.” Begitulah yang biasa diucapkan ketika musim mudik mahasiswa tiba, mengingat Rara berasal dari ujung timur pulau Jawa.

Meski bersahabat dekat, nasib akademis mereka seperti langit dan bumi, Ani melewati kuliah seperti menikmati sebuah roti kismis, enak dan lancar sekali, Ani lulus kurang dari empat tahun dengan predikat nyaris cumlaude, berbeda dengan Rara yang harus menunggu sampai tujuh tahun, sampai akhirnya menyerah dan terpaksa meninggalkan kampus tanpa gelar sarjana di belakang namanya. Meski begitu, persahabatan mereka tak pernah renggang.

Bahkan saking lengketnya, Rara dan Ani pernah diduga memiliki hubungan yang tak lumrah dan terkesan menjijikkan, namun keduanya hanya tertawa setiap kali mendengar itu. Mereka memang sangat lengket, serasi seperti sepasang sayap malaikat jelita. Stasiun ini hanya salah satu dari banyak tempat yang menjadi saksi persahabatan mereka. Kebetulan Ani dulu menyewa tempat tinggal tak jauh dari stasiun, hanya menyeberang jalan dan beberapa detik melewati gang sempit. Rara suka sekali menginap di sana, pagi hari bisa berjalan kaki ke stasiun, melihat matahari terbit, menyentuh puteri malu, menyusuri rerumputan di sekitar rel yang dihiasi embun. Hmmm… Dahulu di stasiun ini, seringkali ada sepasang sayap malaikat yang berembun.

Bayangan Ani tergambar jelas, Rara masih memutar kenangan, kini ia ingat suasana kampus, ketika mengerjakan tugas kuliah bersama, ke kantin bersama, atau ke kamar kecil yang bersebelahan dan saling bicara di balik dinding, semua hal kecil dan remeh tiba-tiba menjadi sangat penting. Dan jarang sekali ada masalah antara keduanya. Bahkan dalam urusan cinta, mereka tak pernah berebut laki-laki sebagaimana mereka juga tak pernah berebut boneka. “Laki-laki itu seperti boneka, tak layak diperebutkan. Di toko banyak, bisa memilih pula!”

Tetapi selalu saja ada obrolan tentang asmara, terkadang mereka membahas siapa laki-laki yang paling bodoh di kampus, siapa laki-laki yang hanya mengandalkan wajah namun otaknya keropos. Namun keduanya bukan tipe wanita yang suka memelihara laki-laki bergantian setiap bulan.

Semua sudah berlalu, sekarang hanya satu hal yang Rara tahu, nomor handphone Ani berubah, mungkinkah sahabatnya sudah sukses di sana? Ia tak pernah mendengar kabar, tetapi jika ia mau menebak-nebak, ia pasti menebak hal yang positif. Sahabatnya itu sudah mendapat kerja yang mapan, tak usah repot-repot lagi memikirkan uang indekos bulanan. Pendapatan tetapnya sudah lumayan, bahkan mungkin sudah ada pasangan. Ah, betapa indah hidup yang seperti itu.

Rara tersenyum, gadis yang kalau dilihat asal-muasalnya ternyata masih ada keturunan Rusia itu seperti hendak menertawakan dirinya sendiri. “Aku merindukannya meski mungkin dia tak pernah merindukan aku. Mungkin sudah ada seseorang yang lebih pantas untuk dia rindukan di sana. Sudah ada laki-laki yang senantiasa menemaninya, meneleponnya berjam-jam di malam hari sampai tertidur, mengucapkan selamat malam yang diimbuhi kata-kata sayang.”

Gadis berambut panjang itu terus mengingat-ingat kembali masa-masa kebersamaannya, semakin ia menajamkan pikirannya, potongan kejadian usang itu seperti terangkai lebih utuh dari sebelumnya. Ia merasa ada hal-hal yang belum terselesaikan dari persahabatan itu. Alangkah indahnya jika setiap kenangan bisa diputar berulang-ulang seperti film, tak ada yang terlewatkan meski sekecil apa pun.

Rara hanya bisa membayangkan tempat-tempat yang entah sekarang masih ada atau tidak. Beberapa bulan lalu ia mendengar kabar bahwa warung bubur kacang ijo yang dulunya biasa ia kunjungi bersama Ani sudah terbakar habis. Ia juga masih ingat jalanan yang dilalui ketika di malam tahun baru bersepeda keliling kota sampai mau pingsan, aneh sekali memang jika dua gadis bersepeda malam-malam, Rara tertawa kecil. Ia tak habis pikir betapa banyak ide tak masuk akal yang dulu dilakukannya bersama Ani.

Mereka juga pernah bersepeda melewati tempat pelacuran di malam yang lain, dan tiba-tiba rantai sepeda Rara putus, para lelaki hidung belang pun segera mendekat, mereka pasti mengira Rara dan Ani adalah sampah baru yang masih mulus. Ia merasa geli bercampur takut setiap kali ingat kejadian memalukan itu. Namun alangkah cepatnya waktu beranjak. Alangkah cepatnya waktu memakan peristiwa demi peristiwa.

Semua ingatan itu diakhirinya ketika ia mengambil sebuah MP3 player dari balik saku, ia memutar lagu gugur bunga, hanya midi–nada saja, tanpa vokal–Nuansa sedih kini mengalun di telinganya. Ia merasa heran sendiri mengapa tidak membawa lagu disko saja agar hatinya senang menjelang kepergian ini. Bukankah ia sudah tahu bahwa stasiun akan membawanya kepada suasana kegetiran? Mengapa ia justru menyuburkannya? Rara bernyanyi dalam hati, sedikit mengganti lirik lagu itu. Betapa hatiku tak kan pilu, telah pergi sahabatku. Betapa hatiku tak akan sedih, aku ditinggal sendiri.

Rara memutar lagu gugur bunga berulang-ulang.

Bagaimana kenangan bisa begitu rapi tersimpan? Padahal setiap saat, setiap detik pikiran dimasuki berbagai peristiwa lain yang lebih segar, yang lebih membutuhkan perhatian, tetapi setiap kali kenangan bertemu dengan tempat-tempatnya, maka sesungguhnya kenangan itu bisa menerobos apa saja, seperti batu karang di tepi pantai yang tak akan hilang jika hanya sepuluh atau dua puluh tahun.

“(09/11/09. 14.12. Di sini Rara. Merindukan Ani :)” Ia tuliskan kalimat dan tanda itu di bangku stasiun yang ia duduki, tak ada yang memperhatikannya, terlalu banyak manusia untuk saling memperhatikan, kecuali mereka yang mencuri-curi pandang. Rara menuliskannya dengan pena, sedikit ditekan dan diulang-ulang agar tampak jelas.

Tiba-tiba Rara merasa ingin menulis banyak hal, ada banyak yang ingin disampaikan, ada bermacam-macam keinginan yang ingin dititipkannya di stasiun yang sesaat lagi akan ditinggalkannya itu. Ia ingin menulis satu paragraf panjang, ah tidak, bahkan cerita yang sangat panjang. Namun, bangku kayu itu tentu tak cukup untuk menampung.

Lagi-lagi Rara tersenyum sendiri, entah, apakah ada yang memperhatikan senyum gadis itu sejak tadi? Adakah yang bisa menerka bahwa itu bukan senyum kebahagiaan melainkan senyum kegetiran? Tidak, setiap manusia sibuk dengan urusannya. Rara melihat-lihat sekitar, wajah-wajah dengan beragam tujuan itu, stasiun adalah arena perpisahan yang seringkali menyakitkan. Entah berapa lambaian tangan yang ia lihat setiap kali ada kereta yang baru saja berangkat. Beberapa kali ia melihat anak-anak kecil menangis, mungkin pamannya sudah harus kembali ke kotanya, atau kakek neneknya yang baru minggu lalu datang, sekarang harus pulang lagi. Di sana juga ada pasangan muda-mudi yang tentunya tersadar bahwa dunia ini tidak sempit, bahwa dunia ini bukan milik mereka berdua saja sebagaimana kalimat orang-orang dimabuk cinta. Jarak akan sangat sempurna memisahkan mereka. Stasiun akan mengeksekusi kesetiaan mereka.

Petugas stasiun memberikan pengumuman melalui pengeras suara, “Kami beritahukan bahwa kereta api Gaya Baru mengalami kerusakan, dan dijadwalkan baru tiba sekitar tiga jam lagi. Bagi calon penumpang kereta api Gaya Baru, diperbolehkan ikut kereta Gaya Lama yang akan datang lima belas menit lagi.”

Rara mendengarnya, namun ia tak begitu peduli, sepertinya ia tahu bahwa yang namanya kereta adalah wajib untuk terlambat. Ia merasa stasiun menjadi begitu jahat baginya, memaksanya untuk terus memutar kenangan. Sekali lagi ia melihat sekeliling, gadis itu baru sadar bahwa tak akan ada yang melepas kepergiannya, tidak seperti ketika ia melepas kepergian Ani. Waktu itu bahkan ada beberapa kawan lain yang turut melepas kepergian sahabatnya. Ada peluk cium, ada senyuman yang terlambat dihadiahkan.

Dahulu Ani meninggalkannya ke arah barat. Sedangkan saat ini ia akan naik kereta ke arah timur. Jarak mereka akan semakin jauh. Rara membayangkan kereta yang akan membawanya itu adalah kereta yang dulunya mengantarkan Ani.

Gadis itu bersiap-siap untuk berdiri, mungkin tak ada gunanya membuka kenangannya sendiri. Kereta pengganti yang akan mengangkutnya pergi ke kota lain akhirnya datang. Di barat stasiun, palang pintu sudah menutup, diiringi munculnya sebuah cahaya putih yang berangsur-angsur mendekat dan membesar. Lantas masuklah kereta itu ke jalur nomor dua. Beberapa penumpang sudah berdiri di tepian jalur.

Rara buru-buru mengambil tasnya, takut tak kebagian tempat duduk. Ia sedikit berebut ketika naik ke atas gerbong, dan beruntung, gadis itu langsung mendapatkan tempat duduk di dalam gerbong nomor tiga. Bahkan ia bisa bersandar di jendela kaca yang ternyata sedikit basah, entah karena embun atau air hujan. Mungkin kereta ini baru saja menembus daerah penghujan. Mungkin juga kereta ini membawa embun yang sudah menempel sejak pagi tadi. Sejenak ia melihat stasiun yang akan ditinggalkannya. Ani sudah sukses di barat sana, aku juga harus sukses seperti dia. Rara bergumam.

“Mau ke mana, Mbak?” Suara seseorang membuyarkan lamunannya. Di sebelahnya baru saja duduk seorang laki-laki yang tampak rapi, sepertinya seorang pengusaha muda yang bisnisnya antarkota antarprovinsi.

“Eh? Mau ke Surabaya.”

“Lho, sama.” Laki-laki itu tersenyum. Rara membalasnya dengan senyuman meski sangat tipis, setipis air di permukaan kaca yang kemudian menempel ke helai rambutnya. Lantas terjadi beberapa percakapan, mereka bertukar nama, nomor telepon, alamat, dan entah apalagi, alangkah banyaknya orang yang hadir dan pergi dari kehidupan kita. Rara tentu belum tahu apakah laki-laki yang sedang berbincang dengannya itu hanya akan ditemui di kereta atau akan ada cerita lainnya di kemudian hari. Hidup akan selalu menjadi misteri. Misteri.

***

Senja tiba. Kereta Rara tentu sudah jauh di sana. Stasiun masih cukup ramai. Sebuah kereta kelas ekonomi yang seharusnya sudah datang tiga jam lalu akhirnya memasuki stasiun. Banyak sekali penumpang yang hilir mudik. Dari kerumunan manusia yang kebanyakan menggerutu itu, seorang wanita muda tampak sibuk mengeluarkan barang bawaannya, sebuah kopor besar dan tas, dahinya berkeringat, akibat perjalanan yang melelahkan tentunya.

Setelah turun, dia berjalan mencari tempat yang sepi, duduk di bangku yang terletak paling ujung, lalu pelan-pelan mengusap keringat di wajahnya.

“Di stasiun ini dulu…” Dia mulai bicara namun ucapannya segera tertahan, sebab tanpa disengaja, dia membaca kalimat yang ditulis Rara tadi. ***

(Lempuyangan, 2009. Untuk Adi Marhadi di Kotabumi, Lampung. Turut Berbelasungkawa atas berpulangnya ibunda tercinta.)

tentang blog iniTulisan berjudul "Stasiun Bersayap Embun" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (9 Januari 2010 @ 04:22) pada kategori Cerpen. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Tulisan Terkait:

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *