Home » Sastra » Sanusi Pane

Sanusi Pane

LATAR BELAKANG KELUARGA:

Kakak kandung Armijn Pane ini dilahirkan di Muara Sipongi, Tapanuli Selatan pada tanggal 14 November 1905, tiga tahun lebih tua dari adiknya.

Kalau kita tilik latar belakang kehidupan Sanusi Pane akan kita peroleh jawaban mengapa dia tampak tidak bisa dipisahkan dengan alam. Dalam polemiknya dengan Sutan Takdir Alisyahbana (Pujangga Baru. April 1937) dia mengatakan bahwa di dunia Barat orang harus bekerja keras untuk menaklukkan alam. Orang harus berusaha mempertahankan diri untuk mengusai alam itu. Akibatnya, orang lebih mengutamakan jasmani sehingga timbul materialisme dan individualisme. Tidak demikian halnya dengan di Timur. Orang tidak usah bersusah payah berupaya untuk menaklukkan alam karena alam di Timur tidak sekeras di Barat. Di Timur manusia sudah merasa satu dengan alam sekelilingnya. Intelektualisme dan individualisme tidak begitu penting. Orang Timur tidak mementingkan segi jasmani. Hal ini bukan berarti bahwa derajat bangsa yang setinggi-tingginya itu dapat dicapai oleh “lapisan yang berpusatkan kenyataan: manusia bersatu dengan alam harus meniadakan keinginan jasmaninya dan membersihkan jiwanya.” Pandangan hidup Sanusi Pane seperti itulah yang mencoraki hampir semua karyanya.

Kehidupan Sanusi Pane sehari-hari memperlihatkan betapa kuatnya pendiriannya itu mewarnai sikapnya terhadap hal-hal yang bersifat jasmani. Oleh karena sikapnya yang demikian itu pengarang ini tidak pernah membanggakan apa yang telah ia perbuat. Dia selalu bersifat merendah, meskipun sebenarnya hasil karyanya itu patut untuk dibanggakan. Ketika J.U. Nasution ingin menulis buku tentang karyakarya Sanusi Pane Ia tidak berhasil mewawancarainya. meskipun Nasution telah berulang-ulang mencobanya, Sanusi Pane selalu mengatakan. “Saya bukan apa-apa… … saya bukan apa-apa… ” …” Itulah jawaban yang diberikan oleh Sanusi Pane (Nasution. 1963). Jawaban itu menggambarkan bahwa Sanusi Pane merasa dirinya belum berbuat sesuatu yang patut dihargai.

Menurut istri Sanusi Pane pada waktu presiden Soekamo akan memberikan Satya Lencana Kebudayaan kepada suaminya, Sanusi Pane menolak. Tentu saja sang istri terkejut bukan kepalang. Sanusi Pane memberikan jawaban sebagai berikut:

“Indonesia telah memberikan segala-galanya bagiku. Akan tetapi, aku merasa belum pernah menyumbangkan sesuatu yang berharga baginya. Aku tidak berhak menerima tanda jasa apa pun untuk apa-apa yang sudah kukerjakan. Karena itu adalah semata-mata kewajibanku sebagai putera bangsa.”

Penghargaan semacam itu adalah kebanggaan yang bersifat jasmani yang justru harus dihindari dalam upaya mencapai manusia tingkat tinggi. Dengan kata lain, jika manusia tidak mampu melepaskan diri dari hal-hal yang bersifat dumawi dia tidak akan dapat mencapai kebahagiaan yang sejati dalam alam baka nanti.
Keyakinan semacam itu sebenarnya adalah keyakinan orang Hindu. Sehagaimana petikan di atas telah diuraikan bahwa dunia ini hanyalah maya belaka. Bahkan, secara ekstrim dikatakan bahwa dunia ini jahat. Oleh karena itu. manusia harus berjuang untuk keluar dari belenggu itu. Tampaknya agama Hindu sudah merasuk ke dalam sanubari Sanusi Pane meskipun dia dilahirkan dari keluarga yang beragama Islam bahkan adiknya, Prof. Drs. Lafran Pane, adalah pendiri Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Ketika Sanusi Pane akan meninggal dia berpesan agar jenazahnya diperabukan sebagai pujangga-pujangga Hindu yang telah terdahulu. Sudah tentu permintaan itu tidak dikabulkan oleh keluarganya karena menyalahi ajaran agama Islam.

Selama kurang lebih dua tahun inilah Sanusi Pane menemukan jalan hidupnya untuk mencapai kebahagiaan sejati. Dia menyaksikan hahkan mengalami sendiri kehidupan tanah asal agama Hindu itu. Dia hidup di tanah “mulia”. menurut Sanui Pane, penuh kedamaian sehingga ajaran Hindu benar-benar merasuk ke dalam hatinya. Tidak heran kalau dia pernah pantang makan daging karena agama Hindu mengajarkan untuk menyayangi sesama makhluk, termasuk binatang. Kalau orang menyayangi binatang sebagai konsekuensinya harus pantang makan dagingnya. Hal ini benar-benar diamalkan Sanusi Pane dalam kehidupan sehari-hari.

Ajaran agama Hindu itu begitu lekatnya dengan kehidupan Sanusi Pane sehingga masalah keduniaan tidak begitu ia perhatikan.
LATAR BELAKANG PENDIDIKAN:

Sanusi pane mengawali pendidikannya di Hollands Inlandse School (HIS) di Padang Sidempuan dan Tanjungbalai. Setelah itu. ia melanjutkan ke Europeesche Lager School (ELS) di Sibolga dan kemudian melanjutkan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Padang dan di Jakarta. Ia tamat dari MULO pada tahun 1922. Selanjutnya, dia belajar di Kweekschool ‘Sekolah Pendidikan Guru’ Gunung Sahari. Jakarta sampai tamat tahun 1925 dan langsung diangkat menjadi guru di sekolah itu sampai tahun 1931. Pernah pula Ia mengikuti kuliah di Rechtshogeschool ‘Sekolah Tinggi Kehakiman’ selama satu tahun. Pada tahun 1929–1930 dia melawat ke India untuk memperdalam kebudayaan Hindu (Nasution. 1963).

Sebagaimana telah disebut di muka, begitu lulus dari Kweekschool ‘Sekolah Pendidikan Guru’ pada tahun 1925. Sanusi langsung diangkat menjadi guru di sekolah tersebut. Pekerjaan mengajar itu dijalaninya selama lebih kurang enam tahun (1925–1931).
LATAR BELAKANG PEKERJAAN:

Pada waktu dia bekerja di Balai Pustaka dia menolak untuk diantarjemput. Dia memilih berjalan kaki saja. Segala tawaran yang berkaitan dengan kariernya dibiarkan begitu saja tanpa jawaban. Sering dia membiarkan jatah berasnya membusuk di gudang tanpa diambil. Bahkan, selama bekerja dia tidak pernah mengurus kenaikan pangkatnya sehingga tetap berada dalam pangkat yang sama sampai pensiun. Pada suatu ketika istrinya merasa cemas dengan kehidupan Sanusi Pane yang harus membiayai enam orang anak. Istrinya mencoba menyadarkan Sanusi Pane agar memikirkan nasib anaknya pada masa datang. Sanusi Pane selalu menjawab, “Kita toh belum kelaparan. kita toh belum jadi gelandangan, kita toh masih bisa berpakaian.”

Sanusi Pane tampak tenang dalam kehidupan sehari-hari tidak mudah terpengaruh oleh kesibukan dunia sekelilingnya.
LATAR BELAKANG KESASTRAAN / KEBAHASAAN:

Selain itu. Sanusi juga dikenal sebagai salah seorang pendiri majalah Pudjangga Baroe. Di majalah tersebut, ia duduk sebagai pembantu utama. Di samping itu, ia pun pernah bekerja di Balai Pustaka.

Sebagai seorang sastrawan sebelum perang. tokoh Sanusi Pane memang tidak setenar adiknya, Armijn Pane, dan Sutan Takdir Alisyahbana. Nama Armijn Pane cukup terkenal lantaran romannya Be!enggu; Sutan Takdir Alisyabbana namanya harum karena Layar Terkembang. Meskipun tidak setaraf dengan kedua pengarang itu, Sanusi Pane sebagai penulis drama, menurut J.U. Nasution. adalah penulis terbesar pada masa sebelum perang atau masa Angkatan Pujangga Baru. Selain penulis drama, Sanusi Pane juga dikenal sebagai penulis puisi meskipun tidak setenar Amir Hamzah. Amir Hamzah mendapat julukan Raja Penyair, tidak demikian halnya dengan Sanusi Pane.

Nama Sanusi Pane tetap terukir dalam sastra Indonesia, khususnya pada masa sebelum Perang Dunia II, baik sebagai penulis puisi maupun penulis drama. Di samping itu, dia termasuk salah seorang tokoh pendiri Angkatan Pujangga Baru. Kalau Armijn Pane menjabat Sekretaris majalah Pujangga Baru, Sanusi Pane adalah sebagai salah seorang pembantu utamanya.

Pada masa gerakan Pujangga Baru pandangan orang terhadap kebudayaan Indonesia pada umumnya ada perubahan yang cukup mencolok dibandingkan dengan angkatan sebelumnya. Perbedaan pandangan terhadap kebudayaan itu menimbulkan polemik yang cukup seru. Polemik itu melibatkan tokoh-tokoh kenamaan seperti Ki Hadjar Dewantara, Purbatjaraka, Sutomo, M. Amir, Adinegoro, Sutan Takdir Alisyahbana, dan tidak ketinggalan Sanusi Pane, Karangan yang muncul dalam polemik para ahli kebudayaan itu dikumpulkan oleh Achdiat Karta Mihardja (1977) menjadi sebuah buku yang berjudul Polemik Kebudayaan.

Dalam banyak hal Sanusi Pane bertentangan dengan Sutan Takdir Alisyahbana. Takdir yang lebih banyak condong ke Barat mempunyai semboyan bahwa hidup harus selalu berjuang. hidup harus bekerja keras. Tanpa menyadari dan melaksanakan hal itu orang tidak akan maju, tidak akan bisa menjadi manusia yang modern. Sanusi Pane lehih mengutamakan ketenangan dan kedamaian. Justru hal inilah oleh Takdir dianggap hal yang melembekkan. Semboyan tenang dan damai membelenggu orang menjadi tidak maju.
Tampaknya aliran pikiran Hindu menyatu dalam diri Sanusi Pane. Orang Hindu beranggapan bahwa dunia ini adalah maya, kosong belaka. Untuk apa orang harus berlomba-lomba menguasai dunia yang sebenarnya hanya semu belaka. Mereka beranggapan bahwa ruh manusia di dunia ini diciptakan dari ruh dunia, ruh yang universal. Dia akan meresap kembali dengan ruh dunia itu. Di sanalah kebahagiaan itu akan dicapai manusia jika ia berhasil memisahkan diri dengan hal-hal yang bersifat materi.

Semboyan Sanusi Pane yang lebih mengutamakan ketenangan dan kedamaian itu tampaknya terjelma pada hampir semua hasil karyanya, baik yang berupa puisi maupun drama. Itulah sebabnya dia dikenal sebagai pengarang romantik. Dia merenungi kejayaan dan kemegahan serta kedamaian masa lampau. Dia merenungi kedamaian yang didendangkan alam sekitar. Alam tidak hanya sebagai lambang, tetapi juga sebagai objek pengubahan sajak-sajaknya yang mendendangkan alam, misalnya, “Sawah, “Teja”, “Menumbuk Padi”.

Keindahan sawah menyentuh kalbu sang pujangga. Padi yang sedang menguning melambai-lambai; suara seruling petani sejuk terdengar mendamaikan hati. Sekelompok anak bercanda-ria, berkejarkejaran karena kegirangan mandi di sungai yang jernih. Langit cerah berwarna biru menawarkan ketenangan dan kedamaian. Di kejauhan tampak seekor burung elang melayang-layang di udara menikmati alam nan permai. Suara berdesik dari dedaunan berbisik merdu karena terbuai angin nan lembut. Sayup-sayup terdengar suara kokok ayam menambah kedamaian jiwa yang mendengarnya.

Sanusi Pane melihat alam dengan penuh gembira. Alam yang merupakan sumber yang tak kering-keringnya untuk dinikmati secara terus-menerus. Terkadang jiwa Sanusi Pane mengembara jauh ke masa silam; dia mendambakan kejayaan masa lampau yang gemilang.

Paham romantik masih tetap mengalir dalam jiwa Sanusi Pane. Dalam buku kumpulan sajaknya yang kedua berjudul Madah Kelana, jiwa keromantikan itu masih tetap mewarnainya. Banyak kita jumpai sajak-sajak percintaan yang cukup romantis, “Angin”, “Rindu”, “Bagi kekasih”, ‘Kemuning”, dan “Bercinta”. Sajak yang terbesar yang terdapat dalam Madah Kelana yakni “Syiwa Nataraja” adalah sajak yang melukiskan keinginan pengarang untuk bersatu dalam alam. Tampaknya ketika dia menciptakan sajak ini dia mengeluarkan segala kekuatannya sehingga menghasilkan sajak yang sebesar itu. Di samping itu, masib banyak lagi kita jumpai sajak-sajaknya yang senafas dengan itu. misalnya, “Awan”, “Penyanyi”. “Pagi”, “Damai”, dan “Bersila”. Hal ini membuktikan keyakinan Sanusi Pane bahwa manusia harus bersatu dengan alam. Hal ini masih tetap mewarnai karya-kanya puisinya yang terkumpul dalam Madah Kelana ini.

Sanusi Pane di samping sebagai penyair juga sebagai penulis drama. Sebagai penulis drama dia adalah penulis terbesar pada masa sebelum perang, sebagaimana telah diuraikan di atas. Dia telah menulis dua drama dalam bahasa Belanda yang berjudul Air Langga dan Enzame Garoedavlucht dan tiga buah dramanya dalam bahasa Indonesia yang berjudul Kertajaya, Sandyakala Ning Majapahit. serta Manusia Baru.

Drama Sanusi Pane. yang berjudul Kertajaya merupakan cerita tragedi yang mengingatkan kita pada cerita Romeo and Juliet karya pujangga Inggris Shakespeare. Dalam kesusastraan Jawa kita jumpai tragedi semacam itu pula yakni cerita Pranacitra dan Rana Mendut, di Bali kita jumpai cerita Jayaprana dan Layonsari. Drama itu ditutup dengan matinya dua tokoh utama, Dandang Gendis (Kertajaya) dan Dewi Amisani dengan cara bunuh diri. Suatu penyelesaian yang sangat berbeda kalau kita bandingkan dengan fakta sejarah. Memang, ada pula perbedaan fakta yang dikemukakan oleh ahli sejarah tentang nasib Kertajaya sebagai raja Kediri. Stutterheim, misalnya. menyatakan bahwa Kertajaya mengasmgkan diri sebagai petapa. Lain halnya dengan Krom, dia mengatakan, setelah Kertajaya kalah dalam pertempuran di Garner dia hilang, tidak jelas ke mana, mungkin mati atau melarikan diri.

Sastrawan mempunyai kebebasan dalam menafsirkan suatu peristiwa. Sastrawan bukan pencatat peristiwa-peristiwa sejarah. Sebagaimana sastrawan Sanusi Pane memberi tafsiran yang berbeda dengan kedua ahli sejarah di atas. Dia memilih jalan sendiri untuk mengakhiri cerita itu dengan mematikan tokoh utamanya. Kedua tokoh utama dalam cerita itu mati dengan cana bunuh diri. Apa yang diceritakan oleh Sanusi Pane dapat kita maklumi karena dia adalah pengarang yang berjiwa romantik. Fantasi romantiknya yang mendorong pengarang untuk mengakhiri ceritanya dengan tetesan air mata. Hal yang sama dilakukannya pula dalam dramanya yang berjudul Sandyakala Ning Majapahit.

Adegan pertama dalam drama Sanusi Pane yang berjudul Kertajaya sudah menunjukkan kekhasan Sanusi sebagai pengarang romantik. Dialog-dialog antara kedua tokoh utama cerita itu merupakan wujud lahir jiwa romantik sang pengarang. Pengambilan latar di lereng gunung Wilis, dihiasi kicauan bunung, suara angin yang berhembus, ayam yang berkokok sangat mendukung suasana romantis yang diingini pengarang. Dari jawaban Dandang Gendis (Kertajaya) atas pertanyaan Dewi Amisani itu kita ketahui bahwa lukisan tentang cinta seperti itu terlalu dilebih-lebihkan pengarang. Orang bersusah payah mencari nirwana melalui buku atau guru yang sampai mati pun sering tidak menemukannya. Akan tetapi, Dandang Gendis menemukan nirwana itu di mata kekasihnya, Dewi Amisani. Dandang Gendis menyamakan nirwana dengan kekaksihnya. Meskipun drama itu ditulis tahun 1938 (drama ini dimuat pertama kali pada majalah Poedjangga Baroe, tahun VI, No. 3, bulan Desember 1938) lukisan semacam itu tetap terasa berlebihan. Hal ini justru membuktikan pengaruh romantik sangat kuat dalam diri Sanusi Pane.

Dorongan hati untuk menciptakan cerita yang mengharukan. yang dapat mencucurkan air mata bagi pembaca atau penonton masih terlihat dalam drama Sanusi Pane yang berjudul Sandyakala Ning Majapahit. Akhir cerita drama ini lain sama sekali dengan buku yang dijadikan dasar pembuatan cerita itu yakni Serat Damarwulan. Sanusi Pane mengatakan bahwa sebagai dasar pembuatan drama Sandyakala Ning Majapahit adalah Serat Damarwulan dan cerita Raden Gajah yang terdapat dalam Pararaton.

Cerita Damar Wulan diakhiri dengan happy ending. Keberhasilan Damar Wulan membawa kepala Menak Jingga ke Majapahit menyebabkan dia menduduki tahta kerajaan serta dinikahkan dengan sang ratu. Damar Wulan bergelar Prabu Brawijaya serta hidup dengan kejayaannya. Sebaliknya, Sandyakala Ning Majapahir diakhiri dengan peristiwa yang tragis. Di samping Damar Wulan tidak dinikahkan dengan ratu Majapahit dia juga dituduh sebagai pengkhianat. Tuduhan itu begitu hebatnya sehingga hukuman mati bagi Damar Wulan tak terelakkan lagi. Sepeninggal Damar Wulan kerajaan Majapahit diporakporandakan balatentara dari kerajaan Bintara.

Drama Sanusi Pane yang terakhir berjudul Manusia Baru. Drama ini dibuat pertama kali dalam majalah Poedjangga Baroe, tahun VIII, No. 5. November 1940. Tujuh tahun setelah dramanya yang berjudul Sandhyakala Ning Majapahit, Sanusi Pane menghasilkan dramanya Manusia Baru itu. Masa kurang lebih tujuh tahun sudah cukup bagi Sanusi Pane untuk menghasilkan ide-ide baru yang berbeda dengan ide-ide yang dituangkannya dalam puisi maupun drama sebelumnya. Dalam kurun waktu itu pula dia berhasil mengungkapkan konsep “manusia barunya”-nya. Manusia yang dapat mencapai kebahagiaan lahir batm, kebahagiaan dunia akhirat atau “insan kamil”.

Manusia semacam itu, menurut Sanusi Pane, tidak hanya mementingkan hal-hal yang bersifat rohani belaka. Dunia tidak lagi dianggap “jahat” yang perlu dijauhi dan dihindari, sebab menghindari dunia, hidup tidak bisa dipertahankan. Manusia hidup pada zaman modern ini harus bekerja keras dan mau menaklukkan dunia seperti tokoh Faust ciptaan Gothe. Akan tetapi, manusia modern harus tetap memiliki budi yang luhur, religius, dan cinta sesama manusia sebagaimana dimiliki oleh Arjuna ciptaan Empu Kanwa. Jika manusia belum dapat memadukan dua pribadi itu dalam dirinya dia bukan manusia modern yang diidealkan Sanusi Pane.

Di dalam Manusia Baru Sanusi Pane tidak lagi tenggelam ke dalam kejayaan dan kemegahan pada masa silam. Dia tidak lagi mengagungkan apa yang telah dicapai oleh nenek moyang sementara dirinya tidak berprestasi. Hal ini bukan berarti mengabaikan dan tidak mencintai karya agung warisan leluhur kita. Yang lama tetap agung dan berharga. Akan tetapi, manusia sekarang harus hidup pada masa sekarang serta mampu memandang kehidupan jauh ke depan. Dari yang lama manusia sekarang dapat mengambil manfaatnya selama dapat dimanfaatkan. Manusia sekarang harus pandai menyaring pengaruhpengaruh dari warisan lama termasuk budaya dari asing. Inilah “Manusia baru” yang diidealkan oleh Sanusi Pane dalam dramanya yang berjudul Manusia Baru. Tokoh Rama atau Rama Rao adalah simbol seniman pada umumnya masih terpesona keagungan masa silam. Dia berhasil disadarkan oleh Das atau Surendranath Das untuk bangkit sebagai manusia baru, seniman baru yang harus hidup penuh semangat memandang jauh ke masa depan. Seniman yang masih terikat oleh masa silam akan menghasilkan karya yang “layu, beku, kabur, mati, dan tidak berjiwa.”

Ide manusia yang ditampilkan Sanusi Pane dalam drama ini mencakup pula emansipasi wanita. Emansipasi ini tampak pada akhir ceritanya. Tokoh Saraswati atau Saraswati Wadia anak ketua Perkumpulan Industri Tenun Madras bangkit dari kungkungan adat lama. Adat lama mengatur bahwa anak gadis harus ditunangkan sejak kecil. Demikian juga Saraswati, dia ditunangkan sejak masih balita, sejak masih berumur empat tahun, peristiwa yang sama sekali tidak dikehendaki oleh Saraswati. Dia tidak mau hidup bagaikan dalam sangkar, sebentar dilepaskan kemudian dimasukkan kembali. Dia memberontak semua itu. Pertemuan antara Saraswati dengan seorang penganjur pemogokan kaum buruh, Surendranath Das, menyadarkan jiwanya untuk ikut bangkit sebagai manusia baru. Saraswati mengagumi watak dan pemikiran Surendranath Das. Bahkan, dia mencintai Das dan harus meninggalkan tunangan lamanya. Sudah barang tentu keluarganya tidak menyetujui hubungan itu, karena dalam peristiwa pemogokan kaum buruh itu Das adalah musuh keluarga Saraswati. Ketika Das akan pergi meninggalkan Madras, Sarswati bertekat akan tetap mengikuti ke mana Das pergi. Dia meningalkan adat lama; dia meninggalkan keluanga. ayah dan ibunya tersayang. Dia lakukan semua itu demi cintanya kepada Das, demi kemajuan bangsanya, demi kemajuan manusia, manusia baru.

Menarik sekali kisah cinta Sarswati dan Das yang ditampilkan Sanusi Pane dalam dramanya Manusia Baru ini karena kisah cinta kedua tokoh itu sangat mirip dengan kisah cinta sang pengarang. Ketika Sanusi Pane melamar sang bidadari pujaan hatinya, pihak keluarga perempuan meminta boli (mahar) sebesar tiga ribu gulden. Permintaan itu terlalu besar sehingga tidak terbayar oleh Sanusi Pane. Sebenarnya permintaan boli sebesar itu adalah penolakan secara halus. Apa reaksi Sanusi Pane atas permintaan itu? Sanusi Pane mengajak kekasihnya untuk melakukan marlojong (kawin lari). Kesepakatan telah dicapai: niat akan dilaksanakan sang mertua mengetahui tekad kedua anak manusia itu. Boli sebesar tiga nibu gulden pun dibatalkan dan hanya diminta membayar boli sebesar tiga ratus gulden. Perkawinan dilaksanakan dengan boli sebesar tiga ratus gulden walaupun akhirnya diketahui bahwa uang sebesar itu hasil Sanusi Pane meminjam. Sang mertualah yang pada akhirnya pula membayar hutang menantunya itu.

Dari keseluruhan karyanya dapat disimpulkan bahwa Sanusi Pane tidak hanya menganut satu aliran. Karya-karyanya, sebelum Manusia Baru, terwarnai alinan romantik yang sangat kuat. Dramanya yang berjudul Manusia Baru ini sudah mencerminkan sifat realistis pengarang. Pengarang benar-benar telah menemukan dirinya sebagai manusia baru, yang harus hidup pada masa sekanang. Untuk menemukan manusia baru itu diperlukan perenungan yang cukup panjang. Seperti pengakuan dalam esai tentang Timur dan Barat sebagai berikut. “Pengembaraan kami dalam berbagai-bagai kebudayaan membentuk semangat yang tertentu dalam diri kami. Semangat itu minta bahasa dan kesusastraan bam untuk wujudnya.”

Sanusi Pane telah tiada. Ketika fajar mulai menyingsing tanggal 2 Januari 1968 sang Pujangga dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Dia pergi penuh kedamaian; telah banyak yang dilakukannya untuk kemaslahatan manusia. Dia mengabdikan dirinya dengan tulus ikhlas untuk kemanusian. Semoga dia dapat mencapai kebahagiaan “petala nirwana”. Sanusi Pane meninggalkan seorang istri dan enam orang anak tanpa meninggalkan kekayaan yang berupa materi sedikit pun, bahkan rumahpun tak dimilikinya.
KARYA:

Karya Sanusi Pane, antara lain:
a. Prosa Lirik
(1) Pancaran Cinta (kumpulan prosa lirik, 1926).

b. Puisi
(1) Puspa Mega (kumpulan), Jakarta: Balai Pustaka, 1927.
(2) Madah Kelana (kumpulan), Jakarta: Balai Pustaka I, 1931, 111950, Proyek Penerbitan Buku Bacaan Sastra Indonesia dan Daerah, 1978.

c. Drama
(1) Airlangga (berbahasa Belanda), 1928.
(2) Eenzame Garoedavlucht (berbahasa Belanda), 1929.
(3) Kertajaya, Jakarta: Balai Pustaka, 1932, Pustaka Jaya I 1971, IV 1987.
(4) Sandyakala Ning Majapahir, Jakarta: Balai Pustaka, 1933, dan Pustaka Jaya 1974.
(5) Manusia Baru, Jakarta: Balai Pustaka, 1940.

d. Terjemahan
Arjuna Wiwaha. Jakarta: Balai Puistaka I, 1940, II 1949 dan Proyek Penerbitan Buku Bacaan Sastra Indonesia dan daerah, 1978.

e. Bunga Rampai
Bunga Rampai dari Hikayat Lama. 1946. Jakarta: Balai Pustaka

f. Sejarah
(1) Sejarah Indonesia. 1942, 4 jilid.
(2) Sejarah Indonesia Sepanjang Masa, 1952.

tentang blog iniTulisan berjudul "Sanusi Pane" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (6 Januari 2010 @ 08:14) pada kategori Sastra. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *