Belajar dari Nilai Pluralisme ala Gus Dur

Kategori Budaya Oleh

Menjelang tutup tahun 2009, bangsa kita kehilangan seorang tokoh besar, K.H. Abdurahman Wahid, seorang ulama dan budayawan, yang sebagian besar hidupnya diabdikan untuk membangun nilai-nilai demokrasi, humanisme, pluralisme, dan pembela kelompok minoritas. Mantan Presiden ke-4 (1999-2001) itu wafat pada hari Rabu, 30 Desember 2009, di Rumah Sakit Cipto Mangungkusumo (RSCM), Jakarta Pusat, dalam usia 69 tahun. Sebelum dirawat di RSCM Jakarta, cucu pendiri NU, K.H. Hasyim Asy’ari itu sempat menjalani perawatan medis di R.S. Jombang, Jawa Timur, pada hari Kamis, 24 Desember 2009, karena kelelahan setelah melakukan kunjungan ke beberapa pondok pesantren di Jawa Timur.

Sungguh, wafatnya Gus Dur, tak hanya sebuah kehilangan buat bangsa kita, tetapi juga dunia. Kiprah hidupnya yang selalu moderat, toleran, dan selalu menjadi pembela kaum minoritas, diakui atau tidak, telah menumbuhkan optimisme dunia terhadap harmoni dan kedamaian hidup. Kita simak saja quote-nya yang dengan jelas tertera di web pribadinya, gusdur.net.

Saya tidak khawatir dengan dominasi minoritas. Itu lahir karena kita yang sering merasa minder. Umat Islam –mungkin karena faktor masa lalu– sering dihantui rasa kekalahan dan kelemahan.

Gus DurGus DurGus DurGus DurSebuah ungkapan jujur betapa sosok Gus Dur sangat menghargai pluralitas dan tak ingin ada kelompok-kelompok tertentu yang menjadi penindas dan bertindak fasis bagi sesamanya. Di blog perspektif.net, Syafi’i Anwar mengatakan bahwa Gus Dur adalah bapak pluralisme Indonesia. Sementara itu, Wimar Witoelar menambahkan bahwa beliau sebetulnya juga adalah bapak plularisme dunia, mengingat bahwa dunia kini kekurangan tokoh pluralisme dan bahkan didominasi oleh pemimpin eksklusif dari semua pihak. Pluralisme dan Pembelaan adalah dua kata kunci dalam berbagai tulisan Abdurrahman Wahid. Beliau sangat peka dan arif dalam memberikan perspektif empati terhadap korban, terutama minoritas agama, gender, keyakinan, etnis, warna kulit, dan posisi sosial. “Tuhan tidak perlu dibela,” kata Gus Dur, tapi umat-Nya atau manusia pada umumnya justru perlu dibela. Salah satu konsekuensi dari pembelaan adalah kritik, dan terkadang terpaksa harus mengecam, jika sudah melewati ambang toleransi.

Pendapat tersebut didukung Wimar Witoelar. Berbicara sebagai kolega dan sahabat keluarga Gus Dur, Wimar mengatakan Gus Dur bukan hanya Bapak Pluralisme Indonesia, melainkan juga sudah menjadi Bapak Pluralisme Dunia. Saatnya tepat karena dunia saat ini sedang kehilangan tokoh-tokoh pluralisme dan sebaliknya didominasi oleh tokoh yang bersikap eksklusif.

Agaknya, dunia melihat Indonesia sebagai pusat pluralisme karena ketokohan Gus Dur dalam bersahabat dengan semua golongan. Satu contoh respek luar negeri adalah sambutan luar biasa yang diberikan kepadanya dengan ditunjuk menjadi keynote speaker pada Kongres American Jewish Committee di Washington, DC. Ditambah lagi dengan penampilannya bersama Condoleezza Rice sebagai after-dinner speaker pada penutupan acara terbesar kaum Jahudi di Amerika. Pada acara itu, Gus Dur duduk bersama sahabatnya, Uskup Agung Paris Jean-Marie Lustiger. Masyarakat dunia menaruh harapan pada Indonesia dengan sikap moderat Gus Dur yang menarik perhatian dunia setelah peristiwa 11 September 2001.

Di tengah situasi dunia yang makin terkontaminasi oleh berbagai teror, penindasan, atau perang yang terus berkecamuk dan mengancam, tokoh-tokoh yang berpandangan toleran, pluralis, dan moderat semacam Gus Dur amat dibutuhkan. Dengan pendekatan-pendekatan humanis yang terus dikembangkan, nilai-nilai persaudaraan dan toleransi antarumat beragama bisa tumbuh dan berkembang, tanpa harus mencaci maki dan menista.

Sebagai bentuk penghormatan kepada Beliau, agaknya kurang arif apabila momen pergantian tahun ini dirayakan secara mewah dan berlebihan. Bahkan, kita perlu melakukan doa bersama secara nasional, bukan hanya semata-mata untuk mengantarkan Beliau ke peristirahatan terakhir, melainkan juga untuk kemaslahatan bersama. Bisa jadi, wafatnya Gus Dur menjelang pergantian tahun merupakan simbolisasi dan “warning” dari Sang Maha Pemilik bahwa bangsa ini perlu belajar nilai-nilai pluralisme dari sosok seorang Gus Dur itu. Wallahu a’lam!

Meski kini Sampeyan telah tiada, Indonesia, khususnya dan dunia pada umumnya akan terus belajar dari nilai-nilai pluralisme, demokrasi, dan toleransi yang selama ini telah Sampeyan rintis dan perjuangkan. Selamat jalan, Gus, semoga dilapangkan jalanmu menuju ke haribaan-Nya dan diberikan tempat yang terbaik di sisi-Nya. ***

Seorang guru, penggemar wayang kulit, dan penikmat sastra. Dalam dunia fiksi lebih dikenal dengan nama Sawali Tuhusetya. Buku kumpulan cerpennya Perempuan Bergaun Putih diterbitkan oleh Bukupop dan Maharini Press (2008) dan diluncurkan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada hari Jumat, 16 Mei 2008 bersama kumpulan puisi Kembali dari Dalam Diri karya Ibrahim Ghaffar (sastrawan Malaysia).

207 Comments

  1. Adanya situasi dunia yang makin terkontaminasi oleh berbagai teror, penindasan, atau perang yang terus berkecamuk dan mengancam, …

    adalah buah dari hegemoni Barat terhadap Islam.

    Sekarang banyak orang Islam khususnya Gus Dur telah dijadikan kaki tangan bahkan antek-antek Barat (Amerika dan CS) untuk menidurkan kaum muslimin supaya tidak “menggongong”. Simak saja di http://www.libforall.org

    Jadi jangan mengagungkan Gus Dur. Gus Dur Berbahaya !

    Baca juga: http://subkioke.wordpress.com/2010/01/05/gus-dur-tidak-pantas-jadi-pahlawan/

  2. Bapak Pluralis itu telah pergi. Sosok semacam itu memang tak bisa begitu saja diciptakan. Ia dilahirkan dan terbentuk dari pengalaman demi pengalaman. Gus Dur dengan Fordem-nya. Tidak semua tokoh bisa sepreti dia… Hmmm.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Tulisan terbaru tentang Budaya

Pilpres, Mudik, dan Lebaran

Oleh: Sawali Tuhusetya Suasana Ramadhan tahun ini sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.
Go to Top