Monday, 19 October 2009 (11:51) | Blog, Pendidikan | 8,418 pembaca | 140 komentar | Print this Article
Selama dua hari (Sabtu dan Minggu, 17-18 Oktober 2009), saya mengikuti pelatihan “Pembelajaran Internet Berbasis Open Source Tanpa Internet” di SMA Muhammadiyah Weleri, Kendal, yang menghadirkan Mas Reza Ervani dari Rumah Ilmu Indonesia sebagai instruktur. Sekitar 15 peserta –sebagian besar guru Teknologi, Informasi, dan Komunikasi (TIK) SMA/SMK– tampak antusias mengikuti kegiatan yang berlangsung di SMA Muhammadiyah Weleri yang juga dihadiri oleh Mas Agus Muhajir, sang pencetus Sisfokol berbasis Open Source, dan diikuti oleh Pak Sigid Haryadi dan Pak Setyo Purnomo itu.




Sesungguhnya, apa yang menarik dari pelatihan semacam ini? Bagi pengguna baru software open source seperti saya, pelatihan semacam ini jelas memberikan kesan tersendiri setelah sekian lama “dimanjakan” oleh penggunaan perangkat lunak yang “siap pakai”. Saya seperti berada dalam sebuah rumah hunian dengan karakter penghuninya yang sama-sama memiliki keinginan kuat untuk terbebas dan merdeka dari cengkeraman perangkat lunak bajakan. Banyak persoalan yang terlontar dan didiskusikan secara akrab, meski belum semuanya bisa terjawab dengan tuntas; mulai proses instalasi, update perangkat lunak (secara offline), hingga membuat virtual-host untuk kepentingan pembelajaran.
Dari sekian persoalan yang terlontar, agaknya pembuatan virtual host berbasis open source yang paling banyak menyita perhatian. Hal ini memang tidak berlebihan. Kenyataan menunjukkan, kendala utama yang dihadapi para guru dalam memanfaatkan internet untuk kepentingan pembelajaran adalah terbatasnya koneksi dan akses internet. Akibatnya, pembelajaran di sekolah gagal menciptakan atmosfer yang menarik dan memikat bagi siswa didik. Dengan membuat virtual host, bisa jadi beban kegelisahan guru dalam menciptakan suasana pembelajaran yang interaktif dan mencerdaskan bisa dikurangi. Maka, sangat beralasan ketika rekan sejawat dari Kuningan, Jawa Barat, Ungaran (Semarang), dan Surakarta pun memerlukan hadir untuk mengikuti kegiatan ini.
Namun, lantaran terbatasnya waktu, pembuatan virtual host belum bisa tuntas diselesaikan dalam pelatihan. Meski demikian, dalam pandangan awam saya, secara garis besar –mohon diluruskan kalau ada yang salah– virtual host bisa saya ibaratkan seperti rumah besar dalam sebuah perkampungan. Rumah besar inilah yang akan menjadi server untuk mengendalikan jaringan dan interaksi dengan beberapa penghuni rumah di sekelilingnya. Tentu saja, agar bisa diakses dan dihubungi, rumah besar alias virtual host tersebut harus memiliki alamat alias domain offline, sehingga bisa diakses dengan mudah oleh para penghuni rumah yang ada di sekitarnya.
Keberadaan sebuah virtual host jelas tak akan banyak maknanya apabila tidak didukung oleh content yang bagus dan menarik. Oleh karena itu, dibutuhkan engine open source yang bisa digunakan untuk mengatur dan mendesain letak content agar memudahkan siswa didik dalam mengakses isinya. Ada beberapa engine yang bisa digunakan secara offline, misalnya wordpress, joomla, atau moodle.
Saya membayangkan, seandainya setiap institusi pendidikan memiliki jaringan virtual host, bisa jadi setiap penghuninya mampu melakukan interaksi secara optimal sehingga pengetahuan mereka akan bisa terus ter-update dan ter-upgrade setiap saat dan setiap kesempatan. Mereka bisa melakukan dialog dan interaksi secara intens sehingga bisa menghilangkan kebuntuan komunikasi yang kerap kali terjadi dalam dunia persekolahan. Ini artinya, virtual host tak hanya bermanfaat untuk kepentingan pembelajaran, tetapi juga untuk kepentingan segenap konponen pendidikan yang bernaung di bawah satuan pendidikan yang bersangkutan.
Memang bukan hal yang mudah untuk bisa memanfaatkan virtual host bagi kepentingan pembelajaran di sekolah, apalagi menggunakan software open source sebagai basisnya. Selain komitmen, dibutuhkan keseriusan segenap komponen pendidikan untuk mewujudkan idealisme semacam ini. Sudah saatnya dunia pendidikan negeri ini melakukan perubahan mind-set pembelajaran dari situasi konvensional menuju situasi inovatif dengan memanfaatkan kemajuan teknologi dunia virtual untuk melahirkan gerenasi masa depan yang cerdas, kreatif, dan luhur budi.
Saya masih sangat berharap bisa mengikuti pelatihan “Pembelajaran Internet Tanpa Internet” jilid II, meski dengan basis keterampilan TIK pas-pasan. Hal ini juga termasuk bagian dari “mimpi-mimpi” saya untuk mengakrabkan generasi masa depan ini pada software open source yang sarat dengan tantangan-tantangan kreatif. Sebuah paduan pembelajaran yang harmonis dan sinergis apabila nilai-nilai humaniora dan kultural bisa disemaikan dengan memanfaatkan kemajuan teknologi dunia virtual berbasis open source. Akankah mimpi-mimpi itu bisa terwujud? ***
Tags: linux, Open Source, Opini
Tulisan lain yang berkaitan:

wah, jadi pengen ikutan…
setelah bisa mengaplikasikan virtual-host dengan sukses, mohon disharing ilmunya Pak Guru (bisa lewat solve with it juga( :)>-
doh, mas pradna. pantasnya sampeyan yang jadi narasumbernya kok, hehe …
Wah ternyata banyak juga ya guru guru yang berminat untuk membebaskan diri dari produk bajakan, moga sukses dan dapat mengikuti “pembelajaran internet tanpa interne season II”
ya, mas rifky. open siurce juga membuat penggunanya jadi lebih kreatif dalam menghadapi tantangan, heheh …
salut sekali pak,
perlu dorongan dan dukungan IT administrator yang mumpuni untuk itu, bukannya mahal tapi skill dan sosialisasinya serta dukungan konten harus dipikirkan lebih jauh…
.-= Baca juga tulisan terbaru suryaden berjudul Launch2net untuk Ubuntu Linux =-.
betul sekali, mas surya. ini baru menjadi bagian dari mimpi2 saya, mas, hehe …
tanpa internet? berarti cuma lingkup tertentu saja Pak?
sama kaya’ LAN, WAN gitu ya?
.-= Baca juga tulisan terbaru Hari Mulya berjudul Desain Tempat Tissue Keren =-.
memang benar, mas hari. tapi kalau jaringannya diperluas, kan mantab juga nih.
pasti bisa pak. btw, virtual host itu sama gak kayak localhost pak? :D
amiiin, mudah2an bisa terwujud, mas sibaho. wah, kalau ndak salah virtual host memang memanfaatkan localhost sehingga bisa diakses secara offline.
setuju Bapak, jika pembelajaran yang kita lakukan secara online (via internet) pasti akan banyak masalah yang timbul antara lain mungkin koneksi internet jadi lemot karena dishare ke semua murid. Nah, kalau pake offline kan koneksinya cepet, beban biaya internet jadi ringan, dan pembelajaran berlangsung cepat. Virtual Host ini merupakan salah satu solusinya.
.-= Baca juga tulisan terbaru Anas berjudul Send Sms Using Yahoo mail – Free and Easy =-.
bener banget nih, mas anas. kalau ide ini bisa diwujudkan pasti akan banyak manfaatnya utk kemajuan dunia pendidikan. agaknya dibutuhkan sdm yang benar2 total dan serius utk mewujudkannya.
maju terus open source Indonesia, saya ingin belajar ama pak guru di bidang yang satu ini..makasih om sawali yang konsisten dengan sosialisasi open source di kalangan lembaga pendidikan
walah saya baru dalam taraf jadi pengguna biasa, mas amsi. saya juga masih terus belajar nih, hehe ….
wuih makin mantep aja nih open source Indonesia. Maju terus IGOS!!!
.-= Baca juga tulisan terbaru oglek berjudul Dari Blogger Untuk Dunia Yang Lebih Baik =-.
saya memang lagi semangat belajar open source nih, mas oglek, hehe …