Home | Bahasa, Politik, Refleksi, Wacana | Mampukah Bahasa Indonesia menjadi Media Pembebasan?

Mampukah Bahasa Indonesia menjadi Media Pembebasan?

Thursday, 8 October 2009 (20:55) | 808 pembaca | 150 komentar | Print this Article

Sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia (BI) sudah berusia 81 tahun. Jika dianalogikan dengan usia manusia, BI seharusnya sudah memasuki masa-masa kematangan dan kearifan hidup. Kenyang pengalaman dan sudah banyak merasakan pahit getirnya dinamika hidup. Namun, secara jujur mesti diakui, semakin bertambah usia, BI justru seperti anak-anak yang kehilangan orang tuanya. BI sering dibangga-banggakan sebagai bagian jati diri bangsa, tetapi sekaligus juga sering dinistakan dalam berbagai ranah komunikasi.

kue kekuasaanYang lebih menyedihkan, bahasa dinilai sudah menjadi bagian dari sebuah entitas kekuasaan yang dengan sengaja dimanfaatkan untuk melakukan politik pencitraan, propaganda, atau tipu muslihat demi melanggengkan kekuasaan. Penggunaan ragam bahasa eufemisme, misalnya, jelas-jelas merupakan sebuah bentuk penghalusan terselubung untuk menutupi tindakan-tindakan kasar, vulgar, dan menindas. Rakyat kecil yang tertindas dan dikorbankan tak jarang dihibur dengan bahasa yang manis dan eufemistik, hingga akhirnya rakyat merasa tidak lagi tertindas, ternistakan, dan dikorbankan. Dalam konteks demikian, bahasa tak hanya sebatas digunakan sebagai media komunikasi dalam ranah sosial, tetapi juga telah dimanfaatkan sebagai alat propaganda dan media politik pencitraan untuk menggapai ambisi dan kepentingan tertentu sesuai dengan selera penggunanya. Kekuatan bahasa eufemistik memungkinkan fakta yang busuk dan sarat bopeng tampak menjadi lebih segar, santun, dan manis.

Bisa jadi, berlarut-larutnya masalah yang tak kunjung terselesaikan hingga memfosil menjadi akumulasi masalah yang multikompleks dan multidimensi di negeri ini merupakan dampak sebuah kebijakan kekuasaan yang abai terhadap perbaikan nasib rakyat. Melalui penggunaaan bahasa manipulatif, rakyat sekadar dihibur lewat jargon dan slogan-slogan eufemistik, hingga akhirnya masyarakat jadi kehilangan kontrol terhadap laju kekuasan yang amburadul dan “semau gue”. Dari sisi ini, agaknya pemakai bahasa kekuasaan telah kehilangan moralitasnya. Bahasa bukan lagi menjadi media untuk menyampaikan masalah secara jelas dan nyata, melainkan justru sengaja dikaburkan dan disamarkan hingga menimbulkan banyak tafsir. Semakin banyak tafsir, para elite penguasa semakin mudah mencari celah dalam melakukan pembelaan dan pembenaran terhadap kebijakan kekuasaan yang diluncurkannya.

Kebijakan Visioner
Bahasa memang bersifat arbitrer (manasuka) dan memiliki kekuataan personal yang tak mudah diganggu gugat oleh pihak lain. Namun, sesuai dengan hakikatnya sebagai media komunikasi publik, penggunaan bahasa tutur akan membawa dampak sosial yang begitu luas dan kompleks. Itulah sebabnya, kita sangat mengapresiasi kebijakan visioner para pendahulu negeri yang telah menetapkan bahasa Melayu (Indonesia) sebagai bahasa nasional. Pengakuan dan penetapan bahasa nasional ini jelas memiliki kekuatan yang mampu mengikat para penuturnya secara emosional, sehingga bahasa nasional bisa dimanfaatkan secara optimal di ranah publik berdasarkan kaidah-kaidah yang telah disepakati.

Dalam perkembangan selanjutnya, bahasa Indonesia juga telah ditetapkan sebagai bahasa negara (resmi), bahkan telah ditinggikan derajatnya melalui momentum “Bulan Bahasa” yang jatuh setiap bulan Oktober. Melalui kebijakan politik bahasa semacam ini, setidaknya segenap memori anak bangsa tergugah dan teringatkan bahwa ternyata kita memiliki warisan kultural yang telah menyejarah dan benar-benar telah teruji keberadaannya sebagai media pengokoh kebhinekaan. Dengan kata lain, bahasa Indonesia telah menjadi pengikat nilai persaudaraan sesama anak bangsa secara emosional dan afektif. Namun, kebijakan visioner tak selamanya berjalan mulus. Bahasa Indonesia yang seharusnya mampu dioptimalkan sebagai media pembebasan, justru telah terperangkap dalam kubangan hegemoni yang dengan amat leluasa dimodifikasi sebagai alat kekuasaan oleh para elite-nya.

Penyadaran Kolektif
Bahasa Indonesia sesungguhnya bisa menjadi media pembebasan untuk mengantarkan negeri ini sebagai bangsa yang lebih terhormat dan bermartabat. Hal ini bisa terwujud apabila kaum elite yang berada dalam lingkaran kekuasaan mampu berkomunikasi dengan menggunakan bahasa rakyat ketika menyampaikan kebijakan-kebijakan penting dan krusial; bukan menggunakan bahasa kaum elite yang berbelit-belit dan cenderung menyesatkan publik.

Kita sungguh prihatin menyaksikan dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara yang terus didera berbagai masalah besar. Tak hanya deraan konlfik internal dan eksternal, tetapi juga tikaman bencana yang terus berdatangan secara bergelombang. Dalam situasi krusial seperti ini, sungguh disayangkan, bahasa Indonesia belum bisa dimanfaatkan secara optimal sebagai media pembebasan dalam ikut menyelesaikan masalah-masalah yang datang menghadang. Bahasa rakyat dan bahasa kaum elite tak pernah berada dalam satu titik temu, hingga persoalan-persoalam besar itu gagal tertuntaskan.

Kini, setelah bahasa Indonesia berusia lebih dari delapan dasawarsa, perlu ada gerakan penyadaran secara kolektif untuk memanfaatkan bahasa Indonesia sebagai media komunikasi publik yang mencerahkan dan membebaskan. Bahasa tidak dimanfaatkan lagi untuk memburu kepentingan kekuasaan, tetapi lebih dioptimalkan untuk membangun kemaslahatan bersama-sama rakyat, hingga akhirnya persoalan multikompleks dan multidimensi yang mendera negeri ini secara bertahap dan berkelanjutan bisa tertangani.

Dirgahayu Bahasa Negeriku! ***

Kategori: Bahasa, Politik, Refleksi, Wacana | Tags: , , ,

Tulisan lain yang berkaitan:

imgRagam Bahasa Media Internet dan “Euforia” Berekspresi (Monday, 26 October 2009, 1,173 pembaca, 148 respon) Kemajuan teknologi di bidang informasi dan komunikasi, agaknya telah memberikan pengaruh besar terhadap pola dan gaya interaksi umat manusia. Jarak dan luas wilayah komunikasi telah menembus batas dimensi ruang dan waktu. Manusia masa kini tak cukup...
imgMencermati Pembusukan Penggunaan Bahasa Indonesia (Monday, 6 October 2008, 4,817 pembaca, 144 respon) Oktober telah ditetapkan sebagai Bulan Bahasa. Tentu saja, bukan semata-mata alasan historis untuk mengenang saat-saat heroik ketika para pendahulu negeri ini berhasil menetapkan bahasa Indonesia (BI) sebagai bahasa nasional melalui ikrar Sumpah Pemuda,...
imgMenjadikan Sekolah sebagai Basis Pengembangan Bahasa Indonesia (2-Habis) (Friday, 18 July 2008, 3,572 pembaca, 49 respon) Diakui atau tidak, kesan bahwa sekolah baru sebatas menjalankan fungsinya sebagai tempat mentrasfer ilmu secara kognitif masih kuat melekat dalam imaji publik. Fungsinya sebagai pusat pembentukan nilai yang mengacu pada perubahan mendasar dalam sikap,...
imgDiskusi Kelompok Terbimbing Model Tutor Sebaya (Saturday, 29 December 2007, 8,797 pembaca, 20 respon) Rendahnya mutu pendidikan Indonesia telah banyak disadari oleh berbagai pihak, terutama oleh para pemerhati pendidikan di Indonesia. Rendahnya mutu pendidikan ini dapat dilihat, antara lain, dari rendahnya rata-rata nilai Ujian Nasional (UAN) untuk semua...
Catatan Sawali Tuhusetya
feeds.feedburner.com
Tulisan berjudul "Mampukah Bahasa Indonesia menjadi Media Pembebasan?" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (Thursday, 8 October 2009 (20:55)) pada kategori Bahasa, Politik, Refleksi, Wacana. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Ingin berlangganan gratis? Silakan daftarkan alamat email Anda sekarang juga! Terima kasih dan salam budaya!
Anda juga bisa memublikasikan tulisan ini melalui jejaring sosial/web berikut:
FacebookTwitterStumbleDigg itDeliciousGoogle ReaderRedditTechnoratiGoogle BuzzYahoo Buzz
DesignfloatDiigoMixxMeneamedesignbumpFurlMagnoliaBlinklistfurlblogmark

150 Responses to "Mampukah Bahasa Indonesia menjadi Media Pembebasan?"

  1. uvebana says:
    Menggunakan Firefox 3.5.10 Firefox 3.5.10 pada Windows XP Windows XP

    Yang bisa saya tangkap dari artikel ini, mampu tidaknya bahasa kita untuk menjadi media pembebasan itu tergantung darii orang yang menggunakan bahasa itu sendiri. Jika baik, maka baiklah fungsi bahasa itu, jika buruk, maka kehancuranlah yang ditimbulkan…
    slm kenal :)

  2. Menggunakan Firefox 3.5.1 Firefox 3.5.1 pada Windows XP Windows XP

    Semua tergantung penggunanya gan.
    Baca juga tulisan terbaru Jadwal Piala Dunia berjudul Jadwal Piala Dunia Afrika Selatan 2010 versi WIB dan versi FIFAMy ComLuv Profile

  3. racheedus says:
    Menggunakan Opera Mini 4.1.11355 Opera Mini 4.1.11355 pada J2ME/MIDP Device J2ME/MIDP Device

    Saat Bahasa Indonesia diproklamirkan sebagai bahasa nasional, saat itulah kita menunjukkan bahwa kita tak sudi dijajah oleh bahasa asing. Indonesia memiliki bahasa sendiri, tak perlu menggunakan bahasa dari bangsa penjajah sebagai bahasa nasional.

  4. Pakde Cholik says:
    Menggunakan Firefox 3.0.14 Firefox 3.0.14 pada Windows XP Windows XP

    Kita harus bangga memiliki bahasa pemersatu yang disebut Bahasa Indonesia. Di dunia banyak negara yang ta punya bahasa nasional. mereka nebeng bahasa Inggris.
    Kita seharusnya menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar.
    Salam hangat dari Surabaya

  5. Menggunakan Google Chrome 4.0.221.8 Google Chrome 4.0.221.8 pada GNU/Linux GNU/Linux

    betul sekali, mas. peran bahasa indonesia sbg pemersatu bangsa memang sudah teruji oleh sejarah.

  6. Abdul Aziz says:
    Menggunakan Firefox 3.5.3 Firefox 3.5.3 pada Windows XP Windows XP

    @Sawali Tuhusetya,

    Pak, buku yang sudah Bapak tulis , kalau boleh tahu apa judulnya dan dari penerbit mana ? Sekarang suka menulis di mana saja Pak ? Koran langganan saya hanya tinggal Republika saja. Tapi Bapak tidak pernah menulis lagi di harian ini.
    Saya ingin sekali membaca buku-buku yang Bapak tulis.
    Terima kasih.
    Salam.
    Baca juga tulisan terbaru Abdul Aziz berjudul AWARD – Menjalin Silaturahmi Antar Blogger My ComLuv Profile

  7. Menggunakan Google Chrome 4.0.222.5 Google Chrome 4.0.222.5 pada GNU/Linux GNU/Linux

    walah, saya baru menulis sebuah buku kumcer, mas azis. judulnya perempuan bergaun putih. sayangnya saya sudah ndak punya sisa di rumah, hehe … selebihnya, saya baru sebatas menulis buku ajar bahasa indonesis utk sd, smp, dan sma. sejak ngeblog, saya memang jarang lagi ngirim tulisan di media cetak. jadi kangen juga nulis di media cetak, hehe …

Leave a Reply

CommentLuv Enabled
«
»
www.batuzakar.netweb hosting indonesia
Catatan Sawali Tuhusetya is proudly powered by WordPress (222 queries: 0.950 seconds)
Valid CSS & XHTML | KBP