Apa yang Harus Kami Katakan?

Apa yang harus kami katakan
ketika murka alam bersimaharajelala
ketika tangan Tuhan yang Maha Perkasa menggerakkan jarum skala richter ke angka 7,6
ketika lempeng raksasa menggeser posisi palung bumi

Apa yang harus kami katakan
ketika murka alam meratakan bangunan yang bertahun-tahun dihuni
melenyapkan ratusan nyawa tergencet di balik puing-puing bencana
meledakkan tangis bocah yang mendadak jadi yatim piatu
memaksa jutaan orang memeras air mata kehilangan sanak-saudara

Apa yang harus kami katakan
ketika Padang yang anggun mendadak kelabu
menaburkan maut ke segala penjuru
memaksa ratusan nyawa meradang di tengah ladang pembantaian alam
menyingkirkan keindahan dan keanggunan dari situs peradaban

Oh!
30 September 2009
tak seorang pun mampu membaca
tanda-tanda alam dan peradaban
para ahli geologi mendadak terbungkam
para cerdik pandai yang fasih berbicara di atas mimbar seminar terdiam

Oh!
1 Oktober 2009
para wakil rakyat justru terninabobokan dalam ritus upacara
di tengah keglamoran dan pesta
menguras isi kantong rakyat puluhan milyar
hanya pamer pangkat dan kedudukan
menaburkan sumpah dan janji palsu
sekadar mengikuti prosedur pelantikan
nurani dan kepekaan pun terkubur dalam perut bumi
tak ingat lagi murka alam di ranah Minang
yang menghancurkan peradaban
yang menghilangkan ratusan nyawa
di tengah murka alam yang membadai

Apa yang bisa kami katakan?
ketika murka alam menunjuk angka 17.16, 17.58, dan 8.52
Benarkah ini sebuah teguran-Mu
ketika kami sering tenggelam dalam keglamoran dan kemewahan di tengah derita sesama
hingga kami pantas dihancurkan?
Benarkah ini sebagian dari azab-Mu
ketika kami sering berlaku durhaka terhadap sesama
gampang marah dan suka menabur dendam dan permusuhan
hingga kami harus menjadikan ratusan nyawa saudara kami sebagai tumbal?
Benarkah kami telah menjadi Firaun-Firaun baru
yang suka menuhankan diri dan menentang kehendak-Mu
hingga kami pantas menerima murka-Mu?

Sungguh,
kami sering tak berdaya memaknai tanda-tanda kebesaran-Mu
bahkan, kami masih suka tenggelam dalam kepongahan dan kedurhakaan,
tak pernah lalai mewarisi sifat Firaun
ketika bencana demi bencana
menghancurkan peradaban negeri kami.

Kendal, 3 Oktober 2009 (17.45)

*Duka dan empati untuk saudara-saudara kami yang tengah menghadapi musibah bencana di Padang dan Jambi. Semoga diberikan kesabaran dan ketabahan. Mari kita tunjukkan solidaritas dan kepedulian terhadap nasib mereka!*

Tulisan lain yang berkaitan:

Tsunami Jepang dan “Tsunami” Indonesia (Monday, 14 March 2011, , 103 respon) Gempa berkekuatan 8,9 Skala Richter yang mengguncang pesisir Timur Laut Jepang di Kepulauan Honshu, Jumat, 11 maret 2011, telah memicu gelombang...
Pendidikan Kebencanaan dan Kesigapan Mengurangi Risiko (Tuesday, 16 November 2010, , 67 respon) Banjir bandang Wasior, tsunami Mentawai, dan erupsi Merapi yang terjadi dalam waktu yang hampir bersamaan, makin menyadarkan kita bahwa negeri kita...
Duka Merapi dan Bangkitnya Solidaritas Kebangsaan (Saturday, 6 November 2010, , 73 respon) Jumat dini hari (5 November 2010), Merapi menunjukkan perubahan karakter letusan yang sangat drastis. Menurut Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM,...
Merapi dalam Sajak: Sebuah Kesaksian Intuitif (Sunday, 31 October 2010, , 85 respon) Indonesia berduka. Slogan “Pray for Indonesia” bergaung di mana-mana; sebuah seruan empatik untuk menguatkan Indonesia yang tengah menangis;...
Bank Century, Unjuk Rasa, dan Pemakzulan (Saturday, 30 January 2010, , 125 respon) Istilah “pemakzulan” belakangan ini tiba-tiba menyeruak di tengah hiruk-pikuk kerja Pansus Bank Century. Banyak kalangan menilai, istilah...
tentang blog iniTulisan berjudul "Apa yang Harus Kami Katakan?" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (3 October 2009 @ 18:14) pada kategori Refleksi, Sastra dan telah dikunjungi oleh . Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Jika tertarik dengan tulisan ini, silakan di-share/bookmark melalui jejaring berikut ini: