Home | Refleksi, Sastra | Apa yang Harus Kami Katakan?

Apa yang Harus Kami Katakan?

Saturday, 3 October 2009 (18:14) | 296 pembaca | 205 komentar | Print this Article

Apa yang harus kami katakan
ketika murka alam bersimaharajelala
ketika tangan Tuhan yang Maha Perkasa menggerakkan jarum skala richter ke angka 7,6
ketika lempeng raksasa menggeser posisi palung bumi

Apa yang harus kami katakan
ketika murka alam meratakan bangunan yang bertahun-tahun dihuni
melenyapkan ratusan nyawa tergencet di balik puing-puing bencana
meledakkan tangis bocah yang mendadak jadi yatim piatu
memaksa jutaan orang memeras air mata kehilangan sanak-saudara

Apa yang harus kami katakan
ketika Padang yang anggun mendadak kelabu
menaburkan maut ke segala penjuru
memaksa ratusan nyawa meradang di tengah ladang pembantaian alam
menyingkirkan keindahan dan keanggunan dari situs peradaban

Oh!
30 September 2009
tak seorang pun mampu membaca
tanda-tanda alam dan peradaban
para ahli geologi mendadak terbungkam
para cerdik pandai yang fasih berbicara di atas mimbar seminar terdiam

Oh!
1 Oktober 2009
para wakil rakyat justru terninabobokan dalam ritus upacara
di tengah keglamoran dan pesta
menguras isi kantong rakyat puluhan milyar
hanya pamer pangkat dan kedudukan
menaburkan sumpah dan janji palsu
sekadar mengikuti prosedur pelantikan
nurani dan kepekaan pun terkubur dalam perut bumi
tak ingat lagi murka alam di ranah Minang
yang menghancurkan peradaban
yang menghilangkan ratusan nyawa
di tengah murka alam yang membadai

Apa yang bisa kami katakan?
ketika murka alam menunjuk angka 17.16, 17.58, dan 8.52
Benarkah ini sebuah teguran-Mu
ketika kami sering tenggelam dalam keglamoran dan kemewahan di tengah derita sesama
hingga kami pantas dihancurkan?
Benarkah ini sebagian dari azab-Mu
ketika kami sering berlaku durhaka terhadap sesama
gampang marah dan suka menabur dendam dan permusuhan
hingga kami harus menjadikan ratusan nyawa saudara kami sebagai tumbal?
Benarkah kami telah menjadi Firaun-Firaun baru
yang suka menuhankan diri dan menentang kehendak-Mu
hingga kami pantas menerima murka-Mu?

Sungguh,
kami sering tak berdaya memaknai tanda-tanda kebesaran-Mu
bahkan, kami masih suka tenggelam dalam kepongahan dan kedurhakaan,
tak pernah lalai mewarisi sifat Firaun
ketika bencana demi bencana
menghancurkan peradaban negeri kami.

Kendal, 3 Oktober 2009 (17.45)

*Duka dan empati untuk saudara-saudara kami yang tengah menghadapi musibah bencana di Padang dan Jambi. Semoga diberikan kesabaran dan ketabahan. Mari kita tunjukkan solidaritas dan kepedulian terhadap nasib mereka!*

Kategori: Refleksi, Sastra | Tags: , ,

Tulisan lain yang berkaitan:

imgBank Century, Unjuk Rasa, dan Pemakzulan (Saturday, 30 January 2010, 613 pembaca, 125 respon) Istilah “pemakzulan” belakangan ini tiba-tiba menyeruak di tengah hiruk-pikuk kerja Pansus Bank Century. Banyak kalangan menilai, istilah tersebut merupakan manifestasi sikap paranoid dan kekhawatiran yang berlebihan dari penguasa. Kalau Pansus...
imgAntara Facebooker dan Wakil Rakyat (Monday, 9 November 2009, 347 pembaca, 213 respon) Siapa bilang Facebooker itu seorang netter yang hanya bisa meng-update status di dinding, tanpa pernah berbuat apa-apa? Siapa pula bilang kalau Facebooker itu hanya berdiri di puncak menara gading dunia maya hingga tercerabut dari akar sosial-budaya dan...
imgIroni di Balik Rencana Pelantikan Wakil Rakyat (Wednesday, 23 September 2009, 396 pembaca, 140 respon) Siapa bilang negara kita itu miskin? Tanya saja kepada KPU. Lembaga yang satu ini agaknya punya lumbung duwit. Sekadar untuk upacara pelantikan wakil rakyat saja, mereka tak segan-segan menggelontorkan dana 11 milyar. Byuh! 1 Oktober 2009, bisa jadi...
imgGempa Bumi dan Rahasia Sang Pemilik Kehidupan (Thursday, 3 September 2009, 1,505 pembaca, 167 respon) Di tengah kekhusyukan umat Islam menjalankan ibadah puasa, kita dikejutkan guncangan gempa berkekuatan 7,3 Skala Richter. Gempa yang berpusat di 142 km barat daya Tasikmalaya, Jawa Barat (Rabu pukul 14.55 WIB) tersebut telah menyebabkan puluhan orang...
imgTelevisi dan Pesta Demokrasi (Sunday, 12 April 2009, 1 pembaca, 22 respon) Pesta demokrasi untuk memilih calon wakil rakyat memang telah usai 9 April 2009 yang lalu. Namun, gaungnya masih sangat terasa menggetarkan. Bahkan, tensinya makin meninggi, terutama bagi caleg yang sudah jauh-jauh hari mengorbankan waktu, tenaga,...
Catatan Sawali Tuhusetya
feeds.feedburner.com
Tulisan berjudul "Apa yang Harus Kami Katakan?" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (Saturday, 3 October 2009 (18:14)) pada kategori Refleksi, Sastra. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Ingin berlangganan gratis? Silakan daftarkan alamat email Anda sekarang juga! Terima kasih dan salam budaya!
Anda juga bisa memublikasikan tulisan ini melalui jejaring sosial/web berikut:
FacebookTwitterStumbleDigg itDeliciousGoogle ReaderRedditTechnoratiGoogle BuzzYahoo Buzz
DesignfloatDiigoMixxMeneamedesignbumpFurlMagnoliaBlinklistfurlblogmark

205 Responses to "Apa yang Harus Kami Katakan?"

  1. penchenk says:
    Menggunakan Firefox 3.5.1 Firefox 3.5.1 pada Windows XP Windows XP

    Sayahanya bisa tertegun melihat itu semua dan tidak bisa berkata-kata apalgi kecuali semoga bencana di negeri kita cepat berakhir. amin [-o<

  2. genthokelir says:
    Menggunakan Firefox 3.0.14 Firefox 3.0.14 pada Windows XP Windows XP

    semoga semua segera berakhir
    Baca juga tulisan terbaru genthokelir berjudul Pariman Yang Terjungkal My ComLuv Profile

  3. Menggunakan Shiretoko 3.5.3 Shiretoko 3.5.3 pada Ubuntu 9.04 Ubuntu 9.04

    amiiin, semoga demikian, mas.

Leave a Reply

CommentLuv Enabled
«
»
www.batuzakar.netweb hosting indonesia
Catatan Sawali Tuhusetya is proudly powered by WordPress (274 queries: 0.856 seconds)
Valid CSS & XHTML | KBP