Home » Cerpen » Meniti Sembilu

Meniti Sembilu

Cerpen Beni Setia
Dimuat di Suara Karya (09/12/2009)

KEMBALI, lewat Genah: Ibu minta supaya aku pulang sebelum puasa dimulai, untuk berziarah bersama ke makam Bapak-dan terutama membersih kuburan, lantas memperbaiki makam Bapak yang semenjak tiga tahun lalu retak dan ambles separuh. “Apa tidak cukup Rp 2.000.000,- untuk memperbaikinya? Kenapa selalu bilang tidak punya duit untuk sekedar membuatnya utuh sebagai makam berkramik seperti punya Durakhim?” kata Ibu saat Lebaran dua tahun lalu. Aku termangu.

“Gimana, kang?” kata Ginah di seberang. Aku cuma memperhatikan lalu lintas jalanan yang padat di kersang siang Jakarta dari jendela lantai 9, aku tidak tahu harus bilang apa selain mengiyakan. Bilang kalau Sabtu mendatang-dan memburu kembali di kantor pada 18 Agustus mendatang-aku pasti akan pulang. “Bener, kang?” katanya lebih mengharapkan datang dengan membawa oleh-oleh dan bukan sekedar duit untuk memperbaiki makam Bapak. “Iya” gumanku-mematikan telepon setelah terpaksa, seperti biasa, mengontak balik ke telepon rumah Ginah-untuk mendengarkan seluruh keluhan Ibu. Selalu. Senantiasa.
“Jadi mudik?”

“Harus jadi, Wok. Ini sudah telepon ketiga kali. Harus membersihkan makam, harus memperbaiki makam, harus slamatan dan mendoakan agar Bapak tenang.”
“Repot ya,”

Aku tersenyum. Di setiap sebelum puasa aku harus pulang karena itu saat untuk menunjukkan bakti pada orang tua dalam keguyuban bersama seluruh saudara-meski dari Jakarta aku selalu datang sendiri, dan baru pada hari Lebaran aku datang bersama Sumira-istri-dan Ellisa-anak-, lengkap dengan oleh-oleh Jakartaan yang memenuhi mobil. Itu juga setelah separuh darinya dibagikan di rumah mertua di Purwokerto-di mana kami biasanya ikut Idul Fitri dan berhari pertama Lebaran. Lantas, di sore hari-memburu Magrib-kami berangkat ke udik dan lebur di rumah Ibu. Selalu-sejak Mei Sumira sibuk mencicil belanja baju-baju di seantero sale dari tiap Mal di Jakarta. Dan karena itu pula aku selalu memilih berangkat sendiri dengan kereta api, dengan uang lanang khusus, yang tak pernah dianggarkan tiap tahun. Tapi bisakah aku menghindar dari kewajiban-lebih tepatnya: kebiasaan-itu? Tapi tahukah Ibu, Ginah dan yang lain tentang duit lanang khusus yang diam-diam diperoleh dari lembur dan sabetan-yang entah halal entah haram-itu?

* * *

TIDAK seorangpun tahu kalau aku selalu pulang memakai kereta ekonomi-naik dari Jatinegara-cukup dengan membawa ransel berisi handuk, satu celana, tiga kaus, satu kemeja dan tiga CD. Jaket dipakai-dengan perlengkapan mandi dalam kantung depan. Duduk menghenyak dan menikmati jejalan penumpang yang banyak omong di tengah seliweran penjaja makanan dan pengamen. Menikmati sorga karcis Rp 26.000 sambil mengenangkan fakta: aku tak berjarak terlampau jauh dari mereka. Sama-sama harus pulang, berziarah, dan membagikan oleh-oleh-kabar kemakmuran yang bagi sebagian dari mereka mungkin cukup dengan cerita tentang Jakarta dan yang bagiku itu harus berupa sedikit duit.

Sama-sama memendam rasa terkelucak menjadi tumpuan semua harapan, yang tiap tahun-di saat Lebaran terutama-harus selalu berbagi keberhasilan. Semacam doa yang utuh, karena bersinggungan langsung dengan si Santa Klaus yang cukup dengan telepon di tengah malam-mengindari tarif normal interlokal-mereka berharap semua angan dan impian akan terkabul. Ibu minta makam Bapak direhabilitasi padahal pos anggaran untuk hal itu sudah disedot oleh improvisasi kemenakan kawin, bude atau bulik ke RS, dan pinjaman jutaan mendadak yang entah kapan dibayarnya dan harus disegerakan-dari pihakku dan juga dari pihak Sumira.

Tak ada kata mustahil dalam kamus minta mereka, yang diekspresikan dengan penghormatan dan pengistimewaan ketika kami mudik Lebaran tiap tahun-sekaligus minta jatah. “Kenapa kita tak mengembara di Kutoarjo saja,” kata Sumira mengeluh. Sambil tertawa aku bilang, bila lebih dekat merekapun akan lebih sering berkunjung, bahkan untuk sekedar memperbaiki genteng yang pecah. Sumira membelalak. Lantas aku cerita tentang Ginah-yang suaminya hanya guru SD sehingga ia harus membuka toko pracangan-, atau Sumarto, adik Sumira 4 tahun lalu kena PHK, yang mencari nafkah dengan jadi pengendara ojek dan sesekali blantik sapi. “Apa makna semua itu, mas?” katanya. Aku mengangkat bahu.

Dan di tengah semua urbanis itu-sebagian malah bercerita tidak bisa mudik saat Lebaran, tapi lega karena akan berziarah dan slametan bersama keluarga-aku merasa beban itu kini ditanggung bersama, dan karena kami saling mengeluh lantas tertawa bersama. Tak ada kaya, tak ada miskin, tak ada si berpenghasilan Rp 10.000.- sehari atau Rp 5.000.000.- sebulan, dan tak ada yang punya cicilan a Rp 250.- sehari untuk panci kreditan dari si Mang Tasik atau punya kewajiban cicilan Rp 3.000.000.- per bulan untuk mobil kedua. Semua jadi bagian dari kebersamaan, di mana lara miskin di desa disampirkan ke anggapan kami ini di Jakarta hidup berkecukupan. Tapi benarkah begitu? Di kantor, sambil menulis esei sastra sebagai upaya lembur cari duit lanang-dari siapa aku meniru menulis cerpen dengan nama samaran-, Matroji bilang kita ini harus mengucapkan syukur dan mengamininya karena senantiasa didoakan oleh para saudara di desa.

* * *

AKU makan di warung soto depan statsiun. Mengenangkan masa SMA sebelum kuliah di Jakarta-sukses dengan bea siswa Super Semar-, dan momentum ketika aku bimbang berangkat untuk ambil keberhasilan PMDK FISIP. Aku tidak tahu aku harus berlagak bagaimana agar diterima sebagai mahasiswa UI, aku juga tak tahu aku akan tidur di mana bila yang aku punyai hanya biaya makan untuk dua bulan, dan aku lebih memilih tidak akan berangkat kalau Bapak tak mengatakan: “Apakah kamu itu punya pilihan lain, di sini kamu sengsara dan paling banter jadi honorer KB, jadi petani atau pelayan toko-malah tukang becak-, sementara di Jakarta akan sama menderita tetapi tak kehilangan impian. Berangkatlah…!”

Aku berangkat. Tidur di mesjid, dan kemudian memanpaatkan sekretariat Hima Fakultas untuk diam-diam mengetik cerpen dan puisi. Itu membuatku memperpanjang uang makan, dan kemudian membuatku bisa nyewa kamar-dan kontrak nulis novel, yang terbit bersambung, dengan mesin tik pinjaman. Tahun ketiga aku ditawari jadi redaktur. Aku OK selama bisa menyelesaikan membuat skripsi. Di tahun keempat aku menyelesaikannya, membeli tiket KA untuk Bapak, Ibu, Ginah, Gunadi, Gunarto dan Gungun untuk ikut wisuda dan piknik di Jakarta. Di saat itu aku bilang, bahwa semua itu karena dukungan semangat dari Bapak.

Bapak tersenyum. Sambil lalu bilang agar aku mendukung agar semua adik bisa kuliah. Tapi Ginah kawin setamat SMA dengan Warto yang baru lulus SPG, Gunadi dan Gunarto ngambil IKIP dan kini jadi guru di Ambarawa dan Karanganyar, dan si bungsu Gungun tidak jadi apa-apa karena terlalu disubsidi-menikah tiga kali, punya tujuh anak tanpa kerja dan melulu ngrepoti Ibu.

Di warung itu aku dijemput Warto. Lalu pelan-pelan meniti di hamparan sawah gersang yang berdebu tak sempat ditanami kedelai atau semangka, menikmati udara petang yang masih panas, dan merasakan kembali kemiskinan yang memiutku semasa kanak. Saat tidak ada yang bisa diharapkan selain impian berbentuk Aladin, jin atau Dajjal yang menawarkan sedikit kenikmatan meski harus ditukar nyawa. Tak ada yang bisa diharapkan-bahkan air untuk mandi karena yang diutamakan buat minum doang-dan aku memang tak punya harapan. Berkonsentrasi belajar, menyelesaikan SMA dengan angka mencengamgkan dan mendapat bea siswa-ke Jakarta dengan imajinasi yang liar ditumbuhkan kemiskinan dan karenanya produktif menulis. Ingin lari dari kutuk kesekitaran yang miskin-karenanya setiap tahun aku minimal tiga kali pulang: saat mau puasa, saat Lebaran, dan di puncak kemarau ketika semuanya serba sulit.

Pulang untuk meneguhkan kemiskinan dan membangkitkan imajinasi liar-yang jadi sumber utama karier sastra di luar karier jurnalistik yang rasional. Dan justru hal itu yang selalu bangkit ketika membersihkan makan Bapak, memperhatikan makam yang retak dan ambles separuh, dan merasakan sengatan matahari di perbukitan yang seluruh pohonnya ranggas dan rumputnya memutih dan angin membawa panas yang diruapkan pesawahan yang pematangnya remuk disengat siang dan tunggul jeraminya melapuk bagai tengkorak korban perang yang dikubur dangkal-terlantar. Merasakan kemiskinan dan mengenangkan nasihat Bapak, bahwa di sini hanya ada kesengsaraan dan melulu kelucak musim yang memiut semua harapan sementara di Jakarta aku bisa banting tulang dan kepayahan tapi tetap punya impian-harapan.

Hal yang membuat aku malas menjadikan makam Bapak terlihat makmur dengan keramik dan cungkup. Karena-sejak 15 tahun lalu-aku selalu pulang untuk mereguk kepedihan kemiskinan dan kelucak musim, agar punya semangat untuk menaklukkan Jakarta. Memang!***

tentang blog iniTulisan berjudul "Meniti Sembilu" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (28 September 2009 @ 21:52) pada kategori Cerpen. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Tulisan Terkait:

Ada 2 komentar dalam “Meniti Sembilu

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *