Home » Budaya » Dari Khika hingga Joglo Abang

Dari Khika hingga Joglo Abang

Jumat, 25 September 2009, saya mendapatkan kehormatan menerima kedatangan Mas Khika. Ini untuk yang kedua kalinya bloger yang tengah getol mengelola taman baca itu menyambangi gubug saya. Kedatangan yang pertama terjadi sekitar bulan Maret 2009 yang lalu.

Ketika saya mudik beberapa hari sebelumnya, lelaki muda yang masih suka mengembara di sela-sela rutinitas kesehariannya di dunia IT itu memang sempat kontak saya melalui HP. Dia mengabarkan kalau dia sudah berada di Batang, sebuah kota yang bertetangga dekat dengan Kendal. Seperti biasanya, saya mengharapkan Mas Khika untuk bermain ke Kendal jika ada waktu. Alhamdulillah, bloger yang selama ini bermukim di Bogor itu akhirnya benar-benar datang ke gubug saya.

Karena masih harus melanjutkan perjalanan ke Batang, Mas Khika tak bisa berlama-lama ngobrol dengan saya, apalagi keesokan harinya, dia akan menyempatkan diri untuk datang ke markas Jogloabang yang tengah punya hajat menggelar acara halal-bihalal, yang kemudian hendak diteruskan untuk bertemu dengan Mas Totok Sugiarto di puncak Gunung Kelir. Sebelum kabar ini saya sampaikan kepada Mas Khika, saya memang sempat di-sms Mas Ciwir perihal hajat itu. Saya diundang untuk bisa datang ke markas Demang Suryaden itu. Sang Bayang pun juga sempat kontak saya lewat telepon untuk memastikan bisa tidaknya saya datang dalam momen silaturahmi lebaran di Sleman itu.

Namun, dengan berat hati, saya tidak bisa ikut hadir dalam acara yang sesungguhnya sudah lama saya nantikan itu. Bagi saya, Jogloabang saya nilai punya daya pesona dan aura tersendiri. Para penggiat Jogloabang, selain menjadi pioner penggunaan software open source, juga amat peduli terhadap perkembangan lingkungan pedesaan yang selama ini memang telah menjadi “mazab” dalam web komunitasnya. Mohon maaf Mas Suryaden, Mas Ciwir, dan sahabat-sahabat bloger Jogloabang atas ketidakhadiran saya dalam momen silaturahmi yang amat menjanjikan nilai keakraban dan kekeluargaan itu. Mohon dimaklumi, antara 26-29 September ini, saya tidak bisa meninggalkan rumah. Kebetulan saja, tetangga sebelah yang sangat dekat dengan saya dan keluarga, pada 28 September nanti sedang punya hajat mantu. Saya dan keluarga didaulat untuk ikut membantu menyiapkan segala sesuatunya. Kemudian, keesokan harinya, gubug saya jadi tempat pelaksanaan halal-bihalal keluarga besar SMP 2 Pegandon, tempat saya mengajar selama ini.

Obrolan semacam itulah yang saya sampaikan kepada Mas Khika yang tampak begitu bersemangat untuk datang ke Jogloabang.

“Apa tidak kontak dulu ke Mas Suryaden, Mas Khika?” tanya saya.

“Itu yang selalu saya hindari, Pak. Biar ada surprise, hehe …. Apalagi, kalau saya ngobrol dengan Suryaden dan Senoaji…” jawab Mas Khika.

Loh, memangnya kenapa?”

“Ndak pernah bisa akur, Pak, hehe …. Selalu saja ndak ada yang mau ngalah, wakakaka …” selorohnya.

“Walah!”

Meski pertemuan saya dengan Mas Khika cukup singkat, tapi selalu menjanjikan geliat persaudaraan dan keakraban. Bisa jadi, inilah salah satu manfaat ngeblog. Punya banyak sahabat dan saudara. Ke mana-mana hanya tinggal meninggalkan pesan lewat chat, FB, email, atau sms.

Saya pun tak sanggup menahan kepergian Mas Khika yang masih harus melanjutkan perjalanannya ke Batang, ke kampung kelahirannya itu. Ok, Mas Khika, selamat berkelana, semoga lancar dan selamat! ***

tentang blog iniTulisan berjudul "Dari Khika hingga Joglo Abang" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (26 September 2009 @ 02:48) pada kategori Budaya. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Ada 4 komentar dalam “Dari Khika hingga Joglo Abang

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *