Home » Cerpen » Nyanyian Seribu Bulan

Nyanyian Seribu Bulan

Cerpen Abidah El Khalieqy
Dimuat di Jawa Pos (09/13/2009)

Mungkin Hawa namanya. Tak penting! Ia datang setiap malam tanpa salam. Mencari lubang da lam pori-pori kulit ini. Berumah da lam tulang dan menjadi ombak di samudera hati. Ada Ken De des di betis mulusnya. Ada Roro Jonggrang di mata beloknya. Ada De wi Yunani di senyum bibirnya. Ada Fatimah ber bunga-bunga di rambutnya. Ia tegak berdiri dan mencera cau dalam kepalaku. Selalu. Tak kuasa aku menampiknya. Berminggu malam sudah. Berbulan dan tahun mengabadi dalam is tana kesendirianku.

”Maaf, karena telah kerasan!” Ia girang menyapa.

Aku hidup dari sunyi dan Hawa membawaku ter bang melayang-la yang. Katanya kami bakal meng gapai surga. Matanya yang pur nama menulariku mengeja matahari. Ia buka mataku dan me nun tunku memasuki lorong-lorong bumi. Alam ini indah bagi pa ra ilmuwan keindahan, bi siknya. Tapi mataku? Hanya retina dan optik yang perih dan luka. Mungkin silau oleh gempuran cahaya ke indahan yang tiba-tiba.

Begitulah awalnya. Sejak entah aku berdiam di re lung hampa. Pu tus jalinan hati antaraku dan hu bungan darah para handai taulan. Sejak bumi mengafani Ayah dan Ibundaku, mataku kehila ngan matahari. Dan tubuhku kecurian planet. Aku su wung! Berja lan ngelangut sesiang semalam tanpa gigi tanpa kepala. Ruhku, ba­rangkali ruhku saja nyelinap di antara halaman buku sejarah yang ber debu di toko loak.

Sesosok jemari halus memungutnya. Memberi nya sentuhan cin ta. Tergeragap bangun kaget dan bingung. Aku menjurai bayangan liar dan satin. Seperti orang lain, perempuan lain, tak penting sia pa nama, menjebol pintu belakang rumah ber sama angin.

Mata lelah dan sengsara, rambut gimbal baju mo yak, serasa pe ngemis yang datang dari dunia jelaga. Berjalan ia meremas hari tak pasti. Banyak lo rong dan ceruk dari batu-batu dan luka yang mes ti dilewati. Kadang ia menawar senja. Pabila bu rung-burung ber baris syahdu merindu sangkar nya, ia tengadah membuka sebaris gigi keropos yang telah habis dipalu masa. Ia jalan terus mencari ti mur di barat, mengejar utara di selatan.

”Aduhai hari-hariku,” ia cerita apa adanya.

Menerawang. Perempuan itu menjumpa api da­lam gedung ting gi. Api yang disentuhnya de ngan sepuluh jari bersama degup jan tung yang pas ti. Stabil. Matanya berubah menyala. Bibirnya me rekah pink. Berayun-ayun tangannya gemulai me­narikan sebuah melodi.

”Di sini hari masih pagi. Dan selalu pagi.”

Lalu ia tinggal di gedung itu mengeja pagi. Mem baca banyak ma ta dan bau mulut beraneka aroma. Dilihatnya juga banyak ta ngan teracung ke udara. Atau mengepal tinju ke angkasa. Suatu ka li ia kebagian jatah menepukkan dua telapak tangan dalam so rak gembira. Karena tangannya hitam dan berdaki, bertumpuk daki, soraknya terdengar paling kuat. Cukup kuat untuk memutar se kian ratus kepala dari wajah-wajah yang ber minyak pagi.

Tak percaya. Ia kembali bersorak menepuk riang, membahasakan matahari pagi. Tak dinyana pula, ratusan kepala itu menjadi ribuan, me mutar wajahnya menatap tajam kagum dan se nang, ke arah matanya.

”Ke arah mataku mereka memandang,” keluhnya bahagia.

Mata-mata itu lalu berubah jadi api yang membakar dadanya. Pe rempuan itu naik ke podium dan merebut separo simpati dari audiens. Dikunyahnya jam bersama menit dan detik-detiknya. Ter nyata ia lebih canggih dari sekadar mitos dan le genda yang pernah tergantung di pundaknya. Ter senyum ia menikmati karunia yang pernah hi lang itu. Kembali dalam ayunan ibu.

Matahari menyorot dari balik matanya. Seakan tokoh politik yang turun dari podium, perempuan itu lahir kembali jadi beraneka rupa. Berdesakan dalam pasar ikan bau. Suatu kali terlihat tengah sibuk menata menu dalam perjamuan makan ma lam bersama orang-orang penting. Para pah la wan dan penjahat dari berbagai negeri. Kala lain ia tampil dalam fashion show melenggokkan ma ta-mata narsis, dan ratusan mulut buaya yang mendesis. Saat lain pula ia akan bertarung memperebutkan kejua raan dalam arena lomba. Mengalahkan lawan main dengan cara yang muskil.

”Karena hidup, kau mesti terus mengalir,” bi siknya padaku.

Kakinya memanjang berkilometer, beratus ber ibu-ribu, sejauh ja lan membentang. Sampai api yang pernah menyentuhnya jadi hilang, tak sega rang dulu. Maka hilang juga matahari dalam ru­mahnya. Sebab rumah tinggal pilu dan luka. Tak ada yang mesti di­pertahankan dari kampung dan kota yang disesak kebodohan. Jiwa butuh re fre shing. Otak perlu kanal yang mengalir nuju sa mu de ra, melarung hari-hari berkerudung takziah.

”Di mana kau kini, Hawa!?” Aku bertanya.

”Inilah perjalanan pertama dari seribu episode pe­tualangan. Ka rena seluruh bumi adalah asing. Wi layah baru beserta segala yang runtuh. Usai om bak hitam yang bangkit dari tidur lautnya. Te gak tiga tombak. Laju gulung keruk. Satu kilo meter per menit. Sambar apa saja dilalui. Meng ge ram mendesis bak kobra lapar berabad me lahap ma nusia berikut peradabannya. Maka, lihat itu Adam, be tapa bi ngungnya ia tanpa peta. Betapa pusingnya ia terlipat om bak dalam da danya, hing ga peta itu dipinjam laut tak kembali.”

”Tapi aku tahu. Aku mesti jalan ke depan,” te riakku.

”Banyak daerah yang tak dikenal di masa depan. Kau akan kesasar!” jawabnya.

Lalu pergi begitu saja. Lenyap dalam nyanyian se ribu bulan. Pua sa tak henti-henti. Lapar haus meng­geleparkan diri. Gerimis mengundang. Petir dan kabut bergulung meninggalkan jalan be cek ber lumpur. Kampung ramai dikepung pe­nyakit dan air comberan. Aspal rekah berbuih. Ma tahari merah saga membawa pergi semua yang telah diberi nama. Gunung, laut, sungai, batu, pa sir, debu, ber gema di ruang kepalaku. Sampai Adam tiba-tiba datang di si siku, menatap ca kra wala. Mengurai kemegahan hidup yang meng hampar di tepi pantai. Ia resap anginnya. Ia hirup napas semesta. Lalu karam hatinya da lam tum pu kan tanda tanya.

”Di mana kau sem bu nyikan ke kasihmu, sobat?” Aku mem bi sik gelisah telinga nya bersa ma ombak yang kemarin sa pa la ngit dan menjamah da rat dengan kuku Izrail.

”Kau bawa semua, bu kan. Dan kau tinggal kan aku sendiri, ngungun di gigir sepi!”

”Dan pilu,” kataku.

”Hah! Siapa kau?” Ia tergagap, menatapku ba gai kilat.

”Sahabat Izrail. Sang Mikail!”

”Dan urusanmu datang kemari?”

”Urusan kemalaikatan!”

”Haaa!!” Ia tergagap lagi dan pikun.

Batin Adam alzheimer! Benda-benda lenyap da ri batok kepalanya. Puluhan triliun dikira ha nya beberapa puluh miliar. Dolar datang membanjir dari langit hujan persaudaraan, berpuluh kontainer minyak tanah berubah jadi air mata, dari bu mi kembali ke bumi. Di atas derita sebuah ne geri, di atas tindih luka lara, masih juga ada tangan yang mengambil bukan haknya. Begitu mungkin ia berpikir. Seperti Karun sibuk menge lu­pasi mangsa. Mencucup darah sesama sampai sekarat dan koma dalam tiga puluh dua kali dua belas purnama.

”Nyanyian seribu bulan, maksudmu?”

”Bukan.”

”Lalu apa?”

”Kau memang pelupa kelas kakap.”

”Bukan Adam jika tak pelupa.”

Nihil benar jawabnya. Pengungsi akhirat tamu-ta mu dunia. Alangkah aneh dan ajaibnya. Tak me rasa terlempar ke planet asing tak berkampung Tak berkota. Diri tanpa kepala. Burung-burung kembali ke sarang namun kami tak ada rumah tak ada halaman ke mana pulang. Pelancong be nar dunia tanpa halte, bisikku. Dan barak-barak ada lah rombongan mudik ke negeri tanpa istana. Tak ada desir angin. Malam ngungun. Burung-bu rung hilang kicauan. Rumputan diam. Gunung-gu nung menangis. Kami berlelehan air mata.

”Mengapa tanganmu meminjam tangannya, sobat?”

Sendu menyulap sunyi di mata Adam. Dan su nyi menjelma belati. Siap menghunjam meremuk w­ajah kuasa yang bertengger di pucuk sana. Ka rena romantikus pemberontak adalah tanah yang di urap bening air mata. Narsistik! Ia jarang man di karena setia bau tubuhnya. Tak ngaruh nasionalisme semu. Haram laundry karena menghalang upa ya pencarian diri. Ia melihat dunia bagaimana harusnya. Bukan begitu adanya.

”Mengapa, Adam? Nadamu hujatan berseru?”

”Karena amanah yang dikotori. Karena bening langit dicemar lumpur bumi. Hati yang busuk dan sakit!”

”To the point aja,” kataku.

”Semua semu. Harta rakyat diguna tutup hutang ne gara. Tapi orang masih bisa bangga selamatkan negara dalam duka. Hihi, fabiayyi ‘ala irabbikuma tukadzdziban?”

”Ah! Yang benar?”

”Religius bukan?”

”Bukan?!” jawabku keras.

”Bukan! Haha… dari zaman lama sampai yang ba ru, mungkin juga kini, rakyat kita sudah ditabal sebagai modal para kuasa. Bendera hampir hilang warnanya, tinggal tanah menyala api zamrut ka tulistiwa.”

”Gombal, ah!”

”Tak boleh merdeka! Ahistorik namanya. Itu ba ru gombal.”

”Tapi negeri ini tak mau gila. Entar diprovo kasi separatis lagi. Maka itu aku suka seribu bulan di atas danau!” Aku berkata semau-mau.

”Dasar!”

”Emang dasar! Di sini piutang, di sana tumpukan uang! Bikin ekonomi putaran luka. Wal ba la wal laba…”

”Masa iya sih?”

”Kalau mau cari uang tak perlu ke mana-mana. Se perti sepotong hati yang dipaksa mati!”

”Ah! Yang benar?”

Adam alzheimer lagi mengingat semuanya. Pa ra relawan yang berbondong datang mengu sung janji dan pamflet dan panji dan bendera dan partai-partai. Legislatif jadi intip di dasar ketel ibu pertiwi. Tong kosong semua. Ada yang datang dengan truk berisi uang, katanya. Lalu mereka per gi dengan truk tetap penuh. Di hari lain datang lagi hingga purnama jadi gulita. Yang berdiri ha nya kerangka, daging hilang entah ke mana.

”Pilihan raja itu seperti gempa. Bumi diayu n-ge rakkan. Lalu kampung-kampung jadi puing. Ja lanan rekah, gedung-gedung nukik ke bawah. Kemanusiaan hanyalah listrik padam. Hati pecah di kegelapan.”

”Bukan! Tapi bumi sedang ditata ulang. Kam pung-kampung sekarat mesti diremajakan. Aspal usang penuh sejarah korupsi dan pungli perlu diganti. Listrik padam memberi jeda bagi manusia untuk menyepi, berjuang keluar dari pengap du nia penuh tipu dan sesak kotoran.”

”Ini bulan lapar dan dahaga. Kau mesti menang,” kataku.

”Kau sedang mengigau diterjang gempa,” ka tanya.

Aku bergidik. Lalu tergetar. Suasana jiwa timbul tenggelam, mengombak terus tak kuasa diam. Ku rangkum segala pikiran tentang takdir, tak ke temu juga larik puisi, sajak cinta, dan kesimpulan. Ayat suci jadi keranda di televisi. Sorban dan peci haji bergambar ular. Pulau-pulau kepulkan asap naga hitam.

”Bangsa-bangsa yang dihancurkan biasanya akan bangkit lebih cerdas dan gemilang,” katanya lagi.

”Tak usah menghiburku dengan pelajaran sejarah.”

”Setuju, sebab aku butuh sepiring nasi.”

”Sepiring nasi telah raib dari tanganmu, kawan!”

”Bukankah si pencuri paling suka hati?”

”Hati mati di sayap garuda.”

Ingatan mengembara pada baju-baju dan kenda raan. Juga kampung mati, para janda dan piatu. Begitu banyak yang sudah dikorbankan untuk membangun semuanya. Bertahun-tahun. Ber puluh-tahun. Tetapi rupanya, bukan wajahnya, negeri ini selalu ingin digempa dari tidur pan jang. Sementara yang tidur dalam kondisi le bam sakit mules dan diare. Dehidrasi. Deaqua. Demoral. Sesak napas di ranjang yang kotor dan pengap. Rakyat pilu dan megap-megap.

Aku berlari nuju sungai baru. Kotor juga airnya se perti rumah sakit gratisan. Tengok kiri kanan dan mendapati semesta berwajah pasi. Meregang nya wa. Ini sakit akbar tempat berpuluh juta jiwa se karat dan koma. Menunggu sang penyembuh yang kabarnya tengah lelap di atas kursi goyang istana.

Aku tergagap. Merinding bulu kuduk saat bersitatap dengan tampangnya. Ini Adam atau lelaki kuntilanak? Pasti ini salah alamat. Sebab ia ha nya mengikik sebelum kutanya. Sampai aku terkesima. Memandangi guratan tokek di sekujur tubuhnya. Aku tak yakin sedang berhadapan dengan manusia ataukah komodo. Demi sebuah jawaban, nyali kupompa habis.

Dupp! Aku meringis. Revolver itu meletup di ka ki kirinya. Menggesek tulang menembus kulit dan melolonglah ia, jatuh dan mengaduh tak ka ruan. Beberapa orang sibuk dengan niat kebaikan. Tapi lolong itu terus meninggi menembus berjuta daun telinga dan terpana. Bisik-bisik dan takut merajalela. Saling bertanya. Diri ini Adam atau Hawa. Yang ketemu jawabnya malah manusia merana.

Aku tahu bahwa nasib manusia memang ada di tangan Sang Pencipta. Maka itu tak boleh kuasa sesukanya menentukan segala sesuai keinginan. Tapi di balik tangan sang kuasa itu, ada anugerah otak dan pikiran untuk menimbang baik dan buruk, memilih yang mulia dan nista, serta berusaha mencari yang terbaik bagi hidupnya. Itulah pen carian yang kini terus menggema mengumandang di balik kesadaran orang-orang gempa. Ingin mendengar nyanyian seribu bulan dari lidah langit. Seperti ditakdir hidupku dalam sunyi dan Ha wa membawaku terbang melayang-layang, meng hirup aroma surga yang berhembus dari ku bah miring diterjang gempa.

Dan aroma itu selalu datang setiap malam tan pa salam. Mencari lubang dalam pori-pori kulit ini. Berumah dalam tulang dan menjadi ombak di samudera hati. Tapi kini hanya Fatimah berbu nga-bunga di rambutnya. Ia tegak berdiri dan me nyanyi dalam kepalaku. Selalu. Berminggu malam sudah. Berbulan dan tahun mengabadi dalam istana kesendirianku. Pilu negeri ini mendayung ulu hati. Manusia kelimpungan tanpa bin­tang gemerlapan. Redup cahaya di dada. Alam bergolak dan bencana jadi upacara. Bersih bumi ber kali-kali. ***

tentang blog iniTulisan berjudul "Nyanyian Seribu Bulan" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (25 September 2009 @ 21:32) pada kategori Cerpen. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Tulisan Terkait:

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *