Home | Opini, Politik, Refleksi | Ironi di Balik Rencana Pelantikan Wakil Rakyat

Ironi di Balik Rencana Pelantikan Wakil Rakyat

Wednesday, 23 September 2009 (23:10) | 396 pembaca | 140 komentar | Print this Article

Siapa bilang negara kita itu miskin? Tanya saja kepada KPU. Lembaga yang satu ini agaknya punya lumbung duwit. Sekadar untuk upacara pelantikan wakil rakyat saja, mereka tak segan-segan menggelontorkan dana 11 milyar. Byuh! 1 Oktober 2009, bisa jadi menjadi momen yang sangat dinantikan oleh para calon anggota DPR dan DPD terpilih yang memang sudah lama mengincar kursi yang amat “keramat” dan “sakral” itu. Untuk mendapatkan kursi itu, mereka tak segan-segan mengumbar janji di atas mimbar kampanye dan senantiasa berteriak lantang untuk melakukan sebuah perubahan. Masih jelas terngiang dalam gendang telinga kita, betapa mereka akan bersikap amanah dan istikomah terhadap janji yang telah mereka ikrarkan.

wakil rakyatNamun, pengalaman jelas-jelas menunjukkan, janji-janji yang mereka obral tak lebih dari sebuah isapan jempol. Alih-alih menyetiai janji, sekadar rapat saja mereka lebih sering mangkir. Banyak keputusan tertunda karena rapat tidak memenuhi qourum. Tak berlebihan jika sekian draft undang-undang yang masuk ke meja kerja, hanya beberapa di antaranya yang gol menjadi UU. UU yang telah disahkan pun konon dari sisi kualitas masih banyak yang tidak aspiratif terhadap kehendak rakyat. Yang tak kalah menyedihkan, tak sedikit anggota dewan yang tersandung persoalan hukum, mulai korupsi, suap, mark-up anggaran, hingga perselingkuhan.

Dari sisi ini, sungguh ironis kalau upacara pelantikan saja mesti menelan biaya se-gedhe itu kalau pada kenyataannya kinerja mereka belum benar-benar teruji. Karena hal ini berkaitan langsung dengan kepentingan sang wakil rakyat, mengapa tidak menggunakan biaya sendiri? Kenapa jaket, penginapan, akomodasi, dan thethek-bengek-nya mesti menggunakan uang rakyat? Di mana kepekaan dan kepedulian negara terhadap nasib jutaan rakyat yang masih terlunta-lunta meratapi nasib hidupnya yang kurang beruntung? Kenapa harus ada jor-joran duwit hanya sekadar untuk keperluan seremonial yang tak langsung bersentuhan dengan kepentingan rakyat?

Saya bukannya alergi terhadap prosesi seremoni semacam itu. Sebagai simbolisasi bahwa mereka benar-benar resmi telah menjadi wakil rakyat, upacara “penahbisan” agaknya masih diperlukan untuk menyatakan ikrar dan sumpah bersama. Namun, sekali lagi, upacara tak harus dengan cara jor-joran semacam itu. Sikap bersahaja, sebagaimana yang selama ini digembar-gemborkan di tengah jutaan rakyat, pada akhirnya hanya akan terapung-apung dalam bentangan slogan belaka. Kaum elite yang seharusnya menjadi anutan sosial dalam mempraktikkan pola hidup bersahaja justru malah suka pamer kemewahan dan atribut keglamoran di tengah derita rakyat.

wakil rakyatPara calon wakil rakyat yang akan dilantik, mestinya harus sering “turba”, turun ke bawah untuk menyaksikan nasib rakyat secara langsung di lapisan akar rumput yang terus didera nasib tak menentu. Lihat juga nasib petani yang gagal panen akibat mahalnya harga pupuk. Belum lagi jutaan penganggur yang terpaksa harus menjadi beban keluarga dan masyarakat akibat langkanya lapangan kerja. Kalau saja para calon wakil rakyat yang terhormat itu mau sedikit menyisihkan kepekaan dan kepedulian terhadap nasib rakyat, mereka pasti akan merasa malu dilantik dengan prosesi yang sarat nilai hedonisme di tengah nasib jutaan rakyat yang menggelepar di lumpur kemiskinan. Bahkan, mungkin akan menolak dan sepakat secara kolektif untuk mengembalikan anggaran pelantikan itu ke kas negara.

Sungguh, sebuah drama politik yang benar-benar ironis. Kita berharap, anggaran pelantikan masih bisa diperketat, hingga akhirnya masih ada sisa dana yang terselamatkan. Syukur- syukur para calon wakil rakyat kita yang terhormat itu dengan amat sadar mau mengeluarkan dana dari koceknya sendiri untuk kepentingan pelantikan mereka. Kalau ini terjadi, insyaallah, rakyat akan benar-benar angkat topi dan mendukung kinerja mereka hingga akhirnya bisa menyelamatkan masa depan bangsa yang (nyaris) hancur akibat badai krisis multidimensi dan deraan bencana yang terus terjadi dan terus berulang. ***

Kategori: Opini, Politik, Refleksi | Tags: , , , ,

Tulisan lain yang berkaitan:

imgBank Century, Unjuk Rasa, dan Pemakzulan (Saturday, 30 January 2010, 613 pembaca, 125 respon) Istilah “pemakzulan” belakangan ini tiba-tiba menyeruak di tengah hiruk-pikuk kerja Pansus Bank Century. Banyak kalangan menilai, istilah tersebut merupakan manifestasi sikap paranoid dan kekhawatiran yang berlebihan dari penguasa. Kalau Pansus...
imgAntara Facebooker dan Wakil Rakyat (Monday, 9 November 2009, 347 pembaca, 213 respon) Siapa bilang Facebooker itu seorang netter yang hanya bisa meng-update status di dinding, tanpa pernah berbuat apa-apa? Siapa pula bilang kalau Facebooker itu hanya berdiri di puncak menara gading dunia maya hingga tercerabut dari akar sosial-budaya dan...
imgApa yang Harus Kami Katakan? (Saturday, 3 October 2009, 296 pembaca, 205 respon) Apa yang harus kami katakan ketika murka alam bersimaharajelala ketika tangan Tuhan yang Maha Perkasa menggerakkan jarum skala richter ke angka 7,6 ketika lempeng raksasa menggeser posisi palung bumi Apa yang harus kami katakan ketika murka alam...
imgTelevisi dan Pesta Demokrasi (Sunday, 12 April 2009, 1 pembaca, 22 respon) Pesta demokrasi untuk memilih calon wakil rakyat memang telah usai 9 April 2009 yang lalu. Namun, gaungnya masih sangat terasa menggetarkan. Bahkan, tensinya makin meninggi, terutama bagi caleg yang sudah jauh-jauh hari mengorbankan waktu, tenaga,...
imgBilik TPS, Contrengan, dan Nasib Bangsa (Wednesday, 8 April 2009, 263 pembaca, 105 respon) Kamis, 9 April 2009, sudah pasti akan menjadi momen bersejarah. Saat itulah negeri besar berpenduduk lebih dari 220 juta ini telah berkomitmen untuk melakukan sebuah perubahan melalui sebuah hajat demokrasi. Perubahan! Ya, ya, ya, sebuah kosakata yang...
Catatan Sawali Tuhusetya
feeds.feedburner.com
Tulisan berjudul "Ironi di Balik Rencana Pelantikan Wakil Rakyat" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (Wednesday, 23 September 2009 (23:10)) pada kategori Opini, Politik, Refleksi. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Ingin berlangganan gratis? Silakan daftarkan alamat email Anda sekarang juga! Terima kasih dan salam budaya!
Anda juga bisa memublikasikan tulisan ini melalui jejaring sosial/web berikut:
FacebookTwitterStumbleDigg itDeliciousGoogle ReaderRedditTechnoratiGoogle BuzzYahoo Buzz
DesignfloatDiigoMixxMeneamedesignbumpFurlMagnoliaBlinklistfurlblogmark

140 Responses to "Ironi di Balik Rencana Pelantikan Wakil Rakyat"

  1. Menggunakan Firefox 3.6.7 Firefox 3.6.7 pada Windows XP Windows XP

    minta tlg agan2…
    saya mau tanya OS yang bagus pa ya gan
    Baca juga tulisan terbaru baju muslimah berjudul How to Enable WordPress 30 MultisiteMy ComLuv Profile

  2. Menggunakan Firefox 3.5.1 Firefox 3.5.1 pada Windows XP Windows XP

    Apalagi skrg ada dana aspirasi, kacau gan.

  3. Menggunakan Internet Explorer 6.0 Internet Explorer 6.0 pada Windows XP Windows XP

    What are costs for scoring state tests? Do schools bear them?

  4. Menggunakan Internet Explorer 5.5 Internet Explorer 5.5 pada Microsoft Windows NT 4.0 Microsoft Windows NT 4.0

    a rhetorical question isnts a question with no answer, its a question you ask which you either dont want or dont expect an answer to. How old are you before you are said to have died of old age?

  5. Tanah Abang says:
    Menggunakan Firefox 3.0.15 Firefox 3.0.15 pada Windows XP Windows XP

    Miris memang tapi memang begitulah fakta yg masih terjadi…

  6. Sugiarno says:
    Menggunakan Firefox 3.0.13 Firefox 3.0.13 pada Windows XP Windows XP

    Hmm, pingin tambah hancur? Lanjutkan, lanjutkan, dan lanjutkan …! Yang belum mendapatkan giliran penghancuran Allah SWT, harap sabar. Nanti nyampai juga …
    Baca juga tulisan terbaru Sugiarno berjudul 72. REFISI BILANGAN RUPIAH My ComLuv Profile

  7. Menggunakan Google Chrome 4.0.220.1 Google Chrome 4.0.220.1 pada GNU/Linux GNU/Linux

    itulah yang terjadi di negeri ini, mas.

Leave a Reply

CommentLuv Enabled
«
»
www.batuzakar.netweb hosting indonesia
Catatan Sawali Tuhusetya is proudly powered by WordPress (216 queries: 0.826 seconds)
Valid CSS & XHTML | KBP