Home » Opini » Mengembalikan Jati Diri Bangsa: Haruskah Menjadi Sebuah Utopia?

Mengembalikan Jati Diri Bangsa: Haruskah Menjadi Sebuah Utopia?

mengembalikan jati diri bangsaMengembalikan Jati Diri Bangsa? Hmm … setiap kali mendengar ungkapan itu, Yu Jinah menghela napas. Dadanya turun-naik. Wajahnya mendadak memerah saga seperti kepiting rebus. Berkali-kali, perempuan kurus bermata juling itu tak sanggup melawan keresahan yang membadai dalam layar batinnya. Dia tak habis pikir, kenapa Barman Tompel, anak semata wayangnya yang digadang-gadang menjadi “priyayi luhur”, tiba-tiba saja berubah menjadi manusia biadab; tenggelam dalam perilaku amoral, terkurung dalam kubangan lumpur kenistaan, bahkan berkali-kali harus menjadi penghuni penjara? Semakin diingatkan, sikap agresifnya makin menggila. Tampaknya, dinding hati anak muda yang belum genap berusia 25 tahun itu benar-benar telah mengeras sehingga tak sanggup lagi menerima petuah luhur tentang nilai-nilai kebajikan dan kearifan hidup. Hidupnya benar-benar telah dipayungi mahkota Iblis Jahanam yang gelap dan muram.

“Benarkah anakku telah kehilangan jati dirinya? Apa yang harus aku lakukan untuk mengembalikan dia ke jalan yang benar?” Pertanyaan-pertanyaan semacam itu terus menghardik kepekaan nurani Yu Jinah dalam tahajud malamnya. Tak hanya doa-doa suci yang terus dia panjatkan kepada Sang Pemilik Kehidupan, tetapi juga ikhtiar lahiriah yang tak pernah lelah dia lakukan. Berbagai petunjuk dari orang tua dan para ustadz sudah dia terapkan, bahkan, secara diam-diam melakukan tindakan naif dengan menyerahkan nasib anaknya kepada seorang paranormal. Namun, hasilnya tetap saja nihil. Barman Tompel makin jauh tersesat dalam lembah kejahatan dan kenistaan.

Yu Jinah tak tahu pasti, sejak kapan Barman Tompel belajar hidup dalam tumpukan dosa dan kejahatan. Padahal, dia sendiri telah berupaya memberikan teladan yang baik tentang nilai-nilai kehidupan di mata anak tunggalnya itu; ramah, simpatik, peka, jujur, setia kawan, dan sebisa mungkin menghindari kebohongan. Apakah ini kesalahan Yu Jinah yang memberikan kebebasan sepenuhnya kepada Barman Tompel ketika bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya, sampai-sampai dia tak pernah mau ikut campur tangan ketika anaknya berkelahi dengan teman sepermainannya? Apakah bisa dibenarkan kalau orang tua harus ikut-ikutan bermusuhan seperti yang sering dilakukan oleh orang-orang tua masa kini ketika melihat anaknya terlibat dalam sebuah perkelahian?

Kultur Kekerasan
Kisah pilu yang dialami Yu Jinah bisa jadi hanya sebuah fiksi. Namun, jika mau jujur, realitas Indonesia kontemporer agaknya tak jauh berbeda dengan nasib Barman Tompel. Bangsa kita dinilai makin tenggelam dalam kultur kekerasan yang menggurita ke dalam berbagai lapis dan lini masyarakat. Yang lebih mencemaskan, negeri ini dianggap telah kehilangan nilai-nilai kesejatian diri sebagai bangsa yang terhormat dan bermartabat akibat meruyaknya aksi-aksi kekerasan dan vandalisme yang tak henti-hentinya menggoyang sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Bangsa kita yang multikultur dan multiwajah dinilai telah kehilangan sikap ramah. Nilai-nilai keberadaban telah tereduksi oleh sikap-sikap kebiadaban yang membudaya dalam bentuk tawuran pelajar, pemerkosaan, pembunuhan, mutilasi, aborsi, dan berbagai perilaku vandalistis lainnya. Sentimen-sentimen primordialisme berbasis kesukuan, agama, ras, atau antargolongan menjadi demikian rentan tereduksi oleh emosi-emosi agresivitas. Bangsa kita seolah-olah telah menjelma menjadi “homo violens” yang menghalalkan darah sesamanya dalam memanjakan naluri dan hasrat purbanya.

Situasi anomali semacam itu bisa jadi merupakan ekspresi massal akibat akumulasi sikap represif yang dengan sengaja dipraktikkan rezim masa lalu untuk membungkam suara-suara kritis. Bertahun-tahun lamanya, anak-anak bangsa negeri ini “dipenjara” dalam tungku kekuasaan yang serba tertutup, tiran, dan tidak adil. Kesenjangan sosial-ekonomi yang begitu lebar, disadari atau tidak, telah membuat kehidupan masyarakat di lapisan akar rumput menjadi gampang putus asa dan rentan terhadap aksi-aksi kekerasan. Para pakar sosiologi mengemukakan bahwa tekanan ekonomi yang berat bisa menjadikan seseorang atau kelompok sosial tertentu mengalami frustrasi akibat merasa tersingkir dari persaingan hidup komunitasnya. Imbasnya, jika mereka mendapatkan kesempatan untuk melampiaskan frustrasinya, aksi kekerasan dan kerusuhan sosial menjadi cara yang jitu dan “sah” bagi mereka. Lebih-lebih gaya hidup orang kaya baru yang suka pamer kekayaan dan dengan congkak mempraktekkan pola hidup konsumtif yang kontras secara diametral dengan hidup rakyat kecil yang serba tertekan, maka kemungkinan terjadinya konflik dan kerusuhan semakin terbuka.

Akibat pemahaman pola hidup yang salah semacam itu, disadari atau tidak, jati diri bangsa makin tidak jelas dan buram dalam peta kehidupan berbangsa dan bernegara. Sikap hidup instan telah melenyapkan budaya “proses” dalam mencapai sesuatu. Sikap sabar, tawakal, ulet, telaten, dan cermat, yang merupakan entitas kebersahajaan dan kejujuran telah tersulap menjadi sikap menerabas, pragmatis, dan serba cepat. Orang pun jadi semakin permisif terhadap perbuatan-perbuatan yang tidak jujur di sekitarnya. Budaya suap, kolusi, nepotisme, atau manipulasi anggaran sudah dianggap sebagai hal yang wajar. Untuk mengegolkan ambisi tidak jarang ditempuh dengan cara-cara yang tidak wajar menurut etika. Kesibukan memburu gebyar materi untuk bisa memanjakan selera dan naluri konsumtifnya, membuat kepedulian terhadap sesama menjadi marginal. Jutaan saudara kita yang masih bergelut dengan lumpur kemiskinan, kelaparan, dan keterbelakangan, luput dari perhatian.

Mengembalikan Jati Diri Bangsa
Tentu saja, bangsa yang besar ini jangan sampai bernasib seperti si Barman Tompel yang benar-benar telah kehilangan jati dirinya. Dalam konteks demikian, langkah yang dilakukan oleh portal BeritaJitu.com yang menggelar Kontes Seo bertema Mengembalikan Jati Diri Bangsa layak diapresiasi. Dari event ini akan menggema suara para bloger, bagaimana seharusnya bersikap dalam menghadapi makin rumit dan kompleksnya persoalan jati diri bangsa di negeri ini. Jika setiap bloger memiliki opini dan pandangan bagaimana seharusnya jati diri bangsa ini mesti dirajut kembali, setidaknya sudah ada langkah nyata dari para peserta kontes untuk memberikan pencerahan, setidak-tidaknya untuk diri sendiri, keluarga, dan lingkungan terdekatnya.

Saya memutuskan untuk mengikuti kontes ini semata-mata tertarik karena temanya yang nyata-nyata telah menjadi masalah serius buat bangsa dan negeri ini. Kalau murni kontes SEO, saya harus tiarap ketika harus berhadapan dengan para pendekar SEO yang memiliki jurus-jurus maut dan ngedap-edapi.

Yang tidak kalah penting, harus ada upaya serius dari segenap komponen bangsa untuk mengembalikan jati diri bangsa yang dinilai mulai luntur itu.

Pertama, menggali dan merevitalisasi nilai-nilai keramahan dan kearifan lokal, untuk kemudian diaplikasikan secara nyata dalam tataran praksis kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai keramahan dan kearifan lokal juga akan mampu menanggalkan sikap-sikap congkak, dendam, dan kebencian, yang selama ini benar-benar telah membuat bangsa kita terpuruk ke dalam kubangan stagnasi dan situasi yang serba chaos. Empu Tantular lewat Kakawin Sutasoma menggambarkan nilai-nilai kearifan lokal itu lewat idiom: “Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa” (Bermacam-macam sebutannya, tetapi Tuhan itu satu, tidak ada kebenaran yang mendua). Idiom ini, setidaknya menyiratkan makna dan prinsip keberagaman yang telah menyatu ke dalam dinamika dan perjalanan hidup masyarakat di kalangan akar rumput. Tak berlebihan kalau nenek moyang kita bisa bersikap luwes dan lentur dalam menghadapi setiap perubahan; toleran, akomodatif, dan optimistik dalam memandang hidup dan kehidupan.

Kedua, mengoptimalkan fungsi pendidikan nasional untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan karakter dan nilai-nilai multikultural yang selama ini baru sebatas slogan, perlu diintegrasikan secara nyata dalam proses pembelajaran, sehingga siswa didik memiliki benteng yang kokoh dalam menghadapi gerusan budaya global yang demikian dahsyat.

Ketiga, para elite negara, tokoh-tokoh masyarakat, pemuka agama, orang tua, atau pengelola media, perlu bersinergi untuk bersama-sama membangun iklim kehidupan yang nyaman dan mencerahkan di berbagai lapis dan lini kehidupan masyarakat. Demikian juga dari ranah hukum. Perlu diciptakan efek jera kepada para pelaku kekerasan agar tidak terus-terusan mewabah dan memfosil dari generasi ke generasi.

Keempat, lingkungan keluarga juga harus memiliki filter yang kuat terhadap gencarnya arus perubahan yang tengah berlangsung. Dalam konteks demikian, peran orang tua menjadi amat penting dan vital dalam memberdayakan moralitas dan jati diri anak. Orang tualah yang menjadi referensi utama ketika anak-anak sedang tumbuh dan berkembang. Idealnya, orang tua mesti bisa menjadi “patron” teladan. Anak-anak sangat membutuhkan figur anutan moral dan jati diri dari orang tuanya sendiri, yang tidak hanya pintar “berkhotbah”, tetapi juga mampu memberikan contoh konkret dalam bentuk perilaku, sikap, dan perbuatan.

Kelima, masyarakat harus mampu menjalankan perannya sebagai kekuatan kontrol yang ikut mengawasi perilaku kaum remaja kita. “Deteksi” dini terhadap kemungkinan munculnya perilaku kekerasan mutlak diperlukan. Potong secepatnya jalur agresivitas yang kemungkinan akan menjadi “jalan” bagi penganut “mazab” kekerasan dalam menyalurkan naluri agresivitasnya. Ini artinya, dibutuhkan sinergi yang kuat antara dunia pendidikan, orang tua, tokoh-tokoh masyarakat, tokoh-tokoh agama, dan para pengambil kebijakan untuk bersama-sama peduli terhadap perilaku kekerasan yang (nyaris) menjadi budaya baru di negeri ini.

Sungguh, kita sangat merindukan kembalinya jati diri bangsa yang multiwajah dan multikultur dalam balutan nilai keramahan, kearifan, dan fatsun kehidupan di segenap lapis dan lini kehidupan masyarakat. Jangan sampai terjadi pesona kekerasan, arogansi kekuasaan, dan emosi-emosi agresivitas purba yang serba naif, menjadi “fosil” yang makin memperkuat stigma bangsa kita sebagai bangsa bar-bar dan biadab hingga membuat jati diri bangsa benar-benar hancur dan proses mengembalikan jati diri bangsa itu terjebak ke dalam sebuah utopia.

Hmm … bisa jadi Yu Jinah saat ini juga sedang bermimpi, Barman Tompel, anak semata wayangnya, tak lagi terjebak ke dalam kubangan perilaku yang sarat dosa dan kejahatan, tetapi justru sanggup menjadi aktor perubahan; sosok yang memiliki kecerdasan dalam berpikir, memiliki kedewasaan dan kearifan dalam bertindak, serta sanggup melepaskan ikatan-ikatan primordial sempit sehingga mampu memberikan pencerahan sosial dan membangun jati dirinya secara utuh dan “paripurna” di tengah-tengah publik. ***

tentang blog iniTulisan berjudul "Mengembalikan Jati Diri Bangsa: Haruskah Menjadi Sebuah Utopia?" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (1 Agustus 2009 @ 20:26) pada kategori Opini. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Ada 277 komentar dalam “Mengembalikan Jati Diri Bangsa: Haruskah Menjadi Sebuah Utopia?

  1. Pingback: furniture movers warner robins ga

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *