Home » Blog » Sang Bayang dan Hari Jadi Kendal

Sang Bayang dan Hari Jadi Kendal

Sungguh tak terduga, Selasa, 28 Juli 2009, bertepatan dengan Hari Jadi ke-404 Kabupaten Kendal, tempat yang selama ini saya akrabi bersama isteri dan anak-anak, saya kedatangan seorang sahabat bloger bersama bayangannya, demikian sahabat saya itu memberikan sebutan akrab buat isteri tercintanya. Ya, dialah Sang Bayang, bloger asal Ngawi, Jawa Timur, yang alhamdulillah berjodoh dengan perempuan cantik asal Bedono, Ambarawa, Jawa Tengah.

Siang itu, sekitar pukul 13.00, saya mendapatkan telepon dari seseorang yang akhirnya saya ketahui bernama Sang Bayang yang saat itu tengah berada di Boja, Kendal. Saya agak terkejut. Bukankah selama ini Sang Bayang yang saya kenal lewat tulisan-tulisan kritis di blognya tinggal di Ngawi, Jawa Timur?

“Saya kebetulan sedang ada keperluan di Boja, Pak? Jadi kalau boleh saya akan silaturahmi ke rumah Pak Sawali?” jawab Sang Bayang dari balik telepon genggamnya.

“Oh, ya? Sungguh senang kalau Sang Bayang berkenan mampir ke gubug saya. Dengan siapa, Mas?” tanya saya.

“Biasa, Pak, dengan bayangan saya, hehe … Ngomong-ngomong rumah Pak Sawali di mana?” sahutnya bercanda.

“Ok, begini saja. Nanti turun aja di pertigaan Polres Kendal. Kalau sudah sampai, nanti kontak saya, akan saya jemput!” jawab saya.
***

Sambil menyelesaikan tulisan dalam rangka menyambut Hari Jadi ke-404 Kabupaten Kendal, saya terus memantau handphone butut saya untuk berjaga-jaga agar Sang Bayang bisa saya jemput secepatnya. Dari jalan raya sana, mulai terdengar rancak suara gamelan mengiringi barisan karnaval seni yang sengaja ditampilkan sebagai hiburan rakyat di tengah kemeriahan menyambut Hari Jadi Kabupaten Kendal. Sesekali terdengar hentakan kendang dan gong terbawa angin dan menyelusup masuk ke kisi-kisi jendela rumah.

Sekitar pukul 14.45, HP butut saya berdering. Tak salah, nama Sang Bayang yang muncul di layar.

“Saya sudah ada di pertigaan Polres, Pak, di seberang tugu!” kata Sang Bayang.

“Alhamdulillah! Ok, tunggu sebentar, ya, Mas, saya segera meluncur!” sahut saya.

karnavalDengan tak sabar, saya segera ambil kontak dan menyambar helm. Revo biru pun segera meluncur. Hmm … begitu tiba di mulut jalan raya, hampir tak ada ruang yang tersisa untuk melajukan kendaraan. Tepi jalan raya telah penuh sesak dengan para penonton dari berbagai lapisan usia yang ingin menyaksikan iring-iringan karnaval seni rakyat itu. Walhasil, saya pun terpaksa antre untuk bisa mencari celah-celah jalan yang bisa saya lalui. Alhamdulillah, meski harus berjalan merayap, akhirnya saya bisa terlepas juga dari jebakan arus lalu lintas yang macet total itu.

Lebih menyenangkan lagi ketika bertemu dengan Sang Bayang. Begitu tiba di tempat yang dijanjikan, Sang Bayang spontan bisa memastikan kedatangan saya. Senyum ramah pun dilempar. Demikian juga isterinya.

“Sang Bayang?” tanya saya begitu turun dari motor.

“Iya, Pak,” jawabnya sambil berjabatan tangan. “Inilah bayangan saya itu, hehe …,” sambungnya sambil memperkenalkan perempuan cantik di sampingnya.

“Wah, terima kasih banget, Sang Bayang, sudah repot-repot mau mampir ke Kendal. Maaf, jalanan agak macet, sedang ada karnaval seni, hehe …”

“Nggak apa-apa, Pak!”

Setelah sejenak berbasa-basi, Sang Bayang dan isterinya segera saya ajak ke rumah. Agak bingung juga mau mengambil jalan pulang. Semua jalan tertutup rapat oleh barisan karnaval seni dan penonton. Belum lagi bus, truk, atau kendaraan lain dari arah Barat yang macet total. Terpaksa, saya mengambil jalan memutar lewat pematang sawah. Inilah alternatif satu-satunya untuk bisa sampai ke rumah. Alhamdulillah, meski sedikit repot, akhirnya tiba juga Sang Bayang dan isterinya di gubug saya.
***

sang bayangSeperti biasa, obrolan pun segera tumpah. Ada banyak hal yang kami obrolkan, mulai soal keluarga, aktivitas ngeblog, hingga komunitas bloger yang mulai eksis dan menggeliat. Ternyata, Sang Bayang sosok bloger yang santun, ramah, dan hampir tak pernah kehabisan alur pembicaraan. Selalu saja pintar membangun mozaik pembicaraan yang menarik. Tempel-menempel, sambung-menyambung, hingga membuat obrolan jadi terasa gayeng. Sayangnya, obrolan menarik itu harus berakhir sekitar pukul 17.15. Di jalan raya sana, karnaval seni dalam rangka memeriahkan Hari Jadi ke-404 Kabupaten Kendal itu agaknya sudah usai. Sesekali hanya terdengar deru kendaraan yang berpacu melintasi jalanan beraspal yang kering dan penuh polusi.

“Maaf, Pak, kami terpaksa mohon pamit. Kami harus segera melanjutkan perjalanan ke Ambarawa. Esok paginya harus segera meluncur ke Ngawi,” kata Sang Bayang.

Begitulah, Sang Bayang hadir bertepatan dengan momen Hari Jadi Kabupaten Kendal. Saya tak sanggup mencegahnya ketika perjalanan Sang Bayang mesti dilanjutkan. Agaknya, Sang Bayang juga tergolong bloger yang tak kenal lelah. Beberapa hari sebelumnya, dia juga baru saja mengikuti Wisata Bloger yang digelar bertepatan dengan peluncuran Komunitas Bloger Serayu di Wonosobo (Mohon maaf saya tidak bisa ikut hadir). Terima kasih Sang Bayang, selamat jalan, semoga lancar dan selamat sampai ke tujuan!***

tentang blog iniTulisan berjudul "Sang Bayang dan Hari Jadi Kendal" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (31 Juli 2009 @ 01:06) pada kategori Blog. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Ada 110 komentar dalam “Sang Bayang dan Hari Jadi Kendal

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *