Home » Budaya » Spirit Tumenggung Bahureksa dan Dinamika Kendal Beribadat

Spirit Tumenggung Bahureksa dan Dinamika Kendal Beribadat

(Refleksi Hari Jadi ke-404 Kabupaten Kendal)

Hari ini, Selasa, 28 Juli 2009, Kendal berulang tahun ke-404. Usia yang –tentu saja–sudah terbilang sangat tua, kenyang pengalaman, dan sarat dengan dinamika hidup. Dalam usianya yang lebih dari empat abad, Kendal tidak saja diharapkan menjadi ikon sebuah kota yang kebetulan menjadi pusat pemerintahan kabupaten, tetapi juga mampu menjadi daerah yang nyaman bagi segenap warganya dalam menghadapi tantangan peradaban yang makin rumit dan kompleks.

Menyebut nama Kendal, sudah pasti ingatan kolektif kita tak bisa melupakan sebuah pohon yang cukup legendaris, yakni pohon Kendal. Konon, pohon yang berdaun rimbun itu sudah dikenal sejak masa Kerajaan Demak pada tahun 1500 – 1546 M, yaitu pada masa Pemerintahan Sultan Trenggono. Pada awal pemerintahannya tahun 1521 M, Sultan Trenggono pernah memerintah Sunan Katong untuk memesan pusaka kepada Pakuwojo. Peristiwa yang menimbulkan pertentangan dan mengakibatkan pertentangan dan mengakibatkan kematian itu tercatat dalam Prasasti. Bahkan, hingga sekarang makam kedua tokoh dalam sejarah Kendal yang berada di Desa Protomulyo Kecamatan Kaliwungu itu masih dikeramatkan masyarakat secara luas. Menurut kisah, Sunan Katong pernah terpana memandang keindahan dan kerindangan pohon Kendal yang tumbuh di lingkungan sekitar. Sambil menikmati pemandangan pohon Kendal yang tampak “sari” itu, Beliau menyebut bahwa di daerah tersebut kelak bakal disebut “Kendalsari”. Pohon besar yang oleh warga masyarakat disebut-sebut berada di pinggir Jalan Pemuda Kendal itu juga dikenal dengan nama Kendal Growong karena batangnya berlubang atau growong.

Dari kisah tersebut diketahui bahwa nama Kendal dipakai untuk menyebutkan suatu wilayah atau daerah setelah Sunan Katong menyebutnya. Kisah penyebutan nama itu didukung oleh berita-berita perjalanan orang-orang Portugis yang oleh Tom Peres dikatakan bahwa pada abad ke 15 di Pantai Utara Jawa terdapat Pelabuhan terkenal yaitu Semarang, Tegal dan Kendal. Bahkan oleh Dr. H.J. Graaf dikatakan bahwa pada abad 15 dan 16 sejarah Pesisir Tanah Jawa itu memiliki yang arti sangat penting.

Spirit Tumenggung Bahureksa
Nama Kendal juga tak bisa dipisahkan dari kisah heroik Tumenggung Bahureksa, bupati Kendal yang pertama. Dalam sejarah Kabupaten Kendal disebutkan, ada seorang pemuda bernama Joko Bahu putra dari Ki Ageng Cempaluk yang bertempat tinggal di daerah Kesesi, Kabupaten Pekalongan. Joko Bahu dikenal sebagai orang yang mencintai sesama dan pekerja keras, hingga Joko Bahu pun berhasil memajukan daerahnya. Atas keberhasilan itulah akhirnya Sultan Agung Hanyokrokusumo mengangkatnya menjadi Bupati Kendal bergelar Tumenggung Bahurekso. Selain itu, Tumenggung Bahurekso juga diangkat sebagai Panglima Perang Mataram pada tanggal 26 Agustus 1628 untuk memimpin puluhan ribu prajurit menyerbu VOC di Batavia. Pada pertempuran 21 Oktober 1628 di Batavia, Tumenggung Bahurekso beserta kedua putranya gugur sebagai Kusuma Bangsa. Dari perjalanan Sang Tumenggung Bahurekso memimpin penyerangan VOC di Batavia pada tanggal 26 Agustus 1628 itulah kemudian dijadikan patokan sejarah lahirnya Kabupaten Kendal.

Pada perkembangan lebih lanjut, dengan momentum gugurnya Tumenggung Bahurekso sebagai penentuan Hari jadi, dinilai beberapa kalangan kurang tepat. Karena momentum tersebut merupakan sejarah kelam bagi seorang tokoh yang bernama Bahurekso. Jika tanggal tersebut diambil sebagai momentum hari jadi dikhawatirkan akan membawa efek psikologis. Munculnya istilah “gagal dan gugur” dalam mitologi Jawa dikhawatirkan akan membentuk bias-bias kejiwaan yang berpengaruh pada perilaku pola rasa, cipta, dan karsa warga Kabupaten Kendal, sehingga dirasa kurang tepat jika dijadikan sebagai pertanda awal mula munculnya Kabupaten Kendal.

Berdasarkan hasil seminar, 15 Agustus 2006, dengan mengundang para pakar dan pelaku sejarah, seperti Prof. Dr. Djuliati Suroyo (guru besar Fakultas Sastra Undip Semarang), Dr. Wasino, M.Hum. (dosen Pascasarjana Unnes), H. Moenadi (tokoh masyarakat Kendal) dengan moderator Dr. Singgih Tri Sulistiyono serta setelah diadakan penelitian dan pengkajian secara komprehensif, menyepakati dan menyimpulkan bahwa momentum pengangkatan Bahurekso sebagai Bupati Kendal, dijadikan titik tolak diterapkannya hari jadi. Pengangkatan tersebut bertepatan pada 12 Rabiul Awal 1014 H atau 28 Juli 1605. Tanggal tersebut persis hari Kamis Legi malam Jumat Pahing 1527 Caka. Penentuan Hari Jadi ini selanjutnya ditetapkan melalui Peraturan Daerah (PERDA) Kabupaten Kendal Nomor 20 Tahun 2006, tentang Penetapan Hari Jadi Kabupaten Kendal (Lembaran Daerah No. 20 Tahun 2006 Seri E nomor 15).

Tanpa bermaksud untuk tenggelam dalam romantisme masa silam, spirit Tumenggung Bahureksa ini agaknya perlu terus direvitalisasi dan ditumbuhkembangkan ke dalam sanubari setiap warga dengan segenap para elitenya dalam membangun wilayah Kendal yang terletak pada 109,40′- 110,18′ Bujur Timur dan 6,32′ – 7,24′ Lintang Selatan ini. Jangan sampai sejarah tragis dan berdarah-darah yang pernah dialami oleh para pendahulunya hanya memfosil dalam buku-buku sejarah hingga akhirnya tenggelam dan tak terlihat lagi dalam peta sejarah kabupaten seluas 1.002,23 Km2 memiliki 20 kecamatan dengan 265 desa serta 20 kelurahan ini.

Pertemuan Dua Kultur
Secara umum, wilayah Kabupaten Kendal terbagi menjadi 2 (dua) daerah dataran, yaitu daerah dataran rendah (pantai) dan daerah dataran tinggi (pegunungan). Wilayah Kabupaten Kendal bagian utara merupakan daerah dataran rendah dengan ketinggian antara 0-10 meter dpl, yang meliputi Kecamatan Weleri, Rowosari, Kangkung, Cepiring, Gemuh, Ringinarum, Pegandon, Ngampel, Patebon, Kendal, Brangsong, Kaliwungu, dan Kaliwungu Selatan. Wilayah Kabupaten Kendal bagian selatan merupakan daerah dataran tinggi yang terdiri atas tanah pegunungan dengan ketinggian antara 10 – 2.579 meter dpl, meliputi Kecamatan Plantungan, Pageruyung, Sukorejo, Patean, Boja dan Limbangan.

Sesuai dengan kondisi geografis yang unik semacam itu, Kabupaten Kendal juga mempertemukan dua kultur yang berbeda. Daerah dataran rendah dengan kultur bahari dan industrinya yang kuat dan daerah pegunungan dengan kultur agraris dan kekayaan seni rakyatnya yang menonjol, bisa jadi akan mampu memberikan nilai tambah bagi kabupaten berslogan “Beribadat” ini. Dengan tampilan dua kultur yang berbeda, para elite dengan dukungan segenap warga Kabupaten Kendal diharapkan sanggup terus menggali nilai-nilai kearifan lokal yang akan mewarnai dinamika kabupaten yang kaya objek wisata ini.

Persoalannya adalah bagaimana agar potensi kultural yang unik dan eksotis ini bisa terus direvitalisasi dan ditumbuhkembangkan hingga menjadi modal sosio-kultural yang akan mengawal gerak dan dinamika Kabupaten Kendal di tengah hiruk-pikuk peradaban. Dengan karakter masyarakatnya yang religius, modal sosio-kulural semacam itu diyakini akan mampu membangun “mozaik” Kendal menjadi sebuah kabupaten yang maju, dinamis, dan modern, tanpa harus kehilangan nilai-nilai kearifan lokal.

Tentu saja, gerak dan dinamika Kabupaten Kendal tak hanya tergantung dari sekelompok elite-nya. Kerja sama dan kolaborasi sinergis dari segenap warga masyarakat beserta stakeholder-nya menjadi sebuah keniscayaan. Dengan mengusung tema “Dengan Semangat Hari Jadi Kabupaten Kendal Ke-404, Kita Wujudkan Kerja Ikhlas, Nyata, dan Dinamis”, semoga ini menjadi momentum yang tepat bagi Kabupaten Kendal untuk mewujudkan slogan “Beribadat” (Bersih, Indah, Barokah, Damai, Aman, dan Tertib) yang sudah disandang sejak tahun 1991 itu.

Nah, Dirgahayu Kabupaten Kendal dan Selamat Menyongsong Sebuah Perubahan!

tentang blog iniTulisan berjudul "Spirit Tumenggung Bahureksa dan Dinamika Kendal Beribadat" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (28 Juli 2009 @ 19:32) pada kategori Budaya. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Ada 110 komentar dalam “Spirit Tumenggung Bahureksa dan Dinamika Kendal Beribadat

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *