Wednesday, 19 June 2013

ARSIPBUKU TAMUKRITIK CERPENPASANG IKLANTAUTANUNDUHBAHASABLOGBUDAYAOPINIPENDIDIKANSASTRA

Saturday, 18 July 2009 (02:33) | Opini | 3,079 pembaca | 84 komentar | Print this Article

teror bomJakarta kembali berdarah-darah. Untuk ke sekian kalinya, ibukota negara yang menjadi magnet segala geliat dan dinamika kehidupan itu diguncang teror bom. Jumat pagi, 17 Juli 2009, sekitar pukul 07.45 dan 07.48 WIB, dua bom meledak di dua tempat yang berbeda pada saat yang hampir bersamaan, yaitu Hotel JW Marriott di kawasan Mega Kuningan dan Hotel Ritz Carlton di kawasan SBCD. Akibatnya jatuh puluhan korban luka dan beberapa korban tewas, sebagiannya adalah warga asing.

Sungguh, ini sebuah tragedi kemanusiaan yang layak dikutuk oleh para pendamba kedamaian hidup. Apa pun motif dan dalihnya, cara-cara keji semacam ini jelas tak bisa diterima. Kita tak bisa membayangkan duka mendalam dari keluarga korban. Tak hanya lepasnya nyawa dari raga, tetapi juga potongan tubuh tanpa kepala, sepasang kaki yang tak jelas lagi di mana rimbanya, atau bahkan mungkin juga identitas korban yang tak lagi bisa dikenali. Korban luka-luka juga tak hanya menderita secara fisik, tetapi secara psikis juga bisa mengalami trauma berkepanjangan.

Dalam pandangan awam saya, pelaku teror bom ini tak ubahnya sosok manusia yang telah mengalami kebangkrutan nurani sehingga tega berbuat biadab dan menjadi predator bagi sesamanya. Mereka telah kehilangan akal sehat dan tak tahu harus berbuat apa dalam memanjakan naluri agresivitasnya, kecuali dengan berbuat keonaran dan menciptakan situasi publik yang tak menentu.

Disadari atau tidak, meruyaknya kembali teror bom di negeri ini bisa menghancurkan citra dan mitos lama sebagai bangsa yang santun dan beradab. Terlepas siapa pun pelakunya, Indonesia dengan mudah akan mendapatkan stigma sebagai sarang teroris. Kelambanan kolektif bangsa kita dalam menyiasati situasi agaknya dengan mudah dimanfaatkan oleh para teroris untuk membuat situasi chaos dan menciptakan metamorfosis kecemasan.

Jika situasi chaos dan sarat kecemasan semacam ini tidak bisa segera teratasi bukan tidak mungkin bangsa kita akan makin tenggelam dalam kubangan krisis multidemensi. Dampak yang sudah pasti akan muncul adalah makin berkurangnya devisa negara dari sektor pariwisata akibat kebijakan “travel warning” yang diserukan oleh negara-negara asing. Para investor juga merasa tidak nyaman menggelontorkan sejumlah dana ke negeri kita, sehingga akan berdampak sangat buruk terhadap lalu lintas perekonomian. Belum lagi dampak merosotnya tingkat kepercayaan dunia luar terhadap keamanan dan kenyamanan berada di Indonesia.

Kita sangat berharap, naluri aparat keamanan dalam mencium bau teror bom makin peka, sehingga bisa melakukan deteksi dini terhadap kemungkinan terjadinya aksi-aksi biadab semacam itu. Kita juga perlu terus memberikan dorongan dan semangat kepada aparat keamanan untuk memburu para pelaku teror bom agar mempertanggungjawabkan semua aksi kejinya itu.

Namun, agaknya tidak cukup menyerahkan semua persoalan yang rumit dan kompleks ini kepada aparat keamanan semata. Dibutuhkan kesadaran kolektif semua komponen dan elemen masyarakat untuk menjadikan gerakan teror bom dan sejenisnya sebagai “musuh bersama”. Dengan cara semacam ini, ruang gerak kaum teroris kian menyempit hingga akhirnya mereka tak punya kekuatan untuk menjalankan skenario dan aksi-aksi brutalnya.

Semoga aksi teror bom ini tak ada kaitannya dengan persoalan politik pasca-pilpres seperti yang santer berhembus di media itu. ***

Tags:

Tulisan berjudul "Teror Bom dan Kebangkrutan Nurani" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (18 July 2009 @ 02:33) pada kategori Opini dan telah dikunjungi oleh 3,079 pembaca. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda.

Tulisan lain yang berkaitan:

Hari Ibu dan Nasib TKW yang “Ternistakan” (Thursday, 22 December 2011, 2,952 pembaca, 47 respon) Hari ini, Kamis, 22 Desember 2011, seharusnya kaum perempuan di negeri ini terbebas dari segala macam bentuk kekerasan dan penindasan. Pada hari yang...
Menggelorakan Semangat “Historia Vitae Magistra” (Monday, 12 December 2011, 2,786 pembaca, 12 respon) Ada yang menarik dalam bedah Kumcer Nyanyian Penggali Kubur (NPK) karya Gunawan Budi Susanto (Kang Putu) yang digelar Kebun Sastra Kendal di Balai...
Di Balik Kematian Muammar Khadafi (Friday, 21 October 2011, 4,513 pembaca, 33 respon) Apa respon dunia begitu mendengar kematian Muammar Khadafi? Ya, ya, selalu saja muncul dua sikap yang kontras; empati atau antipati, di balik...
Ada apa dengan Kandidat Intelektual Kita? (Saturday, 24 September 2011, 3,111 pembaca, 44 respon) Untuk ke sekian kalinya dunia pendidikan kita kembali tercoreng ulah kaum pelajar dan mahasiswa yang mempraktikkan aksi premanisme dan bar-bar. Para...
Bimasena: Antara Keperkasaan dan Kelembutan Hati (Tuesday, 24 May 2011, 4,986 pembaca, 24 respon) Penduduk Ekacakra resah. Mereka hidup dalam tekanan dan ketakutan. Maut mengintai dari berbagai sudut kampung dan kota. Bau teror dan kekerasan...

84 komentar: "Teror Bom dan Kebangkrutan Nurani"

    Leave a Reply

    «
    »