Refleksi Akhir Tahun Pelajaran
Friday, 3 July 2009 (15:49) | 329 pembaca | 62 komentar | Print this Article



Jika tak ada aral melintang, 13 Juli nanti merupakan hari pertama masuk sekolah. Selalu saja ada romantisme baru yang bersemayam dalam gendang nurani kita setiap kali memasuki tahun pelajaran baru. Harapan baru, semangat baru, seragam baru, dan atribut-atribut yang serba baru lainnya tak jarang mewarnai langkah-langkah yang penuh optimisme menyambut sebuah perubahan. Meski demikian, tak ada salahnya kita melakukan flash-back sekadar untuk melakukan refleksi agar langkah-langkah yang penuh optimisme dalam menyambut perubahan itu makin terarah dan visioner.
“Historia magistra vitae”, sejarah adalah guru kehidupan, begitulah kata para bijak bestari. Sebuah perubahan tak akan pernah bisa melupakan sejarah masa silam. Ia bisa menjadi cermin untuk melakukan evaluasi hingga berhasil ditemukan langkah-langkah cerdas guna menyusun langkah-langkah strategis dan mencerahkan.
Ya, ya, ya, kalau kita mau jujur, pendidikan di negeri ini belum seutuhnya menjadi “panglima” dalam membangun sebuah peradaban yang terhormat dan bermartabat. Pendidikan selalu digembar-gemborkan sebagai investasi sumber daya masa depan; ia juga dielu-elukan sebagai “kawah candradimuka” untuk menggembleng anak-anak bangsa masa depan yang cerdas, terampil, dan bermoral. Namun, realitas yang terjadi, justru sebaliknya. Tak sedikit suprastruktur pendidikan yang “salah urus” hingga membuat dinamika dunia pendidikan kita mengalami stagnasi.
Menurut pemahaman awam saya, setidaknya ada empat kebijakan publik yang justru membuat dunia pendidikan kita makin tidak visioner, yakni UU Badan Hukum Pendidikan (BHP), sertifikasi guru, program Buku Sekolah Elektronik (BSE), dan Ujian Nasional (UN).
Pertama, UU BHP. Seperti yang pernah saya tulis di sini bahwa UU BHP dinilai akan makin mempersempit gerak anak-anak dari kalangan tak mampu untuk mengenyam bangku pendidikan karena seluruh peserta didik harus menanggung biaya sebesar satu per tiga dari seluruh biaya operasional dalam pendidikan menengah atau pendidikan tinggi. Ketika dunia pendidikan sudah dicemari oleh kepentingan-kepentingan komersil, maka yang terjadi kemudian adalah proses pengebirian talenta dan potensi peserta didik. Bagaimana mungkin tidak terkebiri kalau anak-anak dari kalangan keluarga tak mampu yang sebenarnya memiliki otak cemerlang, akhirnya harus tersingkir dari bangku pendidikan yang diincarnya? Dampak paling berbahaya yang ditimbulkan oleh praktik komersialisasi pendidikan adalah tumbuh suburnya budaya korupsi, kolusi, dan manipulasi (KKN). Ibarat dalam dunia bisnis, setiap rupiah yang dikeluarkan harus menghasilkan keuntungan sehingga kelak ketika menjadi pejabat atau pengambil kebijakan, mereka dikhawatirkan akan menggunakan cara-cara licik dan korup untuk mengembalikan modal yang telah dikeluarkan selama menuntut ilmu.
Kedua, sertifikasi guru. Tujuan program ini sesungguhnya cukup ideal, yakni untuk melahirkan guru profesional yang memiliki kompetensi pedagogis, profesional, sosial, dan kepribadian. Guru yang dinyatakan lulus uji sertifikasi akan mendapatkan sertifikat pendidik dan akan menerima tunjangan profesi sebesar satu kali gaji pokok. Dengan tingkat kesejahteraan yang memadai, etos kerja guru diharapkan dapat meningjat sehingga akan berdampak positif terhadap kualitas pendidikan. Namun, program ini mulai bermasalah ketika proses uji sertifikasi guru yang dilaksanakan dalam bentuk portofolio diduga terjadi penyimpangan. Banyak dokumen yang diduga palsu, sehingga tidak mencerminkan kompetensi yang sesungguhnya.
Ketiga, program BSE. Program yang dimaksudkan untuk menyediakan buku murah bagi rakyat ini ternyata justru terkesan elitis dan tidak berpihak pada rakyat yang sebagian besar tinggal di daerah pedesaan dan masih “rabun” internet. Bagaimana mungkin sekolah yang berada di lereng-lereng gunung dan lembah bisa menggunakan BSE kalau jaringan infrastruktur internetnya masih payah? Yang lebih ironis, Pusat Perbukuan (Pusbuk) sendiri agaknya tidak siap untuk membeli hak cipta penulis buku yang dinyatakan lolos. Hal itu terbukti dari banyaknya keluhan dari penulis buku teks yang bukunya dinyatakan lolos uji, tetapi tak jadi dibeli. Selain itu, BSE juga telah menghancurkan penerbit buku teks yang selama ini telah ikut berkiprah dalam menyediakan berbagai macam buku pelajaran untuk kepentingan dunia pendidikan. Hanya penerbit tertentu yang sanggup mencetak BSE. Itu pun dipilih BSE yang diperkirakan bisa memberikan profit dengan menerbitkan buku-buku teks yang belum teruji benar kualitasnya. Dengan buku-buku teks seadanya yang diduga telah mereduksi dan mempersempit ranah pemikiran siswa didik, bagaimana mungkin generasi masa depan negeri ini bisa tumbuh menjadi generasi yang cerdas secara intelektual, emosional, sosial, dan spiritual?
Keempat, kebijakan UN. Ini persoalan klasik yang sudah lama menimbulkan pro-kontra. Namun, agaknya pemerintah bersikukuh bahwa UN akan mampu mendongkrak mutu pendidikan. Kalau melihat praktik kecurangan yang terus terjadi dari tahun ke tahun tanpa tindakan yang jelas dan tegas, agaknya terlalu berlebihan kalau UN didesain untuk meningkatkan mutu pendidikan. Kenyataan menunjukkan, ketentuan UN sebagai penentu kelulusan, disadari atau tidak, telah membuat banyak pihak (orang tua, sekolah, atau pejabat daerah) kebakaran jenggot. Imbasnya, mereka menempuh berbagai cara untuk meluluskan siswanya. Hal itu diperparah dengan pengumuman peringkat hasil UN oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), mulai tingkat sekolah, kabupaten/kota, provinsi, hingga nasional. Pemeringkatan semacam ini sesungguhnya tak lebih dari sebuah penerapan teori labeling dan pencitraan membabi buta. Siapa pun mereka, tak mau berada di peringkat terbawah, sehingga perlu menempuh cara-cara licik dan culas sekalipun, demi mempertahankan gengsi, martabat, citra, dan marwah pihak yang bersangkutan. Jika kondisi semacam ini tak mengalami perubahan, agaknya dunia pendidikan akan terus berada dalam lingkaran pembusukan yang sangat tidak menguntungkan bagi bangsa.
Oleh karena itu, perlu ada upaya serius untuk mengkaji ulang keempat kebijakan publik ini agar dunia pendidikan kita ke depan bisa menghasilkan generasi masa depan yang cerdas, terampil, dan bermoral seperti yang diharapkan.
Pertama, jika UU BHP tidak mungkin lagi ditolak, perlu ada revisi terhadap klausul-klausul yang mengarah pada upaya pendiskriminasian siswa didik dalam mengakses pendidikan. Berikan kesempatan dan buka pintu selebar-lebarnya buat anak-anak miskin bertalenta hebat untuk mengembangkan potensi dirinya hingga mereka kelak bisa ikut berkiprah dalam membangun bangsa, sehingga tak terus-terusan mewarisi kemiskinan orang tuanya.
Kedua, jika pemerintah berkeinginan untuk meningkatkan kesejahteraan guru, berikan penghargaan kepada guru secara menyeluruh sesuai dengan masa kerja dan prestasinya dengan terus berupaya untuk meningkatkan pemberdayaan guru secara simultan. Program ini akan terasa lebih mengena ketimbang melalui uji sertifikasi yang diduga sarat dengan kecurangan dan manipulasi. Selain itu, sertifikasi guru juga telah menimbulkan “kecemburuan sosial” antarsesama guru dalam satu unit kerja sehingga bisa menjadi “bluder” bagi institusi pendidikan dalam menjalankan program-programnya. Guru yang memiliki masa kerja lebih lama akan cenderung bersikap apatis dan masa bodoh karena dinyatakan tidak memenuhi syarat untuk menerima sertifikat pendidik.
Ketiga, pemerintah diharapkan tetap memiliki komitmen untuk menyediakan buku murah bagi rakyat. Bukan dalam bentuk BSE, melainkan menerbitkan dan mendistribusikan buku-buku yang sudah dinyatakan lolos uji dalam versi cetakan kepada seluruh sekolah di wilayah Indonesia. Kalau masih dalam bentuk BSE dan membebaskan kepada siapa saja untuk memperdagangkannya, maka yang terjadi adalah maraknya buku-buku berkualitas rendah yang bisa memberikan keuntungan finansial kepada penerbit tertentu.
Keempat, jangan jadikan UN sebagai penentu kelulusan, tetapi sebagai alat pemetaan mutu pendidikan secara nasional. Serahkan bobot kelulusan kepada satuan pendidikan masing-masing, sehingga akan terlihat sekolah mana yang sudah sesuai dengan standar nasional dan yang belum. Sekolah yang belum mampu memenuhi standar nasional perlu dipantau dan diberikan kemudahan dalam mendapatkan subsidi dan fasilitas, sehingga bisa mengurangi kesenjangan dengan sekolah lain yang dianggap lebih maju. Sungguh ironis kalau sarana, prasarana, dan fasilitas sekolah berbeda-beda, tetapi dituntut harus memenuhi standar kelulusan yang sama. Inilah yang menyebabkan kecurangan demi kecurangan terus terjadi.
Kalau memang pendidikan di negeri ini hendak didesain sebagai medium untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, mau atau tidak, perlu ada perubahan siginifikan dengan terus-menerus melakukan kaji-ulang terhadap kebijakan publik yang dianggap kurang berpihak terhadap upaya peningkatan mutu pendidikan. Selanjutnya, lakukan terobosan visioner yang mampu memberikan sentuhan substansial yang bermakna dan bermanfaat bagi kemajuan dunia pendidikan. ***









































zenteguh
Firefox 2.0.0.20 dan
Mac OS X
Friday, 3 July 2009 @ 17:41
wah, ingin rasanya sekolah maning pak. Seru..
Reply
Sawali Tuhusetya (Monday, 6 July 2009 @ 03:58)
yuk, kita sekolah kembali aja, mas teguh, hehe …. lucu juga bisa mengenang masa kecil, haks.
Reply
zenteguh
Firefox 2.0.0.20 dan
Mac OS X
Friday, 3 July 2009 @ 17:41
lho pertamaxx, miracle ini…
Reply
Sawali Tuhusetya (Monday, 6 July 2009 @ 03:59)
doh, kenapa mesti dianggap sbg keajaiban, mas teguh? wong bukan milik seleb blog, kok, hehe …
Reply
suryaden
Firefox 3.0.11 dan
Mac OS X
Friday, 3 July 2009 @ 18:33
memang seharusnya nggak usah pakai banyak undang-undang kok pak, bikin aja undang-undang pokok pendidikan yang isinya mencakup kesemuanya, nanti akan kelihatan kok mana yang tidak sinkron… dan memudahkan untuk dipahami karena satu paket dan lebih murah tentunya…
Baca juga tulisan terbaru suryaden berjudul Warsa adrenalin selain Pilpres obat Pileg
Reply
Sawali Tuhusetya (Monday, 6 July 2009 @ 04:00)
saya kira benar, mas surya. terlalu banyak UU, tapi aksi dan implementasinya hampir nihil, sama saja pemborosan, hiks.
Reply
ciwir
Firefox 3.0.11 dan
Windows XP
Friday, 3 July 2009 @ 19:12
Sekolah sekarang sudah sangat melangit…
:sad:
Baca juga tulisan terbaru ciwir berjudul Perguruan Tinggi : Antara Kuali dan Tas
Reply
Sawali Tuhusetya (Monday, 6 July 2009 @ 04:01)
oh, iya? untuk pendidikan dasar, kan dah gratis, mas santri, hehe …. kalau utk pendidikan menengah dan tinggi, agaknya memang benar kalau dibilang mahal, apalagi kalau UU BHP nanti benar2 sdh ada PP-nya.
Reply
Zulmasri
Opera Mini 4.2.13918 dan
Unknown
Friday, 3 July 2009 @ 19:17
Dan muara dari semua itu adalah ketidakpedulian dari pembuat kebijakan. Pemerintah seolah tutup mata dan dunia pendidikan kita diperbodoh dg cara yg amat sistematis. Hasilnya, dunia pendidikan kita adalah dunia yg semu. Gak tahu dampaknya 10 hingga 20 th nanti
Reply
Sawali Tuhusetya (Monday, 6 July 2009 @ 04:02)
hmmm …. tidak salah juga, pak zul. kepekaan para elite negeri ini terhadap dunia pendidikan dan nasib generasi masa depan negeri ini masih layak utk dipertanyakan, pak.
Reply
Bisnis
Firefox 3.0.11 dan
Windows XP
Friday, 3 July 2009 @ 19:55
tapi anak sekolah sekarang kualitasnya ok kok daripada tahun2 saya sekolah dulu walaupun sekarang mahal ya memang salam kenal
Reply
Sawali Tuhusetya (Monday, 6 July 2009 @ 04:04)
hmmm … mungkin bersifat kasuistis, tapi secara umum, kualitas kecerdasan anak2 sekarang mengalami degradasi yang luar biasa akibat sistem pendidikan yang belum sepenuhnya mampu mencerdaskan siswa.
Reply
dhani
Firefox 3.0.11 dan
Windows XP
Friday, 3 July 2009 @ 21:28
kualitas pendidikan dipengaruhi banyak faktor termasuk diantaranya keluarga, karena disinilah madrasah pertama yang didapatkan oleh seorang anak manusia…
salam kenal
Baca juga tulisan terbaru dhani berjudul Stop Dreaming Start Action
Reply
Sawali Tuhusetya (Monday, 6 July 2009 @ 04:04)
salam kenal juga, mas dhani. betul sekali, mas, makanya dunia pendidikan butuh sinergi dengan ortu siswa.
Reply
m4stono
Firefox 3.0.8 dan
Ubuntu 9.04
Saturday, 4 July 2009 @ 00:29
yaaa undang2 memang sangat penting, tapi yg lebih penting adalah proses belajar mengajar yg membikin murid betah di sekolah, bukannya merasakan bahwa sekolah itu kek penjara sehingga banyak murid yg membolos….btw saia dulu juga sering mbolos terutama pelajaran b indonesia wkwkwkwk maap ya pak sawali…abisnya pelajaran b indonesia itu paling yg gak gitu minat secara bahasa sendiri kok malah sulit…wkwkwk cuman mo sharing
Baca juga tulisan terbaru m4stono berjudul Tanah Yang Penuh Kasih Sayang
Reply
Sawali Tuhusetya (Monday, 6 July 2009 @ 04:06)
bener sekali, mas tono. btw, kenapa mapel bahasa indonesia justru tidak diminati, mas tono? haks, pasti pernah bermasalah dengan gurunya, nih, keke …. *bercanda*
Reply
arifudin
Firefox 3.0.6 dan
Windows XP
Saturday, 4 July 2009 @ 02:38
semoga kelak setelah mendapatkan pemimpin baru undang-undang yang mengatur segalah hal yang menyangkut pendidikan dinegeri ini bisa lebih baik, sehingga pendidikan bisa dirasakan oleh seluruh lapisan masyrakat

Baca juga tulisan terbaru arifudin berjudul Free online storage
Reply
Sawali Tuhusetya (Monday, 6 July 2009 @ 04:06)
amiiin, kita tunggu saja hasil pilpres 8 juli nanti, mas arif, hehe ….
Reply
Bisnis Online
Firefox 3.0 dan
Windows XP
Saturday, 4 July 2009 @ 03:51
yach mau gmanapun moga pendidikan tambah maju deh
Baca juga tulisan terbaru Bisnis Online berjudul Liberty Reserve Hasil Bisnis Online Amblas
Reply
Sawali Tuhusetya (Monday, 6 July 2009 @ 04:07)
amiiin, mudah2an saja harapan itu bisa terwujud, mas bambosi.
Reply
emfajar
Firefox 3.5 dan
Windows XP
Saturday, 4 July 2009 @ 06:25
menunggu langkah konkrit para capres jika terpilih,, jangan cuma janji2 pemanis kampanye aja..
Reply
Sawali Tuhusetya (Monday, 6 July 2009 @ 04:08)
sepakat, mas fajar, semoga nanti pendidikan tak hanya jadi slogan belaka.
Reply
Alnect.net Blog Contest Periode I
Firefox 3.0.6 dan
Windows XP
Saturday, 4 July 2009 @ 09:47
heheheeee ada refleksinya juga yach :razz:
Baca juga tulisan terbaru Alnect.net Blog Contest Periode I berjudul Download Game PC Gratis Dan Komplit | Free Download Games PC Complete
Reply
Sawali Tuhusetya (Monday, 6 July 2009 @ 04:08)
hehe … kebetulan saja sedang tertarik utk mengangkat topik ini, mas.
Reply
jidat
Firefox 3.0.3 dan
Windows XP
Saturday, 4 July 2009 @ 11:36
wah masuk sekolah semangat baru ya pak! saya tadi juga baru daftar ulang kenaikan kelas.. sukseskan pendidikan indonesia! :smile:
Baca juga tulisan terbaru jidat berjudul GEOCITIES DI BLOKIR AHIR TAHUN!
Reply
Sawali Tuhusetya (Monday, 6 July 2009 @ 04:09)
hmm … memang mas jidat kelas berapa? hehe … rapornya bagus, kan?
Reply
azaxs
Firefox 3.0.11 dan
Windows XP
Saturday, 4 July 2009 @ 13:35
Kebijakan pendidikan di negeri ini memang harus diubah..
Apakah masih relevan kata2 LANJUTKAN?
Baca juga tulisan terbaru azaxs berjudul Saya Seorang GOLPUT
Reply
Sawali Tuhusetya (Monday, 6 July 2009 @ 04:10)
hehe … kalau menurut mas azaxs sendiri gimana? layak dilanjutkan, lebih cepat lebih baik naik mega-pro, atau golput? haks.
Reply
imoe
Firefox 3.0.11 dan
Windows XP
Saturday, 4 July 2009 @ 16:16
Ternyata negeri ini masih menyimpan PR besar dunia pendidikan. Butuh tokoh negara yang sensitif terhadap persoalan ini, menempatkan kepentingan pendidikan sebagai dasar pembangunan negara. Tidak hanya soal anggaran, tapi soal komitmen…
Baca juga tulisan terbaru imoe berjudul …The Boy in the Striped Pyjamas…
Reply
Sawali Tuhusetya (Monday, 6 July 2009 @ 04:11)
sepakat banget, mas imoe. masalah dunia pendidikan kita agaknya memang makin rumit dan kompleks. tantangan buat kaum elite hasil pileg dan pilpres 2009, haks.
Reply
ajengkol
Firefox 3.0.5 dan
Windows XP
Saturday, 4 July 2009 @ 17:16
Wah kalau saya baru masuk awal September dengan masih sistem baru kurikulum berbasis kompetensi yang juga belum jelas karena belum di evaluasi .. susah ya pak
Baca juga tulisan terbaru ajengkol berjudul Blog Aggregator
Reply
Sawali Tuhusetya (Monday, 6 July 2009 @ 04:12)
loh, kok lama banget, mbak ajeng? masih bisa liburan, dong?
Reply
Mike
Firefox 3.0.11 dan
Windows XP
Saturday, 4 July 2009 @ 18:02
semakin banyak undang-undang yg gak jelas, semakin membingungkan :roll:
bener banget tuh pak, bagi kalangan tak mampu, tapi punya otak yg smart bisa2 tersingkir hanya karena kebijakan seperti itu.
Baca juga tulisan terbaru Mike berjudul Wordpress Global Translator Plugin
Reply
Sawali Tuhusetya (Monday, 6 July 2009 @ 04:12)
bener, mas mike, seperti komentar mas suryaden itu.
Reply
Ridwanox
Firefox 3.5 dan
Windows XP
Saturday, 4 July 2009 @ 20:55
Undang2 banyak dibuat tapi banyak jg tak ditaatin :cry:
Baca juga tulisan terbaru Ridwanox berjudul Bagi Rapor
Reply
Sawali Tuhusetya (Monday, 6 July 2009 @ 04:13)
hehe … bener juga, mas ridwan, semoga saja perubahan secepatnya terjadi.
Reply
marsudiyanto
Firefox 3.0.11 dan
Windows XP
Sunday, 5 July 2009 @ 08:47
Postingane Pak Sawali dawane ngungkuli BSE…
Baca juga tulisan terbaru marsudiyanto berjudul Milioner, Visioner, Demisioner dan Kuliner
Reply
Sawali Tuhusetya (Monday, 6 July 2009 @ 04:14)
widih, memang pak mar sudah mengukur panjangnya BSE? haks.
Reply
Deni
Firefox 3.0.5 dan
Windows XP
Sunday, 5 July 2009 @ 11:18
Setuju Pak Sawali…
:twisted:
Baca juga tulisan terbaru Deni berjudul Pilih Mega, SBY, Yusuf Kalla atau Golput
Reply
Sawali Tuhusetya (Monday, 6 July 2009 @ 04:15)
hehehe …. setuju yang mana, pak deni? haks.
Reply
boyin
Firefox 3.0.11 dan
Windows XP
Sunday, 5 July 2009 @ 11:37
saya baru tahu tuh tentang BSE..wah seru juga yah pendidikan jaman sekarang ini..memang semua orang sekarang harus melek internet.
Baca juga tulisan terbaru boyin berjudul Emang Amerika saja yang menancapkan pengaruh
Reply
Sawali Tuhusetya (Monday, 6 July 2009 @ 04:15)
hmm … bisa dimaklumi, mas boyin, hehe … mas boyin kan di luar negeri terus, hehe ….
Reply
NoRLaNd
Opera 9.64 dan
Windows XP
Sunday, 5 July 2009 @ 18:18
entah kapan baru dinamika pendidikan yang kita miliki, kembali menjadi saat saat awal tahun 1998 yah….
Baca juga tulisan terbaru NoRLaNd berjudul The begining of my holiday
Reply
Sawali Tuhusetya (Monday, 6 July 2009 @ 04:16)
hmmm … awal tahun 1998? bukankah itu sedang gencar2nya masa reformasi, mas?
Reply
t13nr4
Firefox 3.5 dan
Windows XP
Sunday, 5 July 2009 @ 19:33
nice writing!!!!
Baca juga tulisan terbaru t13nr4 berjudul G.Skill Trident DDR3 Tri-Channel Kit
Reply
Sawali Tuhusetya (Monday, 6 July 2009 @ 04:16)
terima kasih apresiasinya.
Reply
sinta
Opera 9.51 dan
Windows XP
Sunday, 5 July 2009 @ 19:34
kalo saya hari pertama masuk koq biasanya males ya huehehehe…
Well, cuman satu yang selalu lekat di kepala saya soal pendidikan. Mendikte.
Oiya Pak, ada award buat bapak. Jika berkenan silakan diambil di http://jendelakumenatapdunia.blogspot.com/2009/07/behind-scene-si-template-v.html
Reply
Sawali Tuhusetya (Monday, 6 July 2009 @ 04:17)
hmmm … kok malah ndak kangen, mbak sinta? hehe … btw, makasih banget awardnya. sebuah kehormatan buat saya ini, sekali lagi makasih, mbak.
Reply
casual cutie
Firefox 3.0.11 dan
Windows XP
Sunday, 5 July 2009 @ 22:41
cari sekolah susah, lulus susah, biaya selangit…wew…..
Baca juga tulisan terbaru casual cutie berjudul Bando Black Label
Reply
Sawali Tuhusetya (Monday, 6 July 2009 @ 04:18)
hmm … begitulah, mbak cutie, semoga saja secepatnya ada perubahan.
Reply
DV
Firefox 3.0.11 dan
Windows XP
Monday, 6 July 2009 @ 06:09
Ndak bisa komentar apa-apa selain maju terus, Pak Sawali!
Baca juga tulisan terbaru DV berjudul Menikmati Repihan Alam di Mt Wilson
Reply
Sawali Tuhusetya (Saturday, 11 July 2009 @ 00:17)
hmmm …. terima kasih, mas don supportnya.
Reply
KangBoed
Internet Explorer 6.0 dan
Windows XP
Monday, 6 July 2009 @ 11:00
Jaman sekarang banyak anak malahan pusing yaaa.. maaas.. pendidikan sekarang makin mahal saja..
Salam Sayang
Baca juga tulisan terbaru KangBoed berjudul Rindu Rasulullah
Reply
Sawali Tuhusetya (Saturday, 11 July 2009 @ 00:26)
hehe … kalau anak sih ndak ousing, kangboed, ortu yang sering dibikin kelimpungan karena mahalnya biaya pendidikan itu, haks.
Reply
KangBoed
Internet Explorer 6.0 dan
Windows XP
Monday, 6 July 2009 @ 11:01
Oooo.. yayaya.. dengan kemajuan jaman ini saya malah ngeri lho mas.. anak SD saja kegiatannya sudah menumpuk.. lain dengan jaman kita dahulu yaaa..
Salam Sayang
Baca juga tulisan terbaru KangBoed berjudul Rindu Rasulullah
Reply
Sawali Tuhusetya (Saturday, 11 July 2009 @ 00:31)
hmmm … bener juga, kangboed. saya juga heran, kenapa anak2 TK sekarang sudah diajari baca tulis, hitung, bahkan bahasa inggris segala, haks. padahal dunia mereka masih dunia bermain.
Reply
Wandi thok
Firefox 3.1b3 dan
Windows XP
Thursday, 16 July 2009 @ 06:31
Pak Wali ki sungguh teliti yah. Refleksi ini kalo disampeken kepada Dinas terkait pasti pada nyengir keknya ya. Untunge juga aku belum sertifikasi. Malah banyak dit4ku maunya ngejar sertifikasi bareng ditakoni internet wae malah mubeng, apameneh blog.
Baca juga tulisan terbaru Wandi thok berjudul Dakwah Blog
Reply
Sawali Tuhusetya (Friday, 17 July 2009 @ 16:12)
hehehe … pak andi bisa saja nih, haks. itulah yang terjadi, pak, internet dan blog masih dianggap sbg barang yang mahal di lingkungan kita.
Reply
Wandi thok
Firefox 3.1b3 dan
Windows XP
Thursday, 16 July 2009 @ 06:34
Usul pak, gimana kalo untuk new apdetnya ditulisken tentang Refleksi Awal TP.
Baca juga tulisan terbaru Wandi thok berjudul Dakwah Blog
Reply
Sawali Tuhusetya (Friday, 17 July 2009 @ 16:13)
walah, refleksi akhir tahun dan awal tahun kan ndak jauh bedanya, pak,
Reply
marshmallow
Firefox 3.0.11 dan
Windows Vista
Thursday, 16 July 2009 @ 22:01
menarik sekali tulisan ini.
mungkin komentar saya jadi agak OOT. mengenai komersialisasi di bidang pendidikan memang sangat terasa belakangan ini, terutama dengan adanya sekolah (negeri) favorit, yang anehnya walaupun negeri tapi pasang tarif seperti swasta. belum lagi dengan trik-trik licik pihak sekolah sehingga anak cerdas, namun sayangnya tidak punya koneksi, bisa teperdaya sehingga harus membayar mahal untuk sebuah kursi yang sejatinya dia peroleh dengan modal kecerdasannya itu.
program-program pendidikan kita memang baik di atas kertas, namun sangat perlu dievaluasi dan diawasi pelaksanaannya sehingga tercapai tujuan mulia yang diharapkan.
Baca juga tulisan terbaru marshmallow berjudul Ambon Manise
Reply
Sawali Tuhusetya (Saturday, 18 July 2009 @ 20:52)
seperti itulah kenyataan yang terjadi, mbak yulfi, apalagi kalau UU BHP nanti sudah turun PP-nya. doh, anak2 cerdas dari keluarga tak mampu bisa jadi ndak bisa sekolah/kuliah.
Reply