Home » Cerpen » Tukang Dongeng dan Tukang Mimpi

Tukang Dongeng dan Tukang Mimpi

Cerpen Lan Fang
Dimuat di Jawa Pos (07/12/2009)

Karena aku suka bermimpi maka dia memanggilku Tukang Mimpi. Lalu kuceritakan mimpi-mimpiku kepadanya. Dan kemudian dia membuat dongeng dari mimpi-mimpiku. Sebaliknya, bila tiba saatnya dia mendongeng, aku pun setia menyimak dongengannya untuk kumimpikan kembali. Karena itu, aku memanggilnya Tukang Dongeng.

Tukang Dongeng adalah seorang perempuan yang biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa pada dirinya kecuali kemampuannya mendongeng. Ia sangat pandai mendongeng sehingga apa saja bisa dijadikan bahan cerita. Bahkan saking pintarnya, orang tidak bisa membedakan apakah ceritanya itu sungguh terjadi atau hanya khayalan belaka.

Di antara sekian banyak cerita Tukang Dongeng, ada sebuah cerita yang paling berkesan bagiku. Yaitu, cerita tentang bendera-bendera yang berkepak di sebuah halaman puri milik pangeran bermata sihir. Sepasang mata pangeran itu sangat meneduhkan sehingga aku tak pernah kuat memandangnya. Setiap kali pandangan kami bertubrukan, sinar matanya melemparkan jerat yang membuatku terperangkap di sana. Maka, kelopak mataku pun langsung terasa berat. Aku hanya bisa mengatupkan mata. Entah untuk tidur atau hanya sekadar melarikan diri dari sihirnya.

Untuk membawa sihirmu ke dalam tidurku, sehingga setiap saat aku berharap akan melihat wajahmu ketika mataku terbuka.

Tetapi, sebenarnya, Tukang Dongeng tidak tampak sebiasa penampakannya. Aku tahu bahwa ia menyembunyikan sesuatu. Sssstttt… ia menyembunyikan sebelah sepatunya. ”Aku mencari seorang pangeran yang membawa sebelah sepatuku,” begitu jawabnya setiap kali kutanya kenapa dia selalu berjalan dengan telanjang kaki. Dan dia terus berjalan tanpa memedulikan kakinya terluka karena kerikil. ”Cinta sejati hanya bisa ditemukan dari luka sebuah perjalanan,” ia menuntaskan pertanyaanku.

Beuh! Benar-benar jawaban bedebah dari seorang tukang dongeng.

Sedangkan diriku adalah perempuan yang sungguh-sungguh biasa saja. Tidak ada satu pun yang kusembunyikan dari diriku. Orang-orang bisa melihat rambutku yang memutih seluruhnya walaupun kerut belum memenuhi wajahku. Jika ada yang bertanya, ”Berapakah usiamu? Kenapa rambutmu sudah memutih semua?” Maka jawabanku adalah, ”Usiaku sudah berulang kali kehidupan. Dan aku menunggu cinta sejati di dalam setiap kali kehidupanku. Karena itulah rambutku memutih semua.”

Orang-orang akan manggut-manggut ketika mendengar jawabanku. Tetapi Tukang Dongeng mencemooh jawabanku. ”Cinta sejati harus dicari. Tidak ada cinta sejati yang akan datang sendiri walaupun ditunggu sampai rambut memutih. Karena itulah kau dipanggil Tukang Mimpi. Kau hanya memimpikan cinta sejati itu.”

Kurang ajar! Dia benar-benar tukang dongeng yang tengik, bukan?

Begitulah yang terjadi di antara kami. Kami cukup sering berbeda pendapat. Tukang Dongeng lebih suka bila aku tidur saja. Menurutnya, aku lebih memberikan inspirasi ketika sedang tidur. Dia tidak suka bila aku terbangun. Karena aku suka mengoceh sehingga merusak imajinasi tentang Sang Pangeran yang akan didongengkannya.

Sedangkan menurutku Tukang Dongenglah yang tidak bisa menciptakan dongeng tentang Sang Pangeran. Seharusnya sebagai tukang dongeng ia bisa menuturkan kembali Sang Pangeran yang kerap hadir dalam mimpi-mimpiku. Bukannya ia bertutur tentang Sang Pangeran di dalam imajinasinya sendiri.

Tukang Dongeng suka dengan pangeran berkaki angin. Dia sering menceritakan pangeran dengan kaki angin ini akan membawanya terbang. Dan terbang adalah perasaan bahagia. Pada saat bahagia maka tidak ada kata-kata lain yang bisa menghentikannya dari perasaan melayang. Maka untuk pangeran inilah ia menciptakan begitu banyak cerita dan puisi yang mengalir tanpa henti. Cerita tentang rindu, cinta, dan…mimpi.

Sedangkan aku tidak suka dengan pangeran berkaki angin. Aku lebih suka pada pangeran bermata bintang. Pangeran ini selalu memesrai diriku dengan sepasang matanya yang bintang. Pandangannya menyedotku sampai mataku hanya bisa berkedip-kedip seperti tertimpa hujan.

Ketika itulah pangeran ini menciumku. Dan aku tetap tidak ingin bangun. Karena kudengar, ia berkata, ”Tukang Mimpi, jangan biarkan ada mimpi lain dalam tidurmu. Mimpikanlah aku saja. Karena aku akan selalu mencium gerimis di matamu.” Maka kubiarkan ia terus menciumi rambutku, keningku, mataku, hidungku, bibirku…. hatiku…

Apakah kau juga mencium harum hujan ada di sana?

Dasar! Kau memang tukang mimpi!

Begitulah, hubunganku dengan Tukang Dongeng. Tetapi kami tetap saling mengunjungi. Karena kami tinggal di dua negeri yang bertetangga. Aku tinggal di Negeri Mimpi dan dia tinggal di Negeri Dongeng. Letak kedua negeri kami tidak berjauhan. Jaraknya hanya dalam kejapan mata. Bila aku membuka kelopak mata maka sampailah aku di Negeri Dongeng-nya. Sedangkan bila ia mengatupkan kelopak mata maka sampailah ia di Negeri Mimpi-ku. Sehingga kami pun sepakat akan memperkenalkan pangeran kami masing-masing. Jadi, bila dia sudah menemukan pangeran berkaki angin yang selalu dicarinya itu maka dia akan memperkenalkannya padaku. Sebaliknya, bila pangeran bermata bintang yang kutunggu sudah menemuiku, maka aku pun akan memperkenalkannya kepada Tukang Dongeng.

Tetapi sekarang telah terjadi masalah yang mahaserius. Para pangeran kami menghilang tanpa sebab yang jelas!

”Pangeran berkaki angin lenyap tanpa suara. Ia bagaikan embun yang disergap matahari. Aku sudah mencarinya ke mana-mana tetapi sia-sia. Aku tidak mendengar suaranya lagi. Aku patah hati…,” kisah Tukang Dongeng dengan raut merana. Air matanya pun bercucuran sehingga sekarang dia hanya bercerita tentang kisah hati yang patah.

Ah, picisan sekali, ya?

Tidak. Lihatlah sekarang bukan kakinya saja yang berdarah. Tetapi hatinya juga mengucurkan merah.

Sedang pangeranku yang bermata bintang juga tidak pernah mengunjungi mimpiku lagi. Aku tidak tahu apakah ia sudah berpindah ke tukang mimpi yang lain. Rasanya sakit sekali bila aku memikirkan kemungkinan itu. Karena aku tidak bisa memilih mimpi seperti apa yang kuinginkan. Mimpi-mimpi selalu datang dan pergi tanpa kuundang. Aku hanya bisa berharap, ia tahu bila sekarang aku selalu bermimpi tentang gerimis yang menitik lalu tersangkut di helai-helai bulu mataku.

Kuharap kau tidak lupa bila pernah berjanji akan menciumi gerimis di mataku?

Pangeran Negeri Dongeng

Namaku Hou Yi. Artinya pemanah ulung. Selama ini tidak pernah ada yang luput dari bidikanku. Tidak juga matahari.

Di Negeri Dongeng ada sepuluh matahari yang bersinar sehingga panas sekali. Tanahnya retak-retak dan sangat gersang karena tidak ada tumbuhan yang bisa hidup. Di sini juga tidak ada air yang mengalir karena terisap terik. Yang ada hanyalah lidah-lidah sepuluh matahari yang menjulur untuk membakar segalanya.

”Padamkanlah sembilan matahari karena seharusnya hanya ada satu matahari saja. Dan kau akan menjadi Pemanah Ulung yang abadi,” Dewa Langit bertitah dan memberiku sebuah gendewa dengan sepuluh anak panah.

Aku berusaha memadamkannya walaupun rasanya semakin terbakar. Apakah kau merasakannya?

Bila dilihat sekilas, bentuk gendewaku tidak ada bedanya dengan gendewa-gendewa yang lainnya. Tetapi bila diteliti, ukurannya lebih besar dan lebih berat karena kokoh sekali. Rentangannya juga kuat sehingga bisa melentingkan anak panah dengan kecepatan tinggi.

Baiklah, karena aku menginginkan keabadian maka segera akan kupadamkan sembilan matahari. Kemudian kurentang gendewa dan kubidik matahari demi matahari. Kulepaskan anak panah yang langsung terbang meluncur menuju jantung matahari. Tab!

Sebuah matahari padam dan meninggalkan lepuh di dadaku. Kupadamkan lagi matahari yang kedua. Ada yang meletup dalam darahku. Anak panah ketiga memecahkan sebuah matahari lagi sampai tali hatiku terasa putus. Aku masih terus membidik matahari keempat tanpa memedulikan sudah ada memar yang kian lebam. Selanjutnya kuselesaikan matahari kelima sambil merapatkan geligi menahan nyeri. Matahari keenam berdarah tetapi tidak ada merah yang mengalir. Nasib matahari ketujuh pun berakhir seperti tidak perlu ada air mata yang dididihkan dalam tangis. Matahari kedelapan pecah berkeping-keping tetapi aku masih berdiri dengan kukuh. Akhirnya kuselesaikan matahari kesembilan dan keabadian menjadi milikku.

Sekarang Negeri Dongeng sesejuk keabadian yang kumiliki. Semesta alam bersuka cita karena air bisa ricik dan bunga-bunga bisa mekar lagi. Sehingga Dewa Langit memberiku hadiah sebuah Pil Keabadian. Bentuknya bundar dan bening. Sinarnya seteduh bulan karena kesembilan matahari sudah padam.

Aku membagi kebahagiaanku kepada Chang E’, perempuan yang paling kucintai. Setiap hari aku menulis puisi untuknya lalu kubidikkan ke hatinya. Puisi-puisiku tertancap abadi di sana. Lalu mengalir dalam setiap desir darahnya.

”Hou Yi, bisakah kau abadikan cinta kita seperti puisi yang kau tulis untukku setiap hari? Pil ini akan membuat cinta kita abadi, bukan?” tanya Chang E’ sambil mengambil Pil Keabadian.

Aku hanya memiliki sebuah cinta yang abadi. Untukmu.

”Chang E’!” seruku terkejut tidak kepalang. Tetapi terlambat untuk mencegahnya. Chang E’ sudah menelan Pil Keabadian tanpa bertanya lebih dahulu berapa banyak pil yang kumiliki. Lalu Chang E’ mulai melayang. Dengan ringannya ia terbang. Ia seperti selembar kertas yang ditiup angin.

”Hou Yiiiiii, tolong aku…,” Chang E’ menjerit dengan segala kepanikan. Ia berlinangan air mata dan jutaan kata-kata yang berhamburan. Angin membawanya semakin tinggi, tinggi, dan tinggi…

Aku segera meraih anak panahku yang hanya tinggal sebuah. Kurentangkan sekuat tenaga. Kulepaskan dengan harapan bisa mengejar Chang E’. ”Cepat! Kejarlah kekasihku! Bawa kembali kekasihku!”

Anak panahku melesat dengan suara yang mendesing, menembus awan demi awan, menguak langit selapis demi selapis. Sampai kulihat Chang E’ terperangkap di bulan. Dan anak panah tertancap kembali ke mataku.

Apakah ada anak panah yang tertancap di hatimu?

Pangeran Negeri Mimpi

Namaku Bisma. Aku putra Gangga dan pewaris Hastinapura yang sejati. Tetapi ibuku, Dewi Gangga, moksa setelah melarung keenam bayinya dalam keadaan hidup-hidup. Lalu ayahku, Prabu Sentanu, tergila-gila pada Setyawati, putri hutan secantik peri dengan tubuh wangi kembang setaman.

Sehingga kurelakan tahta demi cinta ayahku. Kuberikan singgasana Hastinapura sebagai mahar perkawinan Sang Prabu. Tetapi, tampaknya, itu masih belum cukup bagi calon permaisuri Hastinapura. Lalu aku pun bersumpah tidak akan menikah agar tidak akan ada anak keturunanku yang berebut mahkota.

”Bisma, baktimu luar biasa. Kau telah putuskan karma untuk meniadakan anak keturunanmu sendiri. Maka, sebagai gantinya kau tidak bisa mati. Kecuali kau sendiri yang menginginkan kematianmu,” para dewa agung memberiku pengganti tahta, mahkota, dan singgasana.

Lalu kumenangkan sayembara berhadiah tiga orang putri untuk adik tiriku Wicitrawirya. Tiga putri: Ambalika, Ambika dan Amba, akan melahirkan para putra cakap nan gagah untuk Hastinapura.

Tetapi…oh…Amba…

”Bisma, aku mencintaimu. Aku akan melahirkan putra mahkota Hastinapura untukmu,” begitu jujur Amba mengatakan cintanya padaku.

Aku juga sejujur Amba ketika mengatakan cintamu padamu, bukan?

Cinta menjadi lucu bila terlalu lugu.

Kurasa hanya laki-laki bebal dan dungu yang tidak jatuh cinta pada Amba. Matanya adalah bintang. Di sana kulihat cinta dengan sinarnya yang utuh. Dan langkahnya membuat helai-helai bunga menjatuhkan diri. Ia pun mengikutiku dengan setiap tetes rindu yang kemudian leleh seperti gerimis dari matanya. Aku tidak mungkin menemukan perempuan lain yang bisa kucintai lagi.

Ternyata aku adalah laki-laki bebal dan dungu itu. Aku merasa seperti di dalam neraka ketika harus memadamkan gairah cintaku padanya. Aku ingin memeluknya, menciumnya, dan menghirupnya. Aku mau bersetubuh, bersenapas, bersejiwa, berseroh dengannya. Hanya aku dan dia.

Tetapi kenapa kau diam saja?

Karena cinta semakin terdengar di dalam kediamannya.

Rupanya cintaku kepada Hastinapura lebih besar daripada cintaku kepada Amba. Aku satria yang pantang melanggar supata. Lalu dengan segala kebebalan dan kedunguanku, kutarik busur dan anak panahku. Tetapi Amba tidak pergi juga. Ia menghadangku dengan tatapan sepasang bintang yang tercabik. Aku tidak mungkin bisa melupakan tatapannya. Dan itulah yang kuingat ketika kelak Srikandi menghujaniku dengan ribuan panah yang tetap saja tidak bisa mematikanku. Sampai aku menunggu Amba datang kembali menjemputku. Ketika itu kuserahkan cintaku seperti saat ini diserahkannya dada untuk anak panahku yang tertancap di sana.

Apakah ada anak panah yang tertancap di hatimu?

Ini bukan dongeng dan bukan mimpi.

”Jadi ini semua gara-gara panah, ya?” gumamku.

”Panah yang salah arah bisa patah,” sahut Tukang Dongeng.

”Ngeri…”

”Nyeri…”

”Lalu, bagaimana sebaiknya?” tanyaku sambil memandangnya. Kulihat ia masih bertelanjang kaki. Rupanya ia belum menemukan pangeran berkaki angin itu. Seperti pangeran bermata bintang yang belum menemuiku. Sehingga rambutku pun masih tetap putih.

”Matamu jangan bermimpi lagi,” Tukang Dongeng menarik sebuah anak panah yang tertancap di mataku. Kemudian aku pun mencabut sebuah anak panah yang menancap di dadanya.

Lalu, dari sana ada yang pecah satu demi satu, ada yang pecah satu demi satu, ada yang pecah satu demi satu…

Jangan menangis. Bila terlalu banyak menangis maka darah juga akan keluar dari matamu.

Ini adalah kata-kata yang pernah kau katakan padaku. Ingatkah? ***

tentang blog iniTulisan berjudul "Tukang Dongeng dan Tukang Mimpi" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (1 Juli 2009 @ 10:24) pada kategori Cerpen. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Tulisan Terkait:

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *