Home | Bahasa, Edukasi, Kurikulum, Opini, Refleksi | Mengubah Mind-Set Guru tentang Dunia Kepenulisan

Mengubah Mind-Set Guru tentang Dunia Kepenulisan

Monday, 29 June 2009 (01:39) | 613 pembaca | 115 komentar | Print this Article

penjurianseminarseminarSelain menggelar Seminar Nasional Penulisan Buku dan Karya Ilmiah pada hari Kamis, 25 Juni 2009 di LPMP Jawa Tengah dengan menampilkan Ahmad Tohari dan Dr. Mulyadi sebagai narasumber, Agupena Jawa Tengah juga menggelar Lomba Penulisan Artikel bagi Guru se-Jawa Tengah dengan tema “Membudayakan Aktivitas Menulis di Kalangan Guru”. Sungguh menggembirakan animo dan semangat rekan-rekan sejawat dalam mengikuti lomba. Tak kurang dari 107 naskah lomba yang siap dikompetisikan. Tentu saja, ini menggembirakan, bukan semata-mata lantaran event ini baru digelar untuk pertama kalinya oleh Agupena Jawa Tengah di tingkat provinsi, melainkan juga karena hadiahnya yang terlalu kecil dan bisa dibilang tak sebanding dengan jerih-payah peserta dalam mempersiapkan naskah lombanya. Ini artinya, rekan-rekan sejawat sejatinya memiliki potensi dan kekuatan besar untuk mengakrabi dunia kepenulisan, tanpa memedulikan imbalan dan insentif yang mesti didapat.

Meski demikian, saya yang kebetulan didaulat menjadi salah satu dari tiga juri lomba, memiliki beberapa catatan menarik tentang naskah lomba yang dikompetisikan itu. Pertama, pengiriman naskah dalam bentuk soft-copy lewat email. Seiring dengan kemajuan teknologi di bidang informasi dan komunikasi, pengiriman naskah via email diharapkan bisa lebih cepat dan praktis, sehingga tak menyulitkan calon peserta dalam mengirimkan naskahnya. Namun, harapan itu ternyata meleset. Banyak naskah yang justru mengalami kerusakan ketika di-print-out, sehingga tak bisa terbaca dengan baik. Panitia juga harus kerja lembur untuk melakukan print-out sekitar 100 lebih naskah yang masuk. Yang lebih repot, format tulisan dan ukuran font jadi tidak memenuhi syarat teknis lomba yang minimal terdiri atas 5 halaman kertas ukuran A4 dengan font Times New Roman 10 pt berjarak 1,5 spasi. Meski demikian, persyaratan teknis ini sudah bisa dikompromikan dengan sesama juri lomba. Untuk masa yang akan datang, akan lebih bagus jika naskah peserta dikirimkan dalam bentuk hard-copy (naskah print-out) beserta file soft-copy-nya dalam CD.

Kedua, banyak naskah yang bagus, tetapi tidak memenuhi syarat lomba. Dari sekian naskah yang masuk, banyak naskah yang dilombakan bukan dalam bentuk artikel, melainkan makalah. Selain itu, juga ada beberapa naskah yang menyimpang dari tema “Membudayakan Menulis di Kalangan Guru”. Atas kesepakatan dewan juri, naskah seperti ini tidak bisa dinilai, meskipun dari sisi substansi isi, bahasa, dan kreativitas tergolong lumayan bagus.

Dalam menilai sebuah naskah, dewan juri menggunakan tiga kriteria penilaian, yakni substansi isi, bahasa, dan kreativitas. Unsur-unsur naskah yang termasuk ke dalam substansi isi, di antaranya kesesuaian antara isi dan tema lomba, orisinalitas karya, atau penggunaan rujukan. Yang termasuk dalam kriteria bahasa, di antaranya ejaan dan tanda baca, diksi (pilihan kata), koherensi antarparagraf dan antarkalimat, dan kaidah-kaidah penulisan yang lain (termasuk penulisan daftar pustaka). Sedangkan, yang termasuk dalam kriteria kreativitas, di antaranya pemikiran-pemikiran inovatif dan kreatif yang bisa memberikan solusi, argumentasi, dan persuasi menarik berkaitan dengan upaya membudayakan aktivitas menulis di kalangan guru. Itulah sebabnya, dewan juri –yang terdiri atas tiga orang: satu orang dari Suara Merdeka dan dua juri dari Agupena– terlibat perdebatan sengit hingga larut malam untuk menentukan naskah terbaik. Dewan juri telah berusaha untuk bersikap fair, adil, dan se-objektif mungkin, sehingga naskah lomba yang terpilih benar-benar memenuhi kriteria penilaian, baik dari sisi substansi isi, bahasa, maupun kreativitas.

Yang agak disayangkan, dalam soal kreativitas, banyak peserta lomba yang terjebak pada mind-set sertifikasi, angka kredit pengembangan profesi, penelitian tindakan kelas, atau karya tulis ilmiah. Padahal, sesuai dengan tema lomba, naskah lomba diharapkan mampu memberikan terobosan inovatif dan kreatif yang tak hanya mengakrabkan guru pada tulisan untuk mengejar angka kredit pengembangan profesi guru guna memuluskan jenjang karier, melainkan juga menjadikan aktivitas menulis sebagai sebuah “kebutuhan”; sebagai media untuk melakukan “katharsis” dan mendedahkan pemikiran-pemikiran kreatif dan inovatif yang berkaitan dengan dunia kepenulisan.

Pemikiran semacam itu memang tidak salah. Namun, aktivitas menulis bisa jadi belenggu apabila selalu dikaitkan dengan upaya memuluskan jenjang karier dan kenaikan pangkat. Kalau toh ada imbalan berupa angka kredit, sesungguhnya lebih merupakan imbas sampingan yang didapat di balik jerih-payahnya itu. Menulis sejatinya lebih banyak berkaitan dengan aktivitas rohaniah yang tak henti-hentinya melakukan penjelajahan dan transfigurasi total terhadap ranah imajinasi dan intuisi. Ia akan terus berproses sebelum pada akhirnya menemukan muara input dalam bentuk produk kreativitas berupa tulisan. Menulis juga akan membangun mind-set sang penulis untuk membudayakan pola berpikir secara multidimensional, sekaligus menghindari pola beprikir linear. Dengan cara demikian, guru tak lagi terjebak menjadi guru kurikulum yang wilayah kerjanya hanya dibatasi empat dinding ruang kelas, melainkan menjadi guru inspiratif yang akan terus mengilhami siswa didiknya menjadi generasi masa depan yang kreatif, beradab, berbudaya, dan bermartabat.

Meskipun demikian, saya memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada rekan-rekan sejawat yang telah berkenan untuk ikut-serta memeriahkan lomba itu sehingga –paling tidak– mulai tergugah untuk mengakrabi dunia kepenulisan yang selama ini dinilai belum berlangsung optimal. Nah, salam kreatif! ***

Kategori: Bahasa, Edukasi, Kurikulum, Opini, Refleksi | Tags: , ,

Tulisan lain yang berkaitan:

imgAgupena Pasca-Munaslub dan Muswilub (Thursday, 8 July 2010, 386 pembaca, 42 respon) Minggu, 4 Juli 2010, yang lalu, bertempat di SMP 7 Semarang, Agupena Jawa Tengah menggelar Musyawarah Wilayah Luar Biasa (Muswilub) untuk merespon keputusan Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) Agupena Pusat yang telah berlangsung di Tangerang,...
imgSosok Pak Achjar Chalil dalam Kenangan (Tuesday, 4 May 2010, 334 pembaca, 104 respon) Senin, 3 Mei 2010, pukul 04.45 WIB, nada “suara burung” di HP saya berdering. “Innalillahi wainnaillaihi raji’un. Telah berpulang ke rahmatullah, Bapak Achjar Chalil, Ketua Umum Agupena Pusat, pada hari Senin, 3 Mei 2010, pada pukul 02.00 WIB”....
imgWorkshop Pembuatan Blog, Owabong, dan Sisi Lain Dinamika Purbalingga (Monday, 15 March 2010, 781 pembaca, 282 respon) Berakhir sudah workshop pembuatan blog itu. Tak kurang dari 200 peserta yang terdiri dari guru se-Kab. Purbalingga, beberapa pengurus Agupena prov. dan cabang, serta beberapa pengurus organisasi guru secara antusias mengikuti kegiatan yang berlangsung...
imgPelantikan Pengurus Agupena Cabang dan Diskusi Kepenulisan (Thursday, 18 February 2010, 258 pembaca, 132 respon) Sebelumnya mohon maaf karena lebih dari sepekan blog ini tidak ter-update. Bahkan, saya juga tak sempat merespon komentar atau blogwalking. Ada beberapa pekerjaan offline yang mesti harus saya sentuh dan selesaikan, hehe … Janji saya untuk...
imgAgupena Jawa Tengah: Refleksi Menjelang Tahun Kedua (Wednesday, 10 February 2010, 374 pembaca, 147 respon) 4Februari 2010, Agupena Jawa Tengah yang dibentuk oleh 29 (dua puluh sembilan) guru penulis dari berbagai kabupaten/kota di Jawa Tengah, genap berusia setahun. Kehadirannya jelas makin meramaikan lahirnya berbagai organisasi guru pasca-reformasi yang...
Catatan Sawali Tuhusetya
feeds.feedburner.com
Tulisan berjudul "Mengubah Mind-Set Guru tentang Dunia Kepenulisan" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (Monday, 29 June 2009 (01:39)) pada kategori Bahasa, Edukasi, Kurikulum, Opini, Refleksi. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Ingin berlangganan gratis? Silakan daftarkan alamat email Anda sekarang juga! Terima kasih dan salam budaya!
Anda juga bisa memublikasikan tulisan ini melalui jejaring sosial/web berikut:
FacebookTwitterStumbleDigg itDeliciousGoogle ReaderRedditTechnoratiGoogle BuzzYahoo Buzz
DesignfloatDiigoMixxMeneamedesignbumpFurlMagnoliaBlinklistfurlblogmark

115 Responses to "Mengubah Mind-Set Guru tentang Dunia Kepenulisan"

  1. WordPress 2.8 WordPress 2.8

    [...] Semnas, 25 Juni 2009.Audiensi pengurus Agupena, 9 Juli 2009.Rencana Rakernas, 9 Juli 2009.Audiensi dengan SEAMOLEC. [...]

  2. Rigih says:
    Menggunakan Firefox 3.0 Firefox 3.0 pada Windows XP Windows XP

    pak sawali, bagaimana klo mencanangkan 3G (Gerakan Guru GoBlog)
    sepertinya keerreennnzzz tuh. kemarin2 kn detik dah melakukan terobosan dg blpg goes to school
    ato seperti horison gitu…
    Baca juga tulisan terbaru Rigih berjudul Rumah Impian : Maukah Kau Berbagi Penjara Denganku? My ComLuv Profile

  3. Menggunakan Firefox 3.5 Firefox 3.5 pada Windows XP Windows XP

    iya, mas pri. makasih support dan apresiasinya, yak.

  4. Menggunakan Firefox 3.5 Firefox 3.5 pada Windows XP Windows XP

    hehehe … iya, pak muid. atas kesepakatan teman2 yang hadir di smp 2 limbangan, panjenengan letiban sampur ikut dalam jajaran kepengurusan agupena kendal. selamat berkiprah dalam ikut serta memberdayakan rekan2 sejawat.

Leave a Reply

CommentLuv Enabled
«
»
www.batuzakar.netweb hosting indonesia
Catatan Sawali Tuhusetya is proudly powered by WordPress (190 queries: 0.935 seconds)
Valid CSS & XHTML | KBP