Home » Opini » Agupena Jawa Tengah: Tak Ingin Jadi Asosiasi Guru Eksklusif

Agupena Jawa Tengah: Tak Ingin Jadi Asosiasi Guru Eksklusif

Jika tak ada aral melintang, Kamis, 25 Juni 2009, Asosiasi Guru Penulis Indonesia (Agupena) Provinsi Jawa Tengah akan menggelar agenda Seminar Nasional bertajuk “Membudayakan Aktivitas Menulis di Kalangan Guru”. Novelis Ahmad Tohari dan Dr. Mulyadi, Ketua Asosiasi Widyaiswara Indonesia dan Tim Penilai Karya Ilmiah, telah berkenan untuk hadir sebagai narasumber. Dua sosok yang sudah sangat akrab dengan dunia kepenulisan ini diharapkan bisa menyebarkan “virus” menulis di kalangan guru, baik dalam genre fiksi maupun nonfiksi.

agupenajatengBersamaan dengan itu juga digelar Lomba Menulis Artikel untuk Guru TK/SD/SMP/SMA/SMK se-Jawa Tengah. Alhamdulillah, berdasarkan checking terakhir dari panitia, peserta seminar dan lomba sudah memenuhi target yang diharapkan. Ada sekitar 300-an peserta seminar yang telah terdaftar dan 100-an naskah lomba yang siap dikompetisikan.

“Alhamdulillah, kita pantas bersyukur, sebab ini merupakan agenda yang pertama kali kita gelar,” kata Pak Zainal Abidin, Ketua Panitia.

“Kita juga akan melakukan pelantikan pengurus Agupena Kabupaten/Kota yang telah terbentuk. Ini sebuah momen yang tepat bagi Agupena untuk membangun semangat berbagi itu,” sambung Ketua Umum Agupena Jawa Tengah, Pak Deni Kurniawan As’ari.

Sebagai bagian dari keluarga besar Agupena, saya ikut merasa senang dan bangga menyaksikan antusiasme rekan-rekan sejawat dalam mengembangkan sayap organisasi. Di bawah komando Pak Deni Kurniawan As’ari, Agupena Jawa Tengah diharapkan bisa ikut berkiprah dalam mengakrabkan guru pada dunia kepenulisan yang selama ini dinilai belum terbangun secara optimal. Melalui motto “Membangun Semangat Berbagi”, Agupena Jawa Tengah tak ingin terjebak menjadi asosiasi guru eksklusif yang sekadar “ingin tampil beda”.

Sepanjang pengamatan awam saya, Agupena juga tak didesain untuk menjadi institusi yang memosisikan diri sebagai organisasi oposisi sebagai bentuk perlawanan terhadap organisasi keguruan yang dianggap telah gagal memperjuangkan aspirasi guru. Kelahiran Agupena bukan dilandasi semangat resistensi terhadap carut-marut dunia keguruan, melainkan lebih dilandasi oleh semangat untuk melakukan perubahan melalui aksi-aksi konkret yang bersentuhan langsung dengan dunia kepenulisan. Senjata Agupena adalah pena sebagai alat bedah untuk menyalurkan pemikiran-pemikiran kreatif yang diharapkan mampu membangun nilai-nilai kesejawatan antarguru, sehingga sosok pendidik di negeri ini memiliki posisi tawar yang lebih terhormat dan bermartabat, tidak lagi terpinggirkan akibat ketidakberdayaan guru dalam menghadapi berbagai persoalan rumit yang menelikungnya. Melalui sebuah komunitas, suara guru yang tersalurkan melalui tulisan akan lebih bergaung sehingga harapan untuk melakukan sebuah perubahan itu dapat terwujud.

Agupena juga tak tertarik untuk memasuki wilayah ideologis yang seringkali dapat memicu sentimen primordial dan kesukuan. Ia lintasbudaya, lintasagama, dan tidak berafiliasi ke dalam partai politik apa pun. Kalau toh ada sebutan wilayah teritorial, semacam nama provinsi atau kabupaten/kota, semata-mata itu sekadar penanda untuk memudahkan manajemen organisasi yang memang didesain secara berjenjang sesuai dengan ketentuan yang telah disepakati. “Roh” Agupena bisa tumbuh dan hidup kapan dan di mana saja, tanpa belenggu ranah ruang dan waktu. Agupena bisa ada di mana-mana dengan beragam karakter pengurus dan anggotanya, tetapi visi dan misinya tetap mengacu pada nilai-nilai universalitas untuk membangun jejaring sosial yang mampu memberdayakan guru dalam mengembangkan talenta kepenulisannya.

Selain berupaya mengembangkan sikap kolegial dan kolektivitas, Agupena juga berupaya menghindari budaya antikritik yang selama ini dianggap masih menjadi penyakit akut yang mengakar dalam berbagai komunitas. Kritik justru dipahami sebagai nutrisi rohaniah yang akan meningkatkan gizi batin keorganisasian sehingga bisa terhindar dari sikap eksklusif dan keangkuhan. Dengan kata lain, Agupena merupakan salah satu organisasi guru yang berupaya menjaga dan memelihara kemerdekaan anggota-anggotanya dalam berpendapat dan berekspresi –meminjam istilah dalam pragmatik— berdasarkan prinsip kerjasama dan kesantunan.

Seminar nasional, lomba menulis artikel, dan pelantikan pengurus kabupaten/kota, baru sebatas langkah awal Agupena Jawa Tengah dalam membangun semangat berbagi dan menumbuhkembangkan nilai-nilai kesejawatan antarguru dalam bidang kepenulisan. Agupena Jawa Tengah juga terus membuka ruang bagi rekan-rekan sejawat untuk membentuk kepengurusan di daerah masing-masing guna memperkuat jejaring sosial yang akan memberikan manfaat besar bagi dunia pendidikan dalam membangun peradaban yang bermartabat dan berbudaya. Yang tak kalah penting untuk diingat, Agupena bukanlah tujuan, melainkan sebagai wadah untuk menampung insan pendidik yang memiliki keinginan besar untuk melakukan sebuah perubahan melalui aksi pemikiran-pemikiran kritis, kreatif, dan inovatif dalam bentuk tulisan.

Alangkah majunya dunia pendidikan di negeri ini kalau wilayah kinerja dan profesionalisme guru tak hanya dibatasi oleh empat dinding ruang kelas, tetapi juga dibarengi dengan kemampuan unjuk kinerja melalui aktivitas menulis yang mencerahkan, yang bisa menginspirasi sekaligus menggerakkan banyak orang untuk melakukan sebuah perubahan besar. Nah, bagaimana? ***

tentang blog iniTulisan berjudul "Agupena Jawa Tengah: Tak Ingin Jadi Asosiasi Guru Eksklusif" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (21 Juni 2009 @ 22:47) pada kategori Opini. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Ada 68 komentar dalam “Agupena Jawa Tengah: Tak Ingin Jadi Asosiasi Guru Eksklusif

  1. maaf pak laporan blog asosiasinya gak bisa di buka… ini pesannya

    Internal Server Error

    The server encountered an internal error or misconfiguration and was unable to complete your request.

    Please contact the server administrator, webmaster@agupenajateng.net and inform them of the time the error occurred, and anything you might have done that may have caused the error.

    More information about this error may be available in the server error log.

    Additionally, a 500 Internal Server Error error was encountered while trying to use an ErrorDocument to handle the request.

    sekian laporan selesai 😀
    .-= Baca juga tulisan terbaru hmcahyo berjudul Lavender – Marillion =-.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *