Home | Budaya, Edukasi, Opini, Refleksi | Agupena Jawa Tengah: Tak Ingin Jadi Asosiasi Guru Eksklusif

Agupena Jawa Tengah: Tak Ingin Jadi Asosiasi Guru Eksklusif

Sunday, 21 June 2009 (22:47) | 217 pembaca | 68 komentar | Print this Article

Jika tak ada aral melintang, Kamis, 25 Juni 2009, Asosiasi Guru Penulis Indonesia (Agupena) Provinsi Jawa Tengah akan menggelar agenda Seminar Nasional bertajuk “Membudayakan Aktivitas Menulis di Kalangan Guru”. Novelis Ahmad Tohari dan Dr. Mulyadi, Ketua Asosiasi Widyaiswara Indonesia dan Tim Penilai Karya Ilmiah, telah berkenan untuk hadir sebagai narasumber. Dua sosok yang sudah sangat akrab dengan dunia kepenulisan ini diharapkan bisa menyebarkan “virus” menulis di kalangan guru, baik dalam genre fiksi maupun nonfiksi.

agupenajatengBersamaan dengan itu juga digelar Lomba Menulis Artikel untuk Guru TK/SD/SMP/SMA/SMK se-Jawa Tengah. Alhamdulillah, berdasarkan checking terakhir dari panitia, peserta seminar dan lomba sudah memenuhi target yang diharapkan. Ada sekitar 300-an peserta seminar yang telah terdaftar dan 100-an naskah lomba yang siap dikompetisikan.

“Alhamdulillah, kita pantas bersyukur, sebab ini merupakan agenda yang pertama kali kita gelar,” kata Pak Zainal Abidin, Ketua Panitia.

“Kita juga akan melakukan pelantikan pengurus Agupena Kabupaten/Kota yang telah terbentuk. Ini sebuah momen yang tepat bagi Agupena untuk membangun semangat berbagi itu,” sambung Ketua Umum Agupena Jawa Tengah, Pak Deni Kurniawan As’ari.

Sebagai bagian dari keluarga besar Agupena, saya ikut merasa senang dan bangga menyaksikan antusiasme rekan-rekan sejawat dalam mengembangkan sayap organisasi. Di bawah komando Pak Deni Kurniawan As’ari, Agupena Jawa Tengah diharapkan bisa ikut berkiprah dalam mengakrabkan guru pada dunia kepenulisan yang selama ini dinilai belum terbangun secara optimal. Melalui motto “Membangun Semangat Berbagi”, Agupena Jawa Tengah tak ingin terjebak menjadi asosiasi guru eksklusif yang sekadar “ingin tampil beda”.

Sepanjang pengamatan awam saya, Agupena juga tak didesain untuk menjadi institusi yang memosisikan diri sebagai organisasi oposisi sebagai bentuk perlawanan terhadap organisasi keguruan yang dianggap telah gagal memperjuangkan aspirasi guru. Kelahiran Agupena bukan dilandasi semangat resistensi terhadap carut-marut dunia keguruan, melainkan lebih dilandasi oleh semangat untuk melakukan perubahan melalui aksi-aksi konkret yang bersentuhan langsung dengan dunia kepenulisan. Senjata Agupena adalah pena sebagai alat bedah untuk menyalurkan pemikiran-pemikiran kreatif yang diharapkan mampu membangun nilai-nilai kesejawatan antarguru, sehingga sosok pendidik di negeri ini memiliki posisi tawar yang lebih terhormat dan bermartabat, tidak lagi terpinggirkan akibat ketidakberdayaan guru dalam menghadapi berbagai persoalan rumit yang menelikungnya. Melalui sebuah komunitas, suara guru yang tersalurkan melalui tulisan akan lebih bergaung sehingga harapan untuk melakukan sebuah perubahan itu dapat terwujud.

Agupena juga tak tertarik untuk memasuki wilayah ideologis yang seringkali dapat memicu sentimen primordial dan kesukuan. Ia lintasbudaya, lintasagama, dan tidak berafiliasi ke dalam partai politik apa pun. Kalau toh ada sebutan wilayah teritorial, semacam nama provinsi atau kabupaten/kota, semata-mata itu sekadar penanda untuk memudahkan manajemen organisasi yang memang didesain secara berjenjang sesuai dengan ketentuan yang telah disepakati. “Roh” Agupena bisa tumbuh dan hidup kapan dan di mana saja, tanpa belenggu ranah ruang dan waktu. Agupena bisa ada di mana-mana dengan beragam karakter pengurus dan anggotanya, tetapi visi dan misinya tetap mengacu pada nilai-nilai universalitas untuk membangun jejaring sosial yang mampu memberdayakan guru dalam mengembangkan talenta kepenulisannya.

Selain berupaya mengembangkan sikap kolegial dan kolektivitas, Agupena juga berupaya menghindari budaya antikritik yang selama ini dianggap masih menjadi penyakit akut yang mengakar dalam berbagai komunitas. Kritik justru dipahami sebagai nutrisi rohaniah yang akan meningkatkan gizi batin keorganisasian sehingga bisa terhindar dari sikap eksklusif dan keangkuhan. Dengan kata lain, Agupena merupakan salah satu organisasi guru yang berupaya menjaga dan memelihara kemerdekaan anggota-anggotanya dalam berpendapat dan berekspresi –meminjam istilah dalam pragmatik– berdasarkan prinsip kerjasama dan kesantunan.

Seminar nasional, lomba menulis artikel, dan pelantikan pengurus kabupaten/kota, baru sebatas langkah awal Agupena Jawa Tengah dalam membangun semangat berbagi dan menumbuhkembangkan nilai-nilai kesejawatan antarguru dalam bidang kepenulisan. Agupena Jawa Tengah juga terus membuka ruang bagi rekan-rekan sejawat untuk membentuk kepengurusan di daerah masing-masing guna memperkuat jejaring sosial yang akan memberikan manfaat besar bagi dunia pendidikan dalam membangun peradaban yang bermartabat dan berbudaya. Yang tak kalah penting untuk diingat, Agupena bukanlah tujuan, melainkan sebagai wadah untuk menampung insan pendidik yang memiliki keinginan besar untuk melakukan sebuah perubahan melalui aksi pemikiran-pemikiran kritis, kreatif, dan inovatif dalam bentuk tulisan.

Alangkah majunya dunia pendidikan di negeri ini kalau wilayah kinerja dan profesionalisme guru tak hanya dibatasi oleh empat dinding ruang kelas, tetapi juga dibarengi dengan kemampuan unjuk kinerja melalui aktivitas menulis yang mencerahkan, yang bisa menginspirasi sekaligus menggerakkan banyak orang untuk melakukan sebuah perubahan besar. Nah, bagaimana? ***

Kategori: Budaya, Edukasi, Opini, Refleksi | Tags: , ,

Tulisan lain yang berkaitan:

imgAgupena Pasca-Munaslub dan Muswilub (Thursday, 8 July 2010, 386 pembaca, 42 respon) Minggu, 4 Juli 2010, yang lalu, bertempat di SMP 7 Semarang, Agupena Jawa Tengah menggelar Musyawarah Wilayah Luar Biasa (Muswilub) untuk merespon keputusan Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) Agupena Pusat yang telah berlangsung di Tangerang,...
imgSosok Pak Achjar Chalil dalam Kenangan (Tuesday, 4 May 2010, 334 pembaca, 104 respon) Senin, 3 Mei 2010, pukul 04.45 WIB, nada “suara burung” di HP saya berdering. “Innalillahi wainnaillaihi raji’un. Telah berpulang ke rahmatullah, Bapak Achjar Chalil, Ketua Umum Agupena Pusat, pada hari Senin, 3 Mei 2010, pada pukul 02.00 WIB”....
imgWorkshop Pembuatan Blog, Owabong, dan Sisi Lain Dinamika Purbalingga (Monday, 15 March 2010, 781 pembaca, 282 respon) Berakhir sudah workshop pembuatan blog itu. Tak kurang dari 200 peserta yang terdiri dari guru se-Kab. Purbalingga, beberapa pengurus Agupena prov. dan cabang, serta beberapa pengurus organisasi guru secara antusias mengikuti kegiatan yang berlangsung...
imgPelantikan Pengurus Agupena Cabang dan Diskusi Kepenulisan (Thursday, 18 February 2010, 258 pembaca, 132 respon) Sebelumnya mohon maaf karena lebih dari sepekan blog ini tidak ter-update. Bahkan, saya juga tak sempat merespon komentar atau blogwalking. Ada beberapa pekerjaan offline yang mesti harus saya sentuh dan selesaikan, hehe … Janji saya untuk...
imgAgupena Jawa Tengah: Refleksi Menjelang Tahun Kedua (Wednesday, 10 February 2010, 374 pembaca, 147 respon) 4Februari 2010, Agupena Jawa Tengah yang dibentuk oleh 29 (dua puluh sembilan) guru penulis dari berbagai kabupaten/kota di Jawa Tengah, genap berusia setahun. Kehadirannya jelas makin meramaikan lahirnya berbagai organisasi guru pasca-reformasi yang...
Catatan Sawali Tuhusetya
feeds.feedburner.com
Tulisan berjudul "Agupena Jawa Tengah: Tak Ingin Jadi Asosiasi Guru Eksklusif" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (Sunday, 21 June 2009 (22:47)) pada kategori Budaya, Edukasi, Opini, Refleksi. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Ingin berlangganan gratis? Silakan daftarkan alamat email Anda sekarang juga! Terima kasih dan salam budaya!
Anda juga bisa memublikasikan tulisan ini melalui jejaring sosial/web berikut:
FacebookTwitterStumbleDigg itDeliciousGoogle ReaderRedditTechnoratiGoogle BuzzYahoo Buzz
DesignfloatDiigoMixxMeneamedesignbumpFurlMagnoliaBlinklistfurlblogmark

68 Responses to "Agupena Jawa Tengah: Tak Ingin Jadi Asosiasi Guru Eksklusif"

  1. hmcahyo says:
    Menggunakan Firefox 3.0.4 Firefox 3.0.4 pada Windows XP Windows XP

    maaf pak laporan blog asosiasinya gak bisa di buka… ini pesannya

    Internal Server Error

    The server encountered an internal error or misconfiguration and was unable to complete your request.

    Please contact the server administrator, webmaster@agupenajateng.net and inform them of the time the error occurred, and anything you might have done that may have caused the error.

    More information about this error may be available in the server error log.

    Additionally, a 500 Internal Server Error error was encountered while trying to use an ErrorDocument to handle the request.

    sekian laporan selesai :D Baca juga tulisan terbaru hmcahyo berjudul Lavender – Marillion My ComLuv Profile

  2. hmcahyo says:
    Menggunakan Firefox 3.0.4 Firefox 3.0.4 pada Windows XP Windows XP

    wah di jatim ada nggak ya ?

    saya setuju banget kalo gak jadi ekslusif :D Baca juga tulisan terbaru hmcahyo berjudul Lavender – Marillion My ComLuv Profile

  3. Investasi says:
    Menggunakan Firefox 3.0.11 Firefox 3.0.11 pada Windows XP Windows XP

    blog yang menarik pak kapan saya bisa punya blog yang seperti ini ya, salam kenal ya pak sukses

  4. emfajar says:
    Menggunakan Firefox 3.0.11 Firefox 3.0.11 pada Windows XP Windows XP

    sukses ya buat acara agupenanya pak..
    Baca juga tulisan terbaru emfajar berjudul Belajar Dari Seekor Kucing My ComLuv Profile

Leave a Reply

CommentLuv Enabled
«
»
www.batuzakar.netweb hosting indonesia
Catatan Sawali Tuhusetya is proudly powered by WordPress (141 queries: 0.945 seconds)
Valid CSS & XHTML | KBP