Home » Pendidikan » Sensasi Jakarta ala Sekolah Pinggiran

Sensasi Jakarta ala Sekolah Pinggiran

Selama tiga hari (Kamis-Sabtu, 11-13 Juni 2009) saya bersama beberapa rekan guru SMP 2 Pegandon, Kendal, mendampingi 200-an siswa kelas VIII melakukan karya wisata ke Jakarta. Tujuannya? Selain sebagai bekal penyusunan karya tulis, kami juga ingin memperkenalkan anak-anak pada sebuah kota yang mulai berubah menjadi kota megapolitan sebagai ibuka negara itu.

Jakarta dengan segenap sensasinya, selama ini memang baru sebatas dinikmati anak-anak melalui kotak ajaib bernama televisi. Maklum, sebagai sekolah pinggiran, kami memang masih sangat awam dengan daya pikat Jakarta yang berkali-kali menjadi pusat perhatian dunia dalam berbagai event itu. Tak heran jika selama dalam perjalanan yang dimulai pukul 17.00 WIB itu, anak-anak terbawa dalam sebuah sensasi yang membuat mereka tak bisa tidur. Sepertinya, mereka sengaja ingin menghitung detik demi detik perjalanan di berbagai tempat dan kota yang mereka singgahi, sehingga sepulang dari kota, mereka bisa bercerita kepada orang tua dan sahabat-sahabat di kampung halamannya.

Kekaguman mereka akan “dunia luar” dimulai ketika tiba di kompleks Masjid Dian Al Mahri pada hari Jumat pukul 04.00 WIB. Dari berbagai sumber diperoleh keterangan bahwa masjid berkubah emas yang terletak di Jalan Meruyung, Kelurahan Limo, Kecamatan Cinere, Depok, Jawa Barat itu mulai di bangun pada tahun 1999 dan diresmikan pada bulan April 2006. Masjid ini merupakan milik pribadi Hajjah Dian Djurian Maimun Al-Rasyid, seorang pengusaha dari Serang, Banten, dan pemilik Islamic Center Yayasan Dian al-Mahri. Konon, bangunan masjid ini seluas 8.000 meter persegi yang berdiri di atas lahan seluas 70 hektare.

Secara umum, arsitektur masjid mengikuti tipologi arsitektur masjid di Timur Tengah dengan ciri kubah, minaret (menara), halaman dalam (plaza), dan penggunaan detail atau hiasan dekoratif dengan elemen geometris dan obelisk, untuk memperkuat ciri keislaman para arsitekturnya. Ciri lainnya adalah gerbang masuk berupa portal dan hiasan geometris serta obelisk sebagai ornamen. Halaman dalam berukuran 45 x 57 meter dan mampu menampung 8.000 jemaah. Enam menara (minaret) berbentuk segi enam, yang melambangkan rukun iman, menjulang setinggi 40 meter. Keenam menara itu dibalut batu granit abu-abu yang diimpor dari Italia dengan ornamen melingkar. Pada puncaknya terdapat kubah berlapis mozaik emas 24 karat. Sedangkan, kubahnya mengacu pada bentuk kubah yang banyak digunakan masjid-masjid di Persia dan India. Lima kubah melambangkan rukun Islam, seluruhnya dibalut mozaik berlapis emas 24 karat yang materialnya diimpor dari Italia.

Pada bagian interiornya, ada pilar-pilar kokoh yang menjulang tinggi guna menciptakan skala ruang yang agung. Ruang masjid didominasi warna monokrom dengan unsur utama warna krem. Materialnya terbuat dari bahan marmer yang diimpor dari Turki dan Italia. Di tengah ruang, tergantung lampu yang terbuat dari kuningan berlapis emas seberat 2,7 ton, yang pengerjaannya digarap ahli dari Italia. Di sekitar masjid dibuat taman dengan penataan yang apik dan detail. Selain taman, juga dibangun rumah tinggal sang pendiri masjid dan gedung serbaguna yang menjadi tempat istirahat para pengunjung .Sedangkan untuk parkir, disiapkan lahan seluas 7.000 meter persegi yang mampu menampung kendaraan 300 bus atau 1.400 kendaraan kecil.

Kami bersama anak-anak sempat melakukan shalat Subuh berjamaah. Masjib Dian al-Mahri memang terkesan “memanjakan” kekuatan spiritual dan aktivitas rohaniah para jamaahnya. Ada kerinduan yang selalu menyusup ke dalam lorong sanubari ketika nilai rohaniah itu menyentuh ke dalam pusat kepekaan spiritual kita. Usai makan pagi, perjalanan dengan menggunakan empat armada bus itu dilanjutkan ke Jakarta pukul 07.00 WIB. Saya heran, semalaman sepertinya anak-anak tidak tidur, tetapi mereka tak pernah merasa capek dan mengantuk. Sepanjang perjalanan, selalu saja ada yang dikomentari secara khas anak-anak kampung ketika melihat objek yang baru pertama kali mereka lihat.

Monas, objek yang pertama kali kami tuju, sekitar pukul 11.00 WIB sewaktu kami tiba, dalam keadaan lengang. Tak seperti digambarkan di TV yang selalu padat dan bergemuruh dengan berbagai ritual acara-acara kenegaraan. Sayangnya, kami hanya sempat menikmati ruang museum diorama yang menggambarkan sejarah kebesaran nusantara dan menyaksikan naskah proklamasi yang dibacakan oleh Presiden I RI, Soekarno. Kami tak sempat naik ke puncak Monas dan beribadah shalat Jumat karena perjalanan yang menggunakan jasa biro ini harus secepatnya dilanjutkan ke Ancol. Tiba di Ancol, sekitar pukul 13.00 WIB, kami segera makan siang, lantas menuju ke Dunia Fantasi (Dufan).

Sebelum saya tiba di Dufan, ternyata mantan murid saya, Farhan, yang kebetulan sedang berada di Jakarta dan sudah saya kontak sebelumnya, sudah masuk lebih dahulu. Begitu saya bertemu dengannya, dia  telah membaur dengan anak-anak yang diberi kelonggaran untuk menikmati berbagai jenis permainan hingga pukul 15.30. Karena anak-anak bersama rombongannya masing-masing menyebar ke berbagai jenis permainan, saya, Farhan, dan beberapa teman sempat menikmati tiga jenis permainan, yakni halilintar, kincir, dan tornado. Dua di antaranya, yakni halilintar dan tornado, konon termasuk jenis permainan yang mampu menyajikan sensasi tersendiri. Mendebarkan dan  membuat jantung berdetak lebih keras. Halilintar, misalnya, dengan 6 gerbong, kereta ini akan berjalan dengan kecepatan yang sangat tinggi, lalu menikung dengan cepat dan puncaknya akan berputar dengan posisi menghadap ke tanah.

“Berani ndak, naik di barisan depan?” tantang seorang teman.

“Aha, siapa takut? Asalkan sampeyan juga siap senam jantung bersama saya, hehe ..!” jawab saya sekenanya.

Maka, setelah antre dan tiba giliran, kami jadi duduk di gerbang paling depan. Senam jantung pun dimulai. Semula pelan, tapi mendadak semakin kencang mengikuti gerbong kereta yang meluncur dengan cepat melalui jalur kereta yang didesain sedemikian rupa hingga tubuh kita menghadap ke bawah dalam posisi terbalik. Hmm … benar-benar mendebarkan; ngebut, naik turun, menikung tajam, berputar, seakan-akan mau terjun menjadi satu.

Tornado lebih dahysat dalam memicu adrenalin kecemasan. Wahana yang konon beroperasi sejak 10 juni 2007, dan diresmikan oleh Gubernur Jakarta Sutiyoso itu, dianggap sebagai wahana yang paling seram dan menegangkan, sehingga sempat muncul isu telah memakan korban jiwa. Saat berada di ketinggian tertentu, tubuh kita akan diputar selama berkali-kali dengan kecepatan tinggi seperti gasing, kemudian berhenti di ketinggian tertentu dengan wajah menghadap ke bawah. Lantas diputar lagi berkali-kali. Saya sempat merem-melek, bahkan sempat membayangkan seandainya sabuk yang saya kenakan tiba-tiba terlepas. Gila, seru, menegangkan! Inilah puncak kengerian kedua setalah Halilintar di Dunia Fantasi. Rasakan derasnya pacuan adrenalin dalam tubuh saat tubuh kita diputar, dibanting, dan meluncur turun dengan cepat. Hmm … bener-benar sensasi Jakarta yang mendebarkan bagi guru ndesa seperti saya, hehe ….

Puas menikmati Dufan, kami segera shalat ‘Asar dan Zuhur secara jama’, lantas bergegas meluncur ke kawasan “Police Academy”, tempat para stuntman asal Italy beraksi. Dalam durasi 45 menit, atraksi yang dimulai pukul 16.15 WIB itu cukup menghibur. Arena pertunjukan yang berkapasitas 4.000 penonton nyaris penuh. Sejumlah property pendukung aksi, seperti bangunan tiruan Bank, Akademi Polisi, dan Kantor security dibangun tepat di hadapan podium terbuka. Sayang, selama aksi pertunjukan tersebut berlangsung kami diminta untuk tidak merekamnya dengan kamera.

Setelah acara pembukaan melalui aksi-aksi seksi polisi perempuan yang tengah berparade, pertunjukan dimulai dengan aksi kejar-kejaran antara mobil polisi dan penjahat. Seru dan menegangkan, ditambah lagi aksi sepeda motor yang “beterbangan” melintasi podium. Aplaus pemonton makin membahana ketika menyaksikan aksi mobil penjahat dan polisi yang secara bergantian melaju secara miring dengan menggunakan dua roda sebelah kiri. Benar-benar pertunjukan yang menghibur. Anak-anak yang selama ini hanya menyaksikan aksi-aksi mendebarkan itu lewat adegan film, benar-benar bisa mereka saksikan secara nyata di depan mata.

Usai sudah kami menikmati sensasi Jakarta. Setelah mampir belanja di Cempaka Mas, perjalanan pulang pun dilanjutkan. Saya lihat anak-anak sudah merasa lelah. Suasana tampak sunyi, hanya ada beberapa siswa yang duduk di bagian belakang yang masih sempat ngobrol. Suasana makin sunyi dan hanya terdengar deru bus yang lembut setelah makan malam dan beli oleh-oleh khas Jawa Barat (nama tempatnya saya lupa, hehe …). Alhamdulillah, perjalanan dengan 4 armada bus itu pun selamat hingga tiba kembali di sekolah hari Sabtu, pukul 09.00 WIB. Sayangnya, ada beberapa siswa yang tak sempat menikmati sensasi Jakarta secara utuh karena mabuk perjalanan. ***

tentang blog iniTulisan berjudul "Sensasi Jakarta ala Sekolah Pinggiran" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (14 Juni 2009 @ 07:01) pada kategori Pendidikan. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Ada 126 komentar dalam “Sensasi Jakarta ala Sekolah Pinggiran

  1. ah, serasa saya berada dalam salah satu armada bus bersama rombongan pak satu. seru! ternyata benar pepatah “there’s a child in every man.” tulisan ini membuktikannya.

    wahana permainan memang membius, pak satu. biar penakut, saat berada di dalam theme park, saya pun tak kuasa menolak “undangan” wahana-wahana yang kelihatan menyeramkan itu. siapa yang tak suka bermain dengan loncatan adrenalin? barely noone!

    perjalanan pasti selalu memperkaya pengalaman. mahal dong ikut tur begini, pak? :mrgreen:
    .-= Baca juga tulisan terbaru marshmallow berjudul Between the Two Affections =-.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *