07Jun 2009 96 Comments
Ketika Blok Indraprasta Terlepas
Wajah Yudistira memerah seperti kepiting rebus. Sorot kamera para juru foto bagaikan mata kilat yang hendak merobek-robek wajahnya. Pandangan matanya tertunduk. Tak hanya Indraprasta yang kini telah hilang, tetapi juga seluruh prajurit, saudara-saudaranya, dan Drupadi, isteri tercintanya. Perangkap yang dipasang Sengkuni dan Duryudana benar-benar berhasil memperdayai dirinya. Pandawa tak hanya kehilangan harga diri, tetapi juga kedaulatan negara yang selama ini menjadi tempat hidup ratusan juta rakyatnya. Namun, nasi telah menjadi bubur. Dia dan saudara-saudaranya mesti terusir dari negerinya sendiri yang bertahun-tahun lamanya dibangun dan dikembangkan menjadi sebuah pusat peradaban. Dia dibuang ke sebuah negeri yang jauh selama 12 tahun dan selama satu tahun harus melakukan penyamaran. Jika penyamaran mereka gagal, hukuman yang lebih sadis dan tak beradab pun sudah menanti.
“Maaf, Pak Yudis, bisakah Anda ceritakan, kenapa Anda sampai bisa terperangkap dalam permainan pihak Kurawa?” tanya seorang presenter sebuah stasiun TV yang sengaja mengundangnya secara khusus dalam sebuah acara “reality show”. Audiens serentak membelalakkan bola mata. Sudah lama mereka menantikan teka-teki tentang pengusiran mereka dari tanah Indraprasta.
“Barangkali ini sudah menjadi bagian dari takdir yang mesti kami jalani,” sahut Yudistira tanpa ekspresi. Sepasang matanya menerawang jauh entah ke mana.
“Kok Anda begitu yakin kalau ini bagian dari sebuah takdir? Argumen Anda?”
“Sebelum Indraprasta ini jatuh ke tangan negeri Hastina, sesungguhnya kami sudah mengalami peristiwa yang hampir sama. Negeri Hastina yang sejatinya juga milik kami berdua, Pandawa dan Kurawa, akhirnya juga lepas. Jujur saja, kami capek! Kami tak mau berperang, sehingga lebih mengutamakan jalan diplomasi. Demikian juga halnya dengan hilangnya Tanah Indraprasta. Sewaktu diplomasi berlangsung, kami ditawari untuk bermain judi. Kami tak bisa menolak karena sudah disepakati oleh kedua belah pihak. Dalam perjudian itu, kami kalah. Semua kami korbankan sebagai taruhan judi. Bahkan, yang lebih menyedihkan …. “ Yudistira berhenti sejenak. Sepasang matanya terasa nanar. Kedua pelupuk matanya gagal membendung arus air mata yang begitu deras menjebolnya. “Satu-satunya kehormatan dan harta paling berharga bagi kami, Drupadi, …. ikut-ikutan jadi korban keculasan Sangkuni dan Duryudana!”
Suasana stasiun TV tiba-tiba hening. Audiens sama-sama tertunduk seperti ikut merasakan getar penderitaan yang menggumpal di dada Yudistira. Sang presenter pun tak kuasa membendung rasa haru yang sontak menekan dadanya.
“Sungguh keterlaluan Sengkuni dan Duryudana! Mereka telah melakukan pelanggaran berat terhadap HAM. Kejahatan yang dilakukan sudah tak bisa dikategorikan sebagai kejahatan biasa. Mereka telah menghabisi peradaban yang dimiliki sebuah negara yang berdaulat. Terus terang saja, meskipun kami bukan rakyat Indraprasta, kami mengutuk berat tindakan jahat yang dilakukan pihak Hastina. Kami meminta Mahkamah Internasional untuk bertindak adil dan mengusut tindakan brutal negeri Hastina sesuai dengan peraturan yang berlaku!” teriak seorang peserta dari balkon.
“Setuju! Tindakan Hastina harus diusut tuntas. Sebagai sanksinya, semua negara harus memutuskan hubungan diplomatik dengan negeri sombong dan sewenang-wenang itu!” sahut peserta yang lain. Lantas, disambung teriakan-teriakan dan yel-yel pembelaan terhadap Yudistira. Mereka menuntut agar Indraprasta dikembalikan lagi kepada Yudistira.
“Upaya diplomatik yang mereka lakukan hanya akal-akalan dan tipu muslihat agar Indraprasta jatuh ke tangan mereka!” teriak yang lain. Suasana stasiun TV berubah onar. Audiens serempak berdiri dan terus meneriakkan yel-yel gegap-gempita! Karena suasana berubah onar dan tak bisa dikendalikan, acara “reality show” yang super-sentitif itu buru-buru ditutup oleh sang presenter.
***
Ya, ya, ya, peristiwa lepasnya tanah Indraprasta dari tangan Pandawa itu memang sedang menjadi perhatian dunia pewayangan. Hampir semua negara mengutuk tindakan brutal atas invasi terselubung yang telah dilakukan oleh negeri Hastina. Namun, banyak negara yang tak bisa berbuat apa-apa untuk melakukan pembelaan. Apalagi, pihak Pendawa sendiri menganggap bahwa hilangnya bumi Indraprasta sebagai bagian dari takdir yang mesti mereka jalani.
Peritiwa itu bermula ketika kapal perang Hastina selalu mondar-mandir sebagai bagian dari provokasi yang mereka tempuh. Sebagai negeri yang cinta damai, Pendawa menganggap bahwa provokasi itu sebagai hal yang biasa. Namun, para pengamat politik menilai bahwa provokasi itu merupakan bagian dari strategi Hastina yang sudah lama mengincar Indraprasta.
“Hastina itu dikenal sebagai bangsa yang licik. Berkaca pada keberhasilan mereka yang berhasil mencaplok Hastina secara utuh, mereka juga hendak menguasai blok Indraprasta. Mereka tahu, Pendawa itu dikenal sebagai bangsa yang terhormat, tidak suka perang, dan lebih mengutamakan jalur diplomasi. Itulah taktik Hastina. Tapi, saya heran, kenapa pemerintah Indraprasta tak pernah mengambil sikap tegas terhadap provokasi Hastina?” tulis seorang pengamat dalam sebuah opini di surat kabar.
Maka, upaya diplomatik benar-benar dilakukan. Bukan Kurawa kalau tak bertindak licik. Dengan berbagai bujuk rayu dan tipu muslihat, mereka membuat kesepakatan dengan cara mengajak pihak Pendawa untuk berjudi.
“Berjudi sebetulnya tidak baik. Bahkan, menurut para orang bijak, berjudi sebaiknya dihindari karena sering terjadi tipu-menipu sesama lawan,” kata Yudistira di tengah-tengah perundingan.
“Maaf, Bapak Yudistira, saya kira jika Anda berjudi dengan kami, tidak ada jeleknya, sebab kalian masih bangsa serumpun. Apabila Anda yang menang, maka kekayaan Duryudana tidaklah hilang sia-sia. Begitu pula jika Duryudana menang, maka kekayaan Anda tidaklah hilang sia-sia karena masih berada di tangan saudara sendiri. Untuk itu, apa jeleknya jika rencana ini kita jalankan?” bujuk Sengkuni.
Karena tak suka berdebat, Yudistira pun terkena perangkap Sengkuni dan Duryduana. Maka permainan judi pun dimulai. Yudistira heran kepada Duryudana yang diwakilkan oleh Sengkuni, sebab dalam berjudi tidak lazim kalau diwakilkan. Sengkuni yang berlidah tajam, sekali lagi merayu Yudistira. Yudistira pun termakan rayuan Sengkuni.
Mula-mula Yudistira mempertaruhkan harta, tetapi ia kalah. Kemudian ia mempertaruhkan harta lagi, tetapi sekali lagi gagal. Begitu seterusnya sampai hartanya habis dipakai sebagai taruhan. Setelah hartanya habis dipakai taruhan, Yudistira mempertaruhkan prajuritnya, tetapi lagi-lagi gagal. Kemudian, ia mempertaruhkan negerinya, tetapi ia kalah lagi. Setelah tidak memiliki apa-apa lagi untuk dipertaruhkan, Yudistira mempertaruhkan adik-adiknya. Namun, semuanya berakhir dengan kekalahan. Harta, prajurit, saudara, dan negara Indraprasta akhirnya menjadi milik Duryudana.
Yudistira yang tidak memiliki apa-apa lagi, nekat mempertaruhkan dirinya sendiri. Sekali lagi ia kalah sehingga dirinya harus menjadi milik Duryudana. Sangkuni yang berlidah tajam membujuk Yudistira untuk mempertaruhkan Drupadi. Karena termakan rayuan Sangkuni, Yudistira mempertaruhkan isterinya, yaitu Dewi Drupadi. Banyak yang tidak setuju dengan tindakan Yudistira, tetapi mereka tak bisa berbuat apa-apa karena hak semacam itu hanya menjadi milik Yudistira.
Maka, Drupadi pun dijemput paksa. Dursasana, salah seorang petinggi Hastina, bahkan bermaksud menelanjangi perempuan sintal itu di depan umum. Beruntung, tindakan tak senonoh itu gagal terwujud. Sambil menangis terisak-isak, Drupadi berkata, “Sungguh saya tidak mengira kalau di Hastina kini telah kehilangan banyak orang bijak. Buktinya, di antara sekian banyak orang, tidak ada seorang pun yang melarang tindakan Dursasana yang asusila tersebut, ataukah, memang semua orang di Hastina kini telah seperti Dursasana?” ujar Drupadi kepada semua orang yang hadir di balairung. Para orangtua yang mendengar perkataan Drupadi tersebut tersayat hatinya, karena tersinggung dan malu.
Melihat perbuatan Dursasana yang asusila, Bima bersumpah, akan merobek dada Dursasana dan meminum darahnya. Setelah bersumpah, terdengarlah lolongan anjing dan srigala, tanda bahwa malapetaka akan terjadi.
Entah, bagaimana nasib para Pendawa dan ratusan juta rakyat Indraprasta setelah negeri mereka dicaplok Hastina! *** (Tancep kayon)
Tulisan lain yang berkaitan:
Tulisan berjudul "Ketika Blok Indraprasta Terlepas" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (7 June 2009 @ 22:16) pada kategori Sastra, Wayang dan telah dikunjungi oleh . Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Jika tertarik dengan tulisan ini, silakan di-share/bookmark melalui jejaring berikut ini:













Oct 04, 2010 @ 15:58:21
Mampir gan… kunjungi balik ya…
Oct 10, 2010 @ 17:04:07
ok, salam ngeblog!
Jun 11, 2009 @ 13:28:52
Luar biasa seperti habis nonton wayangyang lakonnya.. muanteb
[rq=1694,0,blog][/rq]Ramalan Togel – Toto Singapore or Toto Hongkong 4D-2D
Jun 11, 2009 @ 13:15:02
Malaysia vs Indonesia
Kurawa vs Pandawa
sebuah analogi yang tepat…
[rq=1675,0,blog][/rq]Khoe Seng Seng dan Prita Mulyasari; Gagalnya Sebuah Negara
Jun 11, 2009 @ 09:42:03
Seperti biasa, cerita pak Sawali menggelitik…negeri pewayangan nya mirip dengan negeri tetangganya dari dunia nyata itu ya?
Atau lebih dekat ke negeri dunia mimpi?
[rq=1346,0,blog][/rq]Hubungan orangtua dan anak yang terkadang “sangat sulit”
Jun 11, 2009 @ 07:19:43
Njajal ntranslate sithik Pak:
Because no controversialist, Yudistira also affected Sengkuni trap and Duryduana. Maka permainan judi pun dimulai. But gambling is a game starts. Yudistira Duryudana to wonder who was represented by Sengkuni, because in the game, if not commonly represented. Sengkuni the sharp-tongued, once again seduce Yudistira. Yudistira any petition Sengkuni eaten accidentally.
[rq=1131,0,blog][/rq]Kalau Tidak Masuk, Akan Dikeluarkan !
Jun 11, 2009 @ 07:15:39
Yudhistira terusir terus nggawe percetakan Pak…
[rq=1126,0,blog][/rq]Kalau Tidak Masuk, Akan Dikeluarkan !
Jun 10, 2009 @ 03:00:32
Kasihan betul negeri pewayangan tersebut. Ia selalu dijadikan tumbal untuk menggambarkan secara metafora negeri mimpi yang dimaksud. Rasanya negeri wayang ini lebih nyata ketimbang negeri mimpi yang dikisahkan olehnya… Hihihi
Baca juga tulisan terbaru Daniel Mahendra berjudul Bagaimana Merangsang Impian?
Jun 10, 2009 @ 03:40:33
@Daniel Mahendra,
hmmm … ada benarnya juga dikasihani, mas daniel, hehe … negeri mimpi yang selalu gagal utk mewujudkan impiannya kali ajang, mas dan, hehe …
Jun 09, 2009 @ 23:17:26
kayak semacam macan ompong
Baca juga tulisan terbaru abee berjudul homo dan lesbi pilihan?
Jun 10, 2009 @ 03:39:37
@abee,
sapa, mas abee yang kayak macan ompong, hiks.
Jun 09, 2009 @ 22:03:04
Kenapa tidak diganyang aja negeri Hastina itu
Jun 10, 2009 @ 03:39:12
@Rian,
kalau dalam pewayangan, konon memang ada perang besar nantinya, mas rian. tapi, perang itu pun konon juga sudah ditakdirkan.
Jun 09, 2009 @ 21:15:56
abis muter2, eh balik ke mari lagi bang
Baca juga tulisan terbaru attayaya berjudul Asas dan Tujuan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik
Jun 10, 2009 @ 03:38:29
@attayaya,
loh, kok bisa muter2 terus, bang atta, mudah2an ndak sampai tersesat, hehe …
Jun 09, 2009 @ 20:07:33
mas, ini alegori tentang Indonesia ya
walaupun bagaimanapun, mari selamatkan Indonesia
Baca juga tulisan terbaru ucu atan berjudul Umpan Daun Yong Dollah
Jun 10, 2009 @ 03:37:58
@ucu atan,
hehe … mas ucu yang layak utk menafsirkannya, hehe …
Jun 09, 2009 @ 19:48:57
Saya menikmati ceritanya aja suhu sawali, dan bisa dijadikan cerita bobo buat anak
Baca juga tulisan terbaru pututik berjudul Vanbook A1N70T dari Alnect Komputer
Jun 10, 2009 @ 03:37:26
@pututik,
matur nuwun, mas putut, hehe … mudah2an putranya cepet bobok ya, hehe …
Jun 09, 2009 @ 19:26:55
Cerita yang mantab dan top pak… alurnya bener juga kok kayak mirip2 yang amat mirip sama di negara yang gemah ripah loh jinawi itu pak
Baca juga tulisan terbaru Novianto berjudul Yang Nanggung dan Yang Jawab
Jun 10, 2009 @ 03:36:08
@Novianto,
walah, mas nopy bisa saja nih, biasa saja kok, tulisan iseng dan slengekan.
Jun 09, 2009 @ 14:47:42
wah.. paaaannjaanng banget ceritane.. he..
Baca juga tulisan terbaru AeArc berjudul Beli domain di murahostdotkom
Jun 10, 2009 @ 03:35:29
@AeArc,
hehehe … memang panjang, mas. mestinya ini bisa lebih panjang lagi, hehe … sayang, jari2nya sudah gempor, hiks.
Jun 09, 2009 @ 13:11:31
andaikan saya bisa berkesempatan menjadi murid bapak, terus di kelas dikasih cerita wayang sensitip begini, alangkah pinternya saya kalo besar nanti PakSawali. Makasih pak…
Kalau mau mencoba, mari kita tanyakan pada para prajurit yang (katanya) patriotis itu “Kenapa Anda menjadi prajurit?” dari pengalaman saya kok banyak yang menjawab “Susah gus nyari kerja, mumpung ada yang nawarin jadi prajurit, ya Alhamdulillah akhirnya jadi seperti ini”…
Trus? apa hubungannya?
Dengan niat/cita-cita awal menjadi prajurit saja sudah seperti itu, mana mungkin bisa diharapkan untuk benar2 membela kedaulatan IndraPrasta? apalagi menjadi PEMIMPIN IndraPrasta? Saya kok berani berjudi (meskipun dibenci rakyat Indraprasta dan dewata) lebih besar patriotisme warga sipil daripada mereka yang berseragam prajurit. pasti bapak masih ingat “Ganyang Malaysia” bukan? meski saya belum lahir ketika itu, saya dapat merasakan betapa besarnya kemauan rakyat yang dipimpin oleh rakyat SIPIL dalam membela kedaulatan dibanding prajurit yang sibuk berebut kekuasaaan di jakarta meski dengan tumpahnya darah sesama prajurit!!!!
Hanya kepada Tuhan Yang Maha Mengatur saja tempat saya berlindung kalau sudah seperti ini……
(weks, kok udah jadi posting gini, maap PakSawali kalau komentar saya kepanjangan)
Baca juga tulisan terbaru belajar membuat blog berjudul belajar membuat blog
Jun 10, 2009 @ 03:34:45
@belajar membuat blog,
hemmm … terima kasih komentarnya, mas naim. makin menambah waasanb menarik bagaimana seharusnya kita membangun nilai2 nasionalisme. hmm … ternyata sipil pun tak kalah heoriknya dibandingkan dg militer, yak?
Jun 09, 2009 @ 12:03:55
nasib para Pandawa & rakyatnya ya jadi budak di tanah mereka sendiri
dengan iming2 kekuasaan cita2 luhur pendiri bangsa telah dijadikan taruhan dalam meja perjudian
kini ibu Pertiwi diperkosa sedang anak-anaknya pada sekarat ditembak peluru berbalut madu
…
Brrr…. Ku tahu yang Kumau…
pake ini yang lain semakin ketinggalan…
Hari gini jerawatan…
Baca juga tulisan terbaru tomy berjudul KONJUK NGARSA DALEM PANGERAN SEJATI
Jun 10, 2009 @ 03:33:21
@tomy,
wah, kata2 pak tomy yang terakhir itu kok seperti bahasa iklan, hehe … begitulah konon kisah yang diangkat oleh resi viyasa itu, pak.
Jun 09, 2009 @ 11:15:02
Pak Sawali memang ahlinya buat tulisan semacam ini. salut deh……judul dan tokoh dan alur ceritanya menggambarkan situasi politik negara kita saat ini.
Baca juga tulisan terbaru casual cutie berjudul Ugg Boots
Jun 10, 2009 @ 03:31:59
@casual cutie,
widih, mbak cutie kok jadi ikut2an, duh, jadi malu saya, haks.
Jun 09, 2009 @ 08:10:55
mmm… klo ada cerita wayang berarti ada dalangnya dong om? siapakah dalang nya?……
Baca juga tulisan terbaru aha berjudul Ibu Prita Mulyasari .. “semoga di beri kekuatan”
Jun 10, 2009 @ 03:31:34
@aha,
ayo, tebak, mas har, siapa dalangnya, wakaka …
Jun 09, 2009 @ 05:24:15
Anda memang piawai untuk urusan yang satu ini, Pak Sawali.. Selalu bisa menemukan simpul transformasi antara cerita wayang dengan realita negeri
Jun 10, 2009 @ 03:31:13
@DV,
walah, biasa saja, mas don, jadi malu saya, hiks. hanya sekadar iseng saja, kok.
Jun 09, 2009 @ 00:29:40
hmm.. persis dengan negara antah berantah yang kaya raya tapi dirundung malang berkepanjangan.. dikuasai punggawa hawa nafsu..
Salam Sayang
Salam Kangen
http://kangboed.wordpress.com/2009/06/01/krisis-multi-dimensi/
Baca juga tulisan terbaru KangBoed berjudul MISTERI ILLAHI
Jun 10, 2009 @ 03:30:35
@KangBoed,
negeri antah berantah yang mana, kangbied? kayaknya saya juga pernah dengar tuh. negeri kaya raya tapi selalu dirundung malang. hmmm… salam sayang dan kangen juga, yak.
Jun 08, 2009 @ 23:33:26
lagi sibuk cari ide cerita drama untuk anak TPA pak…. semoga bisa buat pertimbangan… terima kasih….
Baca juga tulisan terbaru ircham berjudul Setahun Yang Lalu
Jun 10, 2009 @ 03:29:43
@ircham,
oh, gitu, ya, mas, makasih kalau ada manfaatnya.
Jun 08, 2009 @ 22:22:11
Hmmm pak sawali.. setelah membaca kenapa yang terpikirkan adalah negara tetangga ya.. hehehehehe
Baca juga tulisan terbaru Danta berjudul Alnect Computer – Kamera Sahitel Sahicam DB705C
Jun 10, 2009 @ 03:29:15
@Danta,
hmmm … negara tetangga? yang mana, mas danta? kan banyak tuh negara tetangga, hehe ….
Jun 08, 2009 @ 22:18:53
iya, betul juga. kalo kita bisa memahami cerita wayang maka banyak yang mirip dengan kondisi negeri kita sendiri. sayang saya masih cupu bgt urusan ini.
Baca juga tulisan terbaru antown berjudul Visualisasi Mbok Jamu pada Ganti Baju
Jun 10, 2009 @ 03:28:47
@antown,
hmmm … kalau dimirip-miripkan memang bisa juga kok, mas anto, hehe … tergantung bagaimana kita memirip-miripkannya, hiks.
Jun 08, 2009 @ 20:36:07
wah ceritanya mirip dengan kasus ambalat nih pak
Baca juga tulisan terbaru Taktiku berjudul Britney Spears Tampil Telanjang Dada
Jun 10, 2009 @ 03:27:52
@Taktiku,
hehehe … mungkin ada benarnya juga, mas dendi, hehe … tapi bisa juga ditasfsirkan lain, kok.
Jun 08, 2009 @ 20:23:23
wow! lagi-lagi cerita pewayangan telah menjadi analogi untuk realita yang terjadi di negeri ini. jujur saya yang sangat cetek dalam urusan wayang ini sangat terbantu untuk belajar dari tulisan-tulisan pak satu.
mudah-mudahan menjadi pembelajaran bagi kita semua.
Jun 10, 2009 @ 03:27:13
@marshmallow,
matur nuwun, terima kasih apresiasinya, mbak yulfi. konon sih wayang memang menggambarkan perilaku manusia di atas pakeliran dunia, mbak, hehe …
Jun 08, 2009 @ 19:31:42
whwhw.. jadi ini cerita wayang..
Jun 10, 2009 @ 03:26:15
@Reza Fauzi,
walah, jangan merendah begitu dong, mas reza, hehe …
Jun 08, 2009 @ 19:01:14
“disana” ada cerita wayang juga ngga yaa?
kalau ada, cerita ini enak untuk dibaca
Baca juga tulisan terbaru mascayo berjudul ngeblog itu nggak melulu cuma buat cari duit di internet
Jun 10, 2009 @ 03:23:44
@mascayo,
di sana? hmmm … maksudnya mana, mascayo? hehe …
Jun 08, 2009 @ 17:34:07
salut wat postnya…
sampe2 kebawa kedalam seritanya nih…
saya sependapat sama penilaianmas esha…
kloberpoliik itu jangan terlalu berprasangka baik…
karna bisa membunuh kita sendiri..
karna bisa menjadikan bomerang wat kita…
post yg menarik nih…
saya tunggu post2 yg seperti ini lagi yah
lam kenal jga ya mas
Jun 10, 2009 @ 03:22:59
@Rahasia Search Engine,
hmmm …. penyataan mas esha bagus juga tuh, mas. kalau terlalu berprasangka baik, seringkali gampang jadi korban, apalagi hidup di tengah peradaban edan seperti sekarang.
Jun 08, 2009 @ 16:42:41
Waduh Dunia wayang yang mengesankan…
Baca juga tulisan terbaru wahyu ¢ wasaka berjudul Lagi : Pelecehan Agama Dengan Komik
Jun 10, 2009 @ 03:22:05
@wahyu ¢ wasaka,
walah, mas wahyu bisa saja nih, biasa saja kok.
Jun 08, 2009 @ 16:10:30
secara garis besar aku bisa paham ceritanya… yang aku belum ‘ngeh’, si drupadi itu mewakili siapa ya?
Baca juga tulisan terbaru roitsoft berjudul Ini Dia, Panduan Resmi SEO dari Google
Jun 10, 2009 @ 03:21:35
@roitsoft,
walah, ya mewakili dirinya sendiri, toh, mas, hehe … nanti kalai dikaitkan dg manohara malah ndak pas, hehe …
Jun 08, 2009 @ 15:07:44
Dalam cerita di atas secara tidak langsung saya menangkap hal bahwa tersisip salah satu cerita tentang negeri kita sendiri. Ya tidak jauh dari berta tentang pencaplokan wilayah yang dilakukan oleh Malaysia terhadap NKRI.
Terkadang saya sempat berfikir, andai saja petinggi negara kita punya strategi seperti para kurawa tetapi berjiwa pandawa, tentu saja negeri ini akan menjadi lebih terjaga kesatuannya.
Baca juga tulisan terbaru f@R#@N berjudul Sendratari Legenda Babad Kaliwungu
Jun 10, 2009 @ 03:20:34
@f@R#@N,
hmmm … pendapatmu bagus juga, farhan, strateginya pakai kurawa, tetapi jianya seperti pendawa. hmm … menarik!
Jun 08, 2009 @ 13:53:24
Inikan hanya di jagad pewayangan…
smoga saja di Indonesia tidak terjadi seperti di Indraprasta…
Baca juga tulisan terbaru masher berjudul Kualitas Anak Didik Menurun
Jun 09, 2009 @ 19:59:30
@masher,
iya, mas her. kia berharap peristiwa tragis yang terjadi di indraprasta itu tak terjadi di negeri kita.
Jun 08, 2009 @ 13:42:00
semoga tidak terjadi di negeri kita ini
Baca juga tulisan terbaru achmad sholeh berjudul Yang lain Berlari Ternyata Aku Masih Jalan di Tempat
Jun 09, 2009 @ 19:59:00
@achmad sholeh,
amiiin, semoga demikian, pak sholeh.
Jun 08, 2009 @ 12:25:42
kalo negara kita di “caplok” negara tetangga, gmn nasib kita selanjutnya ya Pak Sawali???
Baca juga tulisan terbaru casual cutie berjudul Shoes Sale on Shopbop.Com. Hurry Up!!!
Jun 09, 2009 @ 19:58:44
@casual cutie,
walah, lha yang pasti kedaulatan negara kita jadi terancam toh, mbak cutie, hehe …
Jun 08, 2009 @ 12:00:50
menarik untuk di baca
Jun 09, 2009 @ 19:58:19
@wahyoe,
matur nuwun, mas wahyoe.
Jun 08, 2009 @ 11:58:48
Itulah bahaya judi, jangan sampai kita terjerat olehnya….
Bahkan seorang jujur seperti Yudistira, punya kelemahan….
ibarat kisah seorang bijak yang tenggelam karena kebijaksanaannya…
Baca juga tulisan terbaru tengkuputeh berjudul ODE SEEKOR ELANG
Jun 09, 2009 @ 19:57:59
@tengkuputeh,
betul, mas tengku. apa pun motifnya, judi ndak ada untungnya sama sekali.
Jun 08, 2009 @ 11:45:49
Wah cerita yang sangat menarik, saya simpan ya pak
Baca juga tulisan terbaru GenerasiPatah Hati berjudul Netbook Advan Vanbook A1N70T-[Alnect Komputer]
Jun 09, 2009 @ 19:57:23
@GenerasiPatah Hati,
makasih apresiasinyam, mas fadhil, hmmm …. silakan kalau mau disimpan!
Jun 08, 2009 @ 10:40:09
Menikmati suguhan bernas … Pak Guru selalu ‘mendalam’. Great
Baca juga tulisan terbaru Ersis Warmansyah Abbas berjudul Surga Kemujudan Intelektual
Jun 09, 2009 @ 19:56:59
@Ersis Warmansyah Abbas,
matur nuwun apresiasinya, pak ersis.
Jun 08, 2009 @ 10:13:38
wah…..sip dan salut banget cerita wayangnya, mengena sekali pak.
Jangan sampai kejadian yang sama terulang kembali. Pemerintah harus tegas mensikapi hal ini kalau tidak mau lepas lagi pulau – pulau terluar milik kita.
Jun 09, 2009 @ 19:56:44
@SEPUR,
sepakat, mas pur. seharusnya seperti sikap yang terbaik. jangan sampai sejengkal tanah pun direbut orang. jangan sampai seperti pendawa-lah!
Jun 08, 2009 @ 10:03:02
Kita harus hati – hati, nenk moyang kita sudah mencontohkan dengan sangat pandai.
Baca juga tulisan terbaru Cak Win berjudul Debat atau Musyawarah untuk mencapai Mufakat
Jun 09, 2009 @ 19:55:57
@Cak Win,
betul banget, cak win. nilai2 filosofis dalam mahabarata dan ramayana sesungguhnya bisa dijadikan sbg bahan refleksi dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang muncul.
Jun 08, 2009 @ 07:08:14
lagipula itu sudah menjadi milik kita… harusnya jgn sampai direbut… T_T
Baca juga tulisan terbaru bima berjudul Sang Pengembara
Jun 09, 2009 @ 19:54:56
@bima,
sepakat 100%, mas bim.
Jun 08, 2009 @ 07:06:05
Semoga bisa damai yah antara bangsa serumpun…. dan jangan berjudi demi sebuah yang belum tentu adanya di perut bumi T_T…
Artikel yang sungguh berkesan pak guru! i love it
Baca juga tulisan terbaru bima berjudul Sang Pengembara
Jun 09, 2009 @ 19:54:39
@bima,
amiin, semoga demikian, mas bima. lagian ndak ada untungnya bermain judi, hehe …
Jun 08, 2009 @ 05:02:33
wes suwe ora maca crita Waayang…..
Baca juga tulisan terbaru LuxsmAn berjudul Jepretan Canon Ixus 70 [Alnect Computer]
Jun 09, 2009 @ 19:54:01
@LuxsmAn,
keasyikan baca monetize blog kali aja, mas lukman, hehe …
Jun 08, 2009 @ 01:28:17
Sengkuni dan Duryudana mengajak berjudi di Mahkamah Internasional.
Jun 09, 2009 @ 19:53:27
@kombor,
wah, dasar sengkuni dan duryudana. selalu saja ulah mereka bikin panas hati, mas arif, hehe …
Jun 07, 2009 @ 23:58:36
Seperti cerita di negeri tetangga…
Baca juga tulisan terbaru Wongbagoes berjudul Manohara, Mengapa Semua Mesti (ikut) Ribut???
Jun 08, 2009 @ 00:46:57
@Wongbagoes, o…. dasar wongbagoes
Baca juga tulisan terbaru arifudin berjudul Kemana semangat itu?
Jun 09, 2009 @ 19:52:37
@Wongbagoes,
negeri tetangga mana itu, wongbagoes?
Jun 07, 2009 @ 23:26:15
salut pak sampeyan menemukannya… horee…
seting yang asik, ditambah siletannya itu loh…, bukankah pundi-pundi itu hanya permainan belaka, apalagi para satpam yang pura-pura menjaga agar kelihatan patriotis, saat ini merekalah yang menjadi para pemain judi, sementara Indraprasta sendiri sedang dalam kungkungan duka yang mendalam karena kekalahan judi yang sudah puluhan tahun,… wahaha…
Baca juga tulisan terbaru suryaden berjudul Katanya Syariah Islam
Jun 09, 2009 @ 19:52:12
@suryaden,
hmmm…. hanya kebetulan saja kok pingin mosting wayang slengekan saat blok ambalat sedang ramai diperbincangkan, mas surya, hehe …
Jun 07, 2009 @ 23:04:05
wa wah wah menark skali ceritanya mas
Baca juga tulisan terbaru yogi berjudul Fundamental Yoga techniques for starters
Jun 09, 2009 @ 19:51:19
@yogi,
hmmm … biasa saja kok, mas yogi. makasih apresiasinya.
Jun 07, 2009 @ 22:48:04
wah wah wah, kalau sampai “indraprasta kita” juga dicaplok, apa yang bisa kita lakukan?
semoga pencaplok itu bisa segera sadar.
Baca juga tulisan terbaru Dum berjudul Blogging Biasasaja #4; Belajar dan Bersaudara
Jun 09, 2009 @ 19:50:47
@Dum,
makanya, berusaha semaksimal mungkin agar jangan sampai kecaplok, mas deno, hehe …
Jun 07, 2009 @ 22:42:37
Yudhistira dan Pandawa itu terlalu berprasangka baik….konon dalam politik terlampau berprasangka baik itu tidak bagus..cenderung dimanfaatkan orang…apalagi skenario judi itu dibuat oleh Batara Durna yang memang guru mereka…..kalo skenariao itu berlanjut maka saya hanya akan menunggu lakon Kresno Gugah untuk menuntut segala kecurangan itu…….
Baca juga tulisan terbaru esha di birulangit berjudul Mbah kakung dan tukang tambal ban….
Jun 09, 2009 @ 19:50:12
@esha di birulangit,
hmmm …. ternyata selalu berprasangka baik tdk selalu menguntungkan, ya, mas. lakon2 dalam mahabharata maupun ramayana sesungguhnya bisa dijadikan sbg refleksi para elite negeri ini dalam menyelesaikan persoalan yang muncul.
Jun 07, 2009 @ 22:22:07
cerita tntng yudhistiranya menarik nih kang….tp agak membingungkan jg nih ato otakku ga beres ya heuehehe
Baca juga tulisan terbaru ridwanox berjudul Selamatkan Ibu Prita Sebuah Pemikiran Tentang Negeri Ini
Jun 09, 2009 @ 19:47:30
@ridwanox,
hehehe … hanya sebuah kisah slengekan, kok, mas ridwan.