Home » Cerpen » Kanal

Kanal

Cerpen Ratna Indraswari Ibrahim
Dimuat di Jawa Pos (04/26/2009)

Menelusuri jalan-jalan di Universitas Amsterdam, Nunung merasa sangat tidak nyaman (dia baru tiga bulan di sini untuk mengambil S2 atas biaya dari negeri ini).

Nunung sibuk menutupi rambutnya dengan penutup kepala jaketnya, agar bisa mengurangi hawa dingin. Tiba-tiba Bryan berkata, ”Rambut orang Asia itu bagus ya.”

Nunung menatap wajah Bryan. Negeri ini mungkin penuh basa-basi. Dia tak mau jauh berpikir. Melihat ke arah lain, beberapa mahasiswa berseliweran dengan tas ransel di pundak. Bryan mengulangi ucapannya, ”Rambut orang Asia memang bagus. Aku kepingin melukis rambutmu, Nyonya.”

Nunung tersenyum. Lelaki itu bermata cokelat! Selama di kampus, mereka memang sering jalan bareng ke ruang kuliah, perpustakaan, dan kantin. Juga ketika mereka menelusuri kanal-kanal.

”Setelah tiga bulan di sini, aku belum tahu siapa kamu sebenarnya! Kecuali teman sekuliah dan kebetulan apartemen kita berdekatan.”

”Kalau begitu aku yang tahu tentang kamu. Penduduk negerimu 227 juta dan sebagian besar muslim. Begitu plural bangsamu, dari yang bisa belajar di sini sampai mereka yang tetap bertahan hidup di pedalaman Kalimantan atau Papua. Sedangkan di sini hampir seragam kehidupannya. Negerimu merupakan sebuah antropologi sejarah manusia yang sangat tua. Almarhum opaku pernah ke sana, tapi percayalah, dia tidak pernah menembak siapa pun. Karena dia bukan militer tetapi seorang pegawai di pabrik gula. Aku pernah menemukan foto perempuan Jawa yang cantik di lemari buku opa. Aneh, dia mirip kamu!”

”Menurutmu, siapa dia?”

”Cerita Mamie, dia adalah Ningsih Wulandari, teman opa bermain tenis, anak amtenar dari pabrik gula. Aku menduga ada hubungan khusus di antara mereka.”

Nunung tersenyum. Dia kembali melihat mata cokelat itu. Selama tiga bulan di sini, dia tidak begitu dekat dengan teman-teman bulenya. Pada hari libur, Nunung lebih suka bermain dengan mahasiswa Indonesia, atau dengan mahasiswa Malaysia yang berbahasa Melayu. Padahal mentornya bilang, ”Kau bisa belajar banyak dari orang-orang yang begitu plural di kampus ini. Sedangkan orang Indonesia paling suka bergerombol. Cobalah bergaul dengan komunitas lain.”

Nunung memandang Bryan. ”Aku melihat bangsamu dengan semangat individu, kerja keras, dan teratur. Buat apa?”

Bryan tersenyum. ”Aku juga mendengar, orang Bali suka gamelan dan menari.”

Nunung merasa ada kenaifan dalam kata-kata Bryan. ”Bryan, yang kamu sebut-sebut itu hanyalah the small part of Indonesia. Indonesia bukan hanya Bali.”

Bryan mengeryitkan hidungnya. Nunung tidak suka dengan sikap itu. ”Maaf, aku kira yang terkenal cuma Bali.”

Nunung mengatakan, ”Kau tahu, negeriku sangat cantik dan luasnya hampir sedataran Eropa. Kau harus melihat itu, suatu hari nanti.”

”Nunung, kamu tahu, aku bukan orang kaya. Aku baru bisa mengagendakan itu untuk tiga-empat tahun mendatang. Setelah selesai kuliah, aku akan mengajar di Cape Town, sebuah kota di Afrika. Kemudian baru bisa melihat negerimu, Nyonya.”

Nunung terdiam. Lelaki itu pasti tidak sama dengan lelaki di negerinya, khususnya dengan si Mas. Dan, seharusnya si Mas tidak perlu khawatir, karena Nunung mencintai dan tetap akan mencintai Masnya beserta bayi perempuannya yang masih berusia 10 bulan.

Nunung harus berhenti berpikir karena kini sudah sampai di ruang kuliah. Yang harus dia pikirkan adalah tugas-tugasnya yang banyak. Sungguh, dia tak mau kalah dengan Bryan atau bule lain. Karena itu, dia berjuang keras dengan belajar sampai larut malam.

Tiba-tiba, Mas menelepon dan mengatakan kekhawatirannya. ”Apakah betul di sana ada kelompok anti-Islam? Kabar itu menakutkan.” Nunung bilang, sejauh ini dia baik-baik saja dan sedang sibuk menyesuaikan diri dengan udara musim dingin di Amsterdam. Ia menceritakan bagaimana dirinya takjub melihat salju pertama yang turun di jendela apartemennya.

Mas tertawa mendengar ucapan Nunung.

Masih di depan layar komputer, Nunung merasa capek. Dia heran pada kehidupan bule di sini. Yah, dengan kehidupan mereka yang terjadwal dan rumah-rumah jompo bagi orang tua, satu hal yang aneh bagi Nunung. Padahal, Eyang tinggal serumah dengan orang tuanya sampai beliau meninggal. Nunung ingat ucapan Eyangnya, ”Papamu kalau kerja ngotot kayak landa. Padahal anaknya cuma dua, sedangkan anakku sepuluh. Eyang Kakung masih punya waktu untuk ngobrol bersama anak-anaknya. Tanyakan hal itu kepada Mamamu. Dia lebih sering melihat bapaknya daripada kamu melihat Papamu. Jangan seperti itu ya Nduk, kalau nanti menjadi ibu.”

Nunung menggangguk hikmat. Dia tidak ingin seperti masa kecilnya, karena kesibukan Papa-Mamanya di luar rumah, dia jarang bertemu! Namun, hari ini dia meninggalkan suami dan anaknya. Mama bilang, ”Ini kesempatan bagus dan tidak datang dua kali. Mama bersedia merawat bayimu, karena jabatan Mama sebagai dekan sudah selesai. Sebagai dosen biasa, Mama masih punya waktu.”

***

Jam dua malam, Nunung masih mengerjakan makalah. Nunung mulai berpikir, apakah dia sudah seperti bule-bule itu ya! Tiba-tiba pikiran Nunung ke Bryan lagi. Bagaimana kalau dia menjadi seorang suami. Sebaik-baik si Mas, dia tidak pernah ingin belajar memasak. Tapi Bryan, ”Sejak kecil aku sudah membantu Mamie memasak.”

Nunung baru ingat kalau Sabtu depan Bryan mengundang dia ke rumah kakaknya, Susan, yang menikah dengan seorang muslim. Nunung menanyakan, apakah Susan juga ikut menjadi muslim, Bryan menggelengkan kepala. ”Susan tidak menganut salah satu agama. Tapi dia membiarkan kedua anaknya dididik secara muslim oleh Papienya.”

Seperti kebanyakan ibu rumah tangga, Susan mengerjakan semua dengan baik sekalipun tanpa pembantu. ”Anak-anakku belajar agama di masjid yang tidak jauh dari rumah kami.” Sebelum Nunung sempat bertanya, Susan meneruskan omongannya, ”Buatku semua agama itu baik. Suamiku memahami, kami adalah individu yang tidak akan menjadi orang lain, sekalipun terikat pada pernikahan.”

”Suamiku juga memberi kebebasan sebagai individu. Tidak semua perempuan di negeriku mendapat dukungan dari suaminya sepertiku. Namun, sepulang mengajar, aku tetap menyiapkan makanan untuk suamiku. Kalau aku lelah, suamiku yang menyiapkan makan, mencuci piring dan mendongeng untuk anak-anak,” kata Susan telak.

Nunung tercenung. Dia tidak bisa membayangkan Masnya mau melakukan hal itu. Kalau dia melakukan itu, Mama (yang mantan dekan itu) pasti menasehatinya, ”Kalau dilihat oleh orang lain, saru, Nduk. Apalagi kalau dilihat mertua dan ipar-iparmu.”

”Aku sendiri tidak pernah melakukan yang tidak pantas menurut tradisi kita. Aku suka melakukan itu dan tidak pernah merasa terjajah oleh Papamu,” sambungnya.

Malam itu, keluarga Susan banyak bertanya tentang Indonesia. Sebetulnya Nunung sedikit tertekan ketika Susan dan Robert, suaminya, bertanya tentang korupsi, hukum yang lemah, yang seolah berpihak kepada para pejabat. Nunung bilang dengan sungguh-sungguh, ”Itu politik, sebagian rakyat Indonesia menjadi korban dari sistem politik itu. Di sisi lain, apakah kalian bisa bayangkan, kalau ada orang sakit atau meninggal, berpuluh-puluh orang akan larut dalam kesedihan itu. Waktu Eyang meninggal, berpuluh-puluh orang ikut mendoakan selama seminggu berturut-turut. Dan, mereka tidak dibayar!”

Pulang dari rumah Susan, Bryan berkata, ”Kau pasti tertekan atau mungkin tersinggung mendengar ucapan mereka. Tapi kau harus tahu, itu tanpa maksud apa pun. Cuma rasa ingin tahu yang berlebihan.”

Nunung diam saja. Malam itu dia merindukan Masnya, bayinya, Mama dan teman-teman dekatnya yang mungkin pada saat ini berkumpul di salah satu rumah mereka, ngopi dan ngobrol.

Bryan berbicara lagi. ”Nunung masih mau menerima tawaranku kan? Kita pergi ke sebuah danau, aku ingin melukismu di sana. Maaf, aku sudah membikin sketsanya. Aku melihat kau seperti Ningsih Wulandari, perempuan Jawa yang cantik itu.”

Nunung merasa pipinya menjadi merah. (Masnya tidak pernah memujinya seperti itu).

”Aku ingin sekali belajar dan mengenal bangsamu Bryan. Tapi aku tidak suka dengan pendapat orang. Aku harus mencarinya sendiri, tentang kau, dan bangsamu.”

”Nunung, aku tahu kau menganggap bangsaku narsis. Secara politik mungkin ya, tapi secara individu, kami butuh teman juga. Apalagi kalau bicara tentang Bali. Kami selalu ingin melihat tarian adat dan dewa-dewi mereka. Rasanya eksotis sekali. Sungguh kami tak habis pikir, bagaimana mereka dengan ikhlas memakai uangnya selama mereka hidup untuk ritual keagamaan. Dan, aku sebetulnya surprais sekali karena sebagai seorang nyonya, tanpa didampingi suami, kau berada di negeri ini. Aku sering membaca, perempuan-perempuan muslim sepanjang hidupnya cuma ada di seputar rumah tangganya, tidak ke mana-mana, kalau tidak didampingi sang suami.”

Nunung tertawa. ”Kalau di negeriku, kau bisa melihat kemandirian kami sampai di desa-desa. Bahkan, beberapa perempuan di desa secara kejiwaan lebih mandiri, karena mereka ikut menopang ekonomi keluarga, dan tetap menganggap suaminya sebagai kepala keluarga.”

”Aneh,” seru Bryan

Nunung, merasa perlu bercerita banyak sekali tentang Indonesia kepada Bryan. Di setiap kesempatan, Nunung juga bercerita tentang orang tuanya, bayinya, dan kakak perempuannya yang insinyur memilih jadi ibu rumah tangga ketika menikah, dan ikut suaminya yang dokter ke pedalaman Papua.

Bryan, tidak pernah kehilangan minatnya mendengarkan cerita Nunung. Sehingga setiap liburan, sambil menemani Bryan melukis, Nunung bercerita tentang Indonesia, keluarga, dan teman-temannya!

***

Bryan dan Nunung sampai sejauh ini hanya sebatas senang ngobrol bersama. Nunung tahu, dia tidak boleh jatuh cinta kepada siapa pun di sini! Kedekatannya dengan Bryan tidak menghilangkan kerinduannya pada Mas, bayinya, dan Mama. Bahkan sejak awal, dia tahu, hanya mencintai Masnya dan akan terus mencintai! Nunung ingat, bagaimana dia dulu jatuh hati pertama kali pada dosennya, sehingga sekalipun sudah lulus, dia masih ikut kuliah sang dosen yang kemudian menjadi Masnya itu. Lelaki yang santun itu memanggilnya dan berkata pelan-pelan, ”Saya rasa Anda tidak perlu memperbaiki nilai dari saya, kan sudah dapat B!” Nunung tertawa dan bilang, ”Saya senang kalau diajar Bapak.” Cerita ini bisa ditebak, tiga bulan setelah itu, sang dosen melamar Nunung menjadi istri. Yah, Nunung menceritakan itu semua kepada Bryan.

Lelaki itu melipat bibirnya dan mengatakan, ”Aku kepingin menikah dengan perempuan Indonesia sepertimu, yang memiliki kecantikan luar dan dalam.”

Nunung merasa tersanjung dan kembali pipinya jadi kemerahan. Bryan melihat dengan senyum di seluruh matanya. Nunung bercerita, ”Ada sebuah dongeng, dongeng itu kami namakan wayang. Salah satu ceritanya tentang kesetiaan Dewi Setiyawati kepada suaminya. Dia rela bapaknya lenyap, agar suaminya tidak malu bermertuakan seorang raksasa.”

Bryan mengeryitkan dahinya. ”Cerita itu betul-betul bias gender, apakah kamu mau mengorbankan keluargamu untuk seorang suami?”

Nunung menggelengkan kepala kuat-kuat, ”Tentu saja tidak. Aku ingin bisa bersetia pada suami yang bapak anakku.”

Bryan melihatnya lekat-lekat. ”Kalau begitu, kita sama-sama tidak setuju dengan kesetiaan Dewi Setiyawati. Tapi, aku bayangkan dalam imajinasiku, wajahmu tidak seperti Dewi Setiyawati tapi seperti Ningsih Wulandari!”

Mereka tertawa bersama dan Nunung bilang, ”Aku melihat laki-laki di negerimu tidak punya banyak pancaran kelelakian, seperti laki-laki di negeriku. Tapi, aku kira perempuan di negerimu sangat mandiri, mereka jadi kehilangan watak keperempuanannya.”

”Kami sudah terdidik dengan jadwal waktu yang tepat. Kau tahu, tidak ada orang lain yang bisa menolong kita kalau sakit, kecuali dengan kartu asuransi kesehatan,” kata Bryan.

”Kau tahu, tidak banyak bangsaku melakukan hal itu. Hidup kami mengalir bersama mimpi-mimpi dan harapan. Karena itu apa pun jeleknya situasi negeri, kami masih berharap ada ratu adil yang akan menolong setiap orang di negeriku,” kata Nunung.

Bryan melebarkan matanya. ”Aku kepingin belajar menjadi seperti bangsamu, mengalir seperti air.”

***

Kedekatan Nunung pada Bryan semakin lama semakin lekat. Ke mana pun mereka pergi, selalu berdua. Entah ke ruang kuliah, kantin atau perpustakaan. Bahkan sambil minum kopi terakhir, di jam-jam malam, Nunung masih mendiskusikan apa saja, baik pelajaran maupun masalah di seputar mereka. Nunung maupun Bryan bisa tertawa bersama atau kadang-kadang menjadi sangat murung, Nunung sering menanyakan masa kecil Bryan. Yah, seperti bertemu laki-laki di mana dia bisa mengekspresikan dengan bahasa yang lebih lepas, daripada ke Masnya. Ini karena jarak usia Nunung dan Masnya yang 10 tahun. Kegelisahannya sebagai seorang perempuan muda dan kegelisahan-kegelisahan waktu itu bisa diekspresikan kepada Mas, seorang lelaki yang begitu dihormatinya dan kelihatan matang. Rasa aman yang menghangatkan seluruh urat nadinya ketika dia memutuskan bersedia menjadi istri Mas. Tapi Bryan masih muda, sebaya, sehat dan mereka baru saja berusia 27 tahun, yang mungkin suka mencari-cari sesuatu yang lebih absurd. Di simpang jalan inilah, Nunung bertemu Bryan, dan merasa bisa mengekspresikan dirinya. Bryan menangkapnya dengan semangat yang sama.

Betul, Nunung masih menyayangi Masnya, sangat mencintai anak dan Mamanya, ketika dia bersama Bryan di malam yang paling membingungkan di tengah tumpukan piring makan yang belum dicuci.

”Ini tidak boleh terjadi, aku seorang istri dan ibu! Barangkali setelah ini harus ada batas-batas yang jelas.”

Bryan melihatnya lekat-lekat, ”Jujur sajalah Nunung, kita baru saja berenang di sebuah lautan tanpa tepi. Aku toh tidak keberatan menjadi bapak dari anakmu.”

Nunung seperti dibangunkan dari mimpi-mimpi. ”Aku merasa diriku seorang antropolog yang harus menjelajahi kehidupan bangsamu. Kita terpisahkan dalam banyak hal. Aku selalu merasa bangsamu realistis. Tapi nyatanya, kamu sama absurdnya dengan suamiku. Aku seperti mengeksplorasi bayang-bayang yang tidak bisa sungguh-sungguh tergenggam dalam diriku.” Nunung tidak bisa meneruskan omongannya. Bryan juga tidak berbicara apa pun.

Nunung belakangan berusaha untuk tidak begitu dekat dengan Bryan. Walaupun mereka masih jalan bersama, berdiskusi materi kuliah sampai larut malam sambil menghirup kopi, memperdebatkan kultur bangsa masing-masing, jalan-jalan ke kanal, dan melukis.

Akhirnya Nunung menamatkan studinya dengan predikat terbaik di kelas. Kepulangannya pun semakin dekat. Seperti ditelan bumi Bryan makin jarang mengunjungi Nunung. Namun, senyum Bryan mengejarnya dan berada di mana-mana!

***

Ketika Nunung memasang lukisan Bryan di rumah, Masnya berkomentar, ”Aku suka sekali lukisan itu. Sepertinya bercerita tentang kangen dan cintamu padaku.”

Nunung melihat ke arah lain, waktu di pesawat yang akan membawanya ke tanah air, dia merasa Bryan duduk di sebelahnya dan mengatakan, ”Semoga di kehidupan yang akan datang, kau adalah Ningsih Wulandari!” ***

tentang blog iniTulisan berjudul "Kanal" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (25 Mei 2009 @ 00:11) pada kategori Cerpen. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Tulisan Terkait:

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *