12May 2009 109 Comments1,917 pembaca
Kreativitas Penciptaan: antara Kekuatan Personal dan Atmosfer Komunitas
Sesungguhnya, kreativitas penciptaan, khususnya dalam dunia kepenulisan, merupakan wilayah personal, merdeka, dan otonom. Bahkan, ada yang meyakini bahwa dunia kepenulisan merupakan “dunia panggilan” yang sangat erat kaitannya dengan bakat dan talenta. Konon, tanpa bakat dan talenta, seseorang tak akan pernah memiliki “dunia panggilan” sebagai seorang penulis besar. Benarkan demikian?








Ya, ya, ya! Kalau kita mengikuti alur sejarah, seorang penulis besar memang dilahirkan oleh zamannya. Almarhum Pram, misalnya, dia menjadi besar justru karena mengalami berbagai peristiwa kelam yang sarat dengan penindasan dan tekanan. Perpaduan atmosfer represif yang terus menderanya, ditopang minat besar dan semangat perlawanan yang luar biasa, diakui atau tidak, telah membawanya pada suasana kreativitas yang menggelora dan membadai dalam kepekaan imajinasinya. Dalam suasana tertekan, Pram justru terpacu untuk memburu jatidiri lewat jalan pena yang bertahun-tahun digelutinya. Namun, sebelum melahirkan karya-karya masterpiece, adakah orang yang berani menjamin kalau Pram memang memiliki bakat dan talenta menulis? Bisakah diketahui dengan pasti bahwa si Polan adalah seseorang yang punya bakat besar di bidang kepenulisan sebelum melahirkan teks-teks kreatif yang meluncur dari tangannya?
Bisa jadi memang ada pengaruh bakat atau talenta sebagai anugerah Tuhan yang dibawa sejak lahir ketika seorang penulis menyandang nama besar. Namun, mereka diyakini tak lahir begitu saja sebagai seorang penulis, tetapi melalui sebuah proses. Bahkan, bukan mustahil bakat itu jadi sia-sia kalau tak diasah, dipertajam, atau dikembangkan lebih lanjut. Yang justru akan menjadi kendali seorang penulis adalah minat dan semangat besar, ditopang dengan ketekunan untuk mengasah kemampuan dan menggali potensi diri hingga talenta itu benar-benar mencuat ke permukaan. Pengalaman literer dinilai juga memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap serajat kepengarangan seseorang. Secara otodidak, mereka mencoba mengakrabi berbagai bacaan berbobot literer tertentu sehingga secara tidak langsung menempa kepekaan intuitifnya atau mengembangkan daya jelajah imajinatifnya.
Yang tidak kalah penting, jelas atmosfer kreativitas yang mendukungnya. Atmosfer kreativitas tak selalu identik dengan suasana kemanjaan dan kemerdekaan berkreasi. Situasi yang serba tertindas dan tertekan bisa juga dimaknai sebagai sebuah atmosfer kreativitas yang bisa mendorong seseorang untuk terus berkarya sebagai upaya untuk mendapatkan legitimasi kepenulisan di tengah deraan nasib yang menelikungnya.
Dalam konteks demikian, betapa perlunya menciptakan atmosfer kreativitas sebagai media untuk membangun ruang-ruang berkreasi, khususnya bagi calon-calon penulis. Mereka butuh banyak asupan kreativitas dari orang-orang sekelilingnya untuk memacu semangat dan “adrenalin”-nya dalam mengasah potensi yang ada dalam dirinya. Oleh karena itu, lahirnya kantong-kantong dan komunitas-komunitas sastra bisa dimaknai sebagai upaya untuk menciptakan atmosfer kreativitas itu; bukan lantaran sikap latah, apalagi sikap berkenes ria. Dengan kata lain, kehadiran kantong dan komunitas sastra bukan dimaksudkan untuk menggiring sang penulis ke dalam ideologi atau ikatan primordial tertentu. Sebagai sosok yang merdeka dan otonom, sang penulis tetap memiliki kekuatan personal untuk terus tumbuh dan berkembang sesuai dengan karakter dan kekhasan dirinya.
Dalam sebuah obrolan dengan penulis pemula, saya digelisahkan oleh lontaran pendapatnya yang cukup menggelitik untuk dicermati.
“Waktu di SMP dan SMA saya merasa kesulitan menemukan tempat yang nyaman, yang bisa memacu saya untuk belajar menulis. Rata-rata, orang di sekeliling saya cuek dan tak peduli. Saya sangat merindukan sebuah pertemuan yang bisa memberikan saran dan kritik terhadap tulisan-tulisan saya. Namun, selama ini saya belum menemukannya, hingga akhirnya setelah saya bekerja, saya berpendapat bahwa saya memang tak berbakat menjadi seorang penulis!”
Dari nada bicaranya, saya menangkap kesan kuat betapa seorang calon penulis, sebut saja Wulan, amat membutuhkan atmosfer sebuah komunitas yang bisa terus mengasah kepekaan intuisi dan imajinasinya. Memang benar, selama ini seorang pengarang dengan kekuatan personalnya bisa melahirkan karya-karya besar, tanpa harus melalui jalan komunitas. Melalui pengalaman-pengalaman literer dan semangat besarnya, mereka bisa eksis berkreasi hingga tak jarang sanggup melahirkan karya masterpiece. Namun, sungguh, alangkah naifnya apabila kita gagal menyediakan sebuah komunitas yang nyaman buat calon-calon penulis akibat keasyikan kita memburu jatidiri. ***
Tulisan lain yang berkaitan:
Tulisan berjudul "Kreativitas Penciptaan: antara Kekuatan Personal dan Atmosfer Komunitas" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (12 May 2009 @ 02:53) pada kategori Esai, Refleksi, Sastra dan telah dikunjungi oleh 1,917 pembaca. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Jika tertarik dengan tulisan ini, silakan di-share/bookmark melalui jejaring berikut ini:













Sep 16, 2009 @ 13:02:25
berkunjung ni pak.salam kenal
*dio
May 24, 2009 @ 15:25:42
Apakah seorang penulis besar harus mengalami lagi peristiwa dahsyat dalam hidupnya sehingga lahir karya-karya besar? Harus hidup dalam komunitas kepenulisan yang kental? Mungkin tidak harus. Tapi, nyatanya, banyak para penulis besar itu lahir setelah mengalami berbagai peristiwa tragis dan bergaul dalam komunis penulis.
Baca juga tulisan terbaru racheedus berjudul Maaf, Aku Tak Mampu Mendua
May 17, 2009 @ 08:48:26
seperti kasus di atas, saya juga sangat merindukan Komunitas yang hidup dan motivatif….
Baca juga tulisan terbaru denologis berjudul Pesta Blogger di Tanah Suci
May 16, 2009 @ 19:08:43
Kalau memang menulis adalah sebuah bakat? Bagaimana saya tahu kalau saya itu berbakat atau tidak dalam menulis, kalau tidak menulis?
Baca juga tulisan terbaru mathematicse berjudul Budi Anduk Cawapres? Yes!
May 16, 2009 @ 23:30:28
@mathematicse,
iya, pak, konon bakat tdk semata-mata menjadi penentu sukses seorang penulis. yang lebih utama dari itu semua adalah menulis, menulis, dan menulis, hehe ….
May 16, 2009 @ 16:39:25
Salam buat Mr. Apdet pak. Ini pas login. nek ora nganggo jeneng sakarepnya sendiri kok pak. (CSDW, Wong Bingungan, Gue Esteler, dsb), soale jenengku ketok ndeso bangat kok pak
Ben gaul dikit. (Sing penting ora nduwe niat menggauli)
******* Memang ada resikonya ya pak? *******
Aku juga bingung ama diriku sendiri kok pak. Tapi suka ngrusui tanggane
Baca juga tulisan terbaru Wandi thok berjudul The play setan
May 16, 2009 @ 17:02:42
@Wandi thok,
widih, pak wandi bisa saja nih, hehe … jangan suka merendah begitu dong, pak!
May 16, 2009 @ 16:28:33
Nggak apdet harian ajah pak?
May 16, 2009 @ 16:47:07
@Wandi thok,
update harian? maksudnya mesti update setiap hari? hehe … boro2 setiap hari, pak, dua hri sekali bisa istikomah itu sdh bagus, kok, hehe … maklum, mesti ngelola 5 blog, hehe ….
May 16, 2009 @ 13:31:24
salam, saya pengunjung baru. senang bisa menemukan blog ini.
wah…. keduanya saya rasa penting, faktor pribadi akan menentukan apakah dia mau berjalan atau tidak dlm situasi apapun. sedangkan atmosfir akan mempengaruhi seberapa cepat dia akan berjalan, berlari, atau hanya merangkah, bahkan justru membuat terdiam.
Baca juga tulisan terbaru Muntoha berjudul Membangun Kembali Motivasi (2)
May 16, 2009 @ 16:45:52
@Muntoha,
bisa jadi begitulah, mas muntoha. terima kasih kunjungan dan apresiasinya.
May 15, 2009 @ 23:11:03
Aku nek nduwe ide langsung tak coretke neng kertas kepek ide pak nyang selalu ada di kantong.
Baca juga tulisan terbaru Wandi thok berjudul Tujuh kartu ajaib
May 16, 2009 @ 16:45:16
@Wandi thok,
itu juga termasuk cara yang jitu kok, pak wandi!
May 15, 2009 @ 01:33:05
Menulis memang bukan hal mudah, perlu adanya latihan latihan yang kontinuitas sedari kecil,,faktor lingkungan juga sangat berpengaruh terhadap pembentukan insan sbg penulis.
Baca juga tulisan terbaru saifunalyoom berjudul Muslim Harus Jadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri
May 16, 2009 @ 16:44:50
@saifunalyoom,
sepertinya begitu, mas, pas dg teori tabularasa. anak seperti kertas putih yang berselaput lilin. lingkungan yang akan sangat memengaruho sang anak dalam mengembangkan talenta dan kepribadiannya.
May 15, 2009 @ 00:12:11
waduh,kalo saya apalagi mas Ircham…lebih parah…ekkekekekekekek
Baca juga tulisan terbaru ramudeng berjudul EA The Simpson Minutes to meltdown mobile game
May 16, 2009 @ 16:41:14
@ramudeng,
walah, kok jadi ikut2an merendah toh, mas? hehe ….
May 14, 2009 @ 23:04:16
KIRA2 BISA JADI PENULIS GAK YA PAK.. MENGINGAT diri saya jarang atau bhkan tidak pernah berada dalam lingkungan mereka yang hobi nulis….
Baca juga tulisan terbaru ircham berjudul Koalisi Blogger
May 15, 2009 @ 17:24:56
jangan merendah dulu dong, mas ircham. kalau baca postingan mas ircham di blog, mas ircham punya potensi utk menjadi seorang penulis! bener!
May 15, 2009 @ 17:59:06
@Sawali Tuhusetya, Waduh2… kok jadi gak enak ya…. terima kasih pak…
May 14, 2009 @ 16:16:34
Koq aka photo saya kang
Baca juga tulisan terbaru Rindu berjudul Yuk Sunat … [haih]
May 14, 2009 @ 17:26:34
hehehe … mbak rindu memang suka menggoda, hehe …
May 14, 2009 @ 12:15:47
Salam
Mungkin atmospher yang dibutuhkan tiap orang untuk memacu kreativitasnya masing-masing beda kaliya Pakde..tergantung kebiasaan dan kenyamanannnya, ya itu tadi ada yang merasa harus bergabung dengan komunitas ttt, ada yang pandai berkontmeplasi sendiri..banyak-banyak cara sepertinya ya Pakde
May 14, 2009 @ 17:24:55
iya, bener banget, mbak ney. utk penulis yang sudah jadi agaknya ndak begitu membutuhkan komunitas. tapi bagi penulis pemula agaknya sebuah komunitas akan sangat membantu mereka dalam menciptakan atmosfer kreativitas.
May 14, 2009 @ 11:50:17
Emang bener kayaknya pak.
Orang yg emang dari lahir punya bakat mungkin g begitu memerlukan lingkungan kondusif untuk mendukung perkembangan bakatnya, tapi bagi pemula sangat penting artinya…
Baca juga tulisan terbaru Adi berjudul Menghapus /category/ dari Struktur Permalink
May 14, 2009 @ 17:23:40
wah, itu dia, kita kan belum tahu seseorang itu berbakat atau tidak sebelum menghasilkan karya. makanya, komunitas diharapkan bisa menjadi wadah penggalian potensi dan talenta.
May 14, 2009 @ 11:21:32
lebih enaknya lagi saling bertukar pikiran tentang karya2 yg sudah dihasilkan sambil minum2 kopi mas
Baca juga tulisan terbaru okta sihotang berjudul OMG…Okta Hamil dijakarta ??
May 14, 2009 @ 17:22:30
betul banget, mas okta. sambil ngobrol, minum kopi, lalu mbahas karya, yang lain termotivasi utk menulis.
May 14, 2009 @ 09:18:33
wah pak dhe guru berhati mulia
menyediakan tempat buat para penulis
May 14, 2009 @ 17:21:23
walah, mas suwung senengnya kok husnuzon, hehehe …. ini hanya diskusi kecil soal perlu tidaknya sebuah komunitas. itu saja, kok, hehe …
May 14, 2009 @ 07:58:01
Betul pak, ide menulis atau kreativitas bisa muncul dalam lingkungan apapun. Ditengah hiruk pikuk terkadang malah muncul membuat ide penulisan yang menggambarkan situasi itu.
Yang penting jangan membatasi diri sendiri (komentar sok tahu…lha saya menulis ya baru latihan di blog …hahaha)
Baca juga tulisan terbaru edratna berjudul Pengalaman selalu menyisakan pembelajaran
May 14, 2009 @ 17:20:25
walah, ndak sok tahu kok, bu, memang setiap orang punya “mood” yang berbeda-beda. adayang butuh suasana sepi, tapi tak jarang dalam situasi ramai malah muncul keinginan utk menulis.
May 14, 2009 @ 06:24:30
di solo, atmosfir komunitas jadi penting. bagi saya pribadi, berkomunitas sangat menunjang produktivitas. apalagi model berkomunitas saya di Kabut Institut sangat unik, beda dg komunitas kebanyakan, sehingga jauh lebih menunjang!
Baca juga tulisan terbaru haris berjudul Jalan dan Spiral Kebisuan
May 14, 2009 @ 17:19:19
wah, kalau sebuah komunitas benar2 diberdayakan, agaknya juga akan sangat besar manfaatnya bagi pengembangan dunia kepenulisan, mas haris. btw, Kabut Institus itu komunitas di kampus, yak?
May 14, 2009 @ 04:14:11
Meski saya menulis awuran yang penting nulis terus aja pak,biarkan orang mengkritik sebab dari kritik itu akan memacu untuk cepat berubah dan menemukan karakter..
Tp ene maseh mungkin lo Pak..ehehehehe..
May 14, 2009 @ 17:17:58
betul sekali, seperti apa yang pernah dikatakan alm. pram. resep jadi pengarang itu konon ada 3, yakni menulis, menulis, dan menulis, hehe ….
May 14, 2009 @ 03:58:17
Saya terlanjur ra mudengan,maka saya belajar dari ra mudengan dan kebodohan saya.
Namun sayang kemerdekaan untuk menulis belum benar-benar tercipta sehingga harus menguntai kata agar berkesan lebih indah dalam makna yg tersamar. (takut ketangkep maksude Pak..ehehehehe..).
Dengan kebebasan mengalir di sungai yang besar akan mempermudah air cepat sampai ke samudra..
May 14, 2009 @ 17:17:04
lagi2 sangbayang suka merendah. saya baca postingan2nya selalu menarik, indah, dan sarat renungan. kadang2 situasi reperesif malah melahirkan karya2 bagus.
May 14, 2009 @ 00:53:31
Saya kalau nulis “tulisannya” mirip ceker ayam, kalau ngetik suka salah-salah, baiknya gimana @Mas
Baca juga tulisan terbaru haniifa berjudul Rahasia Al Qur’an dibalik huruf Hijaiyah
May 14, 2009 @ 17:16:08
walah, mbak ifa bisa saja nih. jangan merendah begitu dong! kirain yang mirip ceker ayam ketikan komputernya, hehe …
May 13, 2009 @ 22:42:37
mereka adalah guru dan kita semia muridnya…
Baca juga tulisan terbaru tengkuputeh berjudul DUHAI DIRIKU MENGAPA ENGKAU BERSEDIH
May 14, 2009 @ 00:13:01
hehe … kok ada mereka dan kita toh, mas tengku? hiks.
May 13, 2009 @ 22:38:47
Kreatifitas awalnya krn brani memulai, salah bgmpun jg tetap d mulai, lambat laun kan blajar, nah hasil dr blajar itulah tumbuh kreatifitasnya
May 14, 2009 @ 00:12:25
sepakat banget, mas nopi. kalau ndak ada keberanian memulai, kreativitas bisa jadi ndak akan pernah muncul.
May 13, 2009 @ 21:54:37
semoga kita semua makin produktif, apalagi setelah membaca pencerahan dari Pak Guru kita ini
Baca juga tulisan terbaru Pencerah berjudul Pelajaran dari Desa
May 14, 2009 @ 00:11:20
amiiin … btww, biasa sajalah, mas pencerah, hanya kebetulan saja barusan ikut diskusi, kok.
May 13, 2009 @ 20:56:51
kalau boleh disimpulkan dan ditarik hikmahnya, jangan merasa terpasung dalam kondisi yang membatasi ya, pak? pengalaman memperlihatkan bahwa kreativitas tidak akan surut dalam keadaan yang tidak mendukung, walaupun kondisi yang kondusif tentunya akan menyuburkan dan menjadi katalis dalam proses kreatif seseorang. tapi itu pun bila orang yang bersangkutan memiliki motivasi intrinsik yang besar pula.
May 14, 2009 @ 00:04:54
iya, betul banget, mbak yulfi. konon, motivasi intrinsik itu amat besar pengaruhnya terhadap terwujudnya keinginan dan harapan seseorang.
May 13, 2009 @ 18:30:54
udah lama saya gak mengikuti alur sejarah… baca2 disini nambah ilmu pak
May 14, 2009 @ 00:03:48
hehe … matur nuwun apresiasinya mas enchips.
May 13, 2009 @ 15:18:36
Saya ingat pada saat SMP dan SMA dulu, tugas mengarang adalah tugas yang paling saya tidak suka. Sukar sekali mau membuat sebuah karangan. Eh, giliran saat kuliah, saya paling suka ngarang. Setiap kali UTS atau UAS, saya paling demen ngarang dalam menjawab soal ujian
)
Kekurangan guru Bahasa dan Sastra Indonesia saat SMP dan SMA yang saya alami adalah para guru itu tidak pernah mencoba membahas mengapa karangan si murid dapat nilai seperti yang tertera. Umpan balik yang didapat siswa hanya nilai yang mungkin tidak menjelaskan apa pun.
Saya kira, seperti blogger yang memiliki komunitas, penulis yang memiliki usia kehadiran lebih tua daripada blogger juga memiliki komunitasnya sendiri. Tinggal calon penulisnya sendiri apakah aktif mencari tahu keberadaan komunitas tersebut atau tidak.
BTW, saya setuja-setuju saja apabila Pak Sawali menginisiasi penyediaan komunitas penulis itu. Tentu akan makin banyak penulis mula yang segera muncul menjadi penulis-penulis kawakan.
Baca juga tulisan terbaru Kombor berjudul Koalisi Partai Demokrat Koalisi Timun Wungkuk
May 14, 2009 @ 00:03:18
terima kasih support-nya, mas arif. tapi sesungguhnya ini utk komunitas secara offline, kok, mas, dalam lingkup kecil2an, agar kegelisahan yang selama ini dirasakan oleh penulis pemula bisa tersalurkan lewat pertemuan2 rutin di komunitas itu.
May 13, 2009 @ 14:04:53
terkadang orang yang mempunyai bakat belum tentu arif mas. kebanyakan lebih mempedulikan diri sendiri.
malah orang yang tekun lebih bijaksana dan peduli terhadap yang lain.
jadi tergantung orangnya, mau berusaha untuk mengembangkan diri atau tidak dan mau peka terhadap sosial dan lingkungan sekitar.
Baca juga tulisan terbaru Ansyah berjudul Antara http://www.iroel.web.id, http://www.sawali.info dan hidden scriptnya http://www.0fees.net dengan Pindahnya http://www.ansyah.com
May 14, 2009 @ 00:01:40
betul mas firmansyah. setiap orang agaknya memang beda2 dalam menciptakan atmosfer kreativitas itu.
May 13, 2009 @ 13:36:29
KERJA SAMA BISNIS YUK……..
Baca juga tulisan terbaru invest77 berjudul Berita Buruk: Kebebasan Finansial Itu Ternyata Bukan untuk Semua Orang
May 13, 2009 @ 13:36:06
WAH INI PENCERAHAN YANG MENYILAUKAN BAGIKU…………….GHEHEHEHEHE
May 14, 2009 @ 00:00:50
pencerahan yang menyilaukan? hehehe …
May 13, 2009 @ 11:10:51
waw kalo casual cutie kreatifitas didapat dari banyak membaca, jalan-jalan, nenangin diri (diem sendiri di suatu tempat buat nenangin pikiran), masak, nge blog, dll…yang penting punya usaha dan kemauan yang keras untuk mengembangkan tingkat kreatifitas dan bakat kita yang terpendam.
Baca juga tulisan terbaru casual cutie berjudul Shu Uemura Tokyo Lash Bar
May 14, 2009 @ 00:00:22
mantab juga tuh cara2 mbak cutie dalam menciptakan atmosfer kreativitas, apalagi jika didukung dengan usaha dan kemauan yang keras. pasti hasilnya oke!
May 13, 2009 @ 06:32:09
jaman sekarang rasanya lebih mudah menemukan atmosfir itu, komunitas blog salah satunya.
mungkin saya tidak berbakat jadi penulis, tapi saya senang membaca karya sastra. karenanya saya senang membaca tulisannya pak sawali, atau daniel mahendra gitu
Baca juga tulisan terbaru mascayo berjudul Megawati, Antasari, dan Flu Babi
May 13, 2009 @ 23:58:18
hehe … terima kasih apresiasinya, mascayo. saya sepakat, utk mendapatkan atmosfer kreativitas bisa dengan membaca postingan teman2.
May 13, 2009 @ 06:18:05
kadang kreatifitas dapat tersendat gara-gara mood
sehingga terasa hanyalah ide-ide hambar..
alangkah baiknya mas sawali memberikan tips-tips agar seseorang dapat berkonsentrasi agar mendapatkan ide-ide yang diinginkan yang sebelumnya tidak ada gambaran sama sekali
Baca juga tulisan terbaru annosmile berjudul Monumen Palagan Tumpak Rinjing yang terlupakan
May 13, 2009 @ 23:56:03
hehehe … terima kasih masukannya, mas anno. tapi sesungguhnya saya sedang membicarakan hasil diskusi usai pentas musikalisasi puisi yang tengah membicarakan perlu tidaknya sebuah komunitas dan jejaring dalam dunia sastra.
May 13, 2009 @ 04:59:23
Lebih ke bertanya, Pak.
Komunitas penulis, khususnya komunitas online, adakah yang disertai pengasuhan, Pak? Jangan-jangan seperti kehidupan blogging gini, ada tulisan, ada komentar, sekedar apresiasi saja, minim pengasuhan secara moril maupun teknis, terlebih kaderisasi.
Baca juga tulisan terbaru dhoni berjudul Human Capital, in Such of a Theory
May 13, 2009 @ 23:50:18
ada kok mas doni, misalnya saja web penulislepas.com. di sana ada model pengasuhan dan pembimbingan online. tapi utk postingan ini lebih difokuskan pada komunitas offline.
May 13, 2009 @ 02:29:58
salah satu pemicu untuk lebih baik disamping talenta kreativitas dan proses, adalah feedback, akan lebih bisa diejawantahkan memang jika ada dukungan komunitas ataupun minimal feedback yang bersahabat dan membangun, serta ritual pertemuan untuk saling mengkayakan persepsi maupun informasi untuk bisa diolah bersama atau apapun yang bersifat saling, entah saling mengisi, saling pancing ide, panas-panasan update informasi dan lain sebagainya, saya juga pengin ada suasana seperti itu, karena sebenarnya menulis dan membaca adalah juga proses belajar itu sendiri…
Baca juga tulisan terbaru suryaden berjudul character assasination
May 13, 2009 @ 23:49:00
iya, mas surya, saya sepakat banget. feed-back memang sangat dibutuhkan, terutama utk mengetahui kekurangan2 sebuah tulisan. upaya saling gosok dan gesek seperti inilah yang perlu ditumbuhkan dalam sebuah komunitas.
May 13, 2009 @ 01:26:51
saya… kalo kepepet maka bisa menyelsaikan target kalo ngggak… wahhh,,,, maleeeeeeeeeeees rasanya nulis
salam Pak dari Malang
salah satu tulisan Bapak sudah sangat membantu saya pas ngisi pelatihan Klubguru di malang ahad 10/05/2009 lalu
terima kasih
Baca juga tulisan terbaru hmcahyo berjudul Download Presentasi: Pak, Bu, nge-BLOG-lah! Sebab muridmu sudah go-BLOG!
May 13, 2009 @ 23:46:52
hehe … kalau gitu ciptakan terus situasi kepepet itu, mas heri, hehe … ok, sama2, mas. sukses kan acara pelatihannya?
May 12, 2009 @ 21:38:43
Trims pak. Tulisannya memberi energi bagi saya untuk ngeblog lagi, meskipun aktivitas menulis pada media lain terus berjalan.
Baca juga tulisan terbaru indra kh berjudul Colokan Listrik di KA Argo Gede
May 12, 2009 @ 23:46:16
@indra kh,
waduh, makasih banget apresiasinya, mas indra.
May 12, 2009 @ 20:58:09
kadang saya berpikirian begini, pak. semakin saya “memakan banyak garam” maka semakin banyak karya yang bisa dihasilkan.
asin
Baca juga tulisan terbaru antown berjudul Gara-Gara Rampok Dapat Rejeki Segepok
May 12, 2009 @ 23:45:55
@antown,
hehe … bener juga itu, mas anto. konon ada seorang filsuf bilang, semakin kita tahu, semakin banyak pula hal yang tidak kita ketahui.
May 12, 2009 @ 20:32:00
lok menurutku, ada bakat ato gak, itu hak begiry penring, yang penting ada usaha dan kemauan untuk berisaha agar kita bisa.
tanpa ada usaha dan kemauan itu, biarpun didukung bakat yang bagus, jug agak akan ada gunanya…
Baca juga tulisan terbaru alief berjudul Monas…, Aku Datang……
May 12, 2009 @ 23:44:57
@alief,
nah, begitulah, mas alief. saya kira bener banget. betapapun hebatnya bakat dan talenta seseorang kalau ndak pernah dikembangkan, bakat dan talenta itu jadi sia2.
May 12, 2009 @ 18:22:04
“Waktu di SMP dan SMA saya merasa kesulitan menemukan tempat yang nyaman, yang bisa memacu saya untuk belajar menulis. Rata-rata, orang di sekeliling saya cuek dan tak peduli. Saya sangat merindukan sebuah pertemuan yang bisa memberikan saran dan kritik terhadap tulisan-tulisan saya. Namun, selama ini saya belum menemukannya, hingga akhirnya setelah saya bekerja, saya berpendapat bahwa saya memang tak berbakat menjadi seorang penulis!”
Syndrome ini juga pernah menimpa saya….
Baca juga tulisan terbaru Xitalho berjudul Kenali Dirimu
May 12, 2009 @ 23:44:03
@Xitalho,
walah, pernah mengalami sindrom yang sama? hmmm …. tapi sindrom itu sudah sirna, kan, mas?
May 12, 2009 @ 17:26:51
dan pak sawali akan menyediakan komunitas itu? saya akan daftar
May 12, 2009 @ 23:43:14
@dafhy,
walah, di ponorogo pasti kan sdh ada, mas dafhy?
May 12, 2009 @ 16:33:40
namun sayang kreativitas sekarang makin susah untuk menunjukkan keasliannya begitu banyak plagiat dengan berbagai dalih…jadinya banyak mematikan rkeatifitas yang ada…
tapi semoga masih ada ide-ide yang murni hasil karya kita sendiri
so menghargai itu penting emang
Baca juga tulisan terbaru Omiyan berjudul KPK Tanpa Antasari Ashar Masih Punya Taring
May 12, 2009 @ 23:42:44
@Omiyan,
wah, repot juga kalau kreativitas hanya sebatas upaya utk melakukan plagiat. kalau komunitasnya ada, hal itu pasti bisa dibuka dan dijadikan wacana diskusi bahwa plagiasi itu justru menghancurkan lreativitas itu sendiri.
May 12, 2009 @ 16:19:14
lingkungan memang berpengaruh. tetapi faktor internal dari dalam diri orang bersangkutan tetap menjadi faktor utama …
Baca juga tulisan terbaru mantan kyai berjudul Catatan Sepertiga Malam Terakhir XKH
May 12, 2009 @ 23:41:29
@mantan kyai,
betul juga, mas ardy. kalau keduanya bisa bersinergi, pasti akan mampu memberikan energi positif.
May 12, 2009 @ 14:37:49
Setuju kang…
Lingkungan yang tepat sangat berperan dalam menstimulus kerja2 kreatif…
Baca juga tulisan terbaru itempoeti berjudul Pemilu 2009, Terbukanya Kotak Pandora
May 12, 2009 @ 23:40:53
@itempoeti,
yaps, begitulah kira2, mas.
May 12, 2009 @ 12:46:12
sepakat pak …
klo bisa yang sudah senior juga bisa memupuk benih2 penulis yang laen
Baca juga tulisan terbaru afwan auliyar berjudul Liar Game
May 12, 2009 @ 23:40:25
@afwan auliyar,
itulah sesungguhnya yang diharapkan dari sebuah komunitas, mas afwan. share dan bersilaturahmi.
May 12, 2009 @ 11:20:28
wah saya jadi pusing kalau begini pak
Baca juga tulisan terbaru masnur berjudul Speker masa depan
May 12, 2009 @ 23:39:46
@masnur,
hehe … kenapa mesti pusing, masnur? ndak usah diambil pusing!
May 12, 2009 @ 10:46:31
saya pengin menulis saya pengin bicara atmosferpun memberi banyak ide tapi mengapa tak bisa tertuang atau terlontar juga?
aku seorang pengecut dalam ide-ideku
May 12, 2009 @ 23:39:10
@tomy,
walah, bukan pengecut, pak tomy, hehe … hanya belum pingin nulis. itu saja!
May 12, 2009 @ 09:56:47
saya merasakan betapa sulitnya menyatukan ide/keinginan dalam sebuah wadah yang namanya komunitas dan itu masih berproses sampai sekarang.
Baca juga tulisan terbaru antokoe berjudul Ngajak NgeBLOG
May 12, 2009 @ 23:38:33
@antokoe,
hehe … komunitas bukan utk menyatukan atau menyeragamkan pendapat kok, mas anto, tapi sbg media utk menciptakan suasana yang mampu memacu kreativitas.
May 12, 2009 @ 09:07:13
pernah seorang teman berkata pada saya, belanja ide, bisa belanja di shopping stasiun trotoar lampu merah bahkan dilingkungan rumah sendiri. yang penting membiasakn menulis sebagai sesuatu yang mengasikkan.
dan menulis bagi saya apapun bentuknya adalah berkesenian, sampai tulisan-tulisan di plakat para demonstran itu juga saya anggap berkesenian..
Baca juga tulisan terbaru senoaji berjudul Jangan takut kepada gelapnya malam yang temaram benderam tanpa nyepam. Karena ada GENTAYANGAN yang akan bertandang sebelum titik dan com. LMAO
May 12, 2009 @ 23:37:34
@senoaji,
wah, bagus banget tuh, mas seno. kalau setiap orang berpandangan bahwa menulis itu sebuah aktivitas berkesenian, pasti menulis menjadi aktivitas yang menyenangkan dan mengasyikkan.
May 12, 2009 @ 08:27:58
kata orang, bakat hanya memberi konstribusi 1 % selebihnya adalah usaha.usaha.usaha. salah satunya dengan menjalani proses kehidupan seperti yang pak sawali urai.
Pengalaman saya baru dapat ide jika aktif dan selalu berkreasi. jika duduk diam, merenung, mencari ide malah gak dapat2. bawaannya melamun terus. untung gak sampai kesambit
Baca juga tulisan terbaru novi berjudul Bangunan Stren Kali Pantas digusur?
May 12, 2009 @ 23:36:38
@novi,
makanya, ngelamunnya jangan sampai kelamaan, mas novi, hehehe ….
May 12, 2009 @ 07:54:40
Kreativitas Penciptaan: antara Kekuatan Personal dan Atmosfer Komunitas
Waduh Pak Sawali…
Dari Judulnya saja aku wis berat, opomaneh isinya yang panjang…
Tilik keslametan waelah!
Nek comment mengko ndak malah klera-kleru.
Suk nek pas aku mudeng wae…
Baca juga tulisan terbaru marsudiyanto berjudul Tanggal, Bulan dan Tahun
May 12, 2009 @ 23:35:53
@marsudiyanto,
walah, pak mar mesti sukanya merendah begitu, hehe …
May 12, 2009 @ 07:22:00
menurut saya pribadi semua orang punya kreatifitas menulis. hanya dia mau mengeksplorasi atau tidak. para blogger sudah pasti bisa menulis. menulis yang bagus tidak harus berupa sastra seperti masa lalu. malah harus membuat trend sendiri untuk menandai jaman
Baca juga tulisan terbaru DETEKSI berjudul Jawa Pos Online Update Pukul 10.00
May 12, 2009 @ 23:35:28
@DETEKSI,
ya, betul sekali, mas dion, yang jadi persoalan, adalah kemauan dan keseriusan utk menekuninya.
May 12, 2009 @ 06:49:08
Ya, betul. Kadang memang kita perlu seseorang untuk sekedar diajak ngobrol2 waktu karya kita perlihatkan.
May 12, 2009 @ 23:30:34
@Arifudin,
ya, mas arif, mungkin dg cara ngobrol dulu akan muncul inspirasi baru utk ditulis.
May 12, 2009 @ 06:28:00
Sepertinya intinya adalah seorang berkarya membutuhkan lingkungan yang mendukung, termasuk lingkungan yang menekan pada akhirnya justru terbaca sebagai sebuah “dukungan” ya Pak Sawali?
Saya pernah dan selalu merasakan seperti itu, Pak.
Kalau pas masih santai, wah biasanya kerjaan ndak kelar-kelar, kalaupun kelar hasilnya jelek, tapi pas sedang tertekan, diburu deadline, kreativitas muncul.
Entah ini baik atau buruk, tapi sejauh “dibaca” oleh klien sebagai sesuatu yang baik ya ndak papalah hehehe
Baca juga tulisan terbaru DV berjudul Make Love, no Goodbye
May 12, 2009 @ 23:30:01
@DV,
hehe … agaknya setiap orang punya “mood” yang berbeda dalam berkreativitas, mas don. saya kira mas don ndak salah kok ketika kreativitas muncul justru ketika diburu deadline,hehe …
May 12, 2009 @ 06:17:52
komunitas merupakan sarana tukar ide dan pikiran yang berwarna-warni, hingga memunculkan berbagai kreativitas. ibarat ratusan lidi ketika diikat dalam satu benda yang bernama sapu, maka ia akan menjelma kekuatan besar dibanding hanya seutas lidi semata..
Baca juga tulisan terbaru pensiun kaya berjudul Ulasan pagi 12 Mei 2009 – Back to Basic
May 12, 2009 @ 23:28:39
@pensiun kaya,
wow… analoginya mantab, mas. saya kira tepat sekali utk menggambarkan pentingnya sebuah komunitas dalam upaya menciptakan atmosfer kreativitas.
May 12, 2009 @ 03:17:20
saya kalo kepingin dapat asupan gizi kreativitas (nggak cuma nulis ya…)…malah senengnya jalan-jalan pak, liat-liat jalanan, perilaku orang, liat pameran, ngobrol…
tapi komunitas memang perlu…biar kita bisa ketemu guru dan juga sparring partner
terlatih jadinya…
Baca juga tulisan terbaru geRrilyawan berjudul BOLONG…
May 12, 2009 @ 23:27:39
@geRrilyawan,
wah, bagus juga tuh! memang suka bergerilya, ya, mas? hehehe ….