Monday, 4 May 2009 (09:09) | 776 pembaca | 146 komentar | Print this Article
Ibarat proses metamorfosis, kaum elite politik negeri ini sedang mengalami proses perubahan; dari ulat menjadi kepompong, hingga akhirnya menjadi kupu-kupu yang bisa terbang tinggi mencapai mega-mega. Namun, patut disayangkan, proses metamorfosis itu agaknya tak berlangsung mulus. Muncul banyak anomali politik dan demokrasi yang mencederainya. Mereka mengalami sindrom kecemasan setelah tahu bahwa kupu-kupu yang didambakannya tak bisa terbang tinggi. Wujud dan bentuknya pun tak sempurna, sehingga tampil kurang percaya diri.
Untuk mewujudkan mimpi dan harapan, “kupu-kupu” politik butuh sikap kolektif; membangun singgasana yang lebih kokoh dan kuat untuk menopang wujud dan bentuknya yang cacat itu. Maka, mereka belajar untuk bisa terbang bersama-sama mengejar kupu-kupu lain yang sudah merasa nyaman dan sanggup terbang tinggi hingga menyusup ke balik awan.
Saya tidak tahu, apakah analogi semacam itu cocok atau tidak untuk mendeskripsikan atmosfer politik yang belakangan ini mulai memancarkan aroma tak sedap. Visi dan misi kepartaian terpaksa dikorbankan agar bisa ikut menikmati remahan kue kekuasaan. Partai yang selama ini dikenal amat kental dengan ideologi berbasis isme dan nilai primordial tertentu ternyata bisa juga bermesraan dengan partai lain yang dikenal sekuler dan liberal. Jadilah adonan politik pasca-Pileg seperti sebuah permainan akrobat yang sarat kejutan dan mendebarkan. Sungguh, sebuah pemandangan yang tidak lazim.
Koalisi besar alias jumbo pun dilakukan oleh dua partai besar yang selama ini dikenal memiliki basis massa tradisional yang kuat dan fanatik. Namun, fakta politik agaknya berbicara lain. Terlepas dari kisruh DPT akibat keteledoran KPU yang dianggap abai terhadap hak politik rakyat, yang pasti pilihan politik sudah dijatuhkan. Meski KPU belum resmi mengumumkan hasilnya, partai pemenang Pemilu Legislatif 2009 juga sudah jelas bisa teraba dan diketahui.
Elite parpol jelas sangat memahami situasi dan fakta politik semacam itu. Oleh karena itu, sangat bisa dipahami kalau mereka berupaya mencari celah yang dianggap bisa menjadi jalan untuk menghadang laju sang kupu-kupu. Syukur-syukur bisa menggapai singgasana kekuasaan. Apalagi, sejarah politik kontemporer dalam dekade terakhir ini juga menunjukkan fenomena yang unik. Partai pemenang Pemilu Legislatif ternyata belum bisa menjadi jaminan bakal meraih kursi RI-1.
Nah, apakah koalisi jumbo yang menguras energi dan “libido” politik semacam itu mampu menghadang laju sang kupu-kupu yang kini bisa terbang bebas sambil mengintai pasangan yang hendak dilamarnya menjadi RI-2? Wallahu’alam bishawwab! Konon, dinamika politik di negeri ini memang amat sulit untuk diprediksi. Menjelang Pilpres agaknya masih akan muncul akrobat politik yang sarat kejutan dan mendebarkan. ***





































Gambar ilustrasinya keren bgt :)
hmmm … begitukah? sekadar nyomot dari inilah.com, kok, hehe ….
semoga kedepannya jauh lebih baik, amin…..
amiiin, keadaan seperti itulah yang kita harapkan, mas.
@jual web Rp.50ribu,
sama2, makasih juga dah berkenan mampir.
@tomy,
ya, ya, ya … seperti itulah yang terjadi, pak tomy.