Home | Edukasi, Opini, Refleksi | Pekik Setengah Merdeka buat Pendidikan

Pekik Setengah Merdeka buat Pendidikan

Saturday, 2 May 2009 (02:44) | 563 pembaca | 119 komentar | Print this Article

(Refleksi Hardiknas 2009)

kecurangan UNSecara lahirilah, negeri ini memang sudah merdeka lebih dari enam dasawarsa. Perubahan fisik juga tampak menonjol. Jakarta telah berubah menjadi mega-belantara gedung raksasa yang tinggi menjulang. Kota-kota besar di negeri ini juga berupaya mengimbangi dinamika penduduk yang terus meningkat dengan menambah sejumlah jaringan infrastruktur publik yang bergengsi dan memanjakan. Namun, secara batiniah, diakui atau tidak, negeri ini belum sepenuhnya merdeka. Reformasi kultural yang gagal dinilai telah membangkitkan kembali meruyaknya semangat primordialisme yang mengagungkan egoisme, feodalisme, chauvinisme, atau fanatisme sempit yang berujung pada merajalelanya kekerasan berbau SARA. Ibarat kaos lampu petromaks, dari luar tampak gemebyar, tetapi gampang hancur ketika terkena sentuhan angin.

Ranah pendidikan pun tak luput dari situasi semacam itu. Pendidikan dinilai telah jauh menyimpang dari “khittah”-nya sebagai media pembebas untuk memanusiakan manusia agar menjadi lebih bermartabat, berbudaya, dan berperadaban. Upaya mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana diamanatkan Pembukaan UUD 1945 pun tak lebih dari slogan dan retorika belaka. Pendidikan bukannya didesain untuk mencerdaskan anak bangsa, melainkan hanya sekadar jadi alat untuk melanggengkan status-quo dan mempertahankan kekuasaan semata.

Lihat saja, pelaksanaan UN selama ini! UN bukannya dijadikan sebagai media untuk mencapai tujuan pendidikan nasional, melainkan justru menjadi tujuan itu sendiri. UN juga bukan untuk memotret kompetensi siswa secara integral dan komprehensif, melainkan semata-mata diperalat untuk mempertahankan dan sekaligus juga meningkatkan gengsi daerah/sekolah. Buktinya? Lihat saja kecurangan demi kecurangan yang berlangsung setiap tahun! Alih-alih mengusutnya hingga tuntas, perilaku tak terpuji itu justru dibiarkan membudaya dan mengakar hingga akhirnya orang yang berupaya menihilkan UN dari praktik-praktik kecurangan malah disingkirkan.

Miskin Kreativitas
Sungguh, kita sedih ketika ada pengawas UN, sebagaimana ditayangkan sebuah stasiun TV, membocorkan kunci jawaban secara terang-terangan di ruang UN. Kita juga prihatin menyaksikan berbagai bentuk pembocoran soal atau kunci jawaban dengan segala macam modus operandinya. Sungguh tak masuk akal kalau seorang pengawas mau-maunya membocorkan kunci jawaban kalau tak ada instruksi atau tekanan dari pihak tertentu yang memiliki taring kekuasaan.

Sungguh tragis, demi mempertahankan jabatan, gengsi, dan marwah kelembagaan, mereka tak segan-segan melakukan kecurangan demi kecurangan. Secara tidak langsung, praktik-praktik busuk semacam itu sesungguhnya telah menjadi mesin pembunuh terhadap talenta dan potensi anak-anak bangsa. Betapa tidak! Anak-anak yang ingin sukses melalui cara dan proses yang benar harus takluk oleh anak-anak pemalas dan bermental instan. Akibatnya bisa ditebak. Anak-anak yang cerdas justru telah ikut-ikutan tercuci otaknya dan ikut arus terhadap proses anomali yang amat tidak menguntungkan bagi masa depan bangsa itu. Bukankah ini sebuah pembunuhan massal terhadap aset masa depan bangsa sendiri?

Kalau proses penyelenggaraan UN yang sarat pembusukan semacam itu terus berlangsung, bukan mustahil dunia pendidikan kita hanya akan melahirkan robot-robot peradaban yang miskin kreativitas dan inisiatif. Hidup mereka akan senantiasa bergantung kepada orang lain dan berharap meraih sukses tanpa melalui proses yang jujur dan fair. Pola dan sistem penyelenggaraan UN yang kacau benar-benar telah membuat dunia pendidikan kita tak lagi merdeka, mandiri, dan otonom.

Idealnya, UN bukan menjadi penentu kelulusan. Sungguh naif kalau di tengah situasi kesenjangan yang begitu lebar antara desa dan kota, UN dijadikan sebagai “alat penyihir” untuk menyamaratakan kemampuan siswa yang beragam kemampuannya. Anak-anak yang tersebar di berbagai penjuru jelas memiliki asupan ilmu yang amat berbeda ketika dukungan sarana dan fasilitas pendidikan masih demikian timpang. Dalam kondisi demikian, UN seharusnya dijadikan sebagai sarana pemetaan mutu pendidikan untuk memotret kemampuan daerah/sekolah dalam mengelola pendidikan. Daerah/sekolah yang rendah tingkat kelulusannya, perlu mendapatkan perhatian khusus, dicari sebab-sebab dan latar belakangnya, untuk selanjutnya diberikan kemudahan-kemudahan dalam mendapatkan akses sarana dan fasilitas pendidikan sehingga bisa mengejar kemajuan yang telah diperoleh daerah/sekolah lain.

Petuah Ki Hajar Dewantara
Diakui atau tidak, UN yang lebih mementingkan hasil ketimbang proses, telah membuat hakikat pendidikan kita tercabik-cabik. Mungkin sekarang belum terasakan dampaknya. Namun, kalau tak ada perubahan paradigma dalam sistem evaluasi pendidikan kita, bukan tidak mungkin kelak negeri ini hanya akan dihuni oleh generasi bermental instan yang ingin meraih sukses tanpa harus kerja keras. Otak dan kecerdasan mereka telah tercuci oleh desain pendidikan yang ditengarai sudah mulai mengarah pada upaya pembodohan massal melalui ujian nasional.

Sesungguhnya, sudah lama sekali kita diingatkan oleh petuah Ki Hajar Dewantara bahwa hakikat pendidikan adalah sebagai daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran, serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup, yaitu hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya. Dari sini tampak jelas bahwa kehadiran seorang anak dalam kancah dunia pendidikan tidak bisa dilepaskan dari konteksnya sebagai bagian dari alam dan kehidupan masyarakat. Namun, akibat pemahaman yang keliru terhadap hakikat pendidikan, potensi anak-anak justru dikerangkeng dan dipenjara, serta dijauhkan mereka dari konteks kehidupan masyarakat dan alam sekitarnya.

Kalau kita merunut sejarah gerakan kebangsaan pada permulaan abad XX, dunia pendidikan memiliki titik singgung dengan perkembangan dan dinamika spirit kebangsaan sebagai kerangka kerja sosial pembebasan manusia dari kebodohan dan keterbelakangan. Namun, disadari atau tidak, praktik pendidikan kita selama ini justru makin menjauhkan siswa didik dari spirit kebangsaan itu. Siswa didik terus dicekoki bejibun teori model hafalan dan dijauhkan dari persoalan-persoalan kebangsaan secara riil. Pendidikan yang sejatinya berfungsi sebagai kerangka kerja sosial pembebasan manusia demi meraih martabat dalam kehidupan telah tereduksi sebagai sistem sosial yang menanggalkan misi profetik penguatan kesadaran kebangsaan itu.

Mengenang Ki Hajar Dewantara tahun ini, agaknya kita masih harus meneriakkan pekik setengah merdeka buat pendidikan kita yang belum sepenuhnya terbebas dari pasungan kekuasaan yang salah mengurus pendidikan. Entah sampai kapan? ***

Kategori: Edukasi, Opini, Refleksi | Tags: , , ,

Tulisan lain yang berkaitan:

imgDari Motivasi ESQ ke Temu Forum PUG Bidang Pendidikan (Saturday, 27 March 2010, 351 pembaca, 88 respon) Memburu Jati Diri? Ungkapan ini mengingatkan pada artikel saya yang pertama kali dimuat di media cetak lokal. Di rubrik “Debat Mahasiswa”, sekitar tahun 1987, nama saya yang saat itu masih berstatus mahasiswa calon guru di sebuah lembaga...
imgUjian Nasional Mengebiri Potensi Siswa Didik (Tuesday, 9 March 2010, 852 pembaca, 137 respon) Jika tak ada aral melintang, para siswa SMA/MA, SMALB, dan SMK akan menempuh Ujian Nasional (UN) utama pada 22 – 26 Maret 2010. Sedangkan, siswa SMP/MTs dan SMPLB pada 29 Maret – 1 April 2010. Berbeda dengan tahun sebelumnya, UN tahun ini ada UN...
imgDari LCC hingga Bedah SKL UN 2010 (Monday, 22 February 2010, 602 pembaca, 73 respon) Kamis, 18 Februari 2010, bertempat di SMP 3 Patebon, Kendal, saya bersama beberapa rekan sejawat didaulat untuk menjadi yuri Lomba Cerdas-Cermat (LCC) Tingkat SMP Kabupaten Kendal. LCC dimaksudkan sebagai ajang seleksi untuk memilih satu regu terbaik...
imgUjian Nasional dan Robotisasi Siswa Didik (Friday, 5 February 2010, 874 pembaca, 155 respon) Dunia pendidikan kita hanya melahirkan generasi penghafal kelas wahid? Itulah pertanyaan yang selalu mencuat ketika ranah pendidikan kita dinilai telah gagal melahirkan generasi masa depan yang cerdas, kritis, dan kreatif. Almarhum Rama Mangunwijaya...
imgUjian Nasional Pasca-Keputusan MA (Friday, 4 December 2009, 1,339 pembaca, 145 respon) Teka-teki jadi atau tidaknya Ujian Nasional (UN) 2010 digelar terjawab sudah setelah Depdiknas, melalui Sekjen Dody Nandika, menyatakan bahwa UN tahun 2010 akan tetap berlangsung, sebab hingga kini Depdiknas belum menerima salinan putusan Mahkamah Agung...
Catatan Sawali Tuhusetya
feeds.feedburner.com
Tulisan berjudul "Pekik Setengah Merdeka buat Pendidikan" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (Saturday, 2 May 2009 (02:44)) pada kategori Edukasi, Opini, Refleksi. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Ingin berlangganan gratis? Silakan daftarkan alamat email Anda sekarang juga! Terima kasih dan salam budaya!
Anda juga bisa memublikasikan tulisan ini melalui jejaring sosial/web berikut:
FacebookTwitterStumbleDigg itDeliciousGoogle ReaderRedditTechnoratiGoogle BuzzYahoo Buzz
DesignfloatDiigoMixxMeneamedesignbumpFurlMagnoliaBlinklistfurlblogmark

119 Responses to "Pekik Setengah Merdeka buat Pendidikan"

  1. Menggunakan Firefox 3.5.3 Firefox 3.5.3 pada Windows XP Windows XP

    Great post! I’m just starting out in community management/marketing media and trying to discover how to do it well – resources like this post are incredibly useful. As our company is dependent in the US, it?s all a little bit new to us. The example above is something that I be concerned about as nicely, how to show your own genuine enthusiasm and write about the truth that your item is useful in that situation.

  2. oby says:
    Menggunakan Firefox 3.5.5 Firefox 3.5.5 pada Windows XP Windows XP

    ma sawali
    ini sudah 2010 tp semngat hari pendidikan nasional 2009
    masih terasa berkat postingan mas sawali yg benar benar mengisnpirasi ini :)

    salam kenal
    dari blogger abnormal
    Baca juga tulisan terbaru oby berjudul "[lucu] Arti Dari Persahabatan yang Sebenarnya" My ComLuv Profile

  3. Menggunakan Firefox 3.0.10 Firefox 3.0.10 pada Windows XP Windows XP

    @senoaji,
    pendidikan gratis? hmmm … bisa mencerahkan, bisa juga membusukkan, mas seno, tergantung keberanian dan komitmen pemda setempat utk menyediakan dana pendampingnya.

  4. Menggunakan Firefox 3.0.10 Firefox 3.0.10 pada Windows XP Windows XP

    @suwung,
    hehe … sepertinya begitu, mas suwung.

  5. Menggunakan Firefox 3.0.10 Firefox 3.0.10 pada Windows XP Windows XP

    @ReMo,
    lagu iwan fals yang mana, mas remo?

  6. Menggunakan Firefox 3.0.10 Firefox 3.0.10 pada Windows XP Windows XP

    @marshmallow,
    itulahn yang terjadi selama ini, mbak yulfi. negeri kita selalu silau oleh tampilan lahiriah, sehingga hal2 yang bersifat rohaniah selalu terabaikan dari tahun ke tahun.

  7. Menggunakan Firefox 3.0.10 Firefox 3.0.10 pada Windows XP Windows XP

    @ciwir,
    semoga format yang dicari-cari itu bisasegera diketemukan, mas santri, sehingga tak berada di persipangan jalan lagi.

  8. ReMo says:
    Menggunakan Firefox 3.0.10 Firefox 3.0.10 pada Windows XP Windows XP

    @Sawali Tuhusetya, Yang Guru Oemar Bakrie kalau g salah,, :mrgreen:

    Baca juga tulisan terbaru ReMo berjudul Nonaktifkan Tombol Windows di Keyboard

  9. Menggunakan Firefox 3.0.10 Firefox 3.0.10 pada Windows XP Windows XP

    @ReMo,
    oh lagu iwan fals yang oemar bakrie itu, hehe … iya, sampai2 saya hafal betul dg lagi satir itu, haks.

Leave a Reply

CommentLuv Enabled
«
»
www.batuzakar.netweb hosting indonesia
Catatan Sawali Tuhusetya is proudly powered by WordPress (193 queries: 0.911 seconds)
Valid CSS & XHTML | KBP