Home » Sastra » Obrolan Sastra di Pondok Maos Guyup Bebengan Boja

Obrolan Sastra di Pondok Maos Guyup Bebengan Boja

Sudah lama sekali saya tak terlibat dalam obrolan sastra. Sebuah kerinduan yang sesungguhnya sudah lama mengeram dalam syaraf saya. Makanya, ketika Mas Sigit Susanto –pionir literasi dan apresiasi sastra yang tak pernah lelah mengembara di lorong-lorong dunia– mengajak saya datang di Pondok Maos Guyup (PMG) Bebengan Boja, Kendal, pada hari Rabu, 29 April 2009, untuk mengobrol tentang “Peta Sastra Kendal”, saya tak kuasa menolaknya. Usai Maghrib, saya pun segera berpamitan pada istri dan anak-anak. Cuaca yang agak kurang bersahabat tak menyurutkan niat saya untuk bertemu dengan penulis buku “Menyusuri Lorong-Lorong Dunia (Jilid 1 dan 2)” itu bersama komunitas Lereng Medini.

Cuaca mulai dingin menyusup ketika saya hendak melewati hutan Darupono yang dikenal singup dan angker. Apalagi, hujan deras pun seperti tumpah dari pintu langit. Meski demikian, saya terus memacu motor butut menyusuri kelokan dan tanjakan jalan beraspal yang membelah hutan seluas 32,2 ha yang telah ditetapkan sebagai kawasan cagar alam sesuai Keputusan Menteri Kehutanan No.SK.115/Menhut-II/2004 itu. Alhamdulillah, setelah keluar dari kawasan hutan Darupono, cuaca terang-benderang.

Setelah kontak via HP, saya segera disambut dengan ramah oleh Mas Sigit dan Mas Hartono –relawan PMG– yang baru pertama kali saya temui. Tak lama kemudian, muncul Pak Misno –guru SMK 2 Kendal– yang tinggal tak jauh dari Pondok Maos Guyup. Kami pun segera terlibat dalam obrolan santai sebagai rangkaian acara Temu Apsas dan Aksi Literasi 2009 itu. Satu per satu peserta obrolan pun mulai berdatangan.

Sebelum obrolan dimulai, pandangan mata saya menyapu pada pajangan buku yang tertata rapi. “Beginilah, Mas. Saya memanfaatkan rumah orang tua saya yang tak dihuni ini untuk meningkatkan budaya literasi kepada masyarakat sekitar,” ujar Mas Sigit dengan santun dan rendah hati. Ufh… bibir saya tercekat. Saya mulai tertarik pada pajangan buku-buku di rak itu. Di rak itu, ada beragam buku.

“Siapa sangka, Pak. Di kampung sekecil ini, ternyata banyak buku sastra dunia yang bisa dibaca,” sahut Pak Misno sambil tersenyum. Kembali bibir saya tercekat. Memang benar, ada banyak karya sastra dunia yang terpajang di sana. “Buku-buku tersebut menggunakan bahasa asli, loh, Pak, bukan terjemahan,” sambungnya. Hmmm … ya, ya, ya …. Saya hanya bisa mengangguk-angguk.

Tak lama kemudian, Mas Sigit menunjukkan sebuah buku kecil. “Ini buku kumpulan catatan perjalanan dari peserta Sastra Sepeda, Mas,” sela Mas Sigit. Saya pun segera menyambarnya. Ketika saya buka, dalam buku itu terdapat rekaman catatan perjalanan para peserta sastra sepeda –aktivitas bersastra yang dilakukan dengan mengendarai sepeda dan berkeliling dari desa ke desa, dari kota ke kota. “Sengaja saya tidak mengetik ulang. Biarkan coretan peserta benar-benar asli,” sambung Mas Sigit. Luar biasa, dari buku itu terekam jejak-jejak peserta, bagaimana mereka mengekspresikasn kesan-kesan perjalanannya secara spontan. Tentu saja, ada banyak ragam catatan yang bisa dibaca. Setiap peserta beda-beda kesan emosionalnya.

Pukul 20.00 WIB, obrolan sastra tentang “Peta Sastra Kendal” pun dimulai. Mas Sigit yang sekaligus menjadi moderator mempersilakan saya untuk membahasnya. Saya segera membuka catatan-catatan kecil saya.

Sungguh, bukan hal yang mudah untuk memetakan daerah Kendal dalam konteks dinamika kesusastraan Indonesia mutakhir. Batasan peta sastra itu sendiri sesungguhnya masih bisa menimbulkan perdebatan. Apakah sastra Kendal itu identik dengan wilayah teritorial yang secara geografis dibatasi oleh sekat-sekat administratif? Bagaimana halnya dengan para sastrawan kelahiran Kendal yang secara geografis sudah tidak lagi berdomisili di Kendal? Bisakah mereka dijadikan sebagai ikon yang ikut menentukan bagaimana memosisikan Kendal dalam peta sastra Indonesia mutakhir? Bisa jugakah para pendatang yang selama ini berdomisili di Kendal dan terus berproses kreatif bisa dibilang merepresentasikan sastra Kendal? Jika ada teks-teks yang berbicara tentang lokalitas Kendal bisa jugakah dibilang sebagai bagian dari sastra Kendal? Apakah sastra Kendal cukup dimaknai sebatas aktivitas-aktivitas kesastraan yang berlangsung dalam wilayah Kendal, terlepas siapa pun yang berkiprah dan terlibat di dalamnya?

Itulah beberapa pertanyaan yang saya lontarkan sebelum membicarakan peta sastra Kendal. Agaknya, Mas Sigit masih terus membiarkan saya untuk ngomong sebelum akhirnya saya merumuskan simpulan naif seperti ini.

Tanpa bermaksud membanding-bandingkan, Kendal harus diakui telah gagal melahirkan generasi-generasi baru yang dengan amat sadar menjadikan sastra sebagai dunia panggilan. Sekadar untuk menggelar sebuah event saja, para penggiat sastra seringkali dipusingkan persoalan dana. Miskinnya donatur dan kepedulian orang-orang berduwit untuk mengeliatkan sastra membuat kondisi sastra Kendal menjadi “mati suri”. Aura kesastraan Kendal yang demikian mengagumkan tidak diimbangi dengan keseriusan mengawal, me-manage, dan mengelola agenda-agenda sastra, sehingga daerah yang secara teritorial memiliki 20 kecamatan (Boja, Brangsong, Cepiring, Gemuh, Kaliwungu, Kaliwungu Selatan, Kangkung, Kendal, Limbangan, Ngampel, Pagerruyung, Patean, Patebon, Pegandon, Plantungan, Ringinarum, Rowosari, Singorojo, Sukorejo, dan Weleri) dengan 265 Desa dan 20 Kelurahan dengan luas wilayah keseluruhan sekitar 1.002,23 km2 atau 100.223 hektar ini tak bisa berbicara banyak tentang dunia sastra dengan segala pernak-perniknya.

Maka, ketika saya menyerahkan kembali suasana obrolan yang diikuti sekitar 20-an orang itu kepada Mas Sigit, gayung pun bersambut. Peserta obrolan mulai meresponnya, terutama tentang proses regenerasi sastrawan yang selama ini saya anggap belum tersentuh, sehingga peta sastra Kendal (nyaris) tak terlihat setelah sastrawan Kendal semacam Ahmadun Yosi Herfanda, F. Rahardi, Nung Runua, Gunoto Sapari, Prie GS, atau Budi Maryono, hengkang ke kota lain.

“Proses regenerasi yang tak jalan inilah yang membuat sastra Kendal mati suri,” sahut saya.

“Kalau begitu, perlukah dibentuk komunitas penulis agar proses regenerasi sastrawan Kendal itu bisa jalan?” pancing Mas Sigit.

“Menurut saya itu sangat diperlukan,” sahut Mas Hartono. “Saya pun sudah mencoba untuk menghubungi beberapa teman yang pingin menulis untuk kumpul bareng,” lanjutnya.

“Iya, saya juga merasakan wadah semacam itu perlu, apalagi saya gagal menemukannya di sekolah saya dulu, sehingga saya tak tahu harus menemui siapa ketika saya ingin menulis,” sahut Leny.

Obrolan pun terus berkembang sebelum akhirnya Mas Sigit yang banyak berkiblat pada pengalaman pengembaraannya ke berbagai negara menyimpulkan bahwa dunia menulis, sesungguhnya merupakan persoalan personal.

“Kalau ada ikatan atau organisasi penulis, kesannya jadi eksklusif. Pengalaman di berbagai negara menunjukkan bahwa komunitas penulis tak akan pernah berhasil melahirkan penulis-penulis besar. Yang akan lebih menentukan adalah keseriusan seseorang untuk belajar dan belajar menulis. Lagian, sastra Kendal sesungguhnya harus lebih dititikberatkan pada proses apresiasinya. Sediakan banyak buku, lalu biarkan publik menikmatinya. Aktivitas menulis pasti akan berjalan secara alamiah, tanpa harus masuk dalam ikatan atau organisasi penulis,” tegas Mas Sigit serius.

Agaknya lontaran pendapat Mas Sigit memancing respon banyak peserta, termasuk saya.

“Ya, sepakat dengan apa yang dikemukakan Mas Sigit. Aktivitas menulis memang bersifat personal. Namun, bagi penulis pemula, mereka butuh atmosfer yang bisa memancing semangat dan adrenalin mereka untuk menulis. Atmosfer kepenulisan perlu diciptakan. Dan yang sanggup menciptakan atmosfer itu adalah kumpul-kumpul bareng untuk sharing, saling kritik dan memberikan asupan. Di sinilah pentingnya proses regerenasi itu,” sahut saya.

Obrolan pun kian menarik. Masa depan sastra Kendal yang “mati suri” memang belum bisa tergambar jelas masa depannya.

“Ada bagusnya kita menggunakan pendekatan kultural dan struktural sekaligus. Struktural melalui komunitas penulis, sedangkan pendekatan struktural menjadi garapan dunia pendidikan dan lembaga-lembaga kesenian yang ada,” usul Pak Misno.

Ya, ya, ya, begitulah obrolan di PMB Guyup malam itu. Ada perbedaan pendapat. Namun. berlangsung dalam suasana akrab, santun, dan saling menghargai. Pemdapat saya selengkapnya tentang “Peta Sastra Kendal” bisa dibaca di sini. Tanpa terasa, jam sudah menunjukkan pukul 22.30 WIB. Saya teringat, besoknya saya masih harus menjadi pengawas UN. Oleh karena itu, saya segera mohon pamit. Mas Sigit dan pegiat Sastra Lereng Medini menawari saya agar menginap saja di Boja. Namun, dengan berat hati saya menolaknya.

Maka, saya pun kembali menempuh perjalanan tengah malam sendirian. Agak keder juga ketika harus melewati jalan di tengah alas Darupono yang singup dan angker itu. Namun, apa boleh buat. Saya harus pulang. Dengan kecepatan antara 70-90 KM/jam, saya pun memacu jalan pulang sambil menahan rasa dingin yang menusuk tulang. Alhamdulillah, saya berhasil melewati perjalanan pulang dengan selamat. Tepat pukul 23.30 WIB saya telah tiba di rumah. ***

tentang blog iniTulisan berjudul "Obrolan Sastra di Pondok Maos Guyup Bebengan Boja" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (1 Mei 2009 @ 04:06) pada kategori Sastra. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Ada 62 komentar dalam “Obrolan Sastra di Pondok Maos Guyup Bebengan Boja

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *