Sabtu, 1 November 2014

Tuesday, 21 April 2009 (01:35) | Opini | 19013 pembaca | 119 komentar

kartiniSosok Kartini sebagai pejuang emansipasi perempuan memang sempat menimbulkan kontroversi. Berdasarkan catatan Wikipedia, ada kalangan yang meragukan kebenaran surat-surat Kartini. Ada dugaan J.H. Abendanon, Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan saat itu, merekayasa surat-surat Kartini. Kecurigaan ini timbul karena memang buku Kartini terbit saat pemerintahan kolonial Belanda menjalankan politik etis di Hindia Belanda, dan Abendanon termasuk yang berkepentingan dan mendukung politik etis. Hingga saat ini pun sebagian besar naskah asli surat tak diketahui keberadaannya. Menurut almarhum Sulastin Sutrisno, jejak keturunan J.H. Abendanon pun sukar untuk dilacak Pemerintah Belanda.

Penetapan tanggal kelahiran Kartini sebagai hari besar juga agak diperdebatkan. Pihak yang tidak begitu menyetujui, mengusulkan agar tidak hanya merayakan Hari Kartini saja, namun merayakannya sekaligus dengan Hari Ibu pada tanggal 22 Desember. Alasan mereka adalah agar tidak pilih kasih dengan pahlawan-pahlawan wanita Indonesia lainnya, karena masih ada pahlawan wanita lain yang tidak kalah hebat dengan Kartini. Menurut mereka, wilayah perjuangan Kartini itu hanyalah di Jepara dan Rembang saja, Kartini juga tidak pernah memanggul senjata melawan penjajah, dan berbagai alasan lainnya. Sedangkan, mereka yang pro malah mengatakan Kartini tidak hanya seorang tokoh emansipasi wanita yang mengangkat derajat kaum wanita Indonesia saja, melainkan adalah tokoh nasional artinya, dengan ide dan gagasan pembaruannya tersebut dia telah berjuang untuk kepentingan bangsanya. Cara pikirnya sudah melingkupi perjuangan nasional.

Terlepas dari kontroversi yang ada, harus diakui, sosok Kartini telah memberikan inspirasi tersendiri bagi kaum perempuan dalam memperjuangkan hak-haknya. Kita tak bisa membayangkan bagaimana nasib kaum Hawa di negeri ini seandainya tak muncul gerakan perlawanan dan pemberontakan yang terus gencar dilakukan secara individual oleh perempuan kelahiran Jepara, Jawa Tengah, 21 April 1879 itu. Di tengah atmosfer feodalisme yang begitu mengakar dalam strata masyarakat Jawa, Kartini tampil beda lewat pandangan-pandangan tolerannya yang begitu humanis dan menyentuh hingga ke akar-akar kemanusiawian kita. Dia tanggalkan status kepriyayian dan dengan amat sadar dia perkokoh visinya dalam memperjuangkan nasib kaumnya yang dibelenggu oleh adat, kultur, dan tradisi.

Kartini yang besar dan belajar di lingkungan adat-istiadat serta tata cara ningrat Jawa yang begitu mengagungkan nilai-nilai feodalisme merasa gerah. Dia tidak tega menyaksikan nasib kaumnya yang terus mengalami subordinasi dan marginalisasi peran.

“Peduli apa aku dengan segala tata cara itu, segala peraturan-peraturan itu hanya menyiksa diriku saja,” tulis Kartini dalam sebuah surat yang ditujukan kepada Stella, 18 Agustus 1899. “Bagi saya hanya ada dua macam keningratan: keningratan pemikiran (fikrah) dan keningratan budi (Akhlaq). Tidak ada yang lebih gila dan bodoh menurut persepsi saya daripada melihat orang yang membanggakan asal keturunannya. Apakah berarti sudah beramal sholeh, orang yang bergelar Graff atau Baron!” lanjutnya.

Sudah lebih satu abad suara Kartini menggema dari generasi ke generasi. Kaum perempuan layak bersyukur, tirani dan belenggu patriarki secara bertahap sudah mulai bisa dikendurkan. Gerakan kaum perempuan juga makin gencar beraksi. Mitos kaum perempuan sebagai “kanca wingking, swarga nunut neraka katut, yang awan dadi theklek, yen bengi dadi lemek” (teman belakang, syurga atau neraka ikut saja kehendak sang suami, kalau siang jadi sandal, kalau malam jadi selimut) sudah berhasil dibebaskan. Tak ada lagi konvensi yang menabukan kaum perempuan terjun ke kancah publik, baik dalam ranah birokrasi maupun politik.

Situasi semacam itu jelas makin memosisikan kaum perempuan pada aras yang lebih terhormat dan bermartabat. Sudah bukan saatnya lagi posisi kunci di sektor publik dibeda-bedakan secara seksis dan stereotipe berdasarkan jenis kelamin. Laki-laki dan perempuan sama-sama memiliki peluang untuk menggapai sukses karier di luar pagar rumah tangga.

Meskipun demikian, situasi kesetaraan yang sudah demikian masif dan progresif, jangan sampai membuat kaum perempuan terjangkiti sindrom euforia hingga melupakan dan mengabaikan sentuhan kelembutan, perhatian, dan kasih sayang dalam lingkup domestik. Betapapun suksesnya kaum perempuan menggapai puncak karier, secara kodrati kehidupan rumah tangga amat membutuhkan kiprah kaum perempuan sebagai pencerah peradaban yang diharapkan mampu melahirkan generasi masa depan yang cerdas, santun, dan berakal budi.

Sungguh, sebuah situasi yang amat tidak menguntungkan apabila anak-anak harus kehilangan perhatian dan kasih sayang hanya lantaran ambisi sang ibu yang ingin menggapai puncak karier tanpa dibarengi dengan kearifan dan kesantunan dalam menyiasati dinamika peradaban yang terus menawarkan perubahan. Nah, bagaimana? ***

Tulisan berjudul "Sosok Kartini dan Terbebasnya Mitos Kaum Perempuan" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (21 April 2009 @ 01:35) pada kategori Opini. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Tulisan lain yang berkaitan:

Keperkasaan Tidak Hanya Menjadi Milik Kaum Lelaki (Saturday, 21 December 2013, 374082 pembaca, 12 respon) (Refleksi Hari Ibu Tahun 2013) Perempuan-Perempuan Perkasa Puisi Hartoyo Andangdjaja Perempuan-perempuan yang membawa bakul di pagi buta, dari...

Pendampingan Penyusunan Silabus dan RPP SMP Responsif Gender (Monday, 3 December 2012, 52262 pembaca, 12 respon) Tanggal 22 November dan 1 Desember 2012 yang lalu, saya didaulat oleh Dinas Pendidikan Kab. Wonogiri, Jateng, untuk mendampingi 20 rekan sejawat,...

Ungkapan Verbal yang Mengukuhkan Bias Gender (Friday, 7 September 2012, 44639 pembaca, 31 respon) Kesetaraan gender pada hakikatnya merupakan strategi untuk mencapai kesetaraan melalui kebijakan dan program yang memperhatikan pengalaman, aspirasi,...

Hari Ibu dan Nasib TKW yang “Ternistakan” (Thursday, 22 December 2011, 137741 pembaca, 47 respon) Hari ini, Kamis, 22 Desember 2011, seharusnya kaum perempuan di negeri ini terbebas dari segala macam bentuk kekerasan dan penindasan. Pada hari yang...

Bu Ismi: Guru Besar yang Rendah Hati (Tuesday, 20 December 2011, 48233 pembaca, 46 respon) Nama lengkapnya Prof. Dr. Ismi Dwi Astuti Nurhaeni, M.Si. Namun, lebih suka disapa Bu Ismi. “Jangan sampai jabatan dan gelar menjadi penghalang...

BAGIKAN TULISAN INI:
EMAIL
|FACEBOOK|TWITTER|GOOGLE+|LINKEDIN
FEED SUBSCRIBE|STUMBLEUPPON|DIGG|DELICIOUS
0 G+s
0 PIN
0 INs
RSSfacebooktwittergoogle+ pinterestlinkedinemail

Jika tertarik dengan tulisan di blog ini, silakan berlangganan
secara gratis melalui e-mail!

Daftarkan e-mail Anda:

119 komentar pada "Sosok Kartini dan Terbebasnya Mitos Kaum Perempuan"

  1. hemzzz…. mampir pak sekalian salam kenal yak pak

    Untuk calon bahkan yang sudah menjadi Ibu untuk lebih dan lebih lagi dalam membangun negeri ini dengan menjadi wanita yang sesuai denga Takdir dan Kodratnya….bukan harus sama persis kali yah pak…???bagaimanapun Laki-laki punya unsur yang agak lebih sedikit daripada perempuan…huehehehe
    Kalo artikel ini(http://jojoba99.blogspot.com/2009/04/hari-raya-kartini-emansipasi-wanita.html bener ga pak…???
    salam

    Baca juga tulisan terbaru an4k`SinGKonG berjudul Keagungan Yang Sejati……….

  2. mrpall says:

    semoga selalu ada kartini2 baru yang mampu memelihara asa dan pemikiran kartini kedalam konsep kartini modern.. tapi juga makin banyak kartini modern yang kebablasan.. ah..

    Baca juga tulisan terbaru mrpall berjudul Presidenku Susilo Bambang Yudhoyono

  3. fauzansigma says:

    :smile: pak sawali, iya memang kartini itu mengundang banyak kontroversi, wanita, penjajahan dan pemingitann terhadap wanita begitu di soroti oleh banyak kawan2 aktivis bahkan yg bukan aktivis juga ikutan berkomentar..

    tapi, gmn lagi skg pak swali, wanita jaman sekarang ini gmn pak?

    Baca juga tulisan terbaru fauzansigma berjudul Senyumku untuk UNS BlogFest 0.9

    • @fauzansigma,
      wah, saya kira kaum perempuan sekarang sudah bisa menikmati kemeredekaannya, mas sigma. tradisi kawin paksa atau pingitan sekarang sudah tdk ada. meski demikian, juga jangan sampai terjebak ke dalam eforia feminisme hingga melupakan kaum perempuan pada tugas dan perannya di sektor domestik.

  4. Hidup kartini begitu singkat… namun banyak sekali perjuangan yang bisa dipetik dari hidupnya.

    Begitu sulitnya menjadi perempuan ningrat jawa tanpa tahu dengan siapa jodohnya. Menjadi istri seorang duda, menikah, bersosialisasi dengan selir, mengajar baca tulis, melahirkan dan meninggal beberapa hari kemudian.

    Kartini muda menatap maju masa depan.

    Baca juga tulisan terbaru tukangobatbersahaja berjudul Nuansa Bening

Leave a Reply