Home | Refleksi, Religi | Menjelang UN: Anak-anak Butuh Sentuhan Kelembutan dan Kasih Sayang

Menjelang UN: Anak-anak Butuh Sentuhan Kelembutan dan Kasih Sayang

Sunday, 19 April 2009 (01:45) | 1 pembaca | 10 komentar | Print this Article

Jumat malam, 17 April 2009, yang lalu, sekolah saya mengundang Tim Esam (Emotional and Spiritual Achievement Motivation) Training. Tujuannya adalah untuk membangkitkan motivasi anak-anak agar siap secara emosional dan spiritual dalam meraih prestasi setelah teman-teman guru sudah merasa cukup menyiapkan mereka melalui ikhtiar lahiriah. Pelatihan tersebut baru pertama kalinya digelar. Ide awal bermula ketika bos Esam Tranining, Pak Sunarto yang juga Kepala SMA Rowosari, Kendal, bertemu langsung dengan kepala sekolah. Pak Narto, demikian saya biasa menyapanya, mengontak saya via telepon tentang program pelatihan itu. Konon, kepala sekolah menyerahkan sepenuhnya kepada saya tentang perlu tidaknya kegiatan semacam itu. Jujur saja, saya belum bisa mengiyakan. Saya hanya meminta kepada Pak Narto untuk mengirimkan proposalnya.

Beberapa hari kemudian, kepala sekolah memberikan proposal dari Pak Narto kepada saya. Setelah saya pelajari, agaknya model pelatihan semacam itu memang diperlukan sebagai ikhtiar batiniah agar anak-anak benar-benar dalam kondisi siap untuk menghadapi UN. Setelah melalui berbagai diskusi dengan teman-teman, akhirnya disepakati untuk menggelar pelatihan. Saya pun melakukan konfirmasi kepada Pak Narto hingga akhirnya pelatihan benar-benar digelar di lapangan terbuka itu.

Setelah melakukan shalat Maghrib berjamaah, doa bersama, dan shalat Isya’ berjamaah, acara pelatihan pun dimulai pukul 20.30 WIB. Berdasarkan pengamatan awam saya, pelatihan ini memang menggunakan pendekatan psikologis yang berupaya memberikan “shock therapy” kepada anak-anak agar mereka sanggup menghadapi UN dengan tingkat kepercayaan diri yang tinggi. Diawali dengan membawa imajinasi anak-anak ke dunia mimpi tentang harapan dan cita-cita, sekitar 221 anak yang mengikuti pelatihan ini kemudian dibawa masuk pada suasana “pesta” melalui gerakan dan tepuk tangan. Anak-anak yang didampingi orang tua/wali murid merasa enjoy dan betul-betul menikmatinya.

Semakin malam, ada suasana gelap dan temaram yang sengaja dibangun untuk menciptakan suasana hening dan haru. Maka, pelatihan pun sampai pada tahap kontemplasi yang membawa imajinasi anak-anak pada dunia masa silam; mengingat orang tua dan saudara-saudaranya. Secara bertahap, dunia batin anak-anak mulai ditetesi kiat-kiat meraih sukses UN dengan menyadarkan betapa pentingnya doa restu orang tua. Melalui lantunan doa dan pengharapan yang tertata lewat diksi yang menyentuh dan mengharukan, anak-anak diajak untuk mengingat keberadaan orang tua dan saudara-saudaranya.

Ternyata, tahap kontemplasi benar-benar mampu membawa dunia batin anak dalam suasana yang benar-benar mengharukan hingga tak sedikit siswa putri yang menjerit dan berteriak histeris. Ada sekitar 7 siswi yang pingsan. Mereka pun secara bergantian segera digotong ke ruang UKS. Sebenarnya sudah ada anggota dari TIM Esam Training yang siap untuk menangani anak-anak yang shock ketika memasuki tahap kontemplasi ini. Namun, lantaran situasinya malam hari, Tim Esam Training tak bisa menangani anak-anak yang tergolong bermasalah ini secara tuntas. Dalam keadaan tak menentu, anak-anak yang pingsan langsung ditangani oleh warga masyarakat sekitar sekolah dengan menggunakan pendekatan kultural khas masyarakat desa.

Saya yang kebetulan berusaha menyadarkan dua siswi yang tergolong pingsan berat melalui bisikan-bisikan istighfar dan belaian lembut di kepala mereka agaknya bisa memberikan sedikit ruang kesadaran kepada mereka untuk mengembalikan kekuatan dan kesejatian dirinya. Secara perlahan-lahan, anak yang bersangkutan saya bimbing untuk membaca istighfar sebagai wujud permohonan ampunan kepada Allah SWT. Alhamdulillah, mereka perlahan-lahan mulai siuman. Namun, begitu saya tinggal, beberapa menit kemudian, siswi yang bersangkutan kembali menjerit histeris. Suasana pun berubah kacau karena makin banyak orang tua/wali murid yang mengerumuninya, ditambah lagi dengan makin banyaknya siswi yang pingsan. Suasana pelatihan pun sedikit terganggu. Meski demikian, Pak Narto jalan terus dengan tahap-tahap pelatihannya. Sebagian besar siswa pun tetap enjoy dan menikmati tahap demi tahap pelatihan itu hingga usai pukul 23.00 WIB.

Sementara itu, ketika pelatihan usai, masih ada dua siswi bermasalah yang sedang mengalami shock belum juga siuman. Warga masyarakat yang dianggap memiliki kekuatan spiritual berupaya menyadarkannya dengan menggunakan pendekatan tersendiri. Siswi baru siuman sekitar pukul 24.00.

Tiba di rumah, jam di dinding menunjuk pukul 01.00 WIB dini hari. Hmm … tiba-tiba saja saya jadi merenung. Anak-anak yang hendak menghadapi ujian nasional agaknya memang sedang mengalami masa-masa stress. Tekanan dari pihak orang tua, stigma masyarakat, dan bejibunnya tugas-tugas berat yang mesti mereka ikuti, tak jarang membuat mereka mengalami depresi. Dalam situasi seperti itu, dibutuhkan sentuhan kelembutan dan kasih sayang untuk membangkitkan motivasi mereka dengan cara yang normal dan wajar. Besarkan hati mereka agar sanggup menghadapi UN dengan sikap penuh optimisme.

Semoga mereka sanggup melewati masa-masa kritis itu hingga akhirnya mampu meraih sukses seperti yang diharapkan. ***

Kategori: Refleksi, Religi | Tags: , , ,

Tulisan lain yang berkaitan:

imgPerubahan Gaya Hidup di Bulan Ramadhan (Friday, 13 August 2010, 530 pembaca, 66 respon) Konon, puasa di bulan Ramadhan merupakan manifestasi ibadah yang memiliki dimensi personal dan sosial. Dari dimensi personal, hanya kita yang bisa berkata dengan jujur kepada Sang Khalik tentang perilaku “religius” yang tengah kita jalankan....
imgDari Motivasi ESQ ke Temu Forum PUG Bidang Pendidikan (Saturday, 27 March 2010, 351 pembaca, 88 respon) Memburu Jati Diri? Ungkapan ini mengingatkan pada artikel saya yang pertama kali dimuat di media cetak lokal. Di rubrik “Debat Mahasiswa”, sekitar tahun 1987, nama saya yang saat itu masih berstatus mahasiswa calon guru di sebuah lembaga...
imgUjian Nasional Mengebiri Potensi Siswa Didik (Tuesday, 9 March 2010, 852 pembaca, 137 respon) Jika tak ada aral melintang, para siswa SMA/MA, SMALB, dan SMK akan menempuh Ujian Nasional (UN) utama pada 22 – 26 Maret 2010. Sedangkan, siswa SMP/MTs dan SMPLB pada 29 Maret – 1 April 2010. Berbeda dengan tahun sebelumnya, UN tahun ini ada UN...
imgDari LCC hingga Bedah SKL UN 2010 (Monday, 22 February 2010, 602 pembaca, 73 respon) Kamis, 18 Februari 2010, bertempat di SMP 3 Patebon, Kendal, saya bersama beberapa rekan sejawat didaulat untuk menjadi yuri Lomba Cerdas-Cermat (LCC) Tingkat SMP Kabupaten Kendal. LCC dimaksudkan sebagai ajang seleksi untuk memilih satu regu terbaik...
imgUjian Nasional dan Robotisasi Siswa Didik (Friday, 5 February 2010, 874 pembaca, 155 respon) Dunia pendidikan kita hanya melahirkan generasi penghafal kelas wahid? Itulah pertanyaan yang selalu mencuat ketika ranah pendidikan kita dinilai telah gagal melahirkan generasi masa depan yang cerdas, kritis, dan kreatif. Almarhum Rama Mangunwijaya...
Catatan Sawali Tuhusetya
feeds.feedburner.com
Tulisan berjudul "Menjelang UN: Anak-anak Butuh Sentuhan Kelembutan dan Kasih Sayang" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (Sunday, 19 April 2009 (01:45)) pada kategori Refleksi, Religi. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Ingin berlangganan gratis? Silakan daftarkan alamat email Anda sekarang juga! Terima kasih dan salam budaya!
Anda juga bisa memublikasikan tulisan ini melalui jejaring sosial/web berikut:
FacebookTwitterStumbleDigg itDeliciousGoogle ReaderRedditTechnoratiGoogle BuzzYahoo Buzz
DesignfloatDiigoMixxMeneamedesignbumpFurlMagnoliaBlinklistfurlblogmark

10 Responses to "Menjelang UN: Anak-anak Butuh Sentuhan Kelembutan dan Kasih Sayang"

  1. bias says:
    Menggunakan Unknown Unknown pada Unknown Unknown

    wah, alhamdulillah 3 mapel udah selesai pak…
    tinggal uas doank :D

  2. Menggunakan Unknown Unknown pada Unknown Unknown

    Kok jadinya tidak seperti menjalani masa-masa sekolah ya.
    Stres, depresi, deg-degan, wuih. Out-nya bakal seperti apa ya angkatan ini…

    Baca juga tulisan terbaru Daniel Mahendra berjudul Surat

  3. Reza Fauzi says:
    Menggunakan Unknown Unknown pada Unknown Unknown

    kalo saya stres gatau apakah bisa naik kelas :(

  4. masjaliteng says:
    Menggunakan Unknown Unknown pada Unknown Unknown

    tadi sempat diskusi dg teman guru math smp yang mau istigotshah sore hari di sekolahnya ttg pengalaman masa lalu saat menghadapi ujian, ternyata sangat berbeda sekali stresnya antara dulu dan sekarang :cry: , sukses UN buat semuanya…

    Baca juga tulisan terbaru masjaliteng berjudul caleg stres = sisi lain pemilu

  5. marsudiyanto says:
    Menggunakan Unknown Unknown pada Unknown Unknown

    Semoga anak didik kita berhasil melewati tahapan ujian dengan lancar.
    Sukses buat semuanya.
    Salam buat Pak Narto & ESAM nya…

    Baca juga tulisan terbaru marsudiyanto berjudul 26

  6. Sawali says:
    Menggunakan Unknown Unknown pada Unknown Unknown

    hehehe … saya ndak tahu juga nih, mas jalitheng. perasaan waktu saya sekolah dulu, ujian itu merupakan peristiwa biasa. namun, sejak tiga tahun terakhir ini, ujian kok seperti momok yang bener2 menakutkan hingga mendorong sejulah sekolah utk melakukan ritual2 instan, hiks.

  7. Sawali says:
    Menggunakan Unknown Unknown pada Unknown Unknown

    wew…. kenapa jadi merendah begitu, mas reza. harus pede dong, hehe ….

  8. Sawali says:
    Menggunakan Unknown Unknown pada Unknown Unknown

    itulah bedanya ujian jadul dg sekarang, mas dan. perasaan waktu aku ujian dulu, tak ada perasaan nervous, apalagi takut. sekarang, duh, ujian benar2 telah membuat anak2 stres, bahkan depresi.

  9. Sawali says:
    Menggunakan Unknown Unknown pada Unknown Unknown

    syukurlah, mas. semoga semuanya lancar dan sukses!

  10. Sawali says:
    Menggunakan Unknown Unknown pada Unknown Unknown

    @marsudiyanto,
    amiiin, semoag demikian, pak. hehe … pak mar kan malah lebih sering ketemuan sama pak narto, toh?

Leave a Reply

CommentLuv Enabled
«
»
www.batuzakar.netweb hosting indonesia
Catatan Sawali Tuhusetya is proudly powered by WordPress (84 queries: 0.835 seconds)
Valid CSS & XHTML | KBP