Home » Pendidikan » Menjelang UN: Anak-anak Butuh Sentuhan Kelembutan dan Kasih Sayang

Menjelang UN: Anak-anak Butuh Sentuhan Kelembutan dan Kasih Sayang

Jumat malam, 17 April 2009, yang lalu, sekolah saya mengundang Tim Esam (Emotional and Spiritual Achievement Motivation) Training. Tujuannya adalah untuk membangkitkan motivasi anak-anak agar siap secara emosional dan spiritual dalam meraih prestasi setelah teman-teman guru sudah merasa cukup menyiapkan mereka melalui ikhtiar lahiriah. Pelatihan tersebut baru pertama kalinya digelar. Ide awal bermula ketika bos Esam Tranining, Pak Sunarto yang juga Kepala SMA Rowosari, Kendal, bertemu langsung dengan kepala sekolah. Pak Narto, demikian saya biasa menyapanya, mengontak saya via telepon tentang program pelatihan itu. Konon, kepala sekolah menyerahkan sepenuhnya kepada saya tentang perlu tidaknya kegiatan semacam itu. Jujur saja, saya belum bisa mengiyakan. Saya hanya meminta kepada Pak Narto untuk mengirimkan proposalnya.

Beberapa hari kemudian, kepala sekolah memberikan proposal dari Pak Narto kepada saya. Setelah saya pelajari, agaknya model pelatihan semacam itu memang diperlukan sebagai ikhtiar batiniah agar anak-anak benar-benar dalam kondisi siap untuk menghadapi UN. Setelah melalui berbagai diskusi dengan teman-teman, akhirnya disepakati untuk menggelar pelatihan. Saya pun melakukan konfirmasi kepada Pak Narto hingga akhirnya pelatihan benar-benar digelar di lapangan terbuka itu.

Setelah melakukan shalat Maghrib berjamaah, doa bersama, dan shalat Isya’ berjamaah, acara pelatihan pun dimulai pukul 20.30 WIB. Berdasarkan pengamatan awam saya, pelatihan ini memang menggunakan pendekatan psikologis yang berupaya memberikan “shock therapy” kepada anak-anak agar mereka sanggup menghadapi UN dengan tingkat kepercayaan diri yang tinggi. Diawali dengan membawa imajinasi anak-anak ke dunia mimpi tentang harapan dan cita-cita, sekitar 221 anak yang mengikuti pelatihan ini kemudian dibawa masuk pada suasana “pesta” melalui gerakan dan tepuk tangan. Anak-anak yang didampingi orang tua/wali murid merasa enjoy dan betul-betul menikmatinya.

Semakin malam, ada suasana gelap dan temaram yang sengaja dibangun untuk menciptakan suasana hening dan haru. Maka, pelatihan pun sampai pada tahap kontemplasi yang membawa imajinasi anak-anak pada dunia masa silam; mengingat orang tua dan saudara-saudaranya. Secara bertahap, dunia batin anak-anak mulai ditetesi kiat-kiat meraih sukses UN dengan menyadarkan betapa pentingnya doa restu orang tua. Melalui lantunan doa dan pengharapan yang tertata lewat diksi yang menyentuh dan mengharukan, anak-anak diajak untuk mengingat keberadaan orang tua dan saudara-saudaranya.

Ternyata, tahap kontemplasi benar-benar mampu membawa dunia batin anak dalam suasana yang benar-benar mengharukan hingga tak sedikit siswa putri yang menjerit dan berteriak histeris. Ada sekitar 7 siswi yang pingsan. Mereka pun secara bergantian segera digotong ke ruang UKS. Sebenarnya sudah ada anggota dari TIM Esam Training yang siap untuk menangani anak-anak yang shock ketika memasuki tahap kontemplasi ini. Namun, lantaran situasinya malam hari, Tim Esam Training tak bisa menangani anak-anak yang tergolong bermasalah ini secara tuntas. Dalam keadaan tak menentu, anak-anak yang pingsan langsung ditangani oleh warga masyarakat sekitar sekolah dengan menggunakan pendekatan kultural khas masyarakat desa.

Saya yang kebetulan berusaha menyadarkan dua siswi yang tergolong pingsan berat melalui bisikan-bisikan istighfar dan belaian lembut di kepala mereka agaknya bisa memberikan sedikit ruang kesadaran kepada mereka untuk mengembalikan kekuatan dan kesejatian dirinya. Secara perlahan-lahan, anak yang bersangkutan saya bimbing untuk membaca istighfar sebagai wujud permohonan ampunan kepada Allah SWT. Alhamdulillah, mereka perlahan-lahan mulai siuman. Namun, begitu saya tinggal, beberapa menit kemudian, siswi yang bersangkutan kembali menjerit histeris. Suasana pun berubah kacau karena makin banyak orang tua/wali murid yang mengerumuninya, ditambah lagi dengan makin banyaknya siswi yang pingsan. Suasana pelatihan pun sedikit terganggu. Meski demikian, Pak Narto jalan terus dengan tahap-tahap pelatihannya. Sebagian besar siswa pun tetap enjoy dan menikmati tahap demi tahap pelatihan itu hingga usai pukul 23.00 WIB.

Sementara itu, ketika pelatihan usai, masih ada dua siswi bermasalah yang sedang mengalami shock belum juga siuman. Warga masyarakat yang dianggap memiliki kekuatan spiritual berupaya menyadarkannya dengan menggunakan pendekatan tersendiri. Siswi baru siuman sekitar pukul 24.00.

Tiba di rumah, jam di dinding menunjuk pukul 01.00 WIB dini hari. Hmm … tiba-tiba saja saya jadi merenung. Anak-anak yang hendak menghadapi ujian nasional agaknya memang sedang mengalami masa-masa stress. Tekanan dari pihak orang tua, stigma masyarakat, dan bejibunnya tugas-tugas berat yang mesti mereka ikuti, tak jarang membuat mereka mengalami depresi. Dalam situasi seperti itu, dibutuhkan sentuhan kelembutan dan kasih sayang untuk membangkitkan motivasi mereka dengan cara yang normal dan wajar. Besarkan hati mereka agar sanggup menghadapi UN dengan sikap penuh optimisme.

Semoga mereka sanggup melewati masa-masa kritis itu hingga akhirnya mampu meraih sukses seperti yang diharapkan. ***

tentang blog iniTulisan berjudul "Menjelang UN: Anak-anak Butuh Sentuhan Kelembutan dan Kasih Sayang" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (19 April 2009 @ 01:45) pada kategori Pendidikan. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Ada 5 komentar dalam “Menjelang UN: Anak-anak Butuh Sentuhan Kelembutan dan Kasih Sayang

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *