Home | Budaya, Negeri Kelelawar, Politik, Sastra | Premanisme Merajalela di Negeri Kelelawar (8)

Premanisme Merajalela di Negeri Kelelawar (8)

Saturday, 18 April 2009 (22:40) | 323 pembaca | 90 komentar | Print this Article

Kisah ini merupakan bagian ke-8 dari serial “Negeri Kelelawar”. Yang belum sempat membaca, silakan nikmati dulu kisah Menagih Janji Politisi di Negeri Kelelawar (1), Ontran-ontran di Negeri Kelelawar (2), Situasi Chaos di Negeri Kelelawar Makin Parah (3), Angin Reformasi Berhembus Juga di Negeri Kelelawar (4), Menyiasati Kecamuk Separatisme di Negeri Kelelawar (5), Kekuasaan Negeri Kelelawar dalam Kepungan Ambisi Petualang Politik (6), dan Isu Dekrit Presiden di Negeri Kelelawar (7) ***

premanJagad politik mana yang sepi dari pamrih dan ambisi kekuasaan? Kamus politik dari negeri mana pun, sudah pasti akan memberikan definisi kalau politik itu identik dengan seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan, baik secara konstitusional maupun nonkonstitusional. Akibat definisi politik yang semacam itu perilaku politik tak lebih dari suguhan permainan teater yang mendebarkan, sarat intrik dan konflik, hingga menimbulkan suspensi yang serba dadakan dan penuh kejutan. Demikian juga halnya dengan perilaku politik elite di jagad negeri Kelelawar.

Setelah kongkalingkong poros kebangsaan sukses menggusur Ki Gusra-gusru dari panggung kekuasaan dan berhasil mengantarkan Nyi Menik Sukagincu sebagai Ratu Kelelawar, tidak lantas berarti negeri berpenduduk lebih dari 200 juta jiwa itu sepi dari aksi vandalisme dan kekerasan. Bahkan, kini ditengarai aksi-aksi kekerasan kian marak dan merajalela di seantero negeri. Yang lebih mencemaskan, premanisme tak hanya beraksi di jalanan, tetapi juga bermain di pos-pos birokrasi yang menjadi penentu kebijakan. Bupati/walikota, misalnya, ditengarai lebih banyak dijabat oleh mantan preman yang selama ini dikenal sangat getol dan fanatik dalam membesarkan partai politik yang diusung oleh Ny. Menik Sukagincu. Sebagai balas budi, mereka diberi kesempatan untuk menjadi penguasa di berbagai daerah. Situasi politik semacam itu, disadari atau tidak, telah menimbulkan situasi “chaos” terselubung. Rakyat negeri Kelelawar jadi resah dan merasa tidak nyaman.

“Kenapa sekarang ini preman jadi makin merajalela, ya, Kang?” tanya seekor kelelawar di sebuah sudut pasar.

“Bagaimana tidak kalau bupati kita sekarang ternyata juga seorang preman? Sampeyan tahu ndak? Sebelum jadi bupati, dia itu kan suka berjudi, main perempuan, dan jadi bandar sabung ayam,” sahut kelelawar bermata sipit.

“Ah, yang bener?”

“Alah, Sampeyan tuh yang ketinggalan zaman. Semua orang juga tahu!”

Pembicaraan mereka terhenti ketika tiba-tiba saja gerombolan kelelawar bertampang bringas dan kasar berkelebat di depan mata mereka. Dengan jelas, kedua kelelawar bertubuh kurus itu menyaksikan bagaimana segerombolan preman pasar itu beraksi. Dengan berlagak sok kuasa, para preman berbuat sewenang-wenang memeras para pedagang dan pemilik kios. Para pedagang kecil tak berdaya. Di bawah ancaman golok, belati, dan bau minuman keras, mereka dipaksa menguras pundi-pundi keuntungannya yang tidak seberapa itu untuk disetorkan kepada para preman sebagai upeti.

Ulah para preman tak hanya meresahkan para pedagang kecil. Mereka juga beraksi di toko, bus kota, terminal, dan tempat-tempat keramaian lainnya. Mereka terang-terangan melakukan perampokan di siang hari bolong, bahkan, mereka tak segan-segan menghabisi nyawa korban.

Para pemburu berita pun sudah merasa capek. Mereka jenuh mengangkat aksi para preman ke dalam headline berita. Sudah hampir dua bulan ini, berita-berita di koran, majalah, dan televisi selalu berlumuran darah segar. Entah, sudah berapa nyawa kelelawar yang telah menjadi tumbal kebiadaban para preman. Meskipun demikian, sejauh ini belum ada tanda-tanda dari aparat yang berwajib untuk menindak tegas ulah para preman yang sudah jelas-jelas meresahkan warga kelelawar. Di setiap sudut negeri kelelawar, langkah setiap penduduk seolah-olah selalu diawasi dan diintai oleh para preman. Rakyat negeri kelelawar benar-benar hidup dalam suasana tertekan.

Yang lebih memprihatinkan, ulah premanisme konon sudah merasuki gedung wakil rakyat negeri kelelawar yang terhormat. Meskipun bukan sebagai mayoritas tunggal, jumlah mereka terbilang cukup besar dan menguasai hampir semua lini yang ada di pos-pos wakil rakyat. Dalam menjalankan aksinya, konon mereka selalu berkonsultasi dan minta restu kepada Nyi Menik Sukagincu. Artinya, Nyi Menik Sukaginculah yang menjadi pengendali aksi premanisme di gedung wakil rakyat. Mereka yang tidak sepaham, tak segan-segan ditendang oleh kelelawar perempuan bertubuh tambun itu.

Dengan berbagai alasan konstitusi, para preman wakil rakyat begitu mudahnya menyetujui setiap produk undang-undang baru yang dirancang oleh Nyi Menik Sukagincu yang konon lebih menguntungkan masa depan partai yang selalu mengklaim diri sebagai partai wong cilik itu. Tentu saja, gelagat mereka yang kurang menguntungkan bagi kemajuan negeri kelelawar itu segera tercium oleh wakil rakyat dari parpol lain. Tak jarang terjadi rapat pleno diwarnai aksi walk-out, bahkan juga aksi debat kusir, lempar kursi, atau adu jotos. Jadilah suasana gedung wakil rakyat seperti menyimpan bom waktu yang setiap saat bisa meledak.

Situasi yang begitu memanjakan para preman, membuat para bupati/walikota ikut-ikutan membudayakan perilaku korup dalam birokrasinya. Untuk memuluskan langkah, mereka selalu membuat perjanjian di bawah tangan kepada para pelelang proyek. Jangan bermimpi menjadi penggarap proyek jika mereka tak mau setor upeti kepada sang penguasa daerah. Kondisi semacam ini membuat proyek berbiaya tinggi. Selain mencari untung, para pemenang tender di bawah tangan juga mesti setor upeti kepada pemberi proyek. Akibatnya, berbagai proyek yang digarap sering mangkrak. Proyek yang digarap pun asal jadi; jauh dari standar kualitas yang diharapkan.

Secara diam-diam, rakyat negeri kelelawar mulai muak dengan atmosfer premanisme yang begitu jelas tercium di berbagai sudut dan lini masyarakat. Banyak rakyat yang kehilangan harapan hidup. Namun, mereka tak sanggup berbuat apa-apa. Akankah hidup mereka terus dibayang-bayangi oleh rasa takut, cemas, dan tertekan akibat kebringasan dan kebiadaban para preman? Adakah tokoh dari negeri kelelawar yang sanggup menjadi bemper untuk memerangi aksi premanisme yang nyata-nyata telah mengusik rasa aman? ***

Kategori: Budaya, Negeri Kelelawar, Politik, Sastra | Tags: , ,

Tulisan lain yang berkaitan:

imgSayembara Berdarah demi Membangun Kejayaan Pancala (Monday, 26 July 2010, 522 pembaca, 65 respon) Dalang: Ki Sawali Tuhusetya Gandamana tercenung di sudut kamar. Berkali-kali, putra mahkota negeri Pancala yang rela melepaskan tahta demi berguru kepada penguasa Hastina, Pandu Dewanata, ini memukul-mukul jidatnya. Dia tak paham juga dengan kekerasan...
imgMembumikan Pendidikan Karakter (Monday, 12 July 2010, 1,808 pembaca, 123 respon) Dalam satu dekade belakangan ini, nurani kita digelisahkan oleh maraknya aksi kekerasan yang terjadi di berbagai lapis dan lini masyarakat. Aksi-aksi vandalisme dan premanisme dengan berbagai macam bentuk dan variannya (nyaris) menjadi fenomena tragis...
imgPeradaban Negeri Kelelawar Tak Akan Pernah Mati (Friday, 9 July 2010, 964 pembaca, 122 respon) (Kisah ini merupakan bagian ke-14 dari serial “Negeri Kelelawar”. Yang belum sempat membaca, silakan nikmati dulu kisah Menagih Janji Politisi di Negeri Kelelawar (1), Ontran-ontran di Negeri Kelelawar (2), Situasi Chaos di Negeri Kelelawar Makin...
imgNilai-nilai Pancasila, Riwayatmu Kini! (Tuesday, 1 June 2010, 1,573 pembaca, 67 respon) (Renungan dan refleksi mini di hari kelahiran Pancasila) Kita sungguh sedih menyaksikan berbagai aksi brutal dan kanibal yang tak pernah berhenti menggoyang sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Perilaku kekerasan berbasiskan primordialisme...
imgSenjakala di Negeri Kelelawar (Thursday, 22 April 2010, 420 pembaca, 53 respon) (Kisah ini merupakan bagian ke-13 dari serial “Negeri Kelelawar”. Yang belum sempat membaca, silakan nikmati dulu kisah Menagih Janji Politisi di Negeri Kelelawar (1), Ontran-ontran di Negeri Kelelawar (2), Situasi Chaos di Negeri Kelelawar Makin...
Catatan Sawali Tuhusetya
feeds.feedburner.com
Tulisan berjudul "Premanisme Merajalela di Negeri Kelelawar (8)" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (Saturday, 18 April 2009 (22:40)) pada kategori Budaya, Negeri Kelelawar, Politik, Sastra. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Ingin berlangganan gratis? Silakan daftarkan alamat email Anda sekarang juga! Terima kasih dan salam budaya!
Anda juga bisa memublikasikan tulisan ini melalui jejaring sosial/web berikut:
FacebookTwitterStumbleDigg itDeliciousGoogle ReaderRedditTechnoratiGoogle BuzzYahoo Buzz
DesignfloatDiigoMixxMeneamedesignbumpFurlMagnoliaBlinklistfurlblogmark

90 Responses to "Premanisme Merajalela di Negeri Kelelawar (8)"

  1. WordPress 2.8 WordPress 2.8

    [...] dalam Kepungan Ambisi Petualang Politik (6), Isu Dekrit Presiden di Negeri Kelelawar (7), dan Premanisme Merajalela di Negeri Kelelawar (8) [...]

  2. Jahid Klw says:
    Menggunakan Firefox 3.0.10 Firefox 3.0.10 pada Windows XP Windows XP

    Oh Preman..preman…. kalau dihitung-hitung berapa jumlah istilah ” Preman” iya…
    Ada Preman berkedok Ulama, Ada Preman berkrah putih, ada Preman Berdasi, Ada Preman pasar dan yang lebih membahayakan Preman Seks. Yang jelas sebagaimana di Negeri Kelelawar, atmosfer premanisme yang begitu jelas tercium di berbagai sudut dan lini masyarakat…. semuanya pasti brengsek iya Pak.

    Mari kita berdo’a saja semoga, di Pilpres mendatang bukan Preman yang jadi Presiden…. Apalagi Preman HAM…Ngeri mendengarnya.

    Baca juga tulisan terbaru Jahid Klw berjudul PILEG USAI BANYAK YANG PILEG

  3. marshmallow says:
    Menggunakan Firefox 3.0.10 Firefox 3.0.10 pada Windows Vista Windows Vista

    nah, pak. kalau rakyat dipimpin dengan kekerasan, mana mungkin mengharapkan jiwa-jiwa lembut dan santun terbentuk sebagai karakter. sama halnya bila siswa dididik dengan kekasaran, tak pantas mengharapkan output yang penuh kehalusan budi, toh?

    tak sabar membaca kisah negeri kelelawar selanjutnya. akankah negeri ini menghadapi pemilu demokratis demi mencari pemimpin yang lebih pantas diteladani? :razz:

    Baca juga tulisan terbaru marshmallow berjudul Slow Down A Little

  4. Ratno38 says:
    Menggunakan Nokia Web Browser Nokia Web Browser pada Nokia 6120 Nokia 6120

    Semoga saja negeri kelelawar tidak dipimpin oleh ratu kelelawar Nyi Menik Sukagincu, kasihan rakyat negeri kelelawar. Untuk para preman kelelawar, lihatlah rakyatmu, banyak dari mereka hidup dalam kecemasan dan kesusahan akibat ulah kalian, sadarlah!!!

  5. pakde says:
    Menggunakan Firefox 3.0.8 Firefox 3.0.8 pada Windows XP Windows XP

    :arrow: premanisme berlaku juga dalam dunia pendidikan keknya…mau intip? boleh dan saya butuh masukan dari guru sawali….now and foreveh :idea:

    Baca juga tulisan terbaru pakde berjudul The Punishment

  6. endar says:
    Menggunakan Firefox 3.0.7 Firefox 3.0.7 pada Ubuntu 8.10 Ubuntu 8.10

    apakah nyi menik sukagincu juga suka menjual perusahaan negara ya?
    jangan-jangan nanti di fesbuk kelelawar muncul “say no!!! to menik sukagincu”

    Baca juga tulisan terbaru endar berjudul Selamat Hari Kartini

  7. Menggunakan Firefox 3.0.8 Firefox 3.0.8 pada Windows XP Windows XP

    @nenyok,
    salam juga, mbak ney. di mana pun adanya, preman memang selalu bikin resah, mbak, hiks, apalagi kalau sudah merambah ke ranah politik dan birokrasi.

Leave a Reply

CommentLuv Enabled
«
»
www.batuzakar.netweb hosting indonesia
Catatan Sawali Tuhusetya is proudly powered by WordPress (163 queries: 1.227 seconds)
Valid CSS & XHTML | KBP