18Apr 2009 92 Comments
Premanisme Merajalela di Negeri Kelelawar (8)
Kisah ini merupakan bagian ke-8 dari serial “Negeri Kelelawar”. Yang belum sempat membaca, silakan nikmati dulu kisah Menagih Janji Politisi di Negeri Kelelawar (1), Ontran-ontran di Negeri Kelelawar (2), Situasi Chaos di Negeri Kelelawar Makin Parah (3), Angin Reformasi Berhembus Juga di Negeri Kelelawar (4), Menyiasati Kecamuk Separatisme di Negeri Kelelawar (5), Kekuasaan Negeri Kelelawar dalam Kepungan Ambisi Petualang Politik (6), dan Isu Dekrit Presiden di Negeri Kelelawar (7) ***
Jagad politik mana yang sepi dari pamrih dan ambisi kekuasaan? Kamus politik dari negeri mana pun, sudah pasti akan memberikan definisi kalau politik itu identik dengan seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan, baik secara konstitusional maupun nonkonstitusional. Akibat definisi politik yang semacam itu perilaku politik tak lebih dari suguhan permainan teater yang mendebarkan, sarat intrik dan konflik, hingga menimbulkan suspensi yang serba dadakan dan penuh kejutan. Demikian juga halnya dengan perilaku politik elite di jagad negeri Kelelawar.
Setelah kongkalingkong poros kebangsaan sukses menggusur Ki Gusra-gusru dari panggung kekuasaan dan berhasil mengantarkan Nyi Menik Sukagincu sebagai Ratu Kelelawar, tidak lantas berarti negeri berpenduduk lebih dari 200 juta jiwa itu sepi dari aksi vandalisme dan kekerasan. Bahkan, kini ditengarai aksi-aksi kekerasan kian marak dan merajalela di seantero negeri. Yang lebih mencemaskan, premanisme tak hanya beraksi di jalanan, tetapi juga bermain di pos-pos birokrasi yang menjadi penentu kebijakan. Bupati/walikota, misalnya, ditengarai lebih banyak dijabat oleh mantan preman yang selama ini dikenal sangat getol dan fanatik dalam membesarkan partai politik yang diusung oleh Ny. Menik Sukagincu. Sebagai balas budi, mereka diberi kesempatan untuk menjadi penguasa di berbagai daerah. Situasi politik semacam itu, disadari atau tidak, telah menimbulkan situasi “chaos” terselubung. Rakyat negeri Kelelawar jadi resah dan merasa tidak nyaman.
“Kenapa sekarang ini preman jadi makin merajalela, ya, Kang?” tanya seekor kelelawar di sebuah sudut pasar.
“Bagaimana tidak kalau bupati kita sekarang ternyata juga seorang preman? Sampeyan tahu ndak? Sebelum jadi bupati, dia itu kan suka berjudi, main perempuan, dan jadi bandar sabung ayam,” sahut kelelawar bermata sipit.
“Ah, yang bener?”
“Alah, Sampeyan tuh yang ketinggalan zaman. Semua orang juga tahu!”
Pembicaraan mereka terhenti ketika tiba-tiba saja gerombolan kelelawar bertampang bringas dan kasar berkelebat di depan mata mereka. Dengan jelas, kedua kelelawar bertubuh kurus itu menyaksikan bagaimana segerombolan preman pasar itu beraksi. Dengan berlagak sok kuasa, para preman berbuat sewenang-wenang memeras para pedagang dan pemilik kios. Para pedagang kecil tak berdaya. Di bawah ancaman golok, belati, dan bau minuman keras, mereka dipaksa menguras pundi-pundi keuntungannya yang tidak seberapa itu untuk disetorkan kepada para preman sebagai upeti.
Ulah para preman tak hanya meresahkan para pedagang kecil. Mereka juga beraksi di toko, bus kota, terminal, dan tempat-tempat keramaian lainnya. Mereka terang-terangan melakukan perampokan di siang hari bolong, bahkan, mereka tak segan-segan menghabisi nyawa korban.
Para pemburu berita pun sudah merasa capek. Mereka jenuh mengangkat aksi para preman ke dalam headline berita. Sudah hampir dua bulan ini, berita-berita di koran, majalah, dan televisi selalu berlumuran darah segar. Entah, sudah berapa nyawa kelelawar yang telah menjadi tumbal kebiadaban para preman. Meskipun demikian, sejauh ini belum ada tanda-tanda dari aparat yang berwajib untuk menindak tegas ulah para preman yang sudah jelas-jelas meresahkan warga kelelawar. Di setiap sudut negeri kelelawar, langkah setiap penduduk seolah-olah selalu diawasi dan diintai oleh para preman. Rakyat negeri kelelawar benar-benar hidup dalam suasana tertekan.
Yang lebih memprihatinkan, ulah premanisme konon sudah merasuki gedung wakil rakyat negeri kelelawar yang terhormat. Meskipun bukan sebagai mayoritas tunggal, jumlah mereka terbilang cukup besar dan menguasai hampir semua lini yang ada di pos-pos wakil rakyat. Dalam menjalankan aksinya, konon mereka selalu berkonsultasi dan minta restu kepada Nyi Menik Sukagincu. Artinya, Nyi Menik Sukaginculah yang menjadi pengendali aksi premanisme di gedung wakil rakyat. Mereka yang tidak sepaham, tak segan-segan ditendang oleh kelelawar perempuan bertubuh tambun itu.
Dengan berbagai alasan konstitusi, para preman wakil rakyat begitu mudahnya menyetujui setiap produk undang-undang baru yang dirancang oleh Nyi Menik Sukagincu yang konon lebih menguntungkan masa depan partai yang selalu mengklaim diri sebagai partai wong cilik itu. Tentu saja, gelagat mereka yang kurang menguntungkan bagi kemajuan negeri kelelawar itu segera tercium oleh wakil rakyat dari parpol lain. Tak jarang terjadi rapat pleno diwarnai aksi walk-out, bahkan juga aksi debat kusir, lempar kursi, atau adu jotos. Jadilah suasana gedung wakil rakyat seperti menyimpan bom waktu yang setiap saat bisa meledak.
Situasi yang begitu memanjakan para preman, membuat para bupati/walikota ikut-ikutan membudayakan perilaku korup dalam birokrasinya. Untuk memuluskan langkah, mereka selalu membuat perjanjian di bawah tangan kepada para pelelang proyek. Jangan bermimpi menjadi penggarap proyek jika mereka tak mau setor upeti kepada sang penguasa daerah. Kondisi semacam ini membuat proyek berbiaya tinggi. Selain mencari untung, para pemenang tender di bawah tangan juga mesti setor upeti kepada pemberi proyek. Akibatnya, berbagai proyek yang digarap sering mangkrak. Proyek yang digarap pun asal jadi; jauh dari standar kualitas yang diharapkan.
Secara diam-diam, rakyat negeri kelelawar mulai muak dengan atmosfer premanisme yang begitu jelas tercium di berbagai sudut dan lini masyarakat. Banyak rakyat yang kehilangan harapan hidup. Namun, mereka tak sanggup berbuat apa-apa. Akankah hidup mereka terus dibayang-bayangi oleh rasa takut, cemas, dan tertekan akibat kebringasan dan kebiadaban para preman? Adakah tokoh dari negeri kelelawar yang sanggup menjadi bemper untuk memerangi aksi premanisme yang nyata-nyata telah mengusik rasa aman? ***
Tulisan lain yang berkaitan:
Tulisan berjudul "Premanisme Merajalela di Negeri Kelelawar (8)" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (18 April 2009 @ 22:40) pada kategori Negeri Kelelawar, Sastra dan telah dikunjungi oleh . Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Jika tertarik dengan tulisan ini, silakan di-share/bookmark melalui jejaring berikut ini:













Aug 10, 2011 @ 13:19:49
Good luck!!!
Semoga terus maju karya”nya..
Kalau bisa ceritanya pak
di akhir cerita jangan ada pertanyaan..
Hanya awal saja jadi kalau ada pertanyaan d akhir cerita,,
seperti cerita itu blum selesai..
Thank’s atas perhatiannya..:)
Catatan Sawali Tuhusetya
Nov 02, 2010 @ 04:43:47
[...] Kelelawar dalam Kepungan Ambisi Petualang Politik (6), Isu Dekrit Presiden di Negeri Kelelawar (7), Premanisme Merajalela di Negeri Kelelawar (8), Geger Ujian Nasional di Negeri Kelelawar (9), Terang Bulan Tak Ada Lagi di Negeri Kelelawar (10), [...]
Geger Ujian Nasional di Negeri Kelelawar | Catatan Sawali Tuhusetya
Jun 17, 2009 @ 01:07:37
[...] dalam Kepungan Ambisi Petualang Politik (6), Isu Dekrit Presiden di Negeri Kelelawar (7), dan Premanisme Merajalela di Negeri Kelelawar (8) [...]
Apr 30, 2009 @ 12:11:08
Oh Preman..preman…. kalau dihitung-hitung berapa jumlah istilah ” Preman” iya…
Ada Preman berkedok Ulama, Ada Preman berkrah putih, ada Preman Berdasi, Ada Preman pasar dan yang lebih membahayakan Preman Seks. Yang jelas sebagaimana di Negeri Kelelawar, atmosfer premanisme yang begitu jelas tercium di berbagai sudut dan lini masyarakat…. semuanya pasti brengsek iya Pak.
Mari kita berdo’a saja semoga, di Pilpres mendatang bukan Preman yang jadi Presiden…. Apalagi Preman HAM…Ngeri mendengarnya.
Baca juga tulisan terbaru Jahid Klw berjudul PILEG USAI BANYAK YANG PILEG
Apr 30, 2009 @ 00:08:33
nah, pak. kalau rakyat dipimpin dengan kekerasan, mana mungkin mengharapkan jiwa-jiwa lembut dan santun terbentuk sebagai karakter. sama halnya bila siswa dididik dengan kekasaran, tak pantas mengharapkan output yang penuh kehalusan budi, toh?
tak sabar membaca kisah negeri kelelawar selanjutnya. akankah negeri ini menghadapi pemilu demokratis demi mencari pemimpin yang lebih pantas diteladani?
Baca juga tulisan terbaru marshmallow berjudul Slow Down A Little
Apr 26, 2009 @ 05:27:28
Semoga saja negeri kelelawar tidak dipimpin oleh ratu kelelawar Nyi Menik Sukagincu, kasihan rakyat negeri kelelawar. Untuk para preman kelelawar, lihatlah rakyatmu, banyak dari mereka hidup dalam kecemasan dan kesusahan akibat ulah kalian, sadarlah!!!
Apr 26, 2009 @ 23:14:07
@Ratno38,
wah, semoga pernyataan mas ratno didengar oleh Nyi Menik Sukagincu dan para preman kelelawar yang suka mengumbar kekerasan.
Apr 22, 2009 @ 13:41:03
Baca juga tulisan terbaru pakde berjudul The Punishment
Apr 26, 2009 @ 23:13:21
@pakde,
iya tuh, pakdhe. konyol juga seperti kasus di IPDN yang menghebohkan itu. apa pun mitofnya, praktik2 premanisme, lebih2 dalam dunia pendidikan tetep ndak bisa dibenarkan. titik. wakaka ….
Apr 22, 2009 @ 00:49:26
apakah nyi menik sukagincu juga suka menjual perusahaan negara ya?
jangan-jangan nanti di fesbuk kelelawar muncul “say no!!! to menik sukagincu”
Baca juga tulisan terbaru endar berjudul Selamat Hari Kartini
Apr 22, 2009 @ 08:57:37
@endar,
hehehe … saya juga ndak tahu, mas endar, apakah rakyat negeri kelelawar juga sedang demam facebook,haks.
Apr 20, 2009 @ 21:32:24
salam
Duh kayaknya suasananya mencekam banget, dipimpin oleh pemimpin bermental preman pasti kek jaman dulu berasa pake hukum rimba, alangkah malangnya penduduk negeri kelelawar itu PakDe
Baca juga tulisan terbaru nenyok berjudul Surat untuk Zet | Jawaban Atas Kegelisahan
Apr 21, 2009 @ 02:31:42
@nenyok,
salam juga, mbak ney. di mana pun adanya, preman memang selalu bikin resah, mbak, hiks, apalagi kalau sudah merambah ke ranah politik dan birokrasi.
Apr 20, 2009 @ 20:34:45
dan bu sukagincupun sekarang suka nesu-nesu partenya kalah pemilu, kasian deh lu, wagu…
Baca juga tulisan terbaru grubik berjudul roCkin girl
Apr 21, 2009 @ 02:30:52
@grubik,
loh, sepertinya mas grubik kok sudah hafal dan mengenal betul siapa itu bu menik sukagincu, haks.
Apr 20, 2009 @ 18:02:26
LANJUTKAN
Apr 21, 2009 @ 02:29:59
@LuXsmaN,
insyaallah, mas luqman.
Apr 20, 2009 @ 11:59:14
waduh…jadi tertarik baca dari yg nomer 1 nih…hehe
Baca juga tulisan terbaru penguinkribo berjudul Makes a High Quality Links
Apr 21, 2009 @ 02:29:46
@penguinkribo,
mangga, mas, matur nuwun atas apresiasinya.
Apr 20, 2009 @ 10:40:26
Preman politik jauh lebih berbahaya dari pada preman pasar, untuk itu waspadalah
Baca juga tulisan terbaru achmad sholeh berjudul Sekolah gratis antara Harapan dan Kenyataan
Apr 21, 2009 @ 02:29:16
@achmad sholeh,
wah, kok tiba2a saja jadi inget pesannya bang napi, pak sholeh. hehe … memang benar, waspadalah terhadap preman, apalagi preman politik.
Apr 20, 2009 @ 07:12:48
Kondisinya mirip ya dengan di negara saya. Di sini juga banyak preman. Preman tobat juga banyak, ada preman yg tobat trus jadi ulama, tapi ada juga preman yang tobat utk jadi politikus.
Saya gak tahu yg mana yg lebihi baik…
Apr 21, 2009 @ 02:28:20
@zee,
agaknya benar, mbak zee. konon, premanisme itu selalu ada di setiap zaman dan peradaban, termasuk di negeri mbak zee atau di negeri kelelawar.
Apr 20, 2009 @ 07:12:38
Lanjut … semakin mengasyikkan
Baca juga tulisan terbaru Ersis Warmansyah Abbas berjudul Ngalor Ngidul
Apr 21, 2009 @ 02:27:29
@Ersis Warmansyah Abbas,
matur nuwun, pak ersis. jadi makin bersemangat nih, pak.
Apr 20, 2009 @ 05:59:34
Premanisme berbalut apa saja juga melanda negeri saya Pak
Jangan-jangan Pak sawali juga tinggal di negeri saya? Heheheh
Di negeri saya lagi rame premanisme berbalut mulai dari agama, kedaerahan, ekonomi dan masih banyak lagi…
Baca juga tulisan terbaru DV berjudul Kebohongan yang Melenakan
Apr 21, 2009 @ 02:27:03
@DV,
hehehe …. ngeri juga tuh negeri mas donny. makin repot kalau premanisme sudah merambah sampai ke soal suku, agama, dan juga ekonomi.
Apr 20, 2009 @ 02:47:44
premanisme apakah ada kaitannya dengan aparatisme
kehidupan memang kehidupan, semua sudah ada yang mengatur, mudah mudahan dengan hasil pemilu kemarin premanisme sedikit berkurang dengan terpilihnya pemimpin yang memikirkan nasib rakyat banyak.
Apr 21, 2009 @ 02:26:02
@andi felani,
wah, ndak tahu juga nih, mas felani, yang pasti utk negeri kelelawar sedang heboh2nya wabah premanisme, haks.
Apr 20, 2009 @ 00:49:21
Postingan saya kok tidak tampil di sini ya pak?
Bgmn tho?
Apr 20, 2009 @ 01:44:50
@Bukan Kyai,
wah, saya juga ndak tahu tuh, mas faya. mungkin belum dicentang kali pada box comment-luv-nya.
Apr 21, 2009 @ 01:43:06
@Sawali Tuhusetya, sudah saya centang pak, apa karena saya kurang ilmu dan amal ya? Sehingga jadi golongan kaum yang “jahil” (bodoh)
Baca juga tulisan terbaru Bukan Kyai berjudul NGEBLOG ITU HARAM
Apr 20, 2009 @ 00:45:41
Mungkin karena dari sononya kelelawar2 itu sudah punya sifat preman dari lahir ya pak?
Jangankan terhadap sesama kelelawar, sama Tuhan saja si kelelawar kadang juga menunjukkan sifat premannya
contoh :
Tuhan…
Aku minta ini dan itu, kabulkan ya Tuhan…
Lha wong Tuhan kok di dikte suruh mengabulkan permintaan2nya
mau di kabulkan atau tidak itukan urusan Tuhan ya pak sawali?
Apr 20, 2009 @ 01:44:14
@Bukan Kyai,
hehehe …. bener juga tuh, mas faya, hehe … terus rakyat negeri kelelawar mesti mengucapkan doa yang bagaimana, mas?
Apr 21, 2009 @ 01:38:55
@Sawali Tuhusetya, karena saya Bukan Kyai jadi saya juga tidak tahu bagaimana do’a yang baik itu.
Tapi selama ini yang jalankan ketika belajar berdo’a begini :
ya Allah…jika apa yang telah, sedang dan akan aku lakukan ini bisa membawa kebaikan dan keridhaanmu dunia dan akhirat maka, mudahkanlah ya Allah.
Namun jika semua itu tiada membawa kemanfaatan dan hanya mendatangkan kemurkaanmu maka, berikanlah jalan yang lain
Baca juga tulisan terbaru Bukan Kyai berjudul NGEBLOG ITU HARAM
Apr 19, 2009 @ 22:59:11
Premanisme memang sudah merasuk kemana-mana Pak. Aparat yang harusnya melindungi rakyat, kini banyak yang menzolimi.
Membaca rangkaian cerpen Negeri Kelelawar ini dan membayanginya, membuat bulu kuduk jadi berdiri Pak….
Apr 20, 2009 @ 01:43:19
@Zulmasri,
widih, pak zul bisa saja nih, haks. konon, sih, premanisme memang ada di setiap zaman dan peradaban, pak, termasuk di negeri kelelawar.
Apr 19, 2009 @ 21:38:39
sayangnya superman, batman, atau spiderman tidak ada di kehidupan nyata…
Apr 20, 2009 @ 01:42:20
@cK,
tapi sapa tahu mereka bisa muncul di negeri kelelawar, mbak chik, utk membebaskan rakyat negeri itu dari kebiadaban para preman, hehe …
Apr 19, 2009 @ 21:03:37
PREMAN = PREI MANGAN
Baca juga tulisan terbaru wahyoe berjudul Alexa Traffic Rank Update
Apr 20, 2009 @ 01:41:34
@wahyoe,
prei mangan? walah, jangan dong, mas wahyu. rakyat negeri kelelawar kan dah lama menderita, keke …
Apr 19, 2009 @ 19:29:47
Baru-baru ini juga dinegeri saya Mas sudah di sahkannya kalau mantan napi juga bisa jadi Caleg dan Cewapres. tetapi semuanya itu tetap akan kembali ke individu yang menjalankannya Mas.
Jujur saya pribadi lebih tertari bila
Mantan Napi atau Preman Berubah Menjadi Baik
Dari pada Mantan Pemuka Ulama/Yg Kuat Agamanya Berubah Haluan
Tapi yah itulah politik sangat jarang bangsa dinegeri saya mendapatkan politik yang sehat hapir 99% politik di bangsa saya politik mesum semua mas
Baca juga tulisan terbaru Ahmad Maulana Agung berjudul Update Services For Optimalisasi Search Engine
Apr 20, 2009 @ 01:40:56
@Ahmad Maulana Agung,
walah, kalau begitu tepat dijuluki politisi mesum, mas maulana, hehe … saya juga setuju tuh, mas maulana. mantan preman lebih bagus daripada mantan-ulama, kekeke …
Apr 19, 2009 @ 17:48:55
Baca juga tulisan terbaru Sastra berjudul Hampir Semua Seperti Kami
Apr 20, 2009 @ 01:39:32
@Sastra,
wakaka …. kalau preman kelelawarnya suka ngeblog, bisa jadi begitu, mbak najwa, hehe … tapi tenang, mbak. itu hanya ada di negeri kelelawar kok.
Apr 19, 2009 @ 16:57:47
sayangnya, ratu kelelawar masih terus beredar hingga kini…kalo tdk ad yg ngerem bahalah negeri itu..
Apr 20, 2009 @ 01:38:21
@zenteguh,
widih, mas teguh jangan menakut-nakuti rakyat negeri kelelawar yang sudah tertekan dong, hehe ….
Apr 19, 2009 @ 16:46:04
jangankan di negeri kelelawar, di negeri Indonesia-pun premanisme merajalela… memuakkan…
Baca juga tulisan terbaru muhamaze berjudul Geliat Blogger Maluku
Apr 20, 2009 @ 01:37:42
@muhamaze,
oh, ya? kalau begitu benar dong, mas muahamze, kalau premanisme itu ada di setiap zaman dan peradaban.
Apr 19, 2009 @ 16:20:42
lagi mikir
bupati kelelawar sebelah ngendi ya?
Apr 20, 2009 @ 01:37:07
@suwung,
bupati kelelawar? yang pasti yang ada di negeri kelelawar toh, mas suwung, keke ….
Apr 19, 2009 @ 12:26:46
ah, saya paling benci dengan namanya preman
Baca juga tulisan terbaru Pencerah berjudul Surat Terbuka untuk Caleg yang Gagal
Apr 20, 2009 @ 01:36:30
@Pencerah,
yang pasti tak hanya mas pencerah, hampir semua rakyat negeri kelelawar sudah muak dengan ulah para preman, hehe …
Apr 19, 2009 @ 11:17:08
menunggu sosok pemburu yang membasmi para kelelawar preman
Apr 20, 2009 @ 01:35:59
@emfajar,
kira2 sapa, ya, mas? hehe ….
Apr 19, 2009 @ 10:43:27
ternyata dimana² banyak preman
Baca juga tulisan terbaru meylya berjudul Plurk Wabah Atau Trend?
Apr 20, 2009 @ 01:35:29
@meylya,
iya tuh, mbak lyla, konon preman termasuk kejahatan yang paling tua. ada di setiap zaman dan peradaban.
Apr 19, 2009 @ 09:31:23
Wah, ketinggalan banyak seri nih. Mungkin perlu waktu khusus untuk menyimak seluruhnya.
Apr 20, 2009 @ 01:34:52
@Bahtiar Baihaqi,
hehe … gpp, mas baihaqi. sepenggal2 juga boleh kok bacanya, hehe …
Apr 19, 2009 @ 08:02:28
Karena merasa wong cilik trus bisa dengan bebas memeras wong gedhe begitu? Pedagang asongan, kios, sopir angkot, bos pabrik, pimpinan proyek, selalu dipalak oleh mereka yang mengaku dirinya wong cilik.
Apr 20, 2009 @ 01:34:17
@adipati kademangan,
walah, itu berarti mereka yang mengatasnamakan wong cilik malah ndak bersahabat dengan wong cilik mas adipati, hiks.
Apr 19, 2009 @ 07:56:30
Baca juga tulisan terbaru Anton berjudul Ngeblog, chatting dan solusinya
Apr 20, 2009 @ 01:33:27
@Anton,
hehehe … kalau ada, yang pasti singkatan atau akronimnya bukan kapolri, mas anton, hiks. mungkin kapolrepkel, wakaka …
Apr 19, 2009 @ 07:54:12
Wah wah premainsme d negeri sana..
Apr 20, 2009 @ 01:32:18
@fariez,
jelasnya di negeri kelelawar, mas fariez, hehe … bukan di negeri lain, loh!
Apr 19, 2009 @ 07:23:04
premanisme kerah putih kalangan elit
Baca juga tulisan terbaru IHSAN berjudul Blogger Friendship Award
Apr 20, 2009 @ 01:31:48
@IHSAN,
berkerah putih dan pakai dasi, mas ihsan, hehe ….
Apr 19, 2009 @ 05:56:40
Preman vs Permen…
Baca juga tulisan terbaru marsudiyanto berjudul 26
Apr 20, 2009 @ 01:31:23
@marsudiyanto,
loh, apa memang pernah mungsuhan toh, pak mar?
Apr 19, 2009 @ 05:21:20
Ternyata preman ada dimana-mana
Baca juga tulisan terbaru Taktiku berjudul Download eBook Gratis Via Ponsel
Apr 20, 2009 @ 01:30:50
@Taktiku,
agaknya begitu, mas dendi, hehe ….
Apr 19, 2009 @ 05:09:35
Basmi preman.
Apr 20, 2009 @ 01:30:33
@Anang,
mas anang siap jadi komandannya?
Apr 19, 2009 @ 04:41:46
jadi teringat masa-masa SMA. Sering dipalak preman terminal godong.
Baca juga tulisan terbaru muji berjudul iPhone 3G dan BlackBerry GRATIS
Apr 20, 2009 @ 01:30:17
@muji,
terminal godong? loh, memang mas muji lulusan SMA mana? Mrapren, Gubug, atau Purwodadi?
Apr 20, 2009 @ 07:13:37
@Sawali Tuhusetya,
SMA Mrapen, pak.
Apr 19, 2009 @ 02:19:51
wah, malem2 baca ginian jadi makin pusing kepala..hehehe
Baca juga tulisan terbaru Andre berjudul Menghadapi kegagalan
Apr 20, 2009 @ 01:29:31
@Andre,
walah, fast reading juga gpp, kok, mas andre.
Apr 19, 2009 @ 02:13:33
Ada cerita menarik yang kudapat dari seorang caleg dari partai penguasa sekarang. Kebijakan pembasmian para preman jalan sebelum dilangsungkan pemilu ternyata merupakan desain politik tingkat tinggi untuk menggembosi partai wong cilik Nyi Menik Sukagincu.
Baca juga tulisan terbaru racheedus berjudul Kupu-kupu Kertas*)
Apr 20, 2009 @ 01:28:43
@racheedus,
wew…. kalau dah bicara soal rekayasa politik, duh, repot juga, mas rache. apalagi kalau dapat dukungan aparat negara.
Apr 19, 2009 @ 01:26:22
sekarang yang seperti Nyi Menik Sukagincu juga banyak pak, yang embel-embelnya partainnya wong cilik he..he…
Baca juga tulisan terbaru arifudin berjudul Kopdar perdana blogger Perti AsiA report
Apr 20, 2009 @ 01:27:36
@arifudin,
walah, apa mas arif barusan survey di negri kelelawar? wakaka ….
Apr 19, 2009 @ 00:56:52
Selamat Malam Pak Sawali.
Apakah itu Bupati Kendal Pak Sawali? Ha… Ha… Caleg dari PDIP mantan preman jadi Bupati di Kendal. he.. he..
Baca juga tulisan terbaru laporan berjudul Budaya dan Tradisi Korupsi
Apr 20, 2009 @ 01:17:03
@laporan,
haks, apa hubungannya dengan kendal, pak aryo. ini kisah slengekan dari negeri kelelawar, loh!
Apr 19, 2009 @ 00:47:51
waduh…ada preman pulak di negeri kelelawar
Apr 20, 2009 @ 01:16:33
@gajah_pesing,
hehe … konon premanisme itu ada di setiap zaman dan peradaban, mas fay.
Apr 19, 2009 @ 00:26:14
Kayaknya memang Nyi Menik lagi kebingungan karena keberuntungan gak lagi nyasar, tapi demi meraihnya kembali dia berusaha bikin ontran-ontran agar dianggap paling kritis tapi sayang gak dewasa blas, suka ngambekan…..
Baca juga tulisan terbaru cupangkolam berjudul Cupang Heleman
Apr 20, 2009 @ 01:15:57
@cupangkolam,
walah, mas cupang sepertinya kok sudah mengenal betul sosok nyi menik sukagincu, hehe ….
Apr 18, 2009 @ 23:19:43
Premanisme intelektual lebih membahayakan… dengan janji-janji manis serta rasionalisasi yang mampu mengelabuhi masyarakat untuk percaya terhadapt muslihat dan tipu dayanya…
Apr 20, 2009 @ 01:15:19
@Heri TL,
bisa jadi, mas heri. ada yang bilang preman berkerah putih dan berdasi justru bisa menghancurkan martabat dan harga diri bangsa, haks.
Apr 18, 2009 @ 23:10:04
*clingak-clinguk*
sepertinya familiar dengan kisah diatas, malah sempat berinteraksi juga kelihatannya
Baca juga tulisan terbaru masjaliteng berjudul caleg stres = sisi lain pemilu
Apr 20, 2009 @ 01:14:14
@masjaliteng,
familiar? loh, memang masjaliteng pernah ke negeri kelelaar? hehe …