Televisi dan Pesta Demokrasi
Sunday, 12 April 2009 (05:29) | 1 pembaca | 22 komentar | Print this Article
Pesta demokrasi untuk memilih calon wakil rakyat memang telah usai 9 April 2009 yang lalu. Namun, gaungnya masih sangat terasa menggetarkan. Bahkan, tensinya makin meninggi, terutama bagi caleg yang sudah jauh-jauh hari mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, bahkan menguras kocek. Masih mending bagi caleg yang mengeluarkan modal dari kantong sendiri. Namun, bagaimana halnya dengan mereka yang sudah jelas-jelas gagal mengais suara rakyat, tapi masih harus memikirkan hutang sana, serobot sini? Duh, saya bukan bermaksud menghilangkan sikap empati dari ruang batin saya terhadap caleg yang gagal itu. Bagaimanapun juga, langkah dan ambisi mereka untuk bisa jadi wakil rakyat layak untuk dihargai. Setidaknya, mereka sudah berusaha berbuat yang terbaik menurut ukuran kaca matanya sendiri.
Sementara itu, dari ruang publik yang lain, ada suasana yang tak kalah menarik. Politik agaknya masih menjadi dunia yang memiliki daya pikat. Lihat saja para pengelola stasiun TV. Pascapemilu justru menjadi “syurga” buat mereka. Mengundang politisi dan pengamat untuk saling beradu argumen. Tak jarang, mereka mendadak berubah jadi “supranatural” untuk menerawang dinamika politik ke depan, terutama menjelang Pemilihan RI I dan II.
Menyajikan “sensasi” politik kontemporer agaknya memang menjadi menu pilihan bagi pengelola layar gelas itu. Maklum, dunia politik memang selalu menjanjikan banyak kejutan. Di balik kejutan, seringkali menghadirkan kisah-kisah dan narasi baru yang serba penuh improvisasi. Politik juga harus diakui telah mengalahkan nalar ilmiah. Hipotesis-hipotesis para pengamat yang dirumuskan dari variabel ke variabel seringkali mesti tunduk oleh kenyataan politik yang serba “sensasional” itu. Lihat saja hegemoni partai berlambang pohon beringin atau kepala banteng mencereng yang demikian kuat selama ini. Dua parpol yang diprediksi tetap menjadi pemegang hegemoni kekuasaan, ternyata –menurut hasil quick count dan penghitungan suara manual sementara– harus mengikuti alur kenyataan politik yang tengah terjadi. Demikian juga halnya dengan figur yang selama ini digadang-gadang menjadi calon kuat RI I. Berdasarkan kalkulasi politik riil, agaknya mereka harus mengakui kalau pamornya tak secerah seperti dugaan sebelumnya.
Situasi politik yang sulit diprediksi, jelas menjadi santapan manis buat pengelola stasiun TV. Mereka jelas akan selalu berharap munculnya kejutan dan sensasi baru. Dengan situasi seperti itu, mereka tak akan kehabisan menu tayangan yang dianggap mampu menghipnotis ruang publik. Entah sampai kapan! ***









































marsudiyanto
Unknown dan
Unknown
Sunday, 12 April 2009 @ 13:20
Aku males nonton TV.
Isine mbahas perolehan suara, sesuatu yg nggak begitu ada pengaruhnya buat saya.
Baca juga tulisan terbaru marsudiyanto berjudul Inspirasi
Reply
tuyi
Unknown dan
Unknown
Sunday, 12 April 2009 @ 14:08
Itulah kenyataan yang ada sekarang Pa’…
Dimana kekuasaan sedang diperebutkan oleh kaum Borju…
Pastaslah stasiun TV tersenyum lebar, karena memang momen ini rejeki nomplok.. :mrgreen:
Reply
masjaliteng
Unknown dan
Unknown
Sunday, 12 April 2009 @ 21:12
berarti bener-bener “bad news is a good news” ya Pak :grin:
Baca juga tulisan terbaru masjaliteng berjudul Award dari Rismaka
Reply
Sawali
Unknown dan
Unknown
Monday, 13 April 2009 @ 01:28
@marsudiyanto,
hehe … saya juga hanya pas kebetulan saat nemenin anak di depan layar kaca itu, pak mar.
Reply
Sawali
Unknown dan
Unknown
Monday, 13 April 2009 @ 01:29
@tuyi,
iya, bener banget tuh, mas tuyi. ternyata naluri bisnis para pengelola stasiun TV begitu tajam dalam mencium peluang, hiks.
Reply
Sawali
Unknown dan
Unknown
Monday, 13 April 2009 @ 01:29
@masjaliteng,
hehehe … konon tidak semua peristiwa bisa jadi berita, sih, mas jaliteng, hehe …
Reply
Andy MSe
Unknown dan
Unknown
Monday, 13 April 2009 @ 14:50
Konsumennya juga banyak yang seneng sih pak! hehehe…
(konsumen caleg malah deg-degan pula) hihihi…
Baca juga tulisan terbaru Andy MSe berjudul EYD dan Bebek Goreng yang Leyat
Reply
kampanye damai pemilu indonesia 2009
Unknown dan
Unknown
Tuesday, 14 April 2009 @ 21:53
maka nya banyak caleg yang gagal jadi stres pak karena mikirin hutang, Modal nya dapat dari ngutang yah balikin nya mesti korupsi
Reply
Nyante Aza Lae
Unknown dan
Unknown
Thursday, 16 April 2009 @ 16:00
prasaan sekarang banyak banget pakar yah mas
klo dulu kan masih sedikit
paling-paling pak ali wardhana, ali sostroamidjojo, radius prawiro dll..
apa itu tanda-tanda indonesia makin maju??
klo Indonesia makin maju, harusnya kita lebih baik dunkkk
ntahlah…
*ngawur aja, sambil ngantuk karena efek begadang*
Baca juga tulisan terbaru Nyante Aza Lae berjudul Sugesti dan Kultus
Reply
Komandan
Unknown dan
Unknown
Thursday, 16 April 2009 @ 17:44
:roll: wah kalau yang jadi celeg kalah pasti sedih dan deg-degan akan tetapi yang menang tambah senang tapi bosen juga pak setiap berita mbahas nya kaya gitu teruss
Baca juga tulisan terbaru Komandan berjudul Budaya
Reply
gempur
Unknown dan
Unknown
Friday, 17 April 2009 @ 06:18
pemberitaan yang luar biasa berlebihan, sampai berita Ujian Nasional seperti tak ada tempat sedikitpun.
Reply
aLe
Unknown dan
Unknown
Friday, 17 April 2009 @ 08:12
ga punya Tv ^^
Baca juga tulisan terbaru aLe berjudul Sampai hari ini istriku masih Perawan
Reply
marshmallow
Unknown dan
Unknown
Saturday, 18 April 2009 @ 22:03
mau tak mau, saya harus mengakui bahwa tontonan televisi jadi lebih “hidup” dengan berita politik kini yang boleh dikatakan sehat, pak sawali. kalau tega melirik lagi ke belakang, mana pernah kita alami pesta politik semeriah dan setidakterduga seperti ini dalam era sebelumnya, di saat penguasa sebuah orde dengan golongan berlambang beringinnya lagi-lagi “memenangkan” perolehan suara sebagai mayoritas tunggal.
memang yang namanya televisi, pasti tetap memikirkan rating dalam memilih tayangan. dan momen sebesar ini tentunya harus dimanfaatkan secara maksimal oleh mereka untuk mendulang laba toh?
Baca juga tulisan terbaru marshmallow berjudul Belajar Sepanjang Hayat
Reply
Sawali
Unknown dan
Unknown
Sunday, 19 April 2009 @ 07:31
@Andy MSe,
itu ciri khas industri TV kita, mas andy. mereka pasti menuruti apa maunya pasar, hehe …
Reply
Sawali
Unknown dan
Unknown
Sunday, 19 April 2009 @ 07:31
@kampanye damai pemilu indonesia 2009,
hehe … semoga saja stress-nya ndak berlarut-larut, mas.
Reply
Sawali
Unknown dan
Unknown
Sunday, 19 April 2009 @ 07:33
@Nyante Aza Lae,
alah, ndak tahu juga nih, mas kurnia. agaknya pengelola stasiun TV lebih mengutamakan popularitas seseorang utk dijadikan narasumber.
Reply
Sawali
Unknown dan
Unknown
Sunday, 19 April 2009 @ 07:34
@Komandan,
hehe … bener juga, mas komandan. tapi masih banyak juga kok penonton yang masih suka pada tayangan berita politik dan analisisnya.
Reply
Sawali
Unknown dan
Unknown
Sunday, 19 April 2009 @ 07:34
@gempur,
mungkin karena berada di wilayah yang berbeda, pak gempur. lagian, mana ada sih, pak elite di negeri ini yang peduli banget dg dunia pendidikan.
Reply
Sawali
Unknown dan
Unknown
Sunday, 19 April 2009 @ 07:35
@aLe,
walah, mas ale ada2 saja, haks.
Reply
Sawali
Unknown dan
Unknown
Sunday, 19 April 2009 @ 07:36
@marshmallow,
hehe … dari sisi pemberitaan dan keterbukaan memang sudah jauh beda dg situasi politik masa orba, mbak yulfi. bagi pengelola stasiun TV, agaknya bukan hal yang menarik ditayangkan kalau hasil pemilu sudah bisa ditebak jauh2 hari sebelumnya.
Reply
Daniel Mahendra
Unknown dan
Unknown
Tuesday, 21 April 2009 @ 12:33
Yang repot kalau yang tadinya punya jargon sebagai tv berita terdepan, kini rasa-rasanya lebih condong pada partai tertentu, apalagi kalau bukan karena pemiliknya.
Pelanggaran partai lain melulu ditampilkan, tapi tidak pada partai yang dimaksud tersebut.
TV seperti itu patut ditinggalkan.
Baca juga tulisan terbaru Daniel Mahendra berjudul Surat
Reply
Sawali
Unknown dan
Unknown
Friday, 24 April 2009 @ 01:55
ah, dunia TV kita agaknya tak mlulu terperangkap dalam dunia industri, tapi juga sudah terjebak ke dalam ranah politik. apalagi kalau sang bosa ternyata juga petinggi partai. semua karyawan dan asesorisnya dipermak jadi corongnya, haks.
Reply