Home » Bahasa » Blog » Bloger, Nasionalisme, dan Dinamika Kebahasaan

Bloger, Nasionalisme, dan Dinamika Kebahasaan

Blog, bahasa, dan nasionalisme, adakah korelasinya? Ya, ya, ya, secara langsung bisa jadi tidak ada memang. Untuk menjadi seorang bloger tak harus merasa sok nasionalis. Atau sebaliknya, seorang nasionalis, tak harus menjadi seorang bloger. Dengan kata lain, ada banyak cara yang bisa digunakan untuk membangun sikap nasionalis. Apalagi, batasan tentang nasionalisme itu sendiri cukup banyak ragamnya.

laptopRupert Emerson, misalnya, mendefinisikan nasionalisme sebagai komunitas orang-orang yang merasa bahwa mereka bersatu atas dasar elemen-elemen penting yang mendalam dari warisan bersama dan bahwa mereka memiliki takdir bersama menuju masa depan. Dalam gerakan kemerdekaan di Indonesia melawan kolonialime, para pemimpin gerakan kemerdekaan seperti Soekarno memaknai nasionalisme dengan mengacu pada Ernest Renan. Menurut Renan, nasionalisme adalah kesatuan solidaritas yang besar, tercipta oleh perasaan pengorbanan yang telah dibuat di masa lampau untuk membangun masa depan bersama. Hal ini menuntut kesepakatan dan keinginan yang dikemukakan dengan nyata untuk terus hidup bersama.

Sementara itu, menurut Wikipedia, nasionalisme dianggap sebagai satu paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara (dalam bahasa Inggris “nation”) dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia. Meski batasan nasionalisme banyak ragamnya, satu hal yang tak bisa dilepaskan kaitannya dalam entitas tentang nasionalisme adalah semangat kebersamaan dalam sebuah paguyuban komunal yang memiliki harapan dan keinginan untuk membangun hidup bersama secara kolektif dalam ikatan senasib dan sepenanggungan.

Nah, lantas, memang benar tidak adakah korelasi antara blog, bahasa, dan nasionalisme ketika blog secara personal hadir dengan berbagai kepentingan ekspresinya? Tunggu dulu! Untuk menjawab pertanyaan ini, agaknya kita perlu mengaitkan nilai-nilai nasionalisme ini dengan konteks kekinian.

Entah, saya tak tahu persis, sejak kapan blog hadir di dunia maya. Siapa penemunya dan bagaimana latar belakang sejarahnya, saya juga tak tahu persis. Yang jelas, saya mengenal dan memanfaatkan blog sebagai media virtual untuk mengekspresikan geliat perasaan dan pemikiran-pemikiran naif saya tentang dunia mikrokosmos yang saya akrabi sekadar untuk membangun semangat berbagi dan bersilaturahmi. Tentu saja, untuk mengekspresikan perasaan dan pemikiran-pemikiran naif itu saya membutuhkan bahasa yang saya yakini sanggup mewakili dunia batin saya yang kerap kali gelisah ketika menyaksikan berbagai fenomena hidup dan kehidupan yang sarat anomali dan pembusukan.

Dalam konteks demikian, bahasa bisa menjadi media ekspresi yang memiliki daya ledak dahsyat dalam sebuah komunitas maya. Ia (bahasa) bisa digunakan untuk menaburkan benih-benih kebencian, bahkan fitnah, tetapi sekaligus juga bisa dioptimalkan untuk membangun sikap empati, solidaritas, dan kebersamaan.
Lantas, kepentingan ekspresi macam apa yang dikehendaki oleh sang bloger? Tentu saja akan sangat ditentukan oleh fatsun dan kearifan sang bloger dalam memanfaatkan blognya.

Sebagai bagian dari budaya, bahasa akan terus berkembang sesuai dengan dinamika masyarakat penggunanya. Ketika blog hadir ke tengah-tengah publik dan diminati banyak kalangan sebagai media berekspresi, tentu saja bahasa dalam blog juga akan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari dinamika dan perkembangan bahasa secara keseluruhan. Ini artinya, bloger bisa menjadi bagian dari masyarakat pemakai bahasa yang memiliki andil besar dalam menciptakan bahasa. Melalui gaya ucap dan diksi yang digunakan, para bloger bisa memberikan sumbangsih yang cukup berarti dalam perkembangan bahasa. Fenomena ini perlu dilirik oleh para pemerhati dan pengamat bahasa agar mulai merambah bahasa blog sebagai kajian-kajian ilmiahnya. Siapa tahu, inovasi-inovasi kebahasaan yang dilakukan oleh para bloger dalam blog justru yang sesuai dengan konteks kekinian dan masa-masa mendatang.

Kalau pemikiran naif saya tentang bahasa bloger itu benar, bisa jadi bloger dengan sendirinya adalah seorang nasionalis tanpa harus berkoar-koar memproklamirkan dirinya sebagai sosok nasionalis. Karena, ketika dia meracik sebuah tulisan, sesungguhnya seorang bloger sedang berupaya untuk membangun sebuah kebersamaan dan sikap komunal di dunia maya agar sanggup menyampaikan pesan-pesan personalnya kepada publik. Selain itu, seorang bloger juga mustahil melakukan korupsi bahasa, meski ia terus bergulat dengan berbagai ragam dan gaya ucapnya. Bahkan, dalam soal pemakaian bahasa, bloger termasuk sosok yang paling dermawan. Sungguh berbeda dengan kaum politisi kita yang gencar berkoar menahbiskan dirinya sebagai nasionalis tulen, tetapi justru perilaku korupnya tak bisa dibendung. Nah, bagaimana? ***

tentang blog iniTulisan berjudul "Bloger, Nasionalisme, dan Dinamika Kebahasaan" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (12 April 2009 @ 04:06) pada kategori Bahasa, Blog. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Ada 95 komentar dalam “Bloger, Nasionalisme, dan Dinamika Kebahasaan

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *