Home » Cerpen » Dokter Isman

Dokter Isman

Cerpen Wilson Nadeak
Dimuat di Kompas (01/13/2002)

KEPADA kawan-kawan dan pasiennya yang akrab dengannya, dokter Isman selalu memberi resep sebagai berikut.Jangan sekali-sekali menulis pesan penting. Jangan membuat catatan dari rapat yang Anda hadiri. Jangan menuliskan nama di dalam daftar hadir. Jangan membuat surat yang panjang maupun pendek yang isinya mengenai janji, pengalaman hidup dan kesaksian mengenai sesuatu. Jangan memasang telepon di rumahmu jika kau ingin tenang dan tidak diganggu orang. Jangan gunakan handphone karena itu selalu menghambat perjalananmu dan membuat engkau berada di bawah pengaruh orang lain. Rencanamu akan terganggu karena orang lain memberi sugesti kepadamu.Masih ada sejumlah “jangan” lain yang disarankan dokter Isman. Kawan-kawan karibnya manggut-manggut mendengar “resep” yang tidak lazim itu.

Ia bukannya memberikan resep atau obat, tetapi sebuah nasihat. Namun kawan-kawannya senang bergaul dengannya. Pasien-pasiennya banyak. Perawat yang membantunya selalu kewalahan mengatur waktu. Sampai jauh malam, pasien selalu berdatangan, mulai dari golongan atas sampai kepada golongan bawah.Dokter Isman tidak memasang tarif. Ia membiarkan pasien membayar sesuai dengan kemampuannya. Ia memberi resep obat generik, jarang antibiotik. Bahkan, sebagian pasien membayar dengan hasil tanamannya, membuat perawat yang membantunya agak bingung, mau diapakan hasil tanaman itu. Tetapi dokter Isman senyum-senyum saja.Waktu ia mahasiswa kedokteran, kerapkali ia harus menjual minyak tanah keliling Ja-karta, dengan kereta roda. Ia pakai topi agar sengat Matahari Jakarta tidak membuat kulit wajahnya gosong. Ia tidak pulang ke rumah sebelum semua minyak tanahnya laku. Kadang-kadang ia bermalam dekat warung pinggir jalan, dan subuh pulang kemudian kuliah.

Waktu tamat dari fakultas kedokteran, ia ditempatkan di sebuah pulau di Indonesia bagian timur sebagai dokter inpres. Bertahun-tahun ia berbakti di pulau terpencil itu. Seorang kawannya, dokter wanita yang masih muda yang penuh antusiasme, meninggal dunia karena terserang penyakit malaria. Sulit sekali mencari obat di sana. Obat-obat bantuan LSM tertentu banyak yang digunakan untuk mengobati penduduk yang jauh terpencil di pedalaman. Ia harus mengajari penduduk agar menjaga kebersihan lingkungan untuk mengurangi penyakit. Honor inpresnya dipakai untuk membeli obat.Kerapkali ia tidur di gubuk petani dan makan seadanya. Malam-malam tanpa lampu itu ia mengenangkan kembali kampung halamannya. Ia tidak bisa menghalau bayangan ayahnya yang pada suatu hari didatangi orang yang tidak dikenal. Ayahnya dijemput dari rumah, dan tidak pernah kembali. Waktu ia masih duduk di SD kelas dua. Ia tidak mengerti mengapa. Tetapi samar-samar ia mendengar penjemput ayahnya membentak ibunya, bahwa ayahnya terdapat dalam daftar nama pengikut organisasi terlarang. Ia tidak mengerti apa itu “organisasi terlarang”. Ketika itu banyak orang berbicara atas nama “rakyat”. Setahunya, ayahnya hanyalah petani kecil, petani yang hanya mengandalkan hidupnya dari sepetak ladang dan sebidang sawah yang diwarisi dari orang tuanya. Sejak kepergian ayahnya, ibunya sering tengah malam terbangun dan menangis. Ketika ia terbangun, ibunya mengelus-elus kepalanya.

“Tidurlah, Nak!” “Mengapa Ibu menangis” “Tidak apa-apa,” jawab ibunya sambil menyelimuti tubuhnya dan kedua adiknya perempuan yang masih kecil.Subuh sekali, ibunya sudah menanak nasi, menyiapkan makanan di atas meja-sedikit nasi, ubi jalar, ikan asin dan sayur-lalu berangkat ke sawah. Ia memberi makan adiknya dan kemudian ia pergi berjalan kaki ke sekolah. Ketika tamat dari SMP, seorang adik bapaknya yang bekerja di Jakarta memerlukan orang menjaga rumah dan anak-anaknya. Ia dipanggil dengan janji akan disekolahkan. Di rumah pamannya ini, ia harus bekerja keras, memandikan saudara sepupunya, memberi mereka makan dan menyertai mereka ke sekolah. Petang hari ia sekolah di SMA sampai ia tamat dan diterima di sekolah kedokteran.***

TIGA tahun ia melaksanakan tugas sebagai dokter inpres. Ia bertugas dari sebuah pulau ke pulau lainnya, mengobati orang-orang yang tidak mampu membayar obat. Kebeberangkatannya dari pulau terpencil itu ditangisi penduduk setempat. Ia sendiri merasa sedih meninggalkan mereka. Namun, ia menyadari bahwa pelayanannya harus ditingkatkan melalui perkembangan ilmu pengobatan. Ia ingin meningkatkan pengetahuannya di bidang medis. Ia mengambil spesialisasi jantung.Ibunya dari kampung halaman mengirim surat kepadanya, isinya, agar ia segera menikah. Jika ia tidak menemukan jodoh di kota, ibu bersedia mencarikan calon menantunya. Surat itu membuat hatinya agak trenyuh. Selama ini ia kurang memperhatikan calon istri. Di Jakarta ia memang buka praktik sebagai dokter umum sementara kuliah lanjutan.

Tapi anehnya, ia membalas surat ibunya dengan singkat: Ibu, aku mengasihimu seperti diriku sendiri. Kalau bisa, biarlah kedua adikku ibu kirimkan ke Jakarta, tinggal dengan aku. Kalau bisa, aku akan menyekolahkan mereka ke sekolah perawat, sekolah itu memberi jaminan pekerjaan hidup dan masa depan mereka…Ibunya datang dengan kedua adiknya. Adiknya yang bungsu masih di SMA dan adiknya yang lebih besar dimasukkannya ke sekolah perawat. Ibunya tinggal bersama-sama dia beberapa bulan, lalu pamit, pulang. Ia selalu berbicara mengenai sawah dan ladang yang ditinggalkan, lagipula Jakarta terlalu panas baginya. Di seberang, kampung halamannya, udara pegunungan agak segar.Dua tahun kemudian, ia mendapat berita dari kampung halaman, surat kilat dari kerabat dekatnya yang memberitahukan bahwa ibunya kerapkali pingsan. Ia pulang sebentar karena spesialisasinya sudah selesai. Ditemukannya ibunya berbaring di atas divan.

“Aku datang, Bu,” kata dokter Isman.”Dekatlah ke mari, Nak,” kata ibunya dengan suara pelahan. “Penyakit jantungku kumat, Nak.””Oh,” kata Isman terkejut.

“Sejak kapan Ibu merasa sakit jantung?””Dokter di Puskesmas mengatakannya begitu, Nak. Bila dada sesak, rasanya hampir mau ma-ti, Nak.

“Ia memegang pergelangan tangan ibunya. Menghitung de-nyut jantungnya. Kemudian ia mencoba mendengar denyut jantung ibunya dengan alat yang ditaruh di atas dada. Ia geleng-geleng kepala. Segera diangkatnya ibunya ke beranda depan agar udara lebih leluasa. Ia minta bantuan beberapa orang tetangga untuk mencari angkutan untuk membawa ibunya ke rumah sakit terdekat.

Setelah sampai di rumah sakit, ibunya dimasukkan ke ICU. Beberapa hari bersama dokter rumah sakit itu mencoba menyelamatkan nyawa ibunya, te-tapi denyut nadi itu dan grafik getaran di layar tv tak lagi beraturan. Getaran itu semakin mendatar dan mendatar. Ia menyadari bahwa ajal ibunya sudah semakin mendekat. Ketika jantungnya sama sekali berhenti berdetak, ia menutup matanya dengan kedua telapak tangannya, dan menangis terisak-isak. Dokter-dokter, para perawat yang telah turut berjuang berusaha menyelamatkan nyawa ibunya, tertunduk. Mereka melihat jenazah yang sudah tidak bernyawa di depan mereka, ibu rekannya.Setelah beberapa hari pengu-buran, ia kembali dengan pesawat ke Jakarta. Ia pulang dengan murung. Ia merasa amat berdosa, mengapa ia baru tahu bahwa ibunya menderita penyakit jantung, kalau ia tahu, ia akan membawa ibunya ke Jakarta dan merawatnya sebelum parah betul. Sebagai dokter ahli jantung, ia merasa amat terpukul.***

KEDUA adiknya yang perempuan sudah tamat, yang satu dari akademi perawat, yang bungsu dari akademi sekretaris. Perawat bekerja di rumah sakit sedangkan yang sekretaris menikah dengan pedagang. Kakaknya menikah dengan seorang tentara yang berpangkat letnan. Ia merasa bahagia karena kedua adiknya sudah berkeluarga. Gilirannya, entah kapan. Kedua adiknya berusaha menyebut beberapa nama gadis yang dikenal mereka dan abangnya, tetapi ia selalu menghindar.”Abang mau menunggu siapa? Abang telah mengurus kami dan menyekolahkan kami. Mengapa Abang tidak memikirkan diri Abang sendiri?” kata yang perawat.Percakapan seperti ini sering terjadi antara mereka, juga dengan ipar-iparnya.

Mereka merasa risau masa depan abang mereka yang sudah berusia di atas tiga puluhan. Jangan-jangan ia terlalu mempedulikan profesinya saja. Yang perawat merasa sedih tiap kali abangnya memberi bantuan kepadanya. Ia memang sering mengeluh karena gaji perawat yang tidak seberapa, dan gaji tentara yang tidak memadai untuk keperluan di ibu kota. Dokter Isman tidak segan-segan memodalinya, yang sewaktu-waktu berjualan berlian.

“Pesanku kepada kalian,” kata dokter Isman kepada adiknya dan iparnya yang tentara, “jangan sekali-kali terlibat soal utang-piutang! Jangan bangga dengan kartu kredit kalian!”Iparnya yang letnan berkata kepadanya, “Ya, Bang. Kami ingat itu. Tetapi yang kami rasa, Abang sebaiknya segera menikah agar ada yang mengurus Abang di rumah.”

“Bukankah hidup dokter susah? Siang-malam harus meninggalkan keluarga?” bantahnya.

“Abang melihat dokter lain berkeluarga juga, bukan?”

“Tentu!”

“Bagaimana kalau kami yang mencarikan calon untuk Abang?” Dokter Isman tersenyum. Ia tidak menjawab.Bulan berikutnya, istri letnan itu datang dengan seorang gadis lincah dan cantik. Gadis itu di-perkenalkan kepadanya. Satu-dua kali ia berkunjung ke rumah abangnya dengan gadis itu, dan sesudah itu, ia membiarkannya bertandang sendirian.Setengah tahun kemudian mereka menikah. Istri dokter Isman agak sulit juga menyesuaikan diri cara hidupnya.

Ia tidak mau memasang telepon di rumahnya. Praktik dokter di rumahnya terlalu lama karena pasien yang telah mendaftar beberapa hari sebelumnya. Daripada hidup bengong di rumah, ia mengajukan saran kepada suaminya agar ia membuka salon kecantikan. Dengan hati berat dokter Isman mengizinkan, dengan syarat, tidak boleh pulang sampai petang. Paling lambat pukul empat sore! Beberapa bulan berjalan, salon itu banyak dikunjungi orang. Beberapa pembantu istri dokter Isman sibuk dan merasa senang. Istri dokter tinggal mengawasi saja.Setahun kemudian, sekitar bulan Maret, sebuah surat kabar memuat berita pembunuhan. Seorang wanita telah ditemukan di ruang tengah sebuah rumah. Diduga wanita itu dibunuh secara sadis oleh pemilik rumah karena persoalan hutang piutang.

Menurut pihak kepolisian, menurut pengakuan suami korban, istrinya mempunyai tagihan dengan yang mempunyai ru-mah. Rupanya yang empunya rumah memancingnya datang ke rumah dan kemudian memukulnya di belakang kepala dan menguburkannya di tengah-tengah kamar makan. Tampaknya pemilik rumah sudah merencanakan pembunuhan itu.Dokter Isman memperhatikan gambar itu. Gambar yang terpampang di samping berita. Ia duduk tersandar di ruang kerjanya.

Ia kenal betul gambar itu. Adiknya yang perawat. Jantungnya berdebar-debar. Ia keluar dari ruang kerjanya dan memberitahukan kepada perawat bahwa ia pulang.Sesampainya di pintu gerbang rumahnya, ia membuka pintu gerbang, mendorongnya. Pelahan ia memasukkan mobilnya ke halaman dan kemudian turun hendak menutup pintu. Tetapi ia tiba-tiba lunglai dan jatuh di depan pintu. Seorang tetangga me-lihatnya dan berlari mencoba menolongnya. Ia berteriak sehingga tetangga yang lain ber-datangan.

Seorang tetangga berlari ke wartel dan menghubungi istri dokter Isman. Setelah memberitahukan bahwa suaminya sedang pingsan dan dibawa tetangga ke rumah sakit, sang istri segera bergegas menyusul ke rumah sakit.Istri dokter Isman melihat para tetangga di depan, di ruang tunggu. Ia menyapa mereka dan menanyakan di mana suaminya. Semuanya diam tidak mampu berbicara. Ia bertanya pelahan dan airmatanya mulai berlinang-linang. Ia menyadari adanya sesuatu yang terjadi kepada suaminya. ia bergegas ke ruang kerja suaminya. Perawat memapahnya, menyuruhnya duduk.

“Bagaimana suamiku? Di mana dia?” tanyanya dengan suara terisak-isak.

“Tenanglah, Bu. Ia ada di kamar.” Nanti dokter kepala yang berbicara kepada Ibu.”

“Oh. Apa yang terjadi kepadanya?”Dokter kepala datang. Pelahan ia berkata, “Dokter Isman sudah tiada. Ia terkena serangan jantung.”Istri dokter Isman jatuh pingsan. Beberapa waktu kemudian iparnya dan adiknya yang bungsu datang. Ketika ia siuman, ia menjerit-jerit. Ia memeluk sua-minya yang terbujur di atas tempat tidur. Dalam teriak dan tangisnya ia berkata:Tuhan, mengapa Kauambil suamiku! Ia begitu baik dan ganteng. Ia tidak pernah berbuat jahat kepada sesama. Tuhan, mengapa Kaucabut nyawanya?(Dan kepada dokter ia berkata)Dok, sembuhkan ia dokter! Tolonglah obati dia! Hidupkan dia, dokter! Ooohhh, toloooong… (Ia jatuh pingsan lagi).Para tetangga mengurut dada. Mereka berkeliling di sekitar jenazah yang kaku. Tak sepatah kata yang keluar dari mulut mereka.Mereka jualah yang bertanya sepulang dari kuburan: Mengapa orang baik cepat meninggal dunia?

Bandung, 18 November 2001

tentang blog iniTulisan berjudul "Dokter Isman" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (10 April 2009 @ 20:30) pada kategori Cerpen. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Tulisan Terkait:

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *