Home » Cerpen » Pakde Letek

Pakde Letek

Cerpen Beni Setia
Dimuat di Republika (02/25/2001)

Oyon menelepon minta dihubungkan dengan Pakde Letek — biasanya kami memanggilnya dengan sebutan Pakde saja. Aku tertawa. “Ada apa?” kataku.

Oyon menarik nafas panjang. Perlahan cerita tentang Asun yang sedang di-proses, meski tak ditahan karena dijamin dan ditebus. Oyon pun cerita bahwa masalahnya sangat sederhana tapi jadi tak sederhana karena keluarga Tuti tak mau berdamai dan sepertinya ingin menghukum Asun.

“Bisa langsung bicara dengan Pakde?”

“Gampang gampang susah,” kataku sambil sengaja mengulur wakut, karena Pakde selalu menganjurkan untuk mengulur waktu dan mempersulit masalah supaya harga konsultasi naik. “Mereka orang bingung dan harus diperbingung supaya merasa ditolong,” katanya.

Aku mengusap wajah dengan telapak tangan, memperhatikan mobil yang keluar dari lahan parkir bawah tanah dan membalas melambai ketika mereka melambai dengan gopoh.

“Bisa nggak?”

Aku meraih rokok dari saku dan perlahan menariknya sebatang. Aku menyelipkannya di mulut. Meraba-raba dan meraih korek api gas. Menyalakannya dan membakar ujung rokok. Menarik asapnya dengan sedotan panjang dan melepasnya dalam bulatan lingkaran-lingkaran besar. Aku memperhatikan muda-mudi yang masuk dan perlahan berjalan ke sebuah Kijang. Angin berhembus dan lantang masuk membawa debu. Aku mengisap rokokku lagi dan berdehem — mengesankan sedang berpikir. Aku mengatakan akan menghubungi Pakde dan minta agar ditelepon lagi kira-kira setengah jam lagi.

“Handphone-nya kadang-kadang nggak diaktifkan, OK?”

Sepuluh tahun lalu aku berkenalan dengan Pakde. Oom Xavier memberiku pekerjaan sebagai porter di bioskop pinggiran. Sebelum berangkat aku disuruh menemui di restoran Mawar di depan bioskop Orient, memperkenalkan diri dan utamanya menyampaikan salam dari Oom Xavier. Pakde — umurnya tidak beda jauh dariku, meski ia lebih tua tiga tahun — tersenyum, memperkenalkan kawan-kawannya, dan menasihatiku agar tak berlagak tengik. “Kita cuma cari makan. Kita cuma mencari makan, jadi jagalah agar lahan untuk cari hidup ini tetap aman. Nggih?” katanya.
Aku mengangguk. Aku juga sadar, aku kini anak buahnya Pakde meski masuk dengan jaminan Oom Xavier. Aku pun tahu kepada siapa memberikan loyalitas.

Dua bulan kemudian aku mendapat pengayoman dari Pakde. Mula perkaranya pada malam Minggu. Saat itu, seperti biasanya, kami memutar dua film-film India dan film Barat. Biasanya kami menerima sebagian karcis dengan tak menyobeknya, lalu mengembalikannya kepada bos yang menunggui Karim serta Siauw Long menjual karcis. Keudian, setengah mencari perkara, Aji berteriak menelanjangi kecuranganku itu dan menggertak akan melaporkannya kepada bos.

Aku diam saja. Aku tahu ia ingin masuk secara gratisan. Untuk beberapa kasus bos memprebolehkannya, meski setelah penonton masuk dan setidaknya bila film telah diputar. Tapi Aji terus saja berteriak-teriak sehingga Inul menariknya masuk. Aku menelan ludah. Aku menenangkan diri.

Esok petangnya Aji kembali mencari perkara. Aku menahan diri tapi ketika omongannya makin ngawur aku melancarkan tiga pukulan yang membuatnya terjajar ke dinding. Aji kemudian meloncat ke tempat yang lebih lapang dan kami berhadapan. Bertukar pukulan, tendangan, dan gulat berguling-guling di tanah. Inul memisahkan kami.
Aku menyeberang menemui Pakde. Aku harus menunjukkan bahwa Oom Xavier memang wajib diakui otoritas penjaminannya. Pakde — nyaris tanpa riak — tersenyum. “Bagus,” ujarnya, “Lelaki haruslah tetap sebagai lelaki. Jangan takut Aji itu hanya anak liar setempat. Tak punya kawan dan cuma cari perhatian. Biarkan saja. Sudah kembali kerja sana. Nggih?”

Tiga bulan kemudian aku dapat promosi. Bos menjalin kerja sama dengan Utay, Maher, dan koh Poo. Satu film — utamanya film Barat — diputar di empat bioskop pada malam yang sama, dan aku kebagian jadi kurir yang membawa satu rol film dari satu bioskop ke bioskop lainnya. Memakai celana jeans serta jaket kulit. Memboncengkan Karel yang menjepit rol film itu. Menunggu setengah main di sini dan kembali untuk mengantarkan setengah rol yang berikutnya, menyerahkan yang paruh kedua dan membawa yang pertama ke bioskop berikutnya. Balik dan mengulang lagi sehingga seluruh film terkumpul — dua pertunjukan di S paling larut, untung saja itu di luar kota sehingga penontonnya mau diatur dengan film ekstra yang panjang.

Satu hari sepeda motorku terpelanting karena melindas ceceran oli. Sepeda motor tak apa-apa meski rem dan koplingnya rusak. Film utuh — Karel selamat dan bergegas mencari sepeda motor sewaan. Tangan kiriku patah. Kaki kiriku keseleo. Wajahku robek tujuh senti. Aku masuk RS, tapi bos tak mau membantu pengobatan.
Aku bicara kepada Pakde. Ia mengurusnya sehingga aku dapat uang pengobatan, bahkan uang pesangon karena aku disuruhnya pindah ke Marlyn Plaza.

Aku menghubungi Pakde dan Nazir yang mengangkat — seperti biasanya. Aku menyampaikan keinginan Oyon — dan garis besar masalah. Nazir menyimak.

Mematikan telepon dan aku menutup horn. Aku mengambil sebatang rokok lagi dan membiarkan Billy mengambilnya sebatang. “Kalau punya duit segala masalah sepertinya bisa diselesaikan dengan gampang dan sesuai keinginan kita ya?” katanya.

Aku mengangguk. Sebagian orang memang merasa tak perlu kerja apa-apa karena memiliki uang dan sebagian orang lagi harus mengerjakan apa saja agar memperoleh uang dari yang punya uang dan tak mau mengerjakan apa-apa, dan karenanya orang-orang harus bisa memetakan orang-orang dalam baki masalah sehingga duit mereka ucul. Setidaknya begitu kata Pakde. Dan sepuluh menit kemudian Nazir menelepon agar membawa Oyon dan mempertemukannya dengan Frangky di MacQ Cafe. “Ajak dia!” katanya.

Aku menunggu Oyon datang dan memarkir mobil, kemudian kami naik ke MacQ dengan tangga. Oyon bercerita. Tuti pacarnya Ason tapi hubungan itu tak direstui orang tuanya. Ketika mereka masih saja berhubungan maka Tuti dihajar sehingga diam-diam minggat setelah menghubungi Ason. Mereka berkelana dari hotel ke hotel selama sebulan. Ketika pulang Ason langsung ditangkap dan di-proses meski dikatakan bahwa Tutilah yang mengajaknya — dengan suka rela.

“Di pengadilan pasti bebas,” kata Oyon, “tapi akan lebih cepat bila pihak keluarga Tuti mau mencabut laporannya. Tapi tampaknya mereka ngotot padahal kami akan mengawinkan mereka dan menanggung biaya kuliah sampai selesai, kapan pun.” Aku cuma mengangkat bahu, tak mau tahu, tak peduli.

Kami masuk dan memilih meja pokok menghadap ke pintu. Oyon pesan jus tomat dan croissant. Aku pesan bir, es batu, dan roti isi daging asap. Meminta rokok ketika pesanan datang dan menenangkan Oyon. Aku meneguk bir begitu tercampur rasa dingin mengisi cairan berbusa. Mengangkat tangan dan memanggil Frangky yang muncul tiba-tiba. Mempersilakannya duduk, memperkenalkannya dengan Oyon. Mengangkat minum, rokok dan roti ke meja lain agar kedua orang itu bisa tenang berbincang dan bernegoisasi. Aku mengunyah roti, menyerap bir, dan merasakan ketenangan dan kenyamanan cafe. Kemewahan gratis yang sesekali mampir.
Pakde menelepon. Ia minta agar aku mengambil alih baby Benz merah bernomor B-11-N. “Yang membawa seorang perempuan. Rachel,” katanya. “Kamu ambil alih dan bawa ke Bengkel Yosef. Kalau bisa secepatnya karena ia baru kena kasus tabrak lari. Tapi kamu tenang saja, karena aku akan mem-back up. Kalau ada apa-apa katakan disuruh aku — Pakde Letek. Ayo…!”

Aku pun mengiyakan. Aku merasa surprised dihubungi. Karena ialah yang biasanya dihubungi setiap orang. Mungkin masalahnya memang gawat. Mungkin juga ia dihubungi orang yang berduit. Aku berjalan ke pintu masuk dan mencegatnya ketika mobil itu menderu masuk. “Cepat!” kataku.

Perempuan itu bergegas turun meraih tasnya. Aku masuk. Meraih buku-buku dan melemparkan keluar. Berputar di ruang parkir dan langsung ke luar. Melipat tikungan dan masuk ke halaman. Menekan gas dan berusaha untuk mendahului tiap mobil yang ada di depan. Di belakang tiba-tiba ada sirine meraung-raung. Tak hanya satu tapi tiga, empat, dengan mobil patroli.

Aku ditangkap. Ditodong. Diborgol. Dan dihajar di kantor polisi. Aku bungkam saja ketika diinterogasi. Polisi itu jengkel. Kemudian masuk polisi berikut dengan gaya interogasi yang lain. Ia lembut bertanya sehingga aku berkesempatan menyebut Pakde. Polisi itu tersenyum. Menyulut sebatang rokok dan memberikannya kepadaku. Ia juga menawariku kopi dan aku mengiyakannya. Aku menunggu sambil menikmati rokok. Polisi itu datang tak hanya membawa kopi, ia membawakan makanan ringan sehingga aku bisa santai mendengarkannya bercerita.

Rachel ngebut sehabis kuliah. Ketika menikung — mungkin agak mabuk — mobilnya menghantam sepeda motor dan dua orang yang berjalan dipinggir jalan. Ketiga orang out mati tapi Rachel terus kabur. Rachel itu — kata polisi itu — anak konglomerat Juhandianto. Jadi — menurut perkiraanku — ia menghubungi orang tuanya dan orang tuanya menghubungi Pakde dan seterusnya. Dan sekarang aku di-proses. Lantas di mana Rachel? Mungkin sedang mandi sambil menonton VCD. Mungkin sedang mengurus visa dan bersiap-siap akan ke Eropa atau Amerika. Lantas untuk apa aku di sini?

Pakde muncul. Ia bilang aku akan ke pengadilan dan mungkin memperoleh setahun dan paling lama dua tahun, “Tenang saja,” katanya, “Kamu akan dibayar lima puluh ribu sehari untuk masa penahanan – di Kepolisian atau di Kejaksaan. Bila sudah mendapat vonis kamu akan mendapat seratus ribu sehari tanpa memperhitungkan remisi. Bila setuju kamu akan mendapat uang jadi satu juta perak. Oya, kamu juga akan mendapat bonus dan uang THR setiap tahunnya. Pokoknya beres asal kamu mau. Pengayoman dan backing-ku tetap berlaku. OK? Nggih?”

Aku tersenyum. Aku menelan ludah. Menunduk dan mengangguk kecil — teramat kecil karena aku memang tak ingin. Pakde maju dan menengadahkan kepalaku. Ia menatap dengan tajam. Menganjurkan aku agar mau belajar menjadi lelaki, dan penjara akan menjadi kawah candradimuka penggemblengan aku. Ia juga berjanji tak akan melupakan aku bila sudah lepas dari penjara. Malahan akan mempromosikan aku ke kedudukan yang lebih baik. Aku menelan ludah, tak berdaya. Pakde menepuk-nepuk bahuku dan meninggalkan aku. Lalu polisi datang dan membawaku ke ruang tahanan lagi.

Tapi aku tak bisa tidur membayangkan akan hidup dalam penjara, dan bagaimana aku hidup dalam penjara tanpa kesalahan apa-apa dan melulu menanggung kesalahan orang lain, yang memiliki duit dan mampu membeli orang lain yang mampu menanggung kesalahannya. Apakah itu adil? Apakah itu wajar? Apakah hargaku hanya semurah itu? Dan berapa duit yang diperoleh Pakde? Apakah ia memberi sama besar pembagiannya dengan aku? Mengapa ia yang ongkang-ongkang dan aku yang terhimpit dan gepeng?

Aku minta izin untuk menelepon Pakde. Aku mengeluh dan minta agar uang jadinya dinaikkan. Juga uang bonus tahunannya. “Saya kan tak biasa dipenjara,” kataku. Pakde bergumam lantas mengiyakan dengan syarat akan dibayar bila aku sudah masuk ke Pengadilan. Aku tersenyum dan mengucapkan terima kasih.
Aku masuk penjara sebagai titipan tahanan Kejaksaan. Dua bulan di sana dan barulah masuk ke proses Pengadilan.

Aku menunggu jadwal prosesi pengadilan di kantin. Memesan bakmi goreng dan kopi kental. Menikmati detik demi detik sambil mengisap rokok. Hidup ini nikmat. Setengah nikmat karena aku tak memiliki kebebasan. Aku balik. Tidur lelap. Jaga. Bangun pagi. Mandi dan berjemur. Lima orang melambai. Aku mendekat ketika salah satu dari mereka bilang ada titipan dari Pakde. Aku mendekat. Mereka mengelilingiku. “Apa?” kataku.

Salah satu dari mereka mengacungkan pisau. Aku berontak tetapi sia-sia saja karena yang lain memegangiku. Aku berteriak, sangat keras. Tetapi teriakan itu tak terdengar karena kegelapan menelanku. Aku terkubur. Terhimpit. Bisu. ***

tentang blog iniTulisan berjudul "Pakde Letek" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (9 April 2009 @ 20:21) pada kategori Cerpen. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Tulisan Terkait:

Ada 1 komentar dalam “Pakde Letek

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *